⚠️CERITA INI MENGANDUNG UNSUR KEKERASAN DAN DARAH
###
"Angel, kamu mau tidak jadi pacarku?"
Laki-laki yang tidak kukenal tiba-tiba muncul di hadapanku sambil membawa sebuah buket bunga di tangannya. Ia tiba-tiba datang dan mengatakan hal konyol seperti itu? Aku bahkan tak tau siapa namanya.
"Heh! Kamu sadar diri dong! Kita saja tidak saling mengenal!" Teriakku padanya.
"I-Iya maaf.."
Setelah berkata seperti itu, akhirnya dia pergi dari hadapanku dengan ekspresi penuh kekecewaan. Meski begitu aku sama sekali tak peduli dengannya.
Namaku Angela, murid SMA kelas 3 yang sebentar lagi akan lulus dari sekolah. Tidak ada yang aku sesali selama tiga tahun bersekolah disini. Sebaliknya, aku merasa sangat senang.
Di sekolah, aku memiliki julukan sebagai mawar berduri. Itu karena penampilanku yang indah seperti mawar namun berbanding terbalik dengan sifatku yang kasar. Baik itu perempuan atau laki-laki, selama ia membuatku kesal, aku tidak akan segan-segan mengeluarkan kata-kata kotor padanya.
Aku terkenal karena penampilanku yang dianggap sangat cantik hingga disebut sebagai jelmaan dewi. Sudah berapa kali laki-laki datang dan memintaku untuk menjadi kekasihnya. Namun tentu saja kutolak. Bukan karena aku hanya menginginkan laki-laki tampan. Aku hanya tidak suka memikirkan hal sepele seperti cinta.
Bagiku memiliki kekasih adalah hal yang merepotkan. Aku mendekati mereka hanya karena menyukai uang mereka. Laki-laki selalu saja mau terlihat bodoh hanya untuk disenangi oleh perempuan cantik.
*****
"Aduh capek.."
Bruk
Kurebahkan diriku di atas ranjang tempat tidurku. Dengan masih mengenakan seragam sekolah, aku memainkan ponselku sembari berbaring.
"ANGELA! AYO MAKAN DULU." Teriak mama.
"Ck padahal lagi seru-serunya, IYA MAA NTAR."
Aku terus saja menatap layar ponselku hingga tanpa ku sadari, aku tertidur.
*****
Tik Tik
"Hm? Suara apa itu? Hujan ya?"
Aku bangun dari tidurku. Kulihat dari luar jendela langit tampak gelap. Namun ada yang aneh. Kenapa suasana rumahku sepi sekali? Karena penasaran aku pun berjalan keluar dari kamar untuk mengeceknya.
"Eh itu apa?"
Aku melihat sekelebat bayangan yang melewatiku sesaat baru saja membuka pintu kamar. Bayangan itu tampak seperti sebuah tanduk. Tapi aku tidak memperdulikannya karena kupikir aku hanya salah lihat karena baru saja bangun.
"MAMA!! ABANG!! MAMA SAMA ABANG ADA DIMANA??" Teriakku dari ambang pintu kamarku.
Aku berusaha memanggil mama dan abangku dari atas. Rumahku memiliki dua lantai. Kamarku berada di lantai dua, begitu juga dengan abangku. Saat ini hanya ada kami bertiga yang berada di rumah. Papaku saat ini tengah bekerja dan baru akan pulang jam sepuluh malam nanti.
"A.. Angel.. lari.."
Aku mendengar gumaman seseorang. Lantas aku berjalan mendekatinya karena suara itu terdengar seperti suara abang.
"A-Abang?!"
Aku terkejut ketika melihat abangku tengah terduduk di anak tangga dengan perut yang terus mengeluarkan darah segar.
"Angela.. lari.. CEPAT LARI!!" Teriak abangku.
"A-Apa? Lari? Abang kenapa? Ayo cepat kita ke rumah sakit."
Dengan sigap aku ingin membopong tubuh abangku. Namun aku terkejut karena abang langsung mendorongku hingga membuatku tersungkur ke lantai.
"CEPAT LARI!!." Teriak abang lagi sembari menahan perutnya yang terus mengeluarkan darah dengan tangan kirinya.
"KYAAA!"
Tiba-tiba aku mendengar suara mama yang berteriak. Tanpa sadar aku bangkit. Ku lihat ada seseorang memakai pakaian serba hitam dari atas sampai bawah tengah menikam mama dengan kejamnya.
Aku sangat terkejut dan takut. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari masuk ke dalam kamarku dan menutup pintu dengan cepat. Karena sangat panik, aku jadi lupa mengunci pintu kamarku sendiri.
"A-Apa itu? Apa itu perampok?"
Tubuhku gemetar hebat. Aku benar-benar ketakutan. Aku menahan suaraku agar tidak keluar.
