Tragedi kematian yang dirasakan oleh enam remaja di sebuah rumah sakit terbengkalai di negeri ginseng. Rumah sakit "Seoul" di juluki rumah sakit kutukan karena siapa saja yang memasuki gedung tua itu tidak akan pernah kembali lagi hidup atau mati. Meskipun terdengar sangat aneh percaya atau tidak kutukan itu nyata dan sudah sering terjadi, hingga enam sekawan ini bertekad memecahkan misteri.
****************
Enam orang remaja itu terdiri dari tiga perempuan dan tiga pria.
Hee-young memiliki wajah yang mempesona alias cantik alami, dia hanya butuh lipstik agar bibirnya yang seksi terlihat cerah seperti hidupnya. Sifatnya yang gigih membuat dia disayangi oleh para dosen di salah satu Universitas ternama di Seoul. Walaupun dia memperlakukan kamu seperti orang asing dibalik itu dia adalah seseorang yang sangat peduli.
Beda jauh dengan Chin-sun. Dia memiliki watak keras kepala dan hanya mementingkan diri sendiri apalagi dikala terdesak dia akan menjadi orang paling egois di dunia. Meskipun begitu kecantikan pada wajahnya tak jauh berbeda dengan Hee-young, namun Chin-sun selalu menghiasi wajahnya dengan polesan make up katanya itu wajib karena dia seorang wanita yang harus selalu tampak indah dimana pun dan kapanpun.
Lain cerita dengan Eun-Jung. Eun-Jung adalah wanita yang imut dikalangan seumur dia, wajahnya yang kecil tapi bulat membuat semua orang gemas saat melihatnya. Eun-Jung sangat menghargai sebuah hubungan, karena dia memiliki hati yang lembut tak jarang banyak orang menjadikan dia sebagai pelampiasan hingga akhirnya dia bertemu dengan Hee-young yang siap menjaganya.
Tae-hyun adalah bintang di Universitas di mana mereka kuliah bersama. namun Tae-hyun memperhatikan sikap tidak peduli kepada seseorang yang tidak dia kenal dan terkesan sombong. Ada yang membencinya ada pula yang sangat kagum kepadanya. Jauh dari sikapnya yang sombong, Tae-hyun malah sangat loyal terhadap sahabatnya. Hingga banyak dari mereka yang berharap bisa berteman dengan Tae-hyun.
Sedangkan Dong-min adalah pria pintar namun sifatnya tak jauh berbeda dengan Tae-hyun sama-sama dingin terhadap orang yang tidak dikenalnya.
Beda lagi dengan si Joo-chan pria bar-bar si biang rusuh namun layu sebelum berperang karena dia sangat penakut apalagi jika itu berhubungan dengan hal mistis.
************
Tampak enam orang remaja sedang berkumpul di pojok sudut Cafe, mereka seperti membicarakan sesuatu yang serius.
“Lihat, ini dia artikel tentang rumah sakit yang akan kita kunjungi!” ujar Hee-Young.
“Wah sangat menarik,” timpal Tae-Hyun.
“Apakah tidak ada yang lain, ku rasa ini terlalu menyeramkan,” ucap gadis imut bernama Eun-Jung.
“Aku rasa ini tempat yang bagus, kita harus memecahkan misteri itu,” timpal Dong-min.
“Aku ikut saja,” ucap Chin-sun.
“Kalian serius akan ke sana, aku yang baru baca artikel ini saja sudah merinding, bagaimana kalo yang ada di artikel ini benar,” ujar Joo-chan.
“Alah, bilang saja kamu takutkan,” cibir
Tae-Hyun.
“Bukannya aku takut, aku kan tidak mau terjebak di sana selamanya,” jawab Joo-chan.
“Sudahlah, bagi yang tidak mau ikut pulang saja sana, bobok cantik di rumah jadi anak mama,” kata Hee-Young kesal.
“Ya sudah aku ikut,” jawab Joo-chan cemberut.
Mereka melakukan video Live di Youtube sebelum berangkat ke sana.
“Hai...kita sekarang akan pergi ke rumah sakit “Seoul” yang rumornya apabila sudah masuk ke sana tidak dapat keluar lagi, kita akan membuktikan apakah itu benar atau hanya sekedar rumor saja,” jelas Tae-Hyun.
“Jadi ikuti kami terus ya jangan sampai ketinggalan,” timpal Hee-Young.
*************
“Wah kalian pasti bercanda.”
“Aku tidak percaya dengan rumor seperti itu.”
“Kalian akan celaka jika rumor itu benar.”
Itulah komentar dari para netizen yang sedang menonton dan banyak lagi lainnya.
Mereka pergi ke sana menggunakan mobil Dong-min. Mereka lewat pintu belakang gedung agar tidak terlihat dan bisa masuk, tentu saja gerbang depan dikunci agar aman oleh pihak berwenang.
Setelah sampai, mereka mendirikan tenda besar untuk meletakkan barang yang di perlukan seperti kamera, laptop, makanan, minum, dan kain selimut.
Mereka mulai mencoba memasuki gedung rumah sakit yang sudah lama tidak di pakai untuk memasangkan kamera di setiap penjuru ruangan.
Setelah selesai, mereka kembali berkumpul ke tenda, dan makan terlebih dahulu menyiapkan semua keperluan. Masing-masing memakai senter di kepala dan juga kamera.
Chin-sun memulai video Live di Channel Youtube mereka menggunakan laptop Tae-Hyun.
“Oke, buat kalian yang sudah lama menunggu, sekarang kita sudah ada di lokasi dan akan segera masuk ke dalam rumah sakit “Seoul” jadi jangan sampai terlewat kan, oke?” kata Chin-sun.
“Ayo berangkat sana,” suruh Chin sun.
“Kamu yakin berani sendirian di sini?” tanya Eun-Jung.
“Aku tidak percaya yang namanya hantu, jadi kalian tidak perlu khawatir, oke,” jawab Chin-sun.
Hee-Young, Eun-Jung, Dong-min, Joo-chan, dan Tae-Hyun pergi memasuki rumah sakit yang sudah lama tutup itu.
Dari artikel yang mereka baca,
Rumah sakit Seoul ini adalah rumah sakit yang dulunya sangat banyak pasien, tapi tiba-tiba ada wabah atau peristiwa yang terjadi di rumah sakit itu hingga banyak memakan korban, dan peristiwa itu di tutupi oleh pihak berwenang. Hingga tidak ada yang tahu pasti tentang apa yang terjadi di rumah sakit itu.
Banyak rumor mengatakan, siapa saja yang memasuki rumah sakit itu tidak akan pernah kembali lagi.
Dan yang paling menarik adalah rumor tentang ruangan Direktur utama yang terkunci rapat. Kabarnya belum ada seorang pun yang sanggup memasuki ruangan itu semenjak peristiwa mengerikan itu terjadi.
Tentu saja semua orang tahu tentang rumor itu, hingga membuat mereka takut namun tidak untuk ke 6 orang ini. Mereka sangat penasaran, dan memutuskan untuk memasuki area terlarang ini.
Sebelum memasuki gedung itu, Dong-min menancapkan bendera merah untuk sebagai tanda agar tidak tersesat nantinya.
Setelah memasuki gedung itu mereka berpencar untuk mencari sesuatu yang menarik dan membuktikan apakah benar dengan rumor yang beredar selama ini.
Tujuan utama mereka adalah membuka ruangan Direktur utama.
“Hee-Young kamu bersama Tae-Hyun, sementara Eun-Jung bersama Joo-chan, oke?” kata Dong-min.
“Baiklah, kita ke kiri,” kata Hee-Young sambil mengarahkan kameranya.
“aku ingin sama kamu saja Dong-min,” ucap Joo-chan.
“Dan kita akan jadi pecundang jika kita meninggalkan Eun-Jung sendirian,” jawab Dong-min beranjak pergi lurus meninggalkan Joo-chan dan Eun-Jung.
“Dasar penakut,” gumam Eun-Jung namun masih sempat di dengar oleh Joo-chan.
“Alah sok berani,” ucap Joo-chan mengikuti langkah Eun-Jung dengan kamera di tangannya
Tugas Hee-Young dan Tae-Hyun adalah ruang Direktur utama di lantai 2.
