Di pagi yang tak tercatat dengan baik berapa derajat suhu dingin saat itu, seorang anak kelas 1 Tsanawiyah tertidur di serambi mushola sehabis melaksanakan sholat subuh yang dingin. Ia dekati anak itu. Ia pandangi raut muka yang sepertinya tidak benar-benar lelah. Mungkin dingin subuh bersama sayup-sayup suara pengajian yang terdengar dari corong membuat suasana kian menarik untuk menutup kembali kedua bola mata, rebahan pulas.
Begitulah suasana subuh di desa itu, pengajian kitab kuning masih banyak ditemukan. Kentalnya budaya keagamaan ini tidak lain sebab (dahulu kala) ekspansi pengaruh dari salah satu pondok pesantren tua ternama di seberang sungai bengawan solo di sebelah barat kota wingko telah menancap kuat sebagai pondasi pertama keagamaan dan berkembang turun temurun di desa tersebut. Cerita babat tanah yang berkembang di masyarakat pun masih tersisa tutur-tinuturnya dengan penuh kesan dan heroik. Tapi, di samping kentalnya budaya keagamaan tersebut, sangat maklum dan lumrah apabila setiap desa pun (sebagus dan seindah apapun) tetap memiliki celanya sendiri. Sayangnya tulisan ini tidak ditugaskan untuk mengulas hal tersebut. Mari kembali ke anak tsanawiyah tadi.
Anak kecil yang sedang pulas ini tentu belum merasakan bagaimana kelak ketika sudah dewasa ia akan merindukan kehangatan suasana desanya. Ya, begitulah, desa atau tanah kelahiran memang selalu dengan sahaja melambai-lambai bagi siapapun yang telah merantau jauh. Seperti kali ini, suasana subuh yang dipenuhi semilir sayup suara pengajian di sana-sini kelak akan menjadi salah satu slide kenangan yang hampir pasti dirindukan. Tak hanya tentang subuh, kehangatan desa juga merambah pada tiap suasana periodik, hari besar islam, hari besar nasional dan hari-hari yang secara berkala diperingati sebagai bentuk keramaian yang lahir dari rasa syukur yang masif dan kolektif. Mungkin demikianlah cara kerja desa menjerat siapapun yang lahir atau pernah menghabiskan sebagian nafas usianya di sana, di desa.
Dari sini mungkin kita akan bertanya, bukankah lahirnya kota juga bermula dari sebuah desa yang diramaikan atau dikehendaki kepadatan aktifitas domestiknya. Kota, bukankah sebenarnya adalah desa yang hanya lebih dipaksakan terbuka, lalu dikontruksi dengan kemegahan-kemegahan dan lalu-lalang kerja yang sesak dan konstan. Hiruk-pikuk kota sebenarnya pun tak jauh beda dengan etos rutinitas masyarakat desa. Hanya yang--kata sebagian orang--tampak mencolok dan menjadi pembeda adalah kehangatan antar personal. Kota--katanya--lebih menggiring penduduknya untuk hidup dalam individualitas, sementara desa mampu melebur penduduknya lewat ragam tradisi yang guyub dan berkala. Inilah yang--katanya--menjadikan desa senantiasa dirindukan sebagai rumah yang hangat untuk pulang. Kehangatan yang dibangun dari keguyuban gotong-royong, intimnya empati antar personal dan kelekar cerita semasa kanakkanak adalah alasan bagi desa untuk selalu dikenang dan dirindukan.
Pada pukul 06:07 pagi tiba-tiba anak kecil itu terbangun. Ia melihat sekeliling dan ternyata sudah banyak anak sekolah yang datang. Maklum, mushola ini berada tepat di samping gedung sekolahan, dan di jam setengah tujuh mushola digunakan untuk berjamaah dhuhah. Jadi ketika seseorang tertidur di serambi atau di dalam mushola dan tak terbangun sampai kesiangan, maka seperti demikianlah pemandangannya. Segeralah ia angkat sarung dan melesat pulang sebelum temantemannya datang dan melihatnya masih belelekan.