Tap Tap
Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki di setiap anak tangga. Seketika jantungku berdetak kencang. Aku berlari menuju lemariku lalu bersembunyi di dalam sana. Aku menutup mulutku dengan telapak tanganku sekuat mungkin dengan gemetar. Ya Tuhan aku belum mau mati.
Krieet
Pintu kamar terbuka. Dari celah pintu lemari aku dapat melihat si pembunuh itu masuk ke dalam kamarku. Jantungku semakin berdegup hebat. Aku benar-benar takut.
Pembunuh itu berjalan semakin dekat ke arah lemari dimana aku berada. Apa dia tau kalau ada orang di dalam sini? Oh tuhan dia semakin dekat.
"KYAAA!!"
Pembunuh itu tiba-tiba membuka pintu lemariku dengan paksa. Tanpa sadar aku berteriak kencang karena terkejut. Apa aku akan berakhir seperti mama dan abang? Apa aku akan mati sia-sia seperti ini?
JLEB
Ternyata benar. Sejak awal pembunuh itu sudah tau aku berada di sini. Pembunuh itu tiba-tiba membuka pintu lemari dan langsung melayangkan pisau yang sudah terlumuri darah mama dan abang itu ke arah wajahku. Pisau itu menancap ke mata kiriku hingga membuatku buta seketika.
Aku tidak tau tapi kurasa pipiku benar-benar robek. Darah segar mengalir deras dari dahi, mata, dan pipiku. Tubuhku seketika ambruk ke lantai. Rasa sakitnya bukan main-main. Kini aku hanya ingin diriku cepat mati agar rasa sakit ini tidak bertahan lebih lama lagi.
Papa.. semoga papa selamat..
Aku mulai kehilangan kesadaranku. Sebelum mataku tertutup, aku sempat melihat kaki si pembunuh itu.
*****
"ANGELA BANGUNLAH!! KAMU KENAPA?"
Apa? Di mana aku?
Aku menatap sekeliling. Kini aku sedang berada di kamarku sendiri dan tengah terbaring di atas ranjangku. Kulihat mamaku sedang duduk di sampingku dengan khawatir.
"Ma-Mama? Mama ga kenapa-napa? Di mana pembunuh itu? Tunggu! Aku baik-baik saja?"
Aku menyentuh daerah wajahku. Mataku kiriku masih bisa kugunakan untuk melihat. Bahkan pipiku masih mulus seperti sebelumnya.
"Apa maksud kamu? Sejak tadi kamu mengigau dan berteriak terus. Makanya jangan tidur di waktu maghrib." Omel mama.
"Mama, kita kan barusan baru saja terbunuh. Mama, abang, dan aku dibunuh oleh orang berbaju hitam." Kataku.
"Kamu kenapa? Masih bermimpi ya?" Tanya mama.
"Tapi ma.. rasanya benar-benar nyata. Bahkan rasa sakitnya saja aku masih mengingatnya. Jadi tidak mungkin itu mimpi." Timpalku.
"Kalau benar itu kenyataan, bukankah seharusnya kita sudah mati sekarang? Sudahlah jangan berkhayal Angela." Balas mama.
"Be-Benar juga.." Gumamku.
"Angela, mungkin kamu mengalami vivid dream, dimana kamu merasa mimpi itu adalah kenyataan."
"Sudah ayo cepat makan." Kata mama.
Aku mengangguk lalu berjalan mengikuti mama dari belakang sampai di meja makan.
Syukurlah itu hanya mimpi. Aku benar-benar takut. Sesaat aku merasa senang hingga aku dikagetkan oleh sesosok orang berbaju hitam tengah duduk di kursi meja makan. Orang itu benar-benar mirip dengan pembunuh tadi.
"Eh?"
Aku tersentak ketika melihat ke lantai. Tiba-tiba ada sebuah cairan kental berwarna merah seperti darah muncul berceceran di lantai. Ku lihat darah itu mengalir dari perut mama.
"MAMA!!"
Kulihat orang berbaju hitam itu tiba-tiba berbalik dan menyeringai padaku. Bagaimana bisa mama tiba-tiba berdarah begitu? Padahal orang itu tak menyentuh mama sama sekali.
"MAMAAAAA..!!"
"Angela kamu kenapa?"
"Hah? Di-Di mana aku?"
Tiba-tiba aku sudah berada di kamarku lagi dengan mama yang tengah menatapku dengan khawatir.
"Kamu kenapa? Ngigau ya? Kamu teriak terus dari tadi." Kata mama.
Perkataan mama persis seperti sebelumnya. Aku bangun dan langsung memeluk mamaku sambil terduduk di atas ranjang. Ada apa ini? Apa kali ini aku juga bermimpi?
"Mama-"
BLAR!!
Tiba-tiba tubuh mama meledak tepat di depanku. Mataku terbelalak kaget. Darah merah memancar deras dari tubuh mama hingga mengenaiku tubuhku.