Sementara Joo-chan dan Eun-Jung di lantai 3, dan Dong-min di lantai 1.
“Hai, kenapa kalian diam saja, ucapkan sesuatu!” seru Chin-sun dari tenda mengamati temannya.
*********
“Apakah ini benar rumah sakit Seoul yang menyeramkan itu?”
“Wah ini pasti seru.”
“Sejak awal aku tidak percaya dengan rumor itu.”
“Semoga kalian selamat.”
Itulah komentar para netizen yang kini jumlah penonton semakin meningkat mungkin karena penasaran yang terlalu tinggi.
“Hai...aku sekarang lagi ada di lantai 2, dan kita akan ke ruangan Direktur utama,” kata Tae-Hyun.
“Tae-Hyun lihat apa itu!” ucap Hee-Young memasuki salah satu ruangan di sana. Bisa dilihat itu adalah ruangan para perawat di lantai 2.
“Itu seperti foto para dokter di sini.” Ucap Tae-Hyun.
“Wah banyak sekali foto di sini,” timpal Hee-Young.
“Lihat, bukankah ini foto Direktur utama rumah sakit ini, tapi siapa gadis kecil ini?” tanya Hee-Young heran, karena pasalnya Direktur tidak memiliki anak perempuan.
“Mungkin saja itu pasien di sini, lihat saja dia memakai baju pasien,” jawab Tae-Hyun.
**********
“Hai... kita sekarang lagi di lantai 3 dan ini adalah ruangan khusus pasien ya,” kata Joo-chan dengan perasaan gugup dan tubuh yang bergetar.
Eun-Jung memasuki salah satu kamar di sana.
“Eun-Jung, kamu di mana sih kan aku sudah bilang tadi kita jangan sampai berpencar,” kata Joo-chan.
“Kamu saja yang kelamaan,” jawab Eun-Jung.
***********
“ Dong-min, apa yang kamu temukan?” tanya Chin-sun.
“Sepertinya ini berkas-berkas tentang Pasien dan...,” jawab Dong-min terhenti ketika menemukan selembar surgat tentang rumah sakit ini tapi itu tidak lengkap.
“lihat Chin-sun, aku menemukan petunjuk tapi surat ini tidak lengkap, seperti di robek. Dan robekannya tidak ada di sini, ini pasti sangat penting, suruh yang lain mencarinya siapa tahu itu ada di ruangan lain,” ujar Dong-min.
“Baiklah, kerja bagus Dong-min, cari hal penting lainnya,” kata Chin-sun.
**********
II
Eun-Jung dan Joo-chan hingga saat ini tidak menemukan apa pun.
Dan tiba-tiba...
[Teng..teng..teng]
Joo-chan seketika mematung sedangkan Eun-Jung biasa-biasa saja.
“Apakah kamu mendengar suara itu juga?” tanya Joo-Chan.
“Aku tidak mendengar suara apa pun dari tadi,” Jawab Eun-Jung.
“Aku serius, bagaimana mungkin kamu tidak mendengarnya,” ujar Joo-Chan.
“Mungkin itu hanya perasaanmu saja,” ucap Eun-Jung cuek dan pindah ke ruangan lain.
Namun...
Braakkkk
Seketika pintu kamar mandi itu tertutup hingga membuat Eun-Jung dan Joo-Chan terperanjat dan mereka saling tatap.
“Aduh, kok mulai horor begini sih, kita balik saja yuk,” ajak Joo-Chan dengan tubuh yang sudah gemetar.
Namun Eun-Jung malah ke arah kamar mandi itu dan membuka pintunya, dia masuk dan membuka pintu toilet itu satu persatu.
Joo-Chan segera mengekor di belakang Eun-Jung.
Saat memastikan tidak ada apa pun di kamar mandi itu.
Tiba-tiba...
Braaaakkkkk
Pintu kamar mandi tertutup kembali, melihat itu Eun-Jung dan Joo-Chan berlari berusaha membuka pintu, namun nihil pintu terkunci rapat.
“Wah parah nih Chin-sun pintunya terkunci, aku harus bagaimana ini?” tanya Eun-Jung memberitahu Chin-sun yang mengamati mereka sejak tadi.
“Mama maaf kan aku Ma. Aku janji tidak akan jadi anak nakal lagi. Aku janji Ma tidak akan mengambil uang Mama diam-diam lagi. Aku janji tidak akan bolos kuliah lagi. Aku janji Ma. Mama tolong aku Ma, aku tidak mau mati di sini,” Rengek Joo-Chan yang mulai gemetar.
“Joo-Chan, kamu berisik banget sih, bantu aku berpikir dong buat keluar dari sini!” bentak Eun-Jung.
“Aku tidak sanggup lagi Eun-Jung, aku ingin pulang, kakiku tidak kuat lagi untuk berdiri.”
[Teng...teng...teng]
“Astaga apa lagi itu, ampuni aku Tuhan,” racau Joo-Chan panik.
Sementara Eun-Jung mencari dari mana arah suara itu.
[Teng...teng...teng]
Dan suara itu sepertinya di kamar kecil ke tiga.
Tangan Eun-Jung gemetar berusaha membuka pintu itu.
Namun tiba-tiba suara itu berubah menjadi tangisan seorang anak kecil.
[Hiks...hiks...hiks]
“Hello...!” Sapa Eun-Jung.
“Apakah ada orang di dalam?” tanya Eun-Jung.
Dan saat pintu terbuka
“Waaaaarrrhhhkk!” Mulut yang besar, mata merah dan wajah hancur.
Itulah yang di lihat Eun-Jung dan Joo-Chan.
“Aa-aa!” pekik keduanya dan berlari mencoba membuka pintu yang masih terkunci, namun pintu itu belum juga bisa di buka.
Sementara makhluk itu merangkak menatap mereka siap menghajar Eun-Jung dan Joo-Chan.
“Mama maafkan aku, Ma, karena selama ini tidak mau mendengarkan nasihatmu. Mama aku belum ingin mati Ma. Tolong aku Ma,” Joo-Chan yang merengek sedari tadi di tendang oleh Eun-Jung.
“Mamamu tidak akan datang kesini bodoh, cepat bantu aku membuka pintu ini!” teriak Eun-Jung.
“Aku tidak mau mati di sini Eun-Jung,” ujar Joo-Chan.
“Kamu tidak akan mati jadi bantu aku untuk membuka pintu ini bodoh!” bentak Eun-Jung.
Joo-Chan dan Eun-Jung sekuat tenaga membuka pintu, dan akhirnya pintu itu terbuka juga sebelum makhluk mengerikan itu menerkam mereka.
Mereka lari terbirit-birit entah ke mana dan berhenti di sebuah kamar untuk mencari persembunyian.
“Eun-Jung, Joo-Chan, jangan diam saja makhluk seperti apa yang kalian lihat tadi?” tanya Chin-sun kesal karena kamera tidak dapat mengambil jelas wujud makhluk itu.
“Kamu bisa diam sebentar tidak sih Chin-sun, kita sedang dalam bahaya sekarang!” Jawab Eun-Jung emosi, karena temannya yang satu itu tidak memikirkan sama sekali tentang bagaimana keadaan dirinya dan teman lainnya.
“Kok aku yang disalahkan sih, kita kesini tujuannya memang untuk itu, jadi bukan salah aku dong,” ucap Chin-sun membela diri.
“Sudah kalian jangan ribut sekarang, tubuhku benar-benar lemas sekarang, kita balik saja ya, ini sudah sangat berbahaya,” ujar Joo-Chan.
“Kalo kalian balik sekarang, berarti usaha kita sia-sia dong, ayolah tahan sedikit lagi,” ucap Chin-sun yang sudah tampak egois.
Sepasang tangan melingkar di kelapa Joo-Chan, Eun-Jung yang melihat itu gemetar dan langsung saja lari terbirit-birit meninggalkan Joo-Chan sendirian yang sudah mematung dan tubuh yang bergetar hebat.
Tangan itu terus saja menjalar dan melingkar hingga ke wajah Joo-Chan.
Tampak makhluk di toilet tadi menatap wajah Joo-Chan tajam.
“Aa-aa!” pekik Joo-Chan dan seketika pingsan.
Sementara Eun-Jung yang lari tanpa arah itu sudah kelelahan. Ia berhenti di sebuah ruangan yang dipenuhi peralatan medis. Ruangan itu adalah ruangan operasi. Lagi dan lagi suara tangis anak kecil itu terdengar.
