"Kenapa sih? Gak bales chat dari saya?? Saya butuh jawaban sekarang!!"
"Sombong banget sih? Cuman bales chat aja susahnya minta ampun!"
"Ck! songong! Berasa jadi orang penting banget kali yaaa, chat aja gak pernah di bales!"
"Cuman ngetik doang males banget, hari ginih, gak sempet bales chat, iiieeeww!!"
"Zaman sekarang, apa-apa di kerjakan melalui smartphone, kalau gak faham masalah media sosial di zaman sekarang ini, kamseupay banget!!"
"Haha ... gitu aja gak bisa, kuno!!"
Aku menarik napas panjang, lagi-lagi aku di gunjing hanya karena aku tidak membalas pesan chat dari mereka.
Aku berusaha menguatkan diri, agar tidak terpancing, dan tidak melakukan hal yang tidak-tidak akibat bully-an mereka.
Teringat kejadian beberapa tahun lalu, saat aku mengalami trauma hebat akibat perunduhan atau bully-ing yang mereka lakukan, mungkin apa yang kita ucapkan terasa umum, lakzim, atau biasa saja. Tidak jarang juga hanya di anggap bercanda. Namun, kita tidak pernah tahu, perasaan orang lain, kita tidak pernah tahu hati orang lain.
"Kok anak sama Ibunya beda jauh sih??"
"Ibunya cantik, cerdas, terkenal, kok anaknya gak secantik Ibunya sih???"
"Ayahnya sigap, pinter, kok anaknya mageran gituh sih??"
Tidak bisa di pungkiri, setiap kata-kata mereka begitu menusuk hatiku, bagaikan belati tajam yang menghunus jantungku, rasanya begitu sakit.
Dan rasa sakit yang ku derita, mengakibatkan aku tumbuh menjadi anak yang cenderung menutup diri, takut bertemu orang banyak, takut ketika oranglain berkomentar, lebih suka menghabiskan seluruh waktu sendiri. Merenung di kamar, atau di tempat sepi lainnya. Tidak suka berbagi masalah dengan siapapun, karena merasa takut, jika orang tersebut tidak amanah dalam menggenggam kisah sedihku, atau mungkin malah akan menyebarkan aibku pada orang banyak lainnya.
Puncaknya, saat itu kala aku masih belum menemukan tambatan hati, orang-orang mulai berisik, bertanya "Kapan nikah??" pertanyaan itu bukan hanya sekali atau dua kali terlontar, namun seringkali aku dengar, hingga aku muak mendengarnya. Bagi mereka mungkin itu adalah sebagai tanda kasih sayang atau sebagi bentuk perhatian, namun bagiku semuanya lebih terdengar seperti hinaan.
Hingga pada suatu hari, Ibuku mengatakan hal yang begitu tidak aku suka.
"Kamu sudah dewasa, teman-temanmu rata-rata sudah memiliki dua anak, masa kamu mau jadi manusia tuna asmara selamanya??" ucapan Ibu sedikit mengusik hatiku.
"Aku gak butuh pendamping Bu, bagaimana kalau nanti dia itu berkhianat, seperti teman-temanku yang suka baik di depan, namun selalu membicarakan keburukanku di belakangku" kilahku, iya ... aku pernah memikiki beberapa sahabat, namun dari sekian banyak sahabat yang ku miliki, mereka selalu membicarakan aibku di belakangku, terlebih mereka sering membahas keburukanku di media sosial, hingga aku merasa takut kala harus membuka media sosial, aku membukanya hanya sesekali, itupun jika sangat di perlukan.
"Jangan samakan semua orang seperti sahabat kamu dong, tidak semuanya seperti itu kok, rambut boleh sama hitam, namun cara berfikir orang kan beda-beda" Ibu masih meyakinkanku.
"Lusa, Ibu mau mengenalkan kamu pada seorang pria baik, jelas bibit, bebet, bobotnya, dia tampan juga mapan, cocok untuk kamu yang juga cantik dan mapan" Ibu tersenyum, lalu bergegas keluar kamarku.
