"Kalian tahu? Apa yang tadi aku lakukan?" Azelia membuka topik pembicaraan.
"Apa Zel?" tanya Tia yang merupakan salah seorang teman dari Azelia.
Azelia menghela nafas sejenak, dan lanjut bicara.
"Tadi pagi aku mengerjakan banyak pekerjaan rumah! Menyapu, mengepel, dan membereskan rumah itu sepenuhnya dalam waktu yang cukup mepet."
"Bukankah itu tugas biasa?" ucap Laras yang merasa biasa saja.
"Memang itu tugas biasa. Tetapi bila dikerjakan saat sebelum pergi ke sekolah dalam waktu yang sangat sedikit alias mepet bagaimana?" Azelia mempertegas.
"Itu sangat melelahkan sih." Laras memahami keadaan.
Azelia terus berceloteh kesal lantaran tiap harinya selalu saja melakukan banyak pekerjaan, yaitu pekerjaan rumah. Hampir seluruh waktu yang dimilikinya digunakan untuk melakukan pekerjaan rumah. Hal ini dilakukannya karena perintah sang Abang bernama Rendi. Segala hal dilakukannya seorang diri dengan suruhan sang anak sulung itu tanpa bisa menolaknya. Sebab sekali ia menolak, itu akan kembali pada diri Azelia itu sendiri.
"Kenapa kamu tidak menolaknya saja?" tanya Tia.
"Karena jika aku tolak atau membantah, maka pekerjaan itu akan menumpuk dan tidak ada yang akan mengerjakannya selain diriku. Sulit sekali rasanya hidup berdua dengan abang sendiri. Huft!" gerutu Azelia.
"Derita anak bungsu ya ceritanya." kata Tia.
"Benar! Kenapa anak bungsu selalu menjadi yang tertindas disini? Suka diperintah ini itulah. Dan perintahnya tidak sedikit. Apakah anak bungsu harus mengalami hal semacam ini terus menerus?"
"Entahlah, tetapi aku tidak mengalami hal seperti itu Zel." ungkap Tia.
"Aku anak sulung cukup diam saja ya. Lagian aku juga tidak bertindak semena-mena seperti itu." Laras coba tidak ingin ikut campur.
Azelia menatap ke arah Laras yang ada di dekatnya. Dan wajahnya mulai mendekat, lalu angkat bicara.
"Seharusnya kamu tahu anak sulung itu kriterianya bagaimana. Dan bisakah kamu memberi masukan untuk merubah abangku ini?" Tanya Azelia pada Laras.
"Ehm... Aku tidak tahu cara apa yang bisa mengubah sikap abangmu. Sebab setiap orang tidak bisa dirubah semudah itu."
balas Laras.
Azelia mulai mundur dan duduk di bangkunya.
"Tapi ada yang mesti kamu tahu mengenai anak sulung. Anak sulung itu dikenal dengan ego nya yang tinggi. Itu akan cukup menyulitkan untuk posisi saudara yang ada dibawahnya." lanjut Laras.
"Pantas saja. Dia keras sekali orangnya, dan lebih mementingkan diri sendiri!" Azelia menepuk dahi.
"Kamu harus sabar dan berusaha untuk bisa mengubahnya dengan caramu sendiri."
Ucap Tia.
Pandangan Azelia berubah ke arah Tia. Dan mulai menanyakan perihal apa yang diucapkan oleh Tia barusan.
"Memangnya kamu sudah pernah melakukan hal itu dengan caramu sendiri?"
"Ya, itu sudah lama. Tetapi bedanya dia tidak selalu mementingkan egonya. Benar kata Laras, anak sulung itu egonya tinggi. Tetapi kamu bisa merubahnya dengan caramu sendiri."
Mendengar ucapan dari kedua temannya tersebut, Azelia pun mengerti dan sedikit paham mengenai kriteria dari anak sulung.
---
Sepulang dari sekolah, Azelia melangkah menyusuri jalan seorang diri. Sesekali ia melihat anak satu sekolahnya pulang dengan jemputan dari para kerabat. Ia merasa sedikit iri dengan hal itu. Lantaran dirinya tidak bisa memiliki hubungan sedekat itu. Apalagi abang yang dianggap sebagai pembawa masalah baginya itu tidak bisa diajak komunikasi.