[Hiks...hiks...hiks]
Eun-Jung memperbaiki pendengarannya dan mencoba mencari sumber suara itu. Tampak seorang anak kecil menangis membelakangi Eun-Jung, dia memakai baju pasien, mungkin dia adalah pasien di sana.
“Hai adik manis, kamu jangan takut kakak tidak akan menyakitimu,” bujuk Eun-Jung dan melangkah perlahan mendekati anak itu
Eun-Jung berusaha menggapai anak itu, namun seketika anak itu berbalik memperlihatkan perutnya yang bolong, tidak ada organ tubuhnya, hanya perut yang kosong.
Anak itu memegang pisau bedah dan mengarahkannya kepada Eun-Jung. Saat itu juga Eun-Jung mengarahkan kameranya dan tampaklah sosok anak itu.
Sontak itu membuat para netizen terkejut yang kini sudah mencapai 8000 penonton.
Anak itu kemudian mendekati Eun-Jung dan seketika Eun-Jung terjatuh. Eun-Jung melihat sosok anak itu dengan mata dan wajah penuh darah.
Anak itu kemudian berlari mengejar Eun-Jung dengan mengarahkan pisau bedah di tangannya.
“Aa-aa!” Eun-Jung berteriak dan menutup matanya.
“Eun-Jung sadar!” panggil Chin-sun dari arah kameranya.
“Haah, ke mana anak itu?” tanya Eun-Jung sambil memeriksa tubuhnya.
“Aku kira aku sudah mati. Astaga Joo-Chan aku kehilangan Joo-Chan dari tadi,” Eun-Jung segera bangkit dan kembali ke tempat di mana dia terakhir bersama Joo-Chan tadi dan berharap temannya masih di sana.
Namun tidak ada tanda-tanda Joo-Chan ada di sana, yang di temukan Eun-Jung adalah sebuah kamera yang pasti itu adalah kamera Joo-Chan.
“Joo-Chan, kamu di mana sih, jangan bercanda tolong keluar!” teriak Eun-Jung.
Entah ke mana Joo-Chan pergi, tidak ada yang tahu termasuk Author.
**********
Dilantai 2.
“Tae-Hyun lihat, ini sepertinya berkas-berkas penting,” ucap Hee-Young mengamati satu-persatu berkas itu.
“Benar, ini dokumen penting tentang rumah sakit ini, tapi kenapa hanya ada satu data pasien di sini?” tanya Tae-Hyun.
“Loh bukannya ini anak yang kita lihat di foto tadi, foto anak kecil dengan Direktur Utama tadi kamu ingat kan?” tanya Hee-Young.
“Iya, tapi kenapa hanya ada data dia saja di sini?” ucap Tae-Hyun balik bertanya sambil mengamati data anak tersebut.
Lembaran kecil yang terselip di antara berkas-berkas itu terjatuh.
“Apa ini?” tanya Hee-Young mengambil kertas itu dan membacanya.
“Astaga, Tae-Hyun, lihat ini!” pekik Hee-Young.
“Jadi penyebab kematian masal pasien di rumah sakit ini karena dibunuh,” ujar Tae-Hyun.
“Tapi kenapa mereka dibunuh Tae-Hyun, datanya juga tidak lengkap, ayo cari sambungannya mungkin terselip di antara berkas-berkas yang lain,” ujar Hee-Young.
“Tunggu Hee-Young, coba perlihatkan lebih jelas lagi supaya aku bisa melihatnya.”
“Sepertinya ini sambungan dari data yang di temukan Dong-min di lantai satu,” ujar Chin-sun.
“Berarti Dong-min sudah menemukannya. Baguslah kalau begitu nanti kita tinggal menyimpulkan,” kata Tae-Hyun.
“Tapi aku jadi penasaran sama anak yang bernama Ria-khyun ini,” ucap Hee-Young.
“Maksud kamu apa?” tanya Tae-Hyun dan Chin-sun.
“Coba saja kalian pikir, bagaimana mungkin hanya ada data anak kecil ini dilantai 2, sedangkan pasien lain tidak ada, dan sepertinya anak ini sangat dekat dengan Direktur Utama, lihat saja foto yang kita temui tadi pasti di simpan dengan baik di sini,” jelas Hee-Young.
“Coba kamu baca lebih menyeluruh dokumen ini,” ucap Tae-Hyun.
“Anak ini melakukan operasi yang besar berkali-kali, tapi di sini tidak menjelaskan bahwa anak ini sedang sakit keras,” ujar Tae-Hyun.
“Kamu benar Tae-Hyun bahkan hasil labnya menjelaskan bahwa dia sedang baik-baik saja dan bahkan di katakan sangat sehat,” timpal Hee-Young.
“Lalu kenapa dia menjalankan operasi berat ini berkali-kali?” tanya Tae-Hyun yang sangat penasaran.
“Chin-sun apakah Dong-min menemukan sesuatu yang lain tentang anak ini?, Minta dia mencari informasi lain tentang anak yang bernama Ria-khyun,” tutur Hee-Young.
“Baiklah aku akan menyuruhnya mencari informasi lain,” ucap Chin-sun.
“Kenapa kalian belum juga membuka ruangan di rekrut utama itu, cepatlah semua penonton sudah menunggu dari tadi.”
Bruuukkkk Brrukkkkk praaannnnggg
“Suara apa itu?”
“Kamu juga mendengar suara tadi kan?” tanya Hee-Young.
“Iya, aku mendengarnya suara itu berasal dari dalam ruangan Direktur utama,” jawab Tae-Hyun.
“Lebih baik kita mulai membuka pintu itu, biar aku yang memegangi kameranya,” Ujar Hee-Young.
Mereka mulai membuka pintunya menggunakan berbagai macam alat dengan susah payah dan butuh waktu sangat lama
“Dong-min ucapkan sesuatu!” ucap Chin-sun
“Aku tidak menemukan apa-apa lagi di sini, Chin-sun,” tutur Dong-min.
“Tadi Hee-Young dan Tae-Hyun mendapatkan sesuatu dan mereka menemukan sebuah dokumen tentang pasien yang bernama Ria-khyun,” ujar Chin-sun.
“Benarkah, lalu?”
“Tapi sayangnya dokumen itu terlihat aneh, coba kamu lihat informasi anak yang bernama Ria-khyun itu, siapa tahu ada informasi lain,” ujar Chin-sun.
“Rasanya nama itu tidak asing, oke bentar ya aku cek lagi,”
“Cepatlah!”
“Nah ini dia dokumennya,” kata Dong-min.
“Coba kamu lihat, anak itu memiliki riwayat penyakit apa,” Suruh Chin-sun.
“Penyakitnya parah sekali dalam satu tahun berturut-turut dia menjalani operasi. Di operasi pertama di jelaskan bawah dia memiliki penyakit gagal jantung akut hingga di putuskan untuk mengoperasi jantungnya dan di ganti dengan jantung buatan. Di operasi kedua dia menjalankan operasi pada ginjalnya karena ginjal yang membusuk akibat infeksi, tapi tidak satu ginjal malah kedua-duanya,” Jelas Dong-min panjang lebar.
“Kenapa seram sekali sih, tapi kenapa berbeda dengan dokumen yang ditemukan Hee-Young dan Tae-Hyun?” tanya Chin-sun.
“Beda bagaimana maksudmu Chin-sun?” ucap Dong-min balik bertanya.
“Dari dokumen yang mereka dapat di nyatakan anak itu baik-baik saja, tapi memang dia melakukan operasi berkali-kali, seakan-akan anak itu di operasi hanya untuk mengambil organ tubuhnya,” awab Chin-sun.
“Tapi kenapa data di sini berbeda dari data yang ada di lantai dua?” tanya Dong-min yang mulai bingung.
“Apakah mereka sudah berhasil membuka pintu ruang Direktur utama?” tanya Dong-min.
“Sepertinya belum, mereka baru saja mulai membukanya,” jawab Chin-sun.
“Lalu, bagaimana dengan Eun-Jung dan Joo-Chan?” tanya Dong-min lagi sambil melihat kembali data-data yang ada di sana.