Aku termenung, bagaimana mungkin di zaman milenial ini, masih saja ada acara perjodohan? Kuhela napasku, aku akan mencoba saran Ibu.
Waktu berlalu, aku bertemu dengan pria yang di jodohakan Ibu, benar apa yang Ibu bilang, pria itu begitu tampan, memiliki pekerjaan yang bagus dan sukses, gajinya besar, juga berasal dari keturunan baik-baik, kali ini aku suka dengan pilihan Ibu, terlebih dia bilang sangat mencintaiku setelah dua bulan kebersamaan kita, dan kami sepakat akan bertunangan terlebih dahulu di satu bulan kedepan. Aku bahagia, anganku melambung tinggi, orang-orang mulai menilaiku dengan baik saat itu.
"Bu, aku harus menemui Mas Angga, foto preweddingku minggu depan, tapi kenapa Mas Angga malah menghilang tanpa kabar??" resahku suatu hari, saat pernikahan kami semakin dekat.
"Temui saja, mungkin dia ada di kantornya sekarang" usul Ibu.
Aku mengangguk setuju, lalu aku berangkat menuju tempat kerja calon suamiku.
Aku kecewa, ternyata Mas Angga tidak ada di tempat kerjanya, teman-temannya bilang, dia ada di kosan temannya dari jam istirahat tiba. Dengan langkah malas, aku mencari kontrakan yang mereka tunjukkan alamatnya, selang setengah jam aku menemukan alamat yang aku cari.
Kontrakan kecil, namun cukup nyaman, pintu kontrakan sedikit terbuka, dengan langkah lelah, aku meraih pintu dan langsung masuk kedalam kontrakan tersebut. Tidak ada yang istimewa, semuanya normal untuk ukuran kontrakan pria singgle. Namun ... aku melihat hal yang tidak seharusnya aku lihat!!! Aku melihat calon suamiku tengah bergumul di balik selimut bersama teman prianya.
Hatiku hancur, tubuhku melorot di lantai, sekuat tenaga aku mengumpulkan tenaga yang tersisa, lalu bergegas meninggalkan kontrakan tersebut sebelum mereka menyadarinya.
Salahkah aku?? Jika aku membenci mereka?? Salahkah aku?? Jika aku merasa trauma?? Karena bayangan mereka yang tengah melakukan hal bejat terus menerus ada dalam kepalaku. Salahkah aku?? Jika aku memaksa untuk membatalkan pernikahanku?? Tanpa aku mampu menjelaskan alasannya pada orang banyak, karna aku merasa takut, dan tidak mampu mengatakan apa yang telah aku lihat, lidahku kelu, bibirku terasa di kunci.
Setelah kejadian itu, Aku semakin menutup diri. Terlebih tetangga dan orang yang aku kenal, semakin santer menggunjingku kembali, bahkan kedua orangtuaku merasa heran dengan sikapku, pernikahan yang sudah di siapkan sedemikian rupa terpaksa harus di batalkan.
"Ya ampuuunn, so cantik banget sih?? Udah dapet calon suami yang tampan dan mapan, kok masih di tolak juga??"
"Jangan-jangan dia itu sudah gak gadis lagi, makanya takut nikah"
"Perempuan matre! Kok ada ya perempuan kayak gituh??"
"Pilih-pilih calon suami terus, nanti malah jadi perawan tua, gak laku seumur hidup!"
Komentar itu yang aku dengar dari mereka, bahkan tidak jarang, aku menerima pesan chat dari berbagai media sosial yang bertanya, kenapa aku membatalkan pernikahanku.
Tidak tahukah mereka?? Jika aku merasa sakit, tiap kali aku harus kembali mengulang cerita?? Tidak tahukah mereka?? Jika kata-kata mereka begitu menyakiti hatiku??.
