Malam sudah berlalu orang-orang yang ada didalam dengan hiruk-pikuk, meninggalkan kami, satu persatu tanpa menghiraukan yang lainnya hanya, senyum-senyum saja mungkin, ada sesuatu yang ingin diucapkan tapi entah kenapa mereka seperti ada yang menahan dan merahasiakan mengenai cerita ini di balik ke mesterian kampung gaib Wentira yang sangat santer dan cukup dikenal disekitar kampung itu.
Aku pun sudah tidak ingat lagi entah berapa lama aku berada di kampung ini, sementara Sri Naga Ningrum dan keluarganya belum nampak juga di hadapanku entah sampai kapan, sedangkan kami sudah tersesat cukup jauh kearah jalan mana, harus pulang, mungkin keluarga sudah lama menunggu, Tiba-tiba dari arah kejauhan aku dikejutkan oleh warga kampung yang agak curiga menanyakan kepadaku dan yang lainnya, " mengapa bisa tiba dan sampai kesini " kata salah satu seorang warga. "
Saat itu suasana menjadi hening entah kenapa, dalam waktu yang bersamaan Sri Naga Ningrum dan keluarganya datang menghampiriku dari kerumuman orang-orang warga kampung itu, awalnya aku tidak mengira kalau mereka datang dan dia menceritakan kepada warga tersebut bahwa kami semuanya, adalah saudara disebelah Dusun sana, yang tidak jauh dari Desa mereka kali pertama pertemuan, " kata Sri, untuk meyakinkan, " kepada kerumunan warga tersebut.
Akhirnya aku dan yang lainnya merasa lega dan leluasa hari ini masih ada orang yang bisa membantu walaupun kami semuanya berbeda alam dalam dimensi lain.
Dalam benak hati ini mereka sebenarnya mahluk yang diciptakan oleh Allah, cuma yang membuat perbedaan hanya alam saja, tapi pada prinsipnya sama dengan kita manusia dan mereka punya keluarga seperti kita.
Karena hari sudah hampir menjelang malam, aku terdiam dan terpaku di tengah lorong-lorong hutan belantara yang sepi hanya suara-suara bunyi jangkrik dan binatang-binatang malam yang berterbangan kian kemari, entah kemana arahnya.
Lambat laun hari sudah semakin larut malam, tapi kedua belah mataku belum merasa mengantuk, aku dan yang lain duduk sambil bersandar menikmati alam semesta serta bintang-bintang yang bertebaran di angkasa, dengan api unggun yang aku buat untuk menghindari binatang buas yang tak terduga, apalagi tempat ini tidak pernah aku kenal.
Sebentar lagi hari menjelang pagi, ayam berkokok saling bersahutan tanda akan datangnya sang waktu fajar, tapi kini aku dan lainnya lelap dalam selimut impian yang tak pernah aku bayangkan, sementara lalu lalang orang hilir mudik kian kemari dengan kesibukan dan aktifitas sehari-hari.
Diantara warga sekitarnya aku pun menjadi terbiasa dengan mereka mengadaptasi lingkungan sekitarnya, semakin hari semakin ramah dan aku pun rasanya tidak ingin pulang.
Kadangkala mereka pun menyuruhku untuk membantu pekerjaan sehari-hari walaupun perasaan berat yang aku terima, karena memang tidak terbiasa pekerjaan yang aku lakukan disini dengan alam manusia sangat berbeda dengan kita dan jalan pintas untuk pulang belum ada titik temu.
Sesekali temanku Sri Naga Ningrum menemui ku, yang lainnya juga sambil berkata dalam logat bahasa yang tidak aku mengerti, karena bagi. bangsa mereka tidak sama dengan kita.
" Ya mas aku sebenarnya ingin membantu tapi apa daya aku tidak bisa berbuat apa-apa melakukan itu, " kata Sri karena setiap orang yang masuk ke wilayah ini harus membantu pekerjaan dulu dan itupun harus ijin kepada ketua adat setempat, " aku dan lainnya heran kebingungan entah kapan kita sampai disini kata kawanku" aku pun demikian, "Ya Sri jadi apa yang harus aku lakukan kataku, " menimpali, sedangkan waktu terus berjalan dari hari ke hari.
Letih dan lesu tidak pernah ku hiraukan lagi, berat badanku semakin menurun memikirkan ingin pulang, kedua orang tuaku mungkin sudah usaha mencari ku kesana, kemari tetapi aku tidak kunjung tiba entah kapan akan kembali pulang.
Bersambung
Episode 4