“Mereka baik-baik saja Dong-min, kamu tidak perlu khawatir,” jawab Chin-sun berbohong padahal temannya yang dua itu sudah hilang kontak dengannya.
Chin-sun tidak mau jika Dong-min tahu kebenarannya, karena Dong-min pasti akan menyudahi rencana ini dan itu pasti akan menjadi hal yang sia-sia.
“Lalu apa yang mereka dapatkan?” tanya Dong-min lagi.
“Mereka tidak becus Dong-min, mereka tidak menemukan apa pun, percuma saja kita membawa mereka kesini,” jawab Chin-sun.
[Waah kamu keterlaluan Chin-sun]
“Baguslah jika tidak terjadi apa-apa dan mereka baik-baik saja, aku tidak mau hanya karena ini nyawa kita dalam bahaya, sebagai teman kita harus saling menjaga, benarkan Chin-sun?” tanya Dong-min
Namun pertanyaan itu membuat Chin-sun terkejut seakan Dong-min menyindirnya.
“Ii-iya...iyaa Dong-min, tentu saja kita harus saling menjaga,” jawab Chin-sun di barengi dengan tersenyum kecut.
************
Cekkklek
Akhirnya pintu ruangan Direktur Utama terbuka juga setelah berbagai usaha dan alat yang digunakan.
“Cepat masuk, Hee-Young!” Suruh Chin-sun.
Hee-Young dan Tae-Hyun segera memasuki kamar itu perlahan, tampak beberapa berkas dan juga pajangan foto yang sudah berserakan dilantai.
“Oh...jadi ini yang mengagetkan aku tadi,” kata Tae-Hyun.
Hee-Young memeriksa setiap sudut ruangan dan tiba-tiba Hee-Young kehilangan keseimbangan kemudian terjatuh. Tubuhnya mendorong sebuah vas bunga yang sudah penuh lumut dan debu.
“Aduh!” Ringis Hee-Young mengusap pant*tnya.
“Kamu sedang apa Hee-Young, jangan membuat keributan di sini,” ujar Tae-Hyun.
“Kamu tidak bisa melihat apa aku..."
Dreeeet...penggg
Lemari yang berisi banyak buku itu tiba-tiba bergeser sendiri, memperlihatkan apa yang disembunyikan dibaliknya.
“Itu seperti kamar rahasia Hee-Young,” ujar Tae-Hyun berjalan mendekati ruangan itu.
Sementara Hee-Young segera bangkit dan mengikuti Tae-Hyun.
“Cepat kemari Hee-Young, lihat ini!” teriak Tae-Hyun.
“Astaga tempat apa ini?” tanya Hee-Young.
“Ini seperti tempat menaruh sesajen,” jawab Tae-Hyun.
“Kenapa ini seperti jantung manusia, Tae-Hyun?” tanya Hee-Young dengan tangan bergetar sambil memegang sesajen itu.
“Dan yang ini seperti ginjal manusia,” ucap Tae-Hyun.
“Kenapa sesajennya berupa organ tubuh manusia?” tanya Hee-Young bingung.
Braaaakkkkk
Pintu ruangan rahasia itu terkunci kembali. Hee-Young dan Tae-Hyun saling tatap dan mulia berlari ke arah pintu, mereka segera membukanya namun tetap tidak bisa terbuka.
[Hiks hiks hiks]
Tiba-tiba ada suara tangis di bawah meja sesajen itu.
“Siapa itu?” tanya Tae-Hyun.
“Jangan main-main!” Teriak Hee-Young
Sementara suara itu makin keras. Hee-Young jongkok dan menunduk melihat ke bawah meja, dia melihat sepasang kaki dan tangan dilumuri darah yang sudah lama mengering. Tangannya bergerak dan berusaha menggapai sesuatu di atas meja sesajen.
Kemudian sosok itu keluar dari bawah meja memperlihatkan bentuk tubuhnya kepada Hee-Young dan Tae-Hyun.
Sosok itu mengambil sesajen yang berupa jantung dan ginjal tersebut kemudian memakannya.
“Hueekk uueeekkk!” Hee-Young dan Tae-Hyun langsung mual melihat penampakan itu.
Mata tajam sosok itu menatap mereka tidak suka dan melempar sisa jantung dan ginjal kepada mereka.
Hee-Young yang sudah bergetar hebat terduduk dan mulai menangis namun mata tetap tidak mau berpaling dari makhluk aneh itu.
Sedangkan Tae-Hyun berusaha membuka pintu kamar, namun usahanya sia-sia karena pintu itu sudah tertutup rapat.
Seketika semua benda yang ada di sana beterbangan, hingga suasana semakin mencekam. Semakin lama makhluk itu di tatap maka semakin menyeramkan. Mata yang keluar, mulut yang robek, dan isi perut yang terburai.
“Tolong tolong!” teriak mereka.
“Hahahahhahaaha,” Makhluk itu tertawa hingga menggema di telinga.
Sementara Chin-sun yang mengamati dari tadi juga ikut merinding.
**************
“Wah gawat, cepat pergi dari sana!”
“Sudah aku bilang rumor itu benar.”
“Makanya jangan suka main-main di tempat seperti itu.”
“Kalian semua sudah dikutuk!”
Itulah deretan komentar para netizen dan banyak lagi, kini jumlah penontonnya sudah mencapai 1jt.
************
“Hee-Young jangan buang-buang kesempatan arahkan kameranya kepada makhluk itu!” ujar Chin-sun.
Hee-Young mengarahkan kameranya, tampak jelas betapa hancur tubuh makhluk itu.
Tiba-tiba makhluk itu mendekat dan melempar kamera yang dipegang Hee-Young ke sembarang arah lalu menatap Hee-Young tajam.
“Waaaaarrkkk!” makhluk itu berteriak tepat di depan Hee-Young hingga membuat gadis itu menggigil dan pingsan.
“Hee-Young...Hee-Young...bangun!” ujar Tae-Hyun menepuk-nepuk wajah Hee-Young.
Makhluk itu beralih menatap Tae-Hyun, dan menarik rambut Tae-Hyun kuat, keluar dari ruangan itu.
“Tolong... tolong...!”
“Makhluk aneh lepaskan aku!” teriak Tae-Hyun.
Seketika makhluk itu berhenti dan melepaskan cengkeraman di kepala Tae-Hyun, namun bukan bertujuan melepaskan Tae-Hyun.
Makhluk itu mengambil balok besar di sudut ruangan, lalu menuntunnya ke arah Tae-Hyun. Tae-Hyun ketakutan setengah mati melihat betapa mengerikan makhluk itu.
“Ampun, jangan sakiti aku, ampun!” teriak Tae-Hyun memohon kepada makhluk itu.
“Hahahhah!” makhluk itu tertawa nyaring mengerikan.
Dan...
Paaggkk
Seketika penglihatan Tae-Hyun buram dan menggelap, Tae-Hyun mengelus kepalanya yang terasa nyeri, terlihat darah segar ditangannya hingga akhirnya tidak sadarkan diri.
Melihat Tae-Hyun yang sudah tidak bergerak makhluk itu menarik kaki kirinya dan membawa Tae-Hyun entah ke mana.
Chin-sun yang melihat kejadian itu merinding ketakutan namun, ia paksakan bertahan agar semua tidak sia-sia. Itulah yang dia pikirkan.
“Dong-min, lebih baik kamu membantu Hee-Young di lantai 2, lagi pula di lantai 1 tidak ada apa-apa lagi,” ujar Chin-sun.
“Baiklah, aku akan ke sana,” ucap Dong-min melangkah pergi menaiki anak tangga.
Di lantai 3 tampak Eun-Jung memangku lututnya di tengah-tengah ruangan yang sangat berantakan.
“Hiks...hiks...hiks,” Eun-Jung menangis sejadi-jadinya karena takut, dan juga telah kehilangan Joo-Chan.
“Eun-Jung jangan menangis seperti itu, aku yakin Joo-Chan akan baik-baik saja,” hibur Chin-sun.
Sementara Eun-Jung tetap saja menangis tanpa henti.
Gluduk...gluduk...
Saat mendengar itu Eun-Jung berhenti menangis dan membuka matanya. Ia melihat sebuah bola kasti yang bergelinding ke arahnya dan tepat berhenti di kakinya.
