#Anak_Anakku.
"Adeeekk ada lomba mau ikut nggak?"suara teriakan suami ku saat memasuki rumah setelah mengucapkan salam.
Aku pun keluar dari kamar ku, meninggalkan rutinitas ku mendampingi kakak belajar dirumah.
"Kok teriak teriak to bi..!!"keluh ku sambil menyalami tangannya meski masih kotor.
"Adek mana,?"tanya suami ku.
Dia adalah suami kedua ku.
Ya aku seorang janda dua anak yang di tinggal oleh suami pertama ku karena sakit keras.
Suami pertama ku meninggal saat aku tengah hamil anak kedua ku.
Dan anak sulung ku genap berusia 5th 1 bulan.
Di usia nya yang masih kecil, meninggal nya seorang ayah, meninggalkan luka yang mendalam di hati kakak.
Sejak meninggalnya ayah tercinta,kakak menjadi pribadi yang suka marah dan pendiam.
Sesuatu yang melibatkan dirinya dengan orang lain akan selalu di hindari nya,mental yang dulu pemberani,kini menjadi penakut bahkan ia tak mau bertemu dengan siapapun dalam hal tertentu kecuali sekolah.
•••
"Lomba apa bii..?"sahut adek yang lari dari dalam kamar karena memang adek selalu ikut belajar bareng kakak.
Di usianya yang sudah masuk 5th,rasa ingin belajar nya sudah menggebu-gebu,apa yang di beli kakaknya untuk kebutuhan sekolah nya adek juga harus beli.
Jika kakak belajar adek juga harus belajar.
"Dek Rasyid mau lomba gak?"tanya abinya.
"Eeehhh lomba apa dulu ..?"rengek adek Rasyid.
"Lomba adzan lomba tahfidz,mau nggak?nanti dapet piala kalo juara,yang penting daftar dulu belajar dulu,maju dulu..."bujuk abinya sambil memangku rasyid.
"Kakak baim ajak bi.."gumam ku mengingatkan.
Kulihat abi melihat kearah kamar memandang kakak yang masih sibuk dengan buku nya.
"Lah mau nggak kok,nanti tak ajak dia gak mau,aku takut nanti dia malah lemes didepan orang banyak."ujarnya khawatir.
"Setidaknya di tawari,mana tau dia mau, takutnya iri,adek di ajak kakak g ada di tawari sama sekali."ucapku sambil setengah berbisik.
"Nanti biar ku bujuk, yang penting abi tawarin aja."imbuhku.
"Kakak ikut ya,lomba adzan juga boleh.abang kan dah pinter adzannya."ujar abi merayu.
Setelah cuci kaki dan melepaskan pakaian kerja nya yang kotor dengan tanah lalu masuk ke arah kakak.
Namun tak di tanghapi oleh kakak.
Begitulah kakak baim anak sulungku.
Dia selalu cuek oleh keadaan,bahkan kepada kami orang tuanya pun cuek.
Aku pun mendekat dan duduk di dekat kakak,ku tinggalkan rutinitas memasak ku.
"Kak ikut ya,yuk kita ganti baju.nanti kan enak dapet piala,kita daftar dulu."bujuk ku.
"Yuk cepet ke masjid dan daftar,nanti tutup lo.udah pada sholat ashar kan?"tanya abi.
"Yuk kak,!"aku mengelus pucuk kepala anak ku dengan sayang,ku coba menarik tangannya untuk membantu nya berdiri.
Diapun nurut.
Lalu ku ganti bajunya,dan ku arah kan keluar.
Aku pun bergegas mengganti baju dan bersiap ikut mengantar kedua anak ku.
...
Suami ku tinggal di sebuah kantor sebagai tulang kebun.
Tempat tinggal kami jauh dari keramaian.
Tak banyak orang tau tentang kehidupan kami kecuali para pekerja di kantor itu.
Namun karena para pekerja nya tinggal nya cukup jauh dari desa kami, mereka bersikap bodo amat dengan keadaan kami.
Kami berupaya untuk tetap bisa Qonaah dari hasil gaji tiap bulan suami ku.
Tak jarang suamiku mencari pekerjaan diluar kantor sebagai seseran saat kantor libur, karena memang gaji yang tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.
Saat sampai di masjid,kami menggiring anak anak menuju panitia pendaftaran.
Ku daftarkan adek di lomba tahfidz dan adzan, mengingat adek sangat suka dan giat belajar di rumah,kadang meski duduk sendiri sambil menunggu kakak pulang sekolah,adek sering adzan sendiri dan hafalan sendiri sambil mengotak atik mainannya.
Dia selalu mengikuti apa yang aku baca.
Surat surat surat pendek di juz 30 sudah banyak yang dia hafal.
Namun belum pernah di ikut lomba.
Dan kali ini aku ingin tau kemampuan anak anak ku di tengah anak anak lain.
Kakak daftar lomba adzan,ia tak tertarik dengan lomba tahfidz,lebih tepatnya dia merasa malu dan takut jika harus maju dua kali.
Dan aku mengiyakan saja.
"Yang penting dia mau."batinku.
######
Jika banyak yang suka kita lanjut ya...