Genre : Romance
Main Character:
- Kim Seokjin as Seokjin
- Kim Ji Soo as Ji Soo
Disclaimer: This story belongs to me. Purely create by myself. So please don't copy.
Jangan lupa Vote dan Comment.
Happy Reading....
❤❤❤
❤❤
Di bandara International Seoul pagi ini, terlihat dua orang yeoja tampak tengah mengantarkan kepergian seorang namja yang sudah siap dengan kopernya.
"Jin-ah, kenapa bukan Yoongi saja yang pergi meeting kali ini? Kan kau sudah pergi juga 1 minggu yang lalu!" tanya salah satu dari kedua yeoja yang terlihat cemas untuk melepaskan kepergian calon suaminya kali ini.
"Aku tau. Tapi kali ini perusahaan punya masalah, Ji Soo-yaa. Jadi Choi sajangnim khusus memintaku yang pergi. Sementara Yoongi harus meng-handle masalah perusahaan yang lainnya," jelas Seokjin yang tau tentang keresahan calon istrinya tersebut.
"Geumanhae Eonnie, Eonnie tidak perlu khawatir. Nanti Oppa-ku ini pasti kembali dengan selamat," ujar gadis di sebelahnya, yang tak lain adalah calon adik ipar Ji Soo.
Jisoo tampak menghela napas, bagaimanapun ia hanya khawatir sebab pernikahan mereka hanya tinggal menghitung hari saja.
"Hei, sekarang sudah waktunya aku untuk pergi. Kau tak apa-apa, kan?" tanya Seokjin memastikan.
"Hmm ... nde, gwenchana. Kau hati-hati, ya? Jika sudah tiba di sana, jangan lupa langsung mengabariku. Okay?" pinta Ji Soo dengan pipi tersipu malu.
"Arraso. Jja, aku pergi, nde. Annyeong!" lambai Seokjin.
"Annyeong," lambai Ji Soo pula.
Semoga kau selamat sampai tujuan, Jin-ah, doa Ji Soo dalam hati.
.
.
.
.
.
4 hari kemudian.
Beep ... beep ... beep.
Suara handphone bergetar di atas meja yang membuat si pemilik yang tengah sibuk mengetik dengan komputer-nya seketika menoleh.
"Yeoboseyo Jin-ah?" angkat Jisoo, yang terdengar sangat antusias. Hingga membuat seseorang yang menjadi lawan bicaranya saat ini tersenyum manis di ujung sana.
"Jisoo-ya ... nde, ini aku. Apa kau merindukanku?" tanya Seokjin membalas sapaan Ji soo.
"Nappeun namja. Bukankah sudah kubilang harus segera menghubungiku setelah tiba di sana? Kenapa baru menghubungiku sekarang, eoh!?" protes Jisoo yang terdengar sebal.
"Mian, ada banyak yang harus kulakukan. Apa kau tau, klienku tiba-tiba saja memutuskan kontrak yang sudah disepakati. Makanya aku sibuk beberapa hari ini untuk mengurusi hal tersebut," cerita Seokjin, sontak membuat Jisoo merasa menyesal mendengarnya.
"Ah mian, aku tak tau Jin-ah," sesal Jisoo.
"Kwenchana chagi. Nah, katakan padaku, apa semua persiapan pernikahan kita telah selesai?" tanya Seokjin mengalihkan pembicaraan, dan langsung membuat mood Jisoo kembali ceria.
"Ah nde, tentu saja. Kau lupa ya bahwa calon istrimu ini sangat bisa diandalkan!" ujar Jisoo menyombongkan diri, membuat Seokjin tertawa karenanya.
"Yaa ... kau berani menertawaiku?" protes Jisoo yang tak terima.
"Ani chagi ... kau jangan marah-marah terus," sahut Seokjin yang membantah.
"Ah ne chagi, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu!!" kata Seokjin setelahnya, dan entah kenapa membuat perasaan Jisoo seketika menjadi was-was.
"Kau ingin mengatakan apa? Kau tidak bermaksud untuk meninggalkanku disaat hari pernikahan kita tinggal sebentar lagi kan?" selidik Jisoo yang curiga, membuat Seokjin kembali terkekeh karenanya.
"Dan kemudian aku akan mati dihajar olehmu jika sampai melakukannya!" kata Seokjin melanjutkan, dan membuat Jisoo tersenyum.
"Baiklah, jadi apa yang ingin kau katakan tuan Kim?" tanya Jisoo dengan nada yang serius kali ini.
"Begini chagi, mianhae, aku terpaksa menunda kepulanganku kali ini," info Seokjin kemudian. Berhasil membuat Jisoo terdiam di ujung sana.