Eun-Jung mengambil bola itu dan segera melemparnya kembali saat melihat apa yang ada di bola itu. “MATI” itulah yang tertulis dibola itu dengan goresan warna merah pekat seperti darah.
Eun-Jung segera berlari turun ke lantai dua, Ia berharap dapat bertemu temannya yang lain, Ia sangat ketakutan tubuh yang bergetar hebat membuat Eun-Jung terjatuh berkali-kali.
Braakkkk
“Aaaa...!” Eun-Jung berteriak saat pintu di sampingnya dibuka paksa, Ia menutup matanya dan memeluk lututnya.
Tubuhnya bergetar hebat dan isak tangis yang menggema.
Tiba-tiba ada sesuatu yang mendarat di pundaknya. Dan akibatnya Eun-Jung semakin keras menangis.
“Eun-Jung, kamu kenapa kok ada di sini bukannya kamu di lantai 3?” tanya Dong-min
“Dong-min!” Seru Eun-Jung dan memeluk erat tubuh Dong-min.
“Kamu kenapa Eun-Jung, dan mana Joo-Chan kenapa hanya ada kamu di sini?” tanya Dong-min bingung.
Sementara Eun-Jung, bukannya menjawab pertanyaan Dong-min, ia malah makin histeris dengan tubuh yang bergetar memeluk tubuh Dong-min.
“Aku takut, aku takut,” Hanya itu yang dapat keluar dari mulut Eun-Jung.
“Tenang Eun-Jung, semua akan baik-baik saja, ada aku di sini,” ucap Dong-min menenangkan Eun-Jung.
Butuh waktu lama sampai Eun-Jung lebih tenang dan mulai membuka suara. Eun-Jung menceritakan semua yang telah terjadi kepadanya dan Joo-Chan.
“Aku takut Dong-min, aku harus pulang,” Pinta Eun-Jung yang kembali menangis saat mengingat kembali kejadian demi kejadian yang ia lalui.
“Baiklah kita akan pulang, kamu harus tenang. Sebelum kita pulang kita harus mencari Hee-Young dan Tae-Hyun. Mereka pasti masih di ruangan Direktur utama,” ujar Dong-min memapah tubuh Eun-Jung yang sudah tak bertenaga.
“Kalian tidak bisa pulang begitu saja, kita sudah sampai di sini, dan jika kita pulang dengan tangan kosong itu akan menjadi sia-sia,” kata Chin-sun dari seberang sana.
“Chin-sun, kita semua dalam bahaya,” ucap Dong-min.
“Jangan terlalu egois Chin-sun, nyawa kita yang jadi taruhannya jika tetap di sini,” cecar Eun-Jung yang mulai kesal akan keegoisan Chin-sun.
Akhirnya Chin-sun bungkam, dengan hati yang masih kesal karena teman-temannya yang terlalu berlebihan.
Dong-min dan Eun-Jung sampai di depan ruangan Direktur dan mereka melihat pintu yang misterius itu sudah terbuka lebar.
Tanpa menunggu lama mereka memasuki ruangan itu dan mulai mencari Hee-Young dan Tae-Hyun.
“Hee-Young!” Teriak Dong-min.
“Tae-Hyun!” Teriak Eun-Jung.
“Ke mana mereka, kenapa tidak ada di sini?” tanya Dong-min.
“Dong-min, lihat sepertinya itu sebuah pintu dan sudah terbuka. Mungkin mereka ke sana,” ujar Eun-Jung dan mulai melangkah memasuki ruangan itu di ikuti oleh Dong-min.
“Hee-Young!” teriak Eun-Jung histeris saat melihat Hee-Young yang tergeletak di lantai yang sangat kotor itu.
“Hee-Young, bangun!”
“Hee-Young!” teriak Eun-Jung sambil menepuk pipi Hee-Young dan menggoyang tubuhnya.
“Aaaaa!” Hee-Young berteriak saat sadar dan menutup matanya dengan telapak tangannya.
“Hee-Young, ini aku Eun-Jung,” ucap Eun-Jung menyadarkan Hee-young.
“Hee-Young, kenapa kamu bisa pingsan dan ke mana Tae-Hyun?” tanya Dong-min.
“Hiks... hiks...hiks,” bukanya menjawab Hee-Young malah menangis di pelukan Eun-Jung.
“Tae-Hyun...aku tidak tahu dia ke mana, yang aku ingat sebelum aku pingsan ada makhluk yang menakutkan,” jawab Hee-Young dengan suara beratnya.
“Ya ampun ke mana mereka,” kata Dong-min mengusap wajahnya kasar.
“Di mana Joo-Chan, kenapa tidak bersama kalian?” tanya Hee-Young yang baru menyadari bahwa sedari tadi tidak melihat Joo-Chan.
“Aku juga kehilangan Joo-Chan, Hee-Young,” Jawab Eun-Jung sendu.
“Jadi kedua teman kita sudah hilang?” tanya Hee-Young dan memijat jidatnya yang mulai terasa nyeri.
“Kita harus menemukan mereka sebelum kita pergi dari tempat terkutuk ini,” ujar Dong-min.
“Tapi aku sudah tidak sanggup lagi, Dong-min,” jawab Eun-Jung.
“Aku juga sudah benar-benar lelah, aku juga sangat takut,” timpal Hee-Young.
“Baiklah kalo begitu kalian kembali terlebih dahulu ke tenda, biar aku saja yang mencari mereka,” tutur Dong-min.
“Kamu serius mau mencari mereka sendirian?” tanya Hee-Young.
“Iya...,kalian tahu kan jalan kembali ke tenda. Jika kalian tidak ingat cari bendera berwarna merah yang sudah aku tancapkan sebagai petanda,” ujar Dong-min.
“Baiklah kita pasti ingat,” ucap Eun-Jung.
“Kalo begitu aku pergi mencari mereka dulu,” kata Dong-min dan pergi meninggalkan mereka.
“Eun-Jung, kamu masih kuat untuk berjalan kan?” tanya Hee-Young.
“Masih kok, ayo pergi dari tempat terkutuk ini,” jawab Eun-Jung.
Dan mereka juga melangkah pergi dari ruangan itu. Walau selalu terjatuh karena tubuh yang sudah lelah mereka tetap berusaha bertahan.
Melihat itu dari kejauhan Chin-sun sangat marah, dia melemparkan semua barang yang dia temui di tenda itu.
Hingga tiba-tiba lampu kecil yang dipasang di tenda itu hidup dan mati secara otomatis. Melihat itu Chin-sun langsung terdiam dan duduk kembali di bangkunya yang dia tempati tadi, barulah lampu itu tak berulah lagi dan tetap hidup.
Di lantai 2, Dong-min sibuk memanggil nama Tae-Hyun dan Joo-Chan. Namun hasilnya sia-sia tidak ada tanda-tanda di mana keberadaan kedua temannya itu. Akhirnya Dong-min memilih naik ke lantai 3 dengan penuh harapan.
Dia menyelusuri semua ruangan Namun juga tidak menemukannya. Tampak Joo-Chan dan Tae-Hyun tergeletak tak berdaya di ruangan yang sama. Joo-Chan mulai membuka matanya dan mengamati tempat itu dengan kedua matanya.
“Tempat apa ini?” tanya Joo-Chan dan berusaha duduk
“Tae-Hyun!” tampak Tae-Hyun tergeletak disisinya dengan kepala penuh darah yang mulai mengering.
“Tae-Hyun!” Joo-Chan berteriak menghampirinya dan berusaha membangunkannya.
Namun sayangnya, Tae-Hyun sudah meninggal akibat pukulan di kepalanya yang sangat kuat.
Mengetahui temannya yang sudah tiada Joo-Chan histeris dan memeluk tubuh dingin temannya itu.
“Joo-Chan...Tae-Hyun!” Dong-min masih saja berusaha mencari mereka. Teriakan itu didengar oleh Joo-Chan.
Joo-Chan segera membalas teriakan itu dan berusaha membuka pintu yang telah dikunci rapat.
“Dong-min, aku di sini, tolong aku, Dong-min!” Joo-Chan terus saja berteriak sekuat yang ia bisa.
Namun sayang suaranya tak didengar oleh Dong-min karena ruangan itu kedap suara ditambah ruangan itu tak terdapat pintu, hanya ada dinding penuh lukisan yang di lihat Dong-min.