Aku kembali menutup diriku, bahkan kali ini lebih parah, selama dua tahun aku menutup seluruh akun media sosialku, tanpa terkecuali, menumpahkan segala kesedihan hanya lewat tangisan, tidak ada yang bisa memahami hatiku, tidak ada yang mau mendengarkan keluhku.
Hingga pada suatu hari, Abang yang bekerja di sebuah rumah sakit di luar kota pulang, dan membawa sahabatnya. Namanya Iwan, Iwan adalah pria yang tampan, juga bersih, ramah, dan juga lucu.
"Hay Mi ..." sapanya suatu hari, kala aku tengah duduk sendirian di kursi taman belakang rumah.
"Hay Kak" aku menunduk, jujur aku begitu takut ketika melihat pria tampan, berkulit putih dan berhidung mancung, fisik Iwan hampir sama rata dengan fisik Angga.
"Lagi apa?? Kenapa sekarang gak pernah bales chat aku lagi??" tanyanya kemudian.
"Eemmhh ... aku gak punya medsos sekarang" jawabku datar, menatap kolam ikan kecil yang ada di sana.
"Loh?? Kenapa?? Bukankah media sosial adalah hal yang sangat wajib di miliki oleh setiap orang sekarang??" tanyanya mengerutkan kening.
"Mungkin iya bagi mereka, tapi tidak buatku, aku baik-baik saja tanpa media sosial" aku tersenyum datar.
"Kamu, masih trauma??" tanyanya hati-hati.
"Jujur iya, aku takut di bully lagi, aku takut mereka akan mengatakan hal yang menyakitiku" aku-ku akhirnya, Iwan seperti memiliki daya maghnet sendiri, ketika bersamanya, baru bertanya sedikit aku langsung nyaman, dan mau terbuka, berbicara banyak hak padanya.
"Eemmhh ... gitu ya? Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan, mau bercerita tentang apa yang kamu takutkan??" dia tersenyum lembut, laku menaik turunkan alisnya menggodaku, aku tersenyum lagi, selama ini, aku terlalu sibuk menghakimi diri sendiri, hingga lupa bagaimana cara tersenyum.
"Kamu tahu, Ibu selalu menekanku untuk terus hidup srmpurna, sementara aku sudah tidak mampu, aku tertekan Kak"
"Di tempat bekerja, aku juga di tekan untuk memenuhi target yang mereka tentukan, padahal jujur, aku sudah merasa lelah"
"Belum lagi, masalah kemarin yang aku hadapi, aku takut orang-orang akan terus menggunjingku"
Aku sudah membuka sesi curhat pada Iwan, dia mendengarkan dengan seksama, tanpa mencela atau bertanya lebih. Sesekali aku terisak, lalu menangis keras, meluapkan kesedihan hatiku.
"Tak apa, menangislah ... itu akan membuatmu lebih baik" dia mengelus punggungku lembut.
"Aku di jauhi teman-temanku, aku juga keluar dari pekerjaanku, aku di gunjing, aku di katai mereka, padahal mereka tidak tahu, aku sudah berjuang keras! Aku sudah berusaha dengan seluruh kemampuanku, tapi mereka tidak ada yang mau menghargaiku!" aku masih saja terisak.
"Kamu jangan takut lagi menghadapi hidup, terbukalah, katakan apa yang ingin kamu katakan" ucap Iwan di sela elusan lembutnya.
"Tapi mereka gak mau dengerin aku!!"
"Ada cara lain untuk kamu mengungkapkan isi hatimu"
Aku mendongakkan kepalaku, menatapnya seolah bertanya "apa?".
"Pertama, kamu mau di rawat di klinikku, kedua aku yang akan terus datang ke sini menemuimu, dan ketiga tulis apa saja yang kamu rasakan pada sebuah buku"
Aku mengerutkan kening dalam. Yang aku tahu, Iwan itu adalah salah satu Dokter di sebuah rumah sakit jiwa, aku harus di rawat di kliniknya, apa karena aku gila??.
