Sepoi-sepoi semilir angin berhembus, ranting-ranting pohon dan dedaunan saling bergesekan dan bersahutan, sementara itu gemericik air pegunungan sangat deras saling berjatuhan dengan riuh rendahnya panorama alam.
Kini aku teringat kembali masa-masa yang indah bersama ayah bunda di kala itu aku sedang bermain dan bersenda gurau bersama teman-teman sebayaku sambil menikmati indah alam pegunungan, Tiba-tiba langkahku terhenti ada yang aku rasakan dalam benak dan pikiran kakiku menginjak sesuatu ranting-ranting kering dedaunan yang berserakan terkena hembusan angin aku, juga tidak mengerti, dari arah lain ada sesuatu yang memperhatikanku tanpa kusadari si Kembang Desa yang penuh suka cita dibalut wajah yang alami dan sungguh rupawan serta mempesona, kaki-kaki kecilnya berjalan perlahan dengan riang gembira dan burung-burung pun saling bersahutan diantara rimbunnya dedaunan.
Tak terasa hari sudah semakin sore, awan pun semakin meredup mentari semakin lama akan segera memerah dan tenggelam di ufuk barat dan akan berganti menjadi malam sangat rembulan pun akan mulai terang benderang.
Diantara rerumputan daun yang berhamburan, kini tak terasa sudah aku pun saling menyapa untuk berkenalan saling bersalaman dengan si Kembang Desa berambut panjang, dengan menyebut nama dengan terbata-bata nama Saya Sri Naga Ningrum.
Akhirnya aku secara tak sengaja mampirlah di sebuah Desa yang ramah tamah dengan rumah yang sederhana dan dinding-dinding dari anyaman bambu yang begitu asri dan indahnya pemandangan disekitarnya.
Tak lama kemudian aku dan yang lainnya di suruh masuk saling memperkenalkan dengan Ibu dan Bapaknya dengan raut wajah yang agak menua sambil berkata " Ade ini dari mana"! dengan logat yang agak kurang di mengerti, " Aku dari dusun sebelah secara tidak sengaja Aku dan kawan-kawan ketemu Sri ini, ucap Aku, " oh begitu, jawab Bapaknya, "
Bersambung
episode 2