“Dong-min, aku bersama Tae-Hyun di sini!” teriak Joo-Chan tanpa henti.
Namun samar terdengar langkah Dong-min mulai menjauh.
Dan itu membuat Joo-Chan sangat kesal. Ia berusaha mendobrak pintu itu namun tetap saja tak bisa.
“Hahahah!” Tiba-tiba suara tawa menakutkan itu menggema di ruangan yang seperti gudang itu.
“Siapa itu!” teriak Joo-Chan.
“Kalian akan MATI, Hahahahahaha!” Suara tanpa rupa itu perlahan menghilang.
Salah, dia bukan menghilang namun berusaha menapakkan tubuhnya yang mengerikan itu kepada Joo-Chan.
Saking takutnya Joo-Chan merasakan sesuatu yang mengalir di celananya dan itu terasa hangat. Kaki Joo-Chan menggigil hingga tidak dapat lagi menahan berat tubuhnya.
“Ampunilah aku. Jangan bunuh aku,” Kata Joo-Chan mengiba.
Namun bukan iblis namanya jika semudah itu luluh dengan manusia. Makhluk itu malah tertawa lantang mendengar ucapan Joo-Chan.
“Bukankah kalian kesini mencari aku,” ucap makhluk itu dengan suara berat.
“Kalian sudah melanggar peraturannya, kalian mengusik kedamaian ku. Sebagai balasannya kalian harus MATI!” ucap makhluk itu disela tawanya yang sangat menyeramkan bagi Joo-Chan.
Seketika semua benda di ruangan itu melayang-layang dan makhluk itu tak henti-hentinya tertawa.
Tepat di depan Joo-Chan ada kursi dengan kaki yang siap menghantam Joo-Chan. Joo-Chan segera menutup matanya dan masih berusaha membuka pintu itu, namun.
Bruuukkk
Semua benda itu menghantam Joo-Chan hingga tewas mengenaskan. Dan ruangan itu penuh dengan darah.
Makhluk itu tertawa puas dan mulai mendekati Tae-Hyun. Dengan jemarinya yang tajam dia mengambil paksa jantung dan ginjal Tae-Hyun begitu juga dengan Joo-Chan. Makhluk itu tertawa puas dan mulai menghilang.
“Setelah ini kita ke arah mana Hee-Young?” tanya Eun-Jung.
“Aku juga tidak tahu Eun-Jung, tapi tadi kata Dong-min, dia pernah menancapkan bendera merah, jadi kita harus mencari bendera itu sebagai petunjuk,” jawab Hee-Young.
Tak begitu lama akhirnya mereka menemukan bendera itu dan mulai melangkah menelusuri jalan yang penuh dengan ranting dan rumput tinggi dimana-mana.
“Berhenti Hee-Young, aku lelah sekali,” kata Eun-Jung memegang kakinya yang sudah sangat tidak berdaya untuk berjalan.
“Ayolah, kita harus keluar dari tempat terkutuk ini, sebentar lagi pasti kita akan sampai,” ujar Hee-Young membantu Eun-Jung untuk berjalan.
Lebih dari 1 jam mereka berjalan namun hasilnya nihil, mereka tidak menemukan jejak dari tenda besar yang mereka dirikan.
“Eun-Jung, kamu sadar tidak sih, sejak tadi kita sepertinya hanya berputar-putar di sini saja,” ujar Hee-Young.
“Kamu benar Hee-Young, lagi-lagi kita menemukan bendera merah ini padahal kita sudah sangat jauh rasanya berjalan,” tutur Eun-Jung.
“Hee-Young, mungkin benar dengan rumor itu. Jika kita masuk maka tidak bisa kembali lagi,” kata Eun-Jung.
Sementara Hee-Young hanya diam tak bersuara, tubuhnya tiba-tiba kaku dan tatapan matanya kosong.
“Hee-Young, kenapa kamu diam saja, aku takut, bagaimana jika kita tidak bisa keluar dari sini selamanya,” ujar Eun-Jung yang tidak sadar akan perubahan Hee-Young.
“Hee-Young, kamu mendengarkan aku tidak sih!” teriak Eun-Jung yang mulai kesal karena tak mendapatkan respons apa pun.
“Hee-Young, kenapa kamu melihat aku seperti itu?” tanya Eun-Jung yang mulai menyadari perubahan Hee-Young.
Hee-Young menatap Eun-Jung tajam, sorot matanya menyeramkan dan matanya mulai memerah seperti darah. Tubuhnya juga mulai berubah menjadi sosok yang mengerikan, Eun-Ju yang melihat itu segera berlari tanpa arah.
Bruuukkkk...
Eun-Jung terjatuh berkali-kali karena dia sangat ketakutan dan juga kelelahan.
Eun-Jung terus saja berlari namun nyatanya dia hanya berlari di tempat, karena lelah Eun-Jung berhenti sejenak dengan tangis yang tak henti-hentinya.
“Kalian akan MATI!” kata makhluk mengerikan itu disela tawanya dan makin menghampiri Eun-Jung.
Melihat itu Eun-Jung, segera berlari dengan kekuatan yang masih ada.
[Bruuukkkk]
Eun-Jung jatuh lagi, dan kali ini dia jatuh di sambut oleh ujung besi yang runcing menjulang menembus kepala tepat di matanya.
“Aaaaa!” Pekik Eun-Jung sebelum merenggang nyawa.
Darahnya berceceran dimana-mana, makhluk itu tertawa puas melihat satu demi satu dari mereka mati di tangannya.
Makhluk itu mendekat dan mengambil paksa jantung dan ginjal Eun-Jung, sama seperti yang terjadi dengan kedua temannya yang lain.
Makhluk itu keluar dari tubuh Hee-Young, meninggalkan Hee-Young yang tergeletak di sisi Eun-Jung yang sudah tewas mengenaskan.
Hingga kini 3 kamera yang tidak bergerak lagi, itu membuat Chin-sun semakin geram.
Banyak netizen yang mengomentari ada yang positif dan juga negatif. Penontonnya sudah lebih dari 2 juta penonton.
Tak lama Hee-Young sadar. Dia memegang kepalanya yang terasa amat sakit, dan mulai memperjelas penglihatannya.
“Aa-aa!” Hee-Young histeris saat melihat keadaan Eun-Jung yang tubuhnya masih melekat dengan besi tua yang runcing itu.
“Eun-Jung...tidak mungkin...tidak mungkin!” Hee-Young berteriak memukul dirinya berharap ini semua adalah mimpi, namun pukulan itu terasa sakit dan itu tandanya bahwa semua ini nyata.
Hee-Young berusaha berdiri, dia memilih memasuki ruangan itu kembali berharap bisa bertemu Dong-min, sungguh dia benar-benar takut jika sendirian.
Langkah demi langkah ia lakukan untuk memasuki kembali ruangan yang sudah dikutuk itu, butuh waktu yang cukup lama hingga dia sampai di lantai 2 karena kakinya yang sudah tak mampu bertahan.
“Dong-min!” teriak Hee-Young sambil menangis.
Sudah cukup lama Hee-Young mengelilingi ruangan lantai 2 namun tetap tidak menemukan Dong-min.
Karena sudah tidak berdaya lagi, Hee-Young duduk di atas lantai keramik tua yang sangat kotor itu.
[Gluduk gluduk]
Sebuah bola kasti menghampiri Hee-Young, Hee-Young kemudian mengambil bola itu, “MAT” bola yang sama didapatkan oleh Eun-Jung namun bola yang bertuliskan kata “MATI” itu tidak hanya satu tapi sangat banyak.
Dia datang dari segala penjuru ruangan, itu membuat Hee-Young makin histeris.
Hee-Young segera berdiri dan melangkahkan kakinya, namun tak sengaja dia malah menginjak salah satu bola kasti hingga Hee-Young terjatuh dan kepalanya membentur lantai, pandangannya buram, samar terlihat seseorang memegang balok besar dan berjalan ke arahnya.
“Siapa itu...Dong-min, apakah itu kamu?”
“Dong-min, tolong aku,” ujar Hee-Young dengan tangan menggapai meminta pertolongan.
Namun bukan bantuan yang dia dapatkan. Melainkan gelak tawa yang menggema mengerikan.