"Halo, chagi?" panggil Seokjin, lantaran tak mendapat balasan dari Jisoo.
"Ah ne, aku masih di sini," sahut Jisoo yang kini terdengar lesu.
"Mian chagi. Aku tau kau kecewa. Tapi mau bagaimana lagi, kau juga tau pekerjaanku, kan?" ujar Seokjin mencoba membujuk kekasihnya.
"Arraso-arraso. Tunanganku ini kan sangat pintar, makanya dia jadi sangat dihandalkan. Tapi chagi, janji ya setelah itu kau harus segera pulang?" pinta Jisoo setelahnya.
"Tentu saja. Aku bahkan akan langsung menemuimu nanti, chagi," sahut Seokjin, membuat pipi Jisoo memerah mendengarnya.
"Eii, jangan bilang kau tengah merona saat ini, chagi?" tebak Seokjin tiba-tiba, dan berhasil membuat Jisoo kaget di tempatnya tengah berada.
"Si-Siapa yang merona? Seperti kau bisa melihat saja," buru-buru Jisoo mengelak.
"Jangan berbohong padaku, chagi. Kau pikir aku tak mengenalmu apa?" goda Seokjin lagi.
"Sudah ya. Kalau tidak penting, aku mau tutup!" kata Jisoo yang merajuk.
"Andwae. Kau kejam sekali sih," protes Seokjin tak terima.
"Makanya jangan terus menggodaku!!" balas Jisoo dengan nada yang kesal.
"Nah, berarti yang kukatakan tadi benar, kan?" tuntut Jin, membuat Jisoo menepuk jidatnya sendiri.
"Yaak, aku matikan ya?" ancam Ji Soo kemudian.
"Hahaha ... kau jadi membuatku merindukanmu, chagi," ujar Seokjin yang justru tertawa.
"Ah itu ...."
"Na-Nado bogoshipoyo Jin-ah," balas Jisoo, dan berhasil membuat Seokjin terdiam karenanya. Pasalnya Ji Soo adalah tipe yang jarang sekali mengatakan hal-hal seperti itu.
"Jin-ah?" panggil Ji Soo setelahnya, yang entah kenapa terdengar melankolis.
"Jin-ah, kau janji ya akan segera pulang?" kata Ji Soo melanjutkan kata-katanya dengan suara yang kini terdengar sedikit serak.
"Hei nyonya Kim, ada apa dengan suaramu? Apa kau sedang menangis sekarang!" panik Seokjin yang langsung cemas begitu mendengar suara kekasihnya berubah.
"Pabo. Aku tidak menangis, ya! Jangan alihkan pembicaraan, aku sedang bertanya tau," sahut Ji Soo yang tak mau mengaku.
"Hahaha. Aigo ... okay-okay, kau sedang tidak menangis," ujar Seokjin yang memutuskan mengalah.
"Ya, kau belum menjawab pertanyaanku! Berhenti tertawa," kata Ji Soo yang kembali mengingatkan tunangannya.
"Okay-okay. Aku tak tertawa lagi."
Huuh haaahhh!
Terdengar suara Seokjin yang sedang berusaha menetralkan dirinya.
Ehmm.
Dehemnya kemudian, sementara Ji Soo tengah menantinya dengan sabar.
"Chagi mengenai itu, kau tidak perlu khawatir. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu tadi ..!!" ujar Seokjin setelahnya.
"Chagi?" panggil Seokjin saat tak mendapat balasan dari sang kekasih.
"Ah ye, aku masih di sini. Ya, aku masih mengingatnya," sahut Ji Soo setelah beberapa saat kemudian.
"Hehe, baguslah."
"Lagipula chagi, kan hanya tinggal beberapa hari saja. Jadi mohon bersabar sebentar lagi ne, nyonya Kim?" pinta Seokjin setelahnya.
"Yaa, siapa yang kau panggil nyonya Kim, hah?" maki Jisoo, tapi sebenarnya hanya untuk menutupi rasa gugupnya.
"Tentu saja kau, chagi," tawa Seokjin di ujung sana.
"Eh, tapi omong-omong margamu juga sama denganku ya, Chagi!! Kalau begitu nyonya Seok saja, ya?" kata Jin yang bermaksud menggoda tunangannya.
"Yaa!" refleks Ji soo berteriak dari seberang sana.
"Hehe. Jangan marah, chagi. Astaga, nanti kau cepat tua lho," kekeh Seokjin tanpa dosa.
