Aku menatap semua orang yang ada di sekelilingku. Mama, Papa, Pak Yudis --guruku--, Delia --sahabatku--, Theo --pacarku--. Mereka semua menatapku bangga. Membuat bibir ini bekerja dengan sendirinya untuk memberikan senyum terbaik pada mereka semua.
Sekitar 10 menit yang lalu, namaku, Lareina Alana Kalani, diumumkan sebagai juara 1 olimpiade matematika tingkat nasional. Itulah alasan mereka semua menatapku dengan binar bahagia.
"Selamat ya La, jangan cepat puas, belajar terus biar bisa lebih baik lagi," Pak Yudis yang tak lain adalah guru matematikaku.
"La, Lo keren banget bisa juara 1." Sekarang Delia, sahabatku. Dia memekik girang sambil memelukku.
"Selamat ya La, semoga sukses terus. Aku bakal dukung kamu terus." Kalau ini Theo. Pacar aku.
"La, Mama sama Papa senang banget. Semoga akan ada juara kamu yang lain-lain lagi ya. Mama bayangin kamu juara di tingkat asia, bahkan tingkat dunia, wah pasti jauh lebih keren lagi." Terakhir Mama, ucapan Mama diangguki dan diiringi senyum oleh Papa yang berdiri di sampingnya.
Dan akan selalu begini. Mungkin memang inilah sejatinya hidup. Gak pernah ada satu titik dimana itulah tujuan hidup kita. Karena setelah kita mencapai sesuatu, akan ada lagi tujuan, harapan, ekspetasi yang menghampiri kita untuk membuat kita naik lagi dan lagi tanpa tau harus berhenti dimana karena siklus itu akan terus berulang.
Aku bukan gak senang diharapkan untuk bisa lebih maju lagi. Aku senang mereka mempercayaiku. Tapi mereka terlalu sibuk untuk melihat ke depan sana sampai lupa kalau hari ini aku juga perlu dihargai lebih besar dari sekedar ucapan selamat.
Seperti...
"La, selamat ya. Kamu udah bekerja keras untuk ini."
Iya. Setidaknya kalimat itu yang ingin aku dengar. Dan ternyata kalimat itu benar-benar aku dengar. Aku mendengakan kepala untuk melihat siapa yang sudah menghargaiku sebesar itu.
Dia. Alfariel Sandy Arkan. Juara 2 olimpiade yang aku ikuti ini. Orang yang sekitar beberapa jam lalu berhadapan denganku sebagai seorang lawan.
Satu kalimat lagi yang aku dengar dari cowok yang sekarang berdiri di hadapanku.
"Aku bangga sama kamu La."
***
Seminggu berlalu. Dan hari-hariku masih sama seperti biasa. Belajar, terus belajar. Karena secara gak langsung dalam diri ini udah tertanam, kalau aku harus bisa lebih baik lagi seperti yang mereka semua bilang.
Siang ini, aku belajar sendiri di sebuah kedai kopi langgananku yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Sengaja pilih tempat ini, karena emang cukup nyaman. Tempatnya gak ramai tapi juga gak sepi. Cukup buat aku yang gak suka keramaian tapi masih suka lihat orang-orang asing disekitar.
Waktu belajar sendiri kayak gini tuh rasanya jauh lebih tenang. Gak cuma tenang malah, tapi senang juga. Karena, sekalian aku punya waktu me time.
Dan di waktu me time ini biasanya pikiran-pikirin terdalam muncul. Sesuatu yang kadang gak muncul saat kita lagi sibuk atau lagi bersama ramai orang.
Pertanyaan yang sebenarnya simple, tapi sulit banget untuk dijawab. Pertanyaan itu seperti...
Aku bahagia gak?
Tujuan hidupku apa?
Aku melakukan semua ini untuk siapa?
Untuk aku, rumus matematika jauh lebih mudah dipecahkan ketimbang perasaan sendiri.