Hee-Young sadar bahwa itu bukan Dong-min, melainkan makhluk aneh itu, dia berusaha merangkak menjauh.
Makhluk itu menggapai rambut Hee-Young yang sudah berantakan dan menariknya dengan satu tangan. Hee-Young meronta-ronta dan itu membuat makhluk itu kesal.
Tanpa aba-aba kepala Hee-Young sudah dibasahi darah dan sudah tidak sadarkan diri.
Melihat Hee-Young sudah tidak bergerak makhluk itu bukannya berhenti dia malah makin ganas memukul kepala Hee-Young hingga pec*h.
Kemudian merogoh jantung dan ginjal Hee-Young dan memakannya.
Disudut ruangan tampak Dong-min yang sudah putus asa untuk mencari kedua temannya yang hilang bahkan sudah tewas.
“Tae-Hyun... Joo-Chan, sebenarnya di mana kalian,” Gumam Dong-min putus asa.
“Apakah Hee-Young dan Eun-Jung sudah kembali ke dalam tenda?”
“Semoga yang lain baik-baik saja,” ucap Dong-min dan beranjak pergi dari sana.
[Braaaakkkkk]
Tiba-tiba sebuah lukisan besar terjatuh dan tampaklah sebuah ruangan dengan pintu yang tertutup rapat.
“Ruangan apa itu, kenapa ditutupi oleh lukisan besar ini?” tanya Dong-min pada dirinya sendiri.
Dong-min menggapai gagang pintu itu perlahan dan mencoba membukanya, dan pintu itu terbuka sangat mudah, tidak butuh tenaga besar untuk membukanya.
Setelah pintu itu terbuka, wajah Dong-min pucat pasi, tubuhnya melangkah mundur hingga terjatuh.
“Apa yang telah terjadi...Tae-Hyun... Joo-Chan!” Dong-min histeris melihat pemandangan yang mengerikan itu.
Ya, itu adalah gudang, di mana Tae-Hyun dan Joo-Chan di kurung dan dibantai oleh makhluk mengerikan itu.
Tampak darah yang mulai mengering berceceran dimana-mana. Kedua tubuh temannya kaku dan dingin, luka yang dalam dimana-mana, tak lupa bau anyir memenuhi ruangan itu.
Dong-min tak kuasa melihat semua itu, dia lari sejauh mungkin yang dia bisa, air mata yang tak henti mengalir beserta isak tangis yang tertahan.
Dong-min berhenti saat sudah berada dilantai 2, tubuhnya terhentak tak berdaya, perlahan penglihatannya buram.
“Di mana ini?” Dong-min bingung dia berada di tempat yang sama namun suasana yang berbeda.
Dong-min melihat banyak pasien yang lalu lalang dari berbagai macam usia dan penyakit.
Hingga matanya terpaut pada seorang anak kecil yang tidak asing baginya.
“Bukankah itu Ria-khyun, ya, dia pasti Ria-khyun wajahnya sangat mirip dengan yang aku lihat didata pasien,” ucap Dong-min.
Ria-khyun duduk di salah satu kursi di sana, tatapan matanya kosong, tak ada senyum kebahagiaan di sana, dia hanya sendiri sementara anak-anak lain bercanda gurau bersama-sama.
Dong-min mendekatinya, duduk di sampingnya memperhatikan setiap sudut wajah Ria-khyun.
“Adik manis, kenapa kamu tampak sangat bersedih?” tanya Dong-min. Namun Ria-khyun tidak menggubrisnya.
“Kenapa kamu sendiri saja, di mana orang tuamu?” tanya Dong-min, lagi dan lagi Ria-khyun tetap diam seakan dia tidak mendengar perkataan Dong-min, hingga seorang suster mendekatinya.
“Ria-khyun, ayo kembali ke kamarmu dan istirahat,” ujar suster itu ramah, dan Ria-khyun mengangguk lemah.
Dong-min mengikuti mereka ke lantai 3 sampai memasuki salah satu kamar, Ria-khyun berbaring dan menutupi tubuhnya hingga dada dengan selimut.
“Sayang, kamu harus banyak-banyak istirahat karena besok kamu akan dioperasi,” kata suster itu sambil memperbaiki infus.
Dilantai 2 tampak seorang pria melangkah memasuki rumah sakit itu.
“Selamat siang Pak,” Sapa semua orang yang menemui pria dengan jas hitam dan kemeja putih itu, dia juga bersama dua pengawal pribadinya.
Dia membalas ramah sapaan yang didapatnya, dan kemudian berlalu memasuki sebuah ruangan, tentu saja itu ruangannya.
Dia berjalan menuju mejanya dan mengangkat gagang telepon dan mulai mengetik.
Tuut tuuut tuuuuut
“Halo Pak, selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang suster di seberang sana.
“Segera ke ruangan saya, jangan lupa bawa berkas-berkas tentang pasien bernama Ria-khyun!” perintah Direktur Utama dan memutus sambungan sepihak.
Tak lama suster itu datang dengan sebuah map yang di tentengnya memasuki ruangan Direktur Utama.
Tok...tok...tok
“Masuk!” suruh seseorang dari dalam tak lain adalah Direktur Utama sendiri.
“Selamat siang Pak, ini berkas-berkas yang Bapak minta,” ujar suster itu sembari menyerahkan map yang dibawanya tadi.
Direktur mengambilnya dan mengamati satu persatu.
“Bagaimana keadaan anak itu sekarang?” tanya Direktur.
“Dia baik-baik saja Pak,” jawab Suster.
“Bagaimana dengan jantungnya?” tanya Direktur.
“Jantungnya sangat baik, Pak,” jawab Suster.
“Jangan sampai dia tahu bahwa kita perlahan membunuhnya, paham!” ucap Direktur.
“Paham, Pak.”
“Kamu boleh pergi,” kata Direktur.
“Baik Pak, permisi,” Belum sempat suster itu menarik gagang pintu Direktur Utama memanggilnya lagi.
“Tunggu, di mana anak itu sekarang?” tanya Direktur.
“Dia sedang istirahat di kamarnya Pak,” jawab Suster.
“Baiklah terima kasih,” ucap Direktur. Suster itu mengangguk dan segera melangkah pergi.
“Aku harus berusaha dekat dengannya agar dia tidak curiga atau orang lain mencurigai aku,” Gumam Direktur sambil mengusap kumisnya yang tidak lebat itu.
Dong-min yang masih setia di ruangan Ria-khyun terkejut saat melihat Direktur memasuki ruangan Ria-khyun dan menghampirinya.
“Hai sayang, bagaimana keadaanmu?” tanya Direktur sambil menaruh parsel buah yang segar di atas nakas Ria-khyun.
“Pak Direktur!” sambut Ria-khyun sembari duduk dan tersenyum manis.
“Bapak bawakan buah-buahan yang sangat enak dan masih segar, agar kamu cepat sembuh dan operasi besok berjalan lancar,” ujar Direktur ramah mengusap lembut kepala Ria-khyun.
“Terima kasih Pak, Bapak baik sekali, Ria sangat senang karena masih ada orang yang peduli dengan Ria,” ujar Ria-khyun dibalas senyuman oleh Direktur.
Saat Dong-min memejamkan matanya, hanya dalam satu detik ruangan Ria-khyun berubah menjadi ruangan operasi, tampak seorang pasien yang siap dibedah tepat di jantungnya.
Dong-min yang melihat pisau bedah yang mulai menari-nari segera menutup matanya dan memundurkan diri dari sana.
“Aku tidak menyangka Direktur setega ini,” ucap salah seorang dokter yang sedang sibuk memegang alat operasi.
“Kamu benar, dia tega menjadikan anak tak berdosa ini sebagai tumbalnya hanya untuk keyakinan anehnya itu,” timpal seorang dokter wanita.
“Direktur memang aneh, bagaimana mungkin jantung anak kecil tak bersalah ini bisa membuat dia makin kuat dan kaya raya,” kata seorang dokter pria.
“Aku yakin, pasti Direktur mengikuti ajaran sesat, logika saja siapa lagi yang percaya di zaman modern ini dengan menumbalkan sesuatu dan hasilnya dia akan kuat dan kaya raya,” ujar seorang dokter wanita.
“Sudahlah jangan bicara lagi, jika sampai Direktur mendengar maka kalian pasti akan kehilangan pekerjaan dan kalian pasti tidak akan tenang,” kata seorang dokter pria yang paling tua di antara mereka.
