Di sebuah tribun lapangan sepakbola. Rena dan Hanji duduk berduaan di kala tempat itu tengah sepi.
"Kamu ingin melakukan apa?" tanya Rena pada Hanji.
"Aku tidak tahu harus ngapain lagi." Hanji menunduk dan terlihat lesu.
"Apa yang membuatmu Lesu begitu? Apakah ada suatu masalah yang kamu alami?" tanya Rena.
"Aku hanya ingin berhenti."
"Berhenti dari apa?"
"Kehidupan." jawab Hanji singkat.
Rena yang mendengar itu, sedikit terkejut.
"Hah? Kenapa begitu?" tanya Rena penasaran.
"Kamu tahu? Telah gagal dalam berbagai hal. Aku tidak tahu harus ngapain lagi. Aku pikir..."
"Kamu pikir apa? Tidak berguna, begitu?" Rena menatapnya dengan serius.
Hanji menghela nafas dan mengangguk.
"Sekarang berapa umurmu?" tanya Rena.
"Masih 20 tahun."
"Di usia semuda itu kamu ingin menyerah?" tanya Rena.
"Tapi kan aku..."
Rena menutup mulut dari Hanji yang belum siap bicara itu.
Menggelengkan kepala dan memandang dengan tatapan hangat.
"Kamu itu masih muda. Banyak tenaga dan waktu yang bisa kamu manfaatkan untuk meraih masa depan. Kehidupan itu tidaklah selalu mudah. Pasti ada kerumitan dan rintangan didalamnya. Jadi jangan anggap kegagalanmu itu sebagai akhir dari segalanya."
Rena memegang pundak dari Hanji.
"Aku tahu orang sepertimu ini sangat butuh yang namanya dukungan dan dorongan. Kalau begitu aku akan menjadi orang yang kamu butuhkan itu. Akan kukasih semangat dan kamu harus melakukannya dengan sepenuh hati dan sebisa mungkin. Bagaimana?"
"Apakah kamy serius?" Hanji menoleh ke sebelah dan mempertanyakan niat dari Rena tersebut.
"Iya, tentu saja. Aku tidak akan membiarkanmu berakhir dengan cepat. Kita ini masih muda juga. Jadi jangan patah semangat begitu. Mari berjuang bersama-sama, manfaatkan peluang yang ada di kemudian hari." tutur Rena.
Hanji tersenyum dan mengucapkan terimakasihnya pada temannya itu.
"Aku akan berusaha untuk itu." ucap Hanji sambil menatap ke depan.
"Itu baru Hanji yang aku suka!"
Rena langsung merangkul Hanji dan keduanya sama-sama memandang ke depan diselingi semangat yang membara.
-----SELESAI-----