Aku benar-benar gak tau, aku ini bahagia atau enggak.
Aku masih punya Mama dan Papa.
Aku punya sahabat yang selalu ada kayak Delia.
Aku punya pacar sebaik Theo.
Aku gak pernah merasa kehilangan.
Aku selalu mendapat apa yang aku ingin.
Dan semua pencapaianku satu per satu sudah tercapai.
Lalu apa lagi? Seharusnya gak ada alasan lagi untuk aku bertanya aku bahagia atau gak? Karena terlihat dari luar hidupku nyaris sempurna. Iya nyaris. Belum sepenuhnya sempurna. Karena kalau memang sudah sesempurna itu, aku gak akan punya pertanyaan-pertanyaan diatas tadi, dan aku juga gak akan merasa kosong di saat aku punya semua orang yang dukung aku.
"Lareina kan?"
Aku menoleh ketika ada suara yang mengganggu lemunan khidmatku, lalu mendapati seorang cowok dengan hoodie putih bersama celana jeans-nya sedang menatap ke arahku.
"Ingat gak? Aku Alfariel."
Tentu saja aku ingat. Dia adalah satu-satunya orang benar-benar menghargaiku hari itu. Iya, satu minggu yang lalu.
"Iya ingat," jawabku sambil tersenyum tipis.
"Boleh gabung?" Tanyanya lalu aku mengangguk. Aku sendiri kaget, aku biasanya gak suka kalau ada orang yang menganggu me time-ku. Tapi gak tau kenapa, diri ini seolah mempersilakan cowok bernama Alfariel ini untuk duduk di hadapanku dengan minuman di tangannya.
"Lagi belajar?" Tanya Alfariel lagi.
"Iya nih."
"Tapi kok bengong aja dari tadi. Mikirin rumus atau lagi overthink?"
Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaannya. Apa sebegitu terbacanya kalau aku lagi mikirin sesuatu.
"Hah? Overthink apa coba?"
"Ya namanya overthink mah mikirin apa aja."
"Apalagi orang kayak kamu La."
Aku langsung menatapnya, lagi-lagi ini gak seperti biasa. Biasanya aku bakal kesal kalau ada orang yang sok tau kayak gini. Tapi lagi-lagi gak berlaku untuk dia. Rasanya seperti dia bukan sok tau, tapi memang mengerti.
"Orang kayak aku gimana?"
"Iya. Orang kayak kamu... kayak kita. Yang selalu berusaha untuk memenuhi ekspetasi orang lain."
Aku terdiam. Diam karena terlalu terkejut. Dia mengerti karena ternyata kita mirip.
"Aku benar gak?" Tanya dia memastikan.
"Tau dari mana?"
"Aku dengar semua apa yang mereka omongin ke kamu waktu kamu menang. Mereka berharap lebih lagi sama kamu, dan mungkin akan terus kayak gitu," jawabnya.
Aku masih diam, berharap ada kalimat lagi yang dia ucapkan.
"Makanya waktu itu aku datang ke kamu. Karena aku tau banget La, apa yang sebenarnya ingin kamu dengar."
"You feel the same?" Tanyaku hati-hati.
"Iya."
"Alfa--,"
"Panggil aku Riel aja."
"Oke Riel. Aku makasih banget karena kamu udah datang dan ucapin sesuatu yang cukup berarti buat aku. Sesimple itu emang, aku cuma mau kerja kerasku hari itu dihargai dulu."
Cowok yang katanya dipanggil Riel itu tersenyum.
"Speak up La. Ngomong kamu butuh apa. Jangan diam aja. Kalau kamu diam aja. Kamu gak hidup untuk diri kamu sendiri, tapi cuma hidup untuk orang lain."
Aku diam sejenak. Tiba-tiba teringat dengan pertanyaanku tadi.
Aku melakukan ini semua untuk siapa?
Seolah pertanyaan itu dijawab oleh Riel.
