"Rai apa kau tau bahwa hujan itu turun karena ada seseorang yang menangis?"Ucap temanku. "Tidak"Singkatku dengan dingin. "Hai Aldo kamu kata siapa?! kenapa aku baru tau?"Tanya teman ku dengan agak kasar. "Ya tentu kata nenek ku mana mungkin kata batu"Jawab Aldo santai.
"Masih percaya ucapan orang tua?"tanya teman ku yang lain. "Benar kata Safira, orang tua kan selalu berkata bohong"Setuju dia. "Ahh belum tentu bisa saja jujur jangan racuni Pikiran Raira"Ucap Aldo yang tidak terima. aku yang mendengar perdebatan mereka hanya diam dan ingin tau apa itu benar?.
lalu bel berbunyi dan kami berpisah di tengah jalan. saat sampai rumah belum aku berganti baju ibu menyuruh ku ke warung untuk membeli telur.
aku pun langsung kesana tanpa berganti baju, saat sudah membeli telur itu aku di hadang oleh 3 anak laki-laki.
"mau apa kalian?"Tanya ku dengan berteriak. "Tidak ada hanya ingin bermain dengan mu"Mengambil telur dan melemparnya kepadaku di susul teman-temannya. setelah aku berteriak baru mereka Kabur dengan puas melihat tampang ku yang di lempari 4 telur. "Aku pasti di marahi ibu"Ucap ku yang agak ketakutan. dan benar saja ibu memarahi ku habis-habisan lalu menyuruhku untuk mencuci bajuku jika masih ada noda dan bau telurnya maka ibu tidak akan memberikan aku baju baru dan uang jajan ku akan di kurangi, aku yang mendengar itu langsung ke sungai dan mencuci bajuku disana tapi karena aku tidak fokus baju ku terseret air dan di saat itu aku benar-benar menangis dan ketakutan. aku menangis karena takut lalu tiba-tiba ada hujan yang turun di tambah petir. setelah aku puas menangis di bawah hujan aku pulang dengan basah kuyup tanpa membawa seragamku. saat pulang ibu terlihat khawatir dan memelukku, dia tidak marah dan malah membelikan aku seragam baru.
dari saat kejadian itu aku tau bahwa hujan bisa menunjukkan perasaan orang lain bukan turun karena ada seseorang yang menangis.