"Ckk. Jika tunanganku sepertimu, bagaimana mungkin aku tak marah. Dasar pria menyebalkan. Kau bahkan tega mengata-ngatai aku," gerutu Ji Soo merasa tak terima.
"Aigoo," tanggap Seokjin yang masih terkekeh.
"Oh ya chagi, mian aku tak bisa menelponmu lama-lama. Sebentar lagi aku harus pergi, aku ada janji dengan klien," kata Seokjin tiba-tiba.
"Eh, benarkah?"
"Eum. Tapi tenang, karena hanya sekitar satu jam saja. Nanti aku telepon lagi. Okay?" pinta Seokjin, dan mau tak mau membuat Jisoo di ujung sana mendengus tak rela.
"Baiklah-baiklah, arraso. Tapi awas kalau kau sampai lupa lagi seperti terakhir kali Tuan Kim," ancam Jisoo setelahnya.
"Siap nyonya besar. Saranghae. Pai pai," tutup Seokjin kemudian.
"Ne, saranghae," balas Ji Soo, seiring sambungan telepon mereka yang terputus setelahnya.
"Hahh, ada apa denganku? Kenapa perasaanku tiba-tiba resah begini?" monolog Ji Soo yang entah kenapa merasakan firasat buruk begitu
sambungan mereka telah terputus tadi.
"Hmm ... tunggu saja jika si paboya Kim Seokjin pulang nanti!! Akan kubuat perhitungan dengannya karena terus-terusan membuatku mencemaskan dirinya," gumam Ji Soo kemudian.
.
.
.
.
.
"Ne Halmeoni, jadi mulai sekarang seperti yang kukatakan tadi, Halmeoni harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran. Juga Abeoji, Abeoji tolong pantau pola makannya Halmeoni, ne?" Terdengar suara Ji Soo tengah berbicara pada sepasang suami istri paruh usia yang duduk di hadapannya.
Sementara kedua sejoli yang dimaksud, keduanya kini tengah tersenyum mesra satu sama lain. Membuat Jisoo sedikit cemburu, karena walaupun usia mereka telah senja tapi terlihat masih begitu saling mencintai satu sama lain. Halmeoni tersebut adalah pasien tetapnya Ji Soo, yang selalu datang untuk check up rutin 3 bulan sekali.
"Wah wah wah, Halmeoni dan Abeoji jangan bermesra-mesraan di depanku, dong!" protes Jisoo pada pasangan tersebut.
"Haha .... Wae gurae? Abeoji kan hanya ingin menunjukkan rasa sayang abeoji pada Halmeoni, Ahgassi. Ah ya, Ahgassi ... apa Ahgassi sudah menikah?" tanya kakek itu tiba-tiba, membuat senyuman di wajah Jisoo seketika sirna.
"Sst ... yeobo!!" refleks istri si kakek menyyengol lengan suaminya. Lalu kemudian melihat pada Ji Soo dengan pandangan tak enak. Lama menjadi pasiennya, tentu saja sang halmeoni sudah banyak mendengar banyak cerita tentang Ji Soo di rumah sakit ini.
Sementara itu, Ji Soo justru kini tengah berusaha mengendalikan ekspresinya seolah tak terjadi apa-apa.
"Haha ... aku belum ada namjachingu, Haraboji. Bagaimana jika Haraboji mendoakanku, siapa tau aku akan mendapatkannya lewat doa Haraboji, kan?" kata Ji Soo yang kembali bersuara setelahnya dengan bibir berusaha menampilkan senyum.
Setelah pasangan itu pergi, tampak Ji Soo tengah termenung di mejanya. Gadis cantik tersebut, kini tengah mengenang kembali kenangan pahit yang telah dilaluinya sekitar 2 tahun yang lalu. Di mana tepat 2 hari sebelum hari pernikahan mereka, Seokjin sang calon suami yang berencana akan pulang malam pada malam hari dari Singapura menjadi salah satu korban tewas dalam kecelakaan pesawat bersama penumpang lainnya. Kejadian itu begitu tragis, dan butuh waktu cukup lama bagi Jisoo untuk bisa bangkit memulihkan dirinya.
Di rumah.
"Jisoo-ya?" terdengar panggilan Ji Soo Eomma yang tengah mengetuk pintu anaknya.
"Aku tak menguncinya Eomma. Masuk saja!" sahut Jisoo, yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.
Membuka pintu bercat krem di depannya secara perlahan, Ji Soo Eomma kemudian memutuskan tak langsung menghampiri sang anak. Melainkan, ia justru dudukkan dirinya di atas ranjang milik si empu yang sekarang masih sibuk berkutat dengan file-file yang terdapat di atas mejanya.