Ada apa ini? Kenapa tubuh mama tiba-tiba meledak seperti ini? Apa aku masih bermimpi? Tapi ini terasa nyata. Kalau begitu kali ini aku pasti sedang mengalami vivid dream seperti perkataan mama. Jika benar ini mimpi, aku mohon bangunlah!
"ANGELA!!"
Tiba-tiba aku mendengar suara papa dari luar kamarku. Posisiku kali ini masih terduduk di atas ranjangku. Sprei kasurku penuh dengan noda darah. Begitu juga dengan lantai kamarku. Kulihat tubuh mama sudah tak berbekas lagi.
"Angela! Kita harus kabur!"
Papa masuk ke kamarku. Aku yakin ini mimpi. Karena jika ini kenyataan tidak mungkin papa bisa ada di depanku saat ini. Seharusnya kini papa tengah berada di kantornya.
"Papa.."
Aku bangun dari ranjangku lalu berlari ke arah papa dan langsung memeluknya. Meski aku sadar ini mimpi, tapi aku benar-benar merasa lelah dan tidak kuasa melihat keluargaku satu per satu mati di hadapanku.
JLEB
"Ukh.."
Sebuah benda tajam menusuk punggungku dari belakang. Aku melepas pelukanku dari papa. Dan aku sungguh dibuat terkejut dengan apa yang kulihat. Wajah papa yang kulihat Sebelumnya tiba-tiba berubah menjadi sosok yang menyeramkan.
Sosok dengan lidah yang panjang. Wajah hitam yang penuh dengan rambut. Sosok itu menatapku sambil melotot dengan matanya yang berwarna merah. Dari matanya, darah terus mengucur dengan derasnya. Dan terdapat dua tanduk di kepalanya seperti sekelebat bayangan yang kulihat Sebelumnya.
Tubuhnya sama persis dengan manusia biasa, namun wajahnya tidak ada yang bisa disebut sebagai manusia. Tubuhku gemetar hebat karena ketakutan. Tanpa sadar aku terduduk di lantai yang penuh dengan genangan darah mama.
Aku menutup mataku agar tidak melihat semuanya. Aku benar-benar tidak tahan lagi. Suara sosok itu terdengar menggelegar bagai petir.
"KYAA!!"
Sosok itu tiba-tiba menusuk dadaku tepat di bagian jantung dengan kukunya yang besar dan tajam. Seketika aku berteriak karena terkejut. Namun anehnya, aku tidak merasa sakit meski sudah ditusuk tepat di bagian jantung. Setelah itu aku kehilangan kesadaranku dan ambruk di lantai.
*****
"Hosh.. Hosh.."
Aku membuka mataku. Nafasku memburu dengan cepat sementara jantungku juga berdegup kencang. Dan dengan kondisi yang sama, lagi-lagi aku tengah berada di kamarku dengan kondisi terbaring di ranjangku. Apa aku masih bermimpi?
Namun ada yang berbeda. Sekarang tidak ada mama lagi di sampingku. Aku lantas berlari ke luar dari kamar dan mendapati mama, papa, dan abangku tengah sarapan di dapur. Aku berlari menuruni anak tangga dan langsung memeluk mereka.
"Angela, kamu kenapa?" Tanya papa padaku.
"Hiks hiks papa ini mimpi?" Tanyaku pada papa.
"Apa maksudmu dengan mimpi? Kamu ngelindur ya?" Tanya papa.
"Kemarin setelah pulang sekolah kamu langsung tertidur sampai pagi." Ucap mama.
Air mataku terus mengalir. Keluargaku kebingungan melihatku menangis tanpa sebab. Tentu saja mereka bersikap begitu karena tidak tau apa-apa. Aku bersyukur karena sudah terbangun dari tidurku dan tidak harus melihat mimpi menyeramkan itu lagi.
Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, aku diantar oleh papa ke sekolah. Seperti hari-hari biasa, saat aku tiba orang-orang datang menghampiriku.
"Hai angela, apa kabar?"
"Angela kamu makin cantik aja."
Aku tersenyum senang. Ternyata aku benar-benar sudah bangun dari mimpiku. Aku berjalan melewati kerumunan orang-orang menuju ruangan kelasku.
Tap Tap
Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki yang menurutku aneh. Langkahku terhenti karena mendengar suara itu. Perasaanku semakin aneh ketika suara orang-orang yang sebelumnya ramai, kini mendadak menjadi hening dan hanya terdengar suara langkah kaki itu saja.
Suara langkah kaki itu perlahan terdengar lebih kuat. Aku pun berbalik untuk melihat sosok dari langkah kaki itu. Betapa terkejutnya aku ketika melihat kebelakang.
Keramaian orang-orang tadi tiba-tiba menghilang. Dan kini di hadapanku hanya tampak sebuah bayangan seseorang dengan tanduk di kepalanya.
"Ti-Tidak! Jangan lagi.." Gumamku.
Tanpa sadar setetes air mata jatuh membasahi pipiku.
# END #