"Mana yang akan kamu pilih??"
"Aku ingin menulis" masih bingung, tapi aku tidak ingin bertanya lagi tentang apapun padanya, ku anggap saja ucapannya adalah yang terbaik untukku saat ini, berhubung aku sudah mengenalnya sekian lama. Bahkan ketika Iwan memberikan beberapa obat, aku hanya menerimanya saja.
Jawabanku begitu yakin, selama ini aku memang senang menulis, mengungkapkan apa saja yang aku rasa lewat diksi, biar saja orang mengira itu adalah diksi belaka, tapi sungguh srmua yang aku tulis, adalah sebagian kisahku.
Iwan menuntunku untuk mempublish buku-ku, di beberapa platform untuk permulaan. Aku tidak butuh pembaca, yang penting aku menulis aku merasa bahagia, aku juga tidak mengharap materi, yang penting aku bisa menyalurkan kegundahan hatiku, itu sudah cukup bagiku.
Pembaca mulai berdatangan, aku senang ada orang yang mengapresiasi kerja kerasku, ada yang memuji, ada yang memberi semangat dan ada pula yang hanya diam saja.
Aku sudah mulai berani membuat akun sosial media kembali, meskipun tidak seaktif kebanyakan orang, kadang ... jika aku merasa ada yang salah dengan diriku, aku kembali tidak mengaktifkan sosial mediaku sepenuhnya, setelah di rasa tenang, aku baru mengkatifkannya kembali.
Kini, obat yang di resepkan Iwan pun tidak sebanyak dulu, resepnya mulai berkurang, belakangan baru aku tahu, ternyata aku mengalami trauma juga depresi berat, yang di akibatkan oleh tekanan juga perunduhan atau bullying dari orang sekitar.
Pantas saja, kala itu aku pernah mau mengikuti gaya orang barat, yang jika mereka memiliki masalah, mereka akan menggantungkan tubuh mereka pada seutas tali.
Untunglah, Iwan segera datang, dan mau membantuku kala itu. Aku bersyukur bertemu dengannya, perlahan aku mulai bisa lagi berkomunikasi dengan oranglain. Meski tidak seintens kebanyakan orang.
Namun ... masalah itu datang lagi, selain pembacaku berkomentar dengan cara yang sopan, ada pula pembacaku yang berkomentar dengan sangat buruk, bahkan mungkin begitu menyakitkan, ada yang membawa ranah fisik, tidak sedikit pula yang membanding-bandingkan buku satu dengan buku yang lainnya, padahal sungguh, aku tidak ingin mereka membaca tulisanku jika mereka tidak suka, aku menulis hanya karena untuk kesembuhan traumaku, dan bukan malah menambah rasa takutku.
Kembali aku menjadi dilema, sudah benarkah pilihanku selama ini???.
Hingga pada akhirnya, kembali kudatangi Iwan, aku butuh dia di saat seperti ini, mungkin bagi orang yang tidak merasakan ada di posisiku, sikapku ini akan terkesan lebay dan berlebihan, tapi percayalah, aku merasa begitu tertekan akan semua yang mereka lontarkan.
Aku kecewa, kala ternyata Iwan sang malaikatku, kini tengah berada di luar kota karena sebuah tugas pekerjaan, aku kembali merasa ketakutan. Aku tidak memiliki tempat untuk berlindung lagi, Iwan tidak bisa di hubungi.
Ingin rasanya aku menghapus semua komentar buruk mereka, namun aku tidak bisa, ingin rasanya menghapus cerita yang pernah aku tulis, namun juga tidak bisa.
Iwan, di mana kamu???.
Apa yang harus ku lakukan sekarang???.
Ruang Rindu, 5 Mei 2021.
Tulisannya masih kacau, masih kaku, niat di simpen di draft, tapi malah pijit posting. Mau di hapus gak bisa. 😭😭😭.