Mendengar pekerjaannya terancam akhirnya mereka bungkam dan kembali fokus dengan operasi.
“Jadi, operasi ini dilakukan semata-mata hanya untuk mengambil jantung dan ginjalnya dan itu digunakan sebagai tumbal agar Direktur tetap kaya,” Gumam Dong-min memijit pelipisnya karena rasa sakit yang tak tertahankan.
Dong-min kembali terkejut saat melihat ruangan operasi itu kosong, dan terdengar suara gaduh di luar, Dong-min membuka pintu ruangan operasi itu secara perlahan tampak semua orang di sana berteriak ketakutan. Darah dan mayat ada dimana-mana.
“Tolong, jangan bunuh aku,” ujar seorang suster, Dong-min segera menghampirinya tampak Ria-khyun sedang mengarahkan pisau bedah ke arah suster itu.
Dong-min berusaha menggapai tangan Ria-khyun untuk mencegahnya namun sayangnya dia tidak bisa menggenggam tangan Ria-khyun, dan akhirnya suster itu mati dengan luka hebat di bagian jantungnya.
Tak butuh waktu lama semua yang ada di sana sudah tewas termasuk Direktur Utama. Ria-khyun sudah mati tapi dia hidup kembali hanya untuk balas dendam karena dia dibunuh dengan cara sangat keji.
Jantung dan ginjal Ria-khyun sudah diserahkan sebagai syarat kepada iblis yang dipelihara oleh Direktur di ruangan rahasianya.
Tak lama setelah semua tewas, polisi dan pihak berwenang datang. Karena tidak menemukan bukti apa pun mengenai kejadian itu penyelidikan ditutup dan rumah sakit dipagari agar tidak seorang pun yang bisa memasukinya. Selain masalah belum terpecahkan ini juga sangat bahaya.
Namun Ria-khyun tidak terima karena masih ada yang belum bertanggungjawab atas kematiannya, hingga Ria-khyun membunuh semua orang yang memasuki rumah sakit itu tidak hanya Ria-khyun saja yang ada di sana, namun iblis keji itu juga di sana tepat di ruangan rahasia Direktur.
Dia terkurung di sana saat pintu dikunci rapat oleh Ria-khyun, meskipun Ria-khyun masih anak-anak kekuatan iblis itu kalah akan besarnya rasa dendam yang ada pada Ria-khyun, terlebih jantung dan ginjalnya di jadikan tumbal kepada iblis itu, namun tetap saja Ria-khyun tidak mampu untuk bertarung dengannya.
Dan tiba-tiba Dong-min pingsan saat semua yang telah diketahuinya dimasa lalu.
Saat Dong-min tersadar dia sudah berada di ruangan yang sudah tua penuh lumut dan debu.
“Apa itu,” Gumam Dong-min memijit pelipisnya.
“Apakah itu bayangan tentang masa lalu di rumah sakit ini, jadi anak kecil yang bernama Ria-khyun itu memang tidak sakit tetapi penyakitnya dipalsukan hanya untuk mengambil jantung dan ginjal anak tak bersalah itu,” gumam Dong-min mengingat kembali yang dia lihat itu.
“Ria-khyun memiliki kekuatan dendam yang amat besar, bagaimana mungkin anak sekecil itu memiliki dendam. Orang dewasa memang jahat,” Ucap Dong-min meneteskan air matanya pilu.
Brakk Brukk Brakk Brukk
Pintu setiap ruangan terbuka dan tertutup secara otomatis dan bersamaan. Angin kencang datang entah dari mana asalnya membuat semua benda mati yang ada di sana melayang-layang.
Dong-min sangat terkejut saat melihat kejadian aneh itu. Ia mengusap matanya berkali-kali meyakinkan apakah itu benar-benar nyata.
“Hahahahaha!” Gelak tawa dengan suara berat memenuhi ruangan.
“Siapa itu!” teriak Dong-min.
“Kau tidak perlu tahu siapa aku, yang pasti kau akan MATI di tanganku!” Jawabnya penuh penekanan.
“Aku tidak takut dengan iblis sepertimu!” Kata Dong-min tegas.
“Dasar manusia tidak tahu diri!”
“Kau pikir kau akan selamat setelah mengganggu ketenangan ku!” Kata iblis itu.
Tepatnya makhluk itu adalah iblis yang dipelihara oleh Direktur Utama waktu dia masih hidup dan kini Iblis itu telah bebas karena pintu ruangan rahasia telah terbuka dan dibuka oleh Hee-Young dan Tae-Hyun.
Sementara arwah Ria-khyun merasa sangat murka karena mereka telah membebaskan Iblis itu, hingga Ria-khyun ingin membunuh mereka.
Iblis itu menampakkan bentuk tubuhnya yang mengerikan itu kepada Dong-min. Tubuhnya besar, matanya hitam dan kulitnya gelap seperti darah yang telah lama mengering, kukunya panjang, ditambah dengan mulut yang sangat lebar.
Makhluk itu mencekik leher Dong-min hingga membuat Dong-min tidak dapat menginjak lantai. Dong-min kesulitan bernapas wajahnya yang putih memerah matanya terbelalak, dan Iblis itu mematahkan leher Dong-min menariknya hingga putus.
Makhluk itu tertawa puas, melempar kepala Dong-min ke sembarang arah kemudian menghilang.
Kini hanya tinggal Chin-sun di tenda besar.
Dia masih saja tidak percaya apa yang terjadi kepada teman-teman, dan dia berpikir teman-temannya hanya bermain-main agar lebih banyak yang melihat video Live mereka itu.
Dia sudah tak sabar menunggu teman-temannya kembali karena masing-masing kamera yang dibawa sudah tak berfungsi, hanya tinggal kamera di setiap sudut ruangan yang telah mereka pasang.
Sementara para netizen melihat kejadian itu ketakutan tapi masih saja mau menonton karena penasaran. Kini jumlah penonton sudah lebih dari 2 juta penonton.
Chin-sun yang sudah tak sabar memilih untuk masuk juga ke dalam gedung itu. Dia menyiapkan semuanya jika diperlukan.
Belum sempat melangkah keluar dari tenda Chin-sun dikejutkan oleh tenda yang tiba-tiba diterjang badai, dan tak lama tampak sosok yang sangat mengerikan. Iblis itu sudah melangkah keluar dan mencari mangsa.
Iblis itu mendekati Chin-sun kemudian menendang tubuh Chin-sun hingga terpental. Banyak darah yang keluar dari tubuh Chin-sun namun tidak membuat Iblis itu merasa iba, malah langsung mencekik leher Chin-sun dan mematahkan tulang lehernya dan melempar tubuh tak bernyawa itu ke sudut tenda.
Iblis itu mendekati laptop Tae-Hyun yang masih menyala. Dia melihat komentar-komentar para netizen yang mengumpat dan juga mendoakan keselamatan mereka.
“Hahahahaha...Manusia tidak berguna ini memang tidak pernah berubah,” ujar makhluk itu khas dengan suara berat nya.
Makhluk itu membanting laptop Tae-Hyun ke lantai hingga pecah dan semua penonton kebingungan kenapa Video Livenya tiba-tiba selesai tanpa ada yang bicara menyudahi.
Tak lama semua yang menyaksikan video Live itu histeris, mereka seperti merasakan cekikan yang amat kuat di leher dan membuat tubuh masing-masing dari mereka tak dapat menginjak tanah. Leher itu perlahan di patahkan hingga tubuh dari mereka sudah tak bernyawa.
Kejadian itu membuat situasi sangat kacau. Ditambah polisi yang kebingungan melihat kejadian itu tidak dapat menemukan pelakunya. Tak ada yang tahu siapa pembunuhnya hingga membuat para pihak yang berwenang angkat tangan dan menutup kejadian yang mengerikan itu rapat-rapat sama seperti kejadian yang telah terjadi di rumah sakit “Seoul” dahulu.
......TAMAT......
.......
************
Jangan lupa kasih saran, like, dan vote nya ya, karena itu merupakan semangat Author.
Jika ada typo yang bertebaran kasih tahu Author ya karena Author selalu siap siaga memperbaiki nya.
Salam hangat untuk para Readers yang setia😘