"Chagi, Eomma ingin bicara. Bisa kau berhenti sebentar?" panggil Ji Soo Eomma, setelah didiamkan sang anak hampir 10 menit lamanya.
Sementara yang dipanggil, perlahan yeoja tersebut segera menoleh dengan ekspresi yang seketika berubah sendu begitu bertatapan dengan Eomma-nya. Tak menunggu lama, setelahnya segera saja Ji Soo pun beranjak, lantas mendekap Ibunya dengan sesegukan.
"Eomma ... hiks ... Eomma mianhae. Eomma pasti ingin membicarakan tentang namja yang dibicarakan oleh appa beberapa minggu yang lalu, bukan?" tebak Jisoo dengan suara di selingin isakan, selagi menenggelamkan dirinya pada perut Eommanya.
"Ne. Mian jika itu yang membuatmu tertekan Sayang," sesal Ji Soo Eomma, dengan sesekali menyapukan telapak tangannya pada helaian rambut Ji Soo yang lebat.
"Hiks ... Eomma, mian aku tak bisa. Aku masih mencintai Seokjin, Eomma. Aku belum bisa melupakannya," ujar Jisoo lagi dengan suara terisak.
"Ji Soo-ya, coba angkat wajahmu, Nak! Sini, lihat Eomma dulu?" pinta Ji Soo Eomma kemudian, dan menangkup wajah putrinya yang tak menolak.
"Hiks ... hiks ... Eomma ...." isak Ji Soo dengan air mata mengalir deras pada kedua pipinya.
"Jisoo-ya, Eomma bukannya tidak mengerti kondisimu, chagi," kata Ji Soo Eomma dengan tangan perlahan menghapus air mata Ji Soo yang mengalir dengan kedua telapak tangannya.
"Tapi Chagi, mau sampai kapan kau akan terus begini, eoh?"
"Ini sudah hampir dua tahun sejak kepergian Seokjin, Jisoo-ya. Tak baik jika kau terus menutup dirimu seperti ini," kata Ji Soo Eomma menambahkan, semenentara matanya menatap dalam pada kedua bola mata Ji Soo yang masih berpendar dengan sendu.
"Chagi ... Eomma yakin, pasti bukan ini yang diharapkan Seokjin darimu. Kau harus bangkit Chagi," nasehat Ji Soo Eomma dengan tangan kali inu menepuk-nepuk punggung Jisoo yang tampak bergetar.
"Geundae, aku sudah mencobanya, Eomma. Tapi ... tapi tetap saja aku masih sangat sulit melupakannya, Eomma. Aku masih mencintainya ... Eomma," isak Jisoo lagi, lalu kembali menenggelamkan dirinya pada dekapan sang Eomma.
"Jisoo-ya ... apa kau tau Chagi, terkadang kehilangan seseorang memang begitu sangat menyakitkan untuk kita. Tapi sayang, Eomma yakin, pasti Seokjin hanya ingin yang terbaik untukmu. Kau tak boleh seperti ini terus chagi," bujuk Jisoo Eomma yang pantang menyerah dengan tangan terus menepuk-nepuk pelan punggung putrinya.
"Lagipula Eomma yakin, saat Tuhan membawa Seokjin pergi menjauh dari sisimu, ia pasti juga telah menyiapkan Seokjin yang lain sebagai penggantinya untukmu, Sayang. Kau percaya itu kan?" tanya Ji Soo eomma, dan hanya mendapat anggukan kepala dari Jisoo dalam pelukannya yang masih enggan untuk melepaskan diri.
"Nah kalau begitu, cobalah kau temui dulu calon tunanganmu, eum? Nanti jika kau masih kesulitan menerimanya, Eomma janji tak akan memaksa. Bisa?" pinta Ji Soo eomma kemudian, dan akhirnya mendapat anggukan dari Ji Soo walaupun ia masih terisak.
"Baiklah, hiks ... aku---aku akan mencobanya Eomma," sahut Ji Soo setelahnya, dan membuat sang eomma tersenyum lega.
"Syukurlah Sayang. Syukurlah."
"Jja, sekarang berhenti menangis, okay? Jika Seokjin melihatmu dari tempatnya saat ini, ia pasti sudah akan mengejekmu habis-habisan," hibur Ji Soo eomma setelahnya, mau tak mau membuat si empu yang dimaksud akhirnya tersenyum sebab mengingat kenangannya kembali dengan sang calon tunangan.
.
.
.
.
.