Kalau kamu diam aja. Kamu gak hidup untuk diri kamu sendiri, tapi cuma hidup untuk orang lain.
"Yel..."
"Hm?"
"Kita berteman yuk!"
***
"Terus, ayah kamu gimana pas kamu gak dapat juara 1?" Tanyaku pada Riel. Sejak hari itu dimana aku mengajak dia berteman, kita jadi bertukar kontak dan janjian di tempat yang sama hanya untuk saling bertukar cerita. Dan ini adalah kali ketiga kita bertemu masih di tempat yang sama, di kedai kopi langgananku.
Aku gak ada niat macam-macam ke Riel. Aku cuma merasa nyambung karena ternyata dia pernah merasa hal yang sama. Dijatuhi ekspetasi dan harapan yang tinggi oleh ayahnya yang dulu sangat menuntur Riel untuk selalu menjadi yang terbaik dari semua yang paling baik.
"Ayah aku udah biasa aja. Dulu aku lomba karena dituntut ayah, tapi sekarang aku ikut lomba karena aku suka," jawabnya. Beruntungnya, ayahnya sudah mengerti maunya Riel seperti apa. Karena seperti yang dia bilang waktu itu, speak up.
Aku mengangguk mengerti.
"Kamu gimana La? Merasa bahagia gak?"
Bahagia?
"Maksudku waktu menang kamu bahagia gak?"
Aku tersenyum tipis, "Aku senang."
"Sebatas itu?"
"Aku gak pernah tau Yel, aku bahagia atau enggak."
"Aku gak pernah bisa mengerti diri aku sendiri."
"Aku malah terus merasa nothing padahal aku punya semuanya. Keluarga, teman, pacar, pencapaian, aku punya semua Yel."
Aku melihat Riel yang menghela napasnya kasar.
"La, kamu sadar gak, kalau semua ekspetasi mereka justru buat kamu takut. Takut kalau kamu gak bisa penuhin itu, mereka semua pergi sampai akhirnya kamu berusaha sesempurna mungkin untuk membahagiakan mereka biar mereka tetap sama kamu tapi kamu gak sadar La kalau dengan kamu kayak gitu, kamu banyak mengorbankan apa yang kamu butuh, dan apa yang kamu suka."
"Then... you lost yourself La."
Setelah mendengar apa yang Riel katakan, tiba-tiba kepalaku penuh dengan kilas balik yang sangat relate dengan apa yang diucapkan Riel.
Waktu aku menghabiskan satu hari penuh dengan buku dan soal-soal untuk persiapan olimpiade matematika kemarin. Karena kata Pak Yudis, Papa dan Mama, persiapanku harus matang.
Lagi, saat aku merelakan buku novel tulisan penulis favorite-ku karena kata Theo lebih baik aku beli buku latihan soal untuk terus mengasah kemampuanku.
Juga, Delia yang selalu menemaniku belajar di rumah dengan alasan agar aku semangat belajarnya padahal yang aku ingin kan adalah berkeluh kesah dengannya.
"Kamu punya semua orang untuk kamu bagi kebahagiaan kamu La. Tapi kamu gak punya satu orang pun untuk kamu bagi kesedihan dan kesusahan kamu."
Tepat. Lagi-lagi yang diucapkan Riel sangat tepat. Semua pertanyaanku selama ini, terjawab semuanya melalu dia.
"Lala!" Aku dan Riel kompak menoleh saat mendengar suara yang sangat aku kenal.
"Kamu alasan pergi buat belajar padahal buat ketemu dia? Kamu selingkuh La?"
Theo. Aku gak tau bagaimana dia bisa ada di sini bersama seseorang yang sangat aku kenal juga. Delia.
***
"Kamu kalau gak mau belajar ngomong aja La, gak usah bohong gitu. Pake segala jalan sama cowok lain lagi. Gak ingat sama Theo? Dia tuh yang udah temani kamu dari awal."
Aku hanya menunduk, diam mendengarkan Papa bicara. Oh bukan bicara. Terkesan membentak.
Sepulangnya aku dari sana. Tentu saja, Theo langsung mengadu ke Mama dan Papa tentang hal yang bahkan dia gak mau tau kebenarannya dan hanya menyimpulkannya sendiri.
"Kamu beneran selingkuh La?" Tanya Mama juga.
"La, lo keterlaluan sih kalau sampai selingkuh dari Theo. Alasannya buat belajar lagi, Gak banget La." Oke. Sekarang Delia.
"Pantas Pak Yudis bilang, akhir-akhir ini Lala seringa gak fokus, karena cowok itu?" Theo juga masih gak mau kalah. Bahkan bawa-bawa nama Pak Yudis.
Aku sendiri masih diam. Belum tau mau menjawab apa. Lebih tepatnya gak tau bagaimana cara menjelaskan kebenarannya.
Kalau kamu diam aja, kamu gak hidup untuk diri kamu sendiri, kamu cuma hidup untuk orang lain.
Tiba-tiba kalimat itu terngingang di kepalaku. Membuat aku mendengakan kepala dan menatap mereka semua di detik selanjutnya.
"Aku gak selingkuh. Riel temanku. Selama ini kalian gak tau kan susah aku kayak apa, yang kalian liat kan cuma hasilnya aja. Aku cuma mau di dengar, dan Riel mau bahkan dia mengerti aku," ucapku sambil menatap mata mereka secara bergantian.
"Ma, Pa, sekarang aku mau jujur aja. Aku capek. Tolong, berhenti berekspetasi lebih dan lebih terus ke aku. Aku mau melakukan sesuatu atas dasar kesenanganku bukan ekspetasi orang lain."
"Mama, Papa boleh berharap untuk kesuksesan aku, tapi titik kesuksesan aku dimana itu aku yang tau, aku yangmenentukan, jadi kalau aku udah merasa cukup, tolong, Ma, Pa, jangan suruh aku untuk lebih dan lebih lagi."
"Dan Theo, makasih banget udah temenin aku selama ini. Tapi kayaknya sekarang aku mau istirahat dulu, istirahat dari semuanya. Aku mau sendiri dulu, sampai aku bisa menemukan lagi diri aku yang sebenarnya."
"Delia, lo juga. Gue makasih banget sama lo karena udah selalu temenin gue belajar. Gue harap lo juga bisa temenin gue waktu gue lagi senang, sedih, atau susah sekalipun."
Setelah itu semuanya berubah. Aku dan Theo putus. Bukan karena Riel. Sama sekali bukan. Tapi karena memang aku ingin lebih mengenal dan menyayangi diri sendiri dulu. Mama dan Papa juga sudah mengerti, sekarang mereka lebih menghargai kerja keras aku tanpa mengharapkan lebih lagi ke depannya. Juga Delia, dia jadi sahabat terbaik aku yang selalu ada di samping aku dalam keadaan apapun.
Dan Alfariel. Aku gak tau sekarang dia gimana. Semenjak Theo memergoki kami di kedai kopi itu, Riel menghilang. Aku sudah mencoba menghubunginya untuk berterimakasih dengannya, tapi tidak juga ada respon, sampai akhirnya aku menyerah dan terakhir hanya meninggalkan pesan suara.
"Riel, makasih. Makasih buat semuanya. Aku harap kita masih bisa jadi teman. Semoga kita ketemu lagi di olimpiade selanjutnya, di bangku final juga kayak waktu itu. Sekarang aku udah bahagia. Sekarang aku bisa jalani hidup aku untuk diri aku sendiri. Dan itu semua berkat kamu. Makasih sekali lagi Yel. Hope to see you soon."
Aku akan selalu ingat Riel. Dari Kedai kopi, kita berteman, dan bercerita. Gak banyak waktu yang kita punya, tapi udah banyak hal yang kita bagi satu sama lain. Alfariel, sekali lagi, terimakasih.