Beberapa hari kemudian di rumah sakit tempat Jisoo bekerja, tepatnya di ruang UGD. Kini di dalam ruangan itu tampak sibuk juga penuh dengan korban kecelakaan dari Bis Sekolah yang membawa anak-anak SD untuk piknik. Ada banyak anak yang harus diurus, jadinya Jisoo terlihat mondar mandir dengan jas putih miliknya yang kini telah bercampur warna dengan noda darah di berbagai tempat.
"Suster tolong bawakan aku kasa, gunting, dan peralatan lainnya. Ada luka robek di kaki anak ini, kita harus membersihkan dan menjahitnya," suara Jisoo yang tengah meminta teman sejawatnya untuk mengambilkan barang yang dimaksud. Sementara si anak yang tengah ditanganinya, anak tersebut terus saja menangis dengan kencang.
"Hei Adik cantik, Uisa tau kau pasti tengah merasakan perih saat ini. Chamkkaman, Uisa akan segera mengobatimu agar lukamu tidak infeksi, ne?" bujuk Jisoo dengan lembut pada si gadis cilik yang akhirnya mengangguk meskipun masih terlihat seddikit ketakutan.
Tak lama berselang, para orang tua dari korban kecelakaan mulai berdatangan dan segera mencari anak-anak mereka di antara pasien lainnya. Termasuk anak perempuan yang saat ini tengah ditangani oleh Jisoo.
"Nari-ya, mian Appa datang terlambat. Apa kau baik-baik saja?" seru seorang namja yang terdengar panik, dan begitu mendekat langsung segera memeluk anak kecil yang sedang ditangani oleh Ji Soo dan membuat si anak seketika menangis kencang begitu melihatnya.
"Appa ..!!" isak anak tersebut, membuat si ayah semakin merasa bersalah.
"Kau tau Chagi, Appa sangat kaget tadi saat mendapatkan telepon dari rumah sakit tentangmu. Syukurlah kau selamat Sayang," kata namja tersebut dengan haru. Sementara Jisoo yang masih berada di sana, gadis itu hanya diam memperhatikan dengan tangan yang tetap sibuk bekerja.
"Mmm Uisanim, gomawo sudah merawat anakku. Jeongmal kamsahamnida," ujar pria tadi setelahnya, dengan tubuh membungkuk hormat pada Jisoo yang baru saja selesai dengan tugasnya.
"Ah nde, sama-sama Tuan," balas Ji Soo. Kemudian ikut pula membungkukkan badannya.
"Nah gadis mungil, karena sekarang neo Appa telah ada di sini, Uisa harus pergi periksa yang lainnya, ne?" pamit Jisoo menyempatkan diri untuk mengusap surai hitam pasien kecilnya dengan lembut.
"Gomawo Uisa," cicit si anak dengan malu-malu, sehingga mendapat cubitan gemas dari Jisoo.
"Sampai nanti, Tuan!" pamit Jisoo juga pada ayah dari pasiennya, dan dibalas dengan senyuman manis si ayah muda yang sangat tampan dengan kedua dimple di pipinya.
.
.
.
.
.
"Eomma, apa dia belum datang?" tanya Jisoo penasaran, entah untuk ke-berapa kalinya sejak ia diminta agar menunggu di dalam kamarnya.
Hari ini Jisoo akan dilamar oleh seseorang, karena pada akhirnya ia sadar ia harus bisa merelakan kepergian Seokjin dan membuka hatinya untuk orang lain. Istimewanya, namja tersebut adalah ayah dari pasien yang pernah ia tolong sekitar beberapa bulan yang lalu.
"Belum Jisoo-ya, wae ... apa kau sudah tak sabar ingin bertemu calon nampyeon dan anakmu, eoh?" goda Ji Soo eomma dengan bibir tersenyum lebar.
"Eomma ..!!" protes Jisoo dengan kedua pipi yang tampak memerah.
"Aigo aigo ... tak kusangka anakku akan segera menjadi seorang ibu sekarang," ujar Jisoo eomma kemudian, dan berhasil membuat wajah Jisoo semakin merah merona.
"Chagi, Jisoo-yaa, mereka sudah datang!!" panggil Jisoo appa tiba-tiba, membuat jantung Jisoo seketika berdetak dengan cepat karenanya.
"Nah Jisoo-ya, ayo kita keluar!!" ajak Jisoo eomma dengan begitu semangat.
"Nde, kajja Eomma!" sahut Jisoo, lalu mengikuti langkah ibunya keluar menuju ke ruangan di mana seorang pria berdimple si pujaan hati bersama calon putrinya yang cantik telah menunggu Jisoo dengan senyuman yang terpatri jelas pada belah bibir masing-masing.
THE END