Azelia akhirnya tiba di kediamannya. Membuka pintu dengan perlahan berharap tidak ada suatu hal yang membuatnya kesal.
Pintu terbuka dan ia melihat apa yang adai di hadapannya.
"Hah?!"
Melangkah masuk dan menutup kembali pintu. Azelia menelusuri tiap ruang yang ada dirumahnya. Setelah itu, Azelia bergegas mencari abangnya yang bernama Rendi tersebut.
"Kemana dia ya?"
Kamarnya tampak terkunci dan tidak terdengar suara apapun dari dalam. Kamar terkunci sudah lumrah terjadi. Sebab Rendi tidak ingin orang lain memasuki ruang kamarnya.
"Tidak ada suara. Berarti dia sedang tidak ada dirumah."
Setelah itu, Azelia pun bergerak menuju kamarnya. Membuka pintu dan menutupnya kembali.
"Hah?!"
Azelia terkejut, lantaran Rendi tengah berbaring di tempat tidur miliknya.
"Bisa-bisanya dia tidur disini!"
geram Azelia.
Melangkah ke depan dan memandang sang abang.
Namun, seketika Azelia terdiam. Karena Rendi tampak tidur dengan pulas dengan tangannya yang sudah memerah.
"Dia melakukan apa saja hari ini sampai tangannya memerah? Adakah pekerjaan berat dilakukannya hari ini?" tanyanya dalam hati.
Karena Rendi sudah tidur di ranjang milik Azelia, mau tak mau sang adik yaitu Azelia harus berpindah posisi untuk malam ini.
"Malam ini aku akan membiarkan dia tidur disini."
Azelia pun pergi meninggalkan ruangan kamar itu.
Esok paginya...
Mata terbuka dengan perlahan, Azelia bangun dari tidurnya. Dan melihat keluar jendela. Tampak hari sangat cerah. Melepas selimut dari tubuhnya, Azelia memandang seiring ruangan.
"Aku berada di kamarku sendiri? Bukankah aku semalam berada di ruang tamu?" herannya.
Berjalan keluar kamar, Azelia melihat Rendi sudah bersiap-siap untuk pergi. Lalu ia pun menghampiri abangnya itu.
"Hei. Kamu mau kemana?" tanya Azelia.
"Ke suatu tempat yang jauh." jawabnya sambil.memasang kaos kaki dan sepatu.
"Bisakah memberitahu secara detail?"
"Tidak." jawab Rendi singkat.
"Lalu kenapa tadi malam kamu tidur di ranjangku?" lanjut Azelia bertanya.
"Aku hanya tertidur."
"Satu hal lagi. Apa yang kamu lakukan sehingga rumah ini tidak seperti biasanya dan kulihat tanganmu memerah semalam?"
"Banyak yang aku kerjakan. Sudahlah, aku pergi dulu. Jaga rumah ini baik-baik. Aku akan pergi dalam waktu yang lama. Aku tahu kamu akan senang mengetahui hal ini. Sampai jumpa."
Rendi berpamitan dan mulai membuka pintu keluar.
"Aku tidak tahu apa saja yang kamu lakukan. Sepertinya kamu sudah sedikit berubah." ujar Azelia.
"Ya bisa dibilang begitu." balas Rendi.
"Siapakah yang mampu merubah dirimu itu?"
"Seseorang yang paling aku sayangi." Rendi langsung melangkah keluar.
"Hey tunggu!" Azelia coba menahan.
"Aku sudah tidak ada waktu lagi. Dah! Sampai jumpa." tutup Rendi.
Rendi sudah pergi. Kini Azelia tinggal seorang diri dirumah itu.
"Apakah dia sudah punya pacar? Hmm aku penasaran siapakah orang yang mampu merubah dirinya itu?"
Setelah itu Azelia beranjak pergi menuju sekolah. Dan disaat dirinya lewat di depan pintu kamar abangnya, Azelia melihat suatu tulisan terpampang didepannya.
Membacanya hingga selesai. Azelia yang melihat itu langsung tersenyum dengan perasaan tak menyangka.
"Sekarang aku tahu siapa yang mengubah dirimu wahai anak sulung."
"Diriku sendiri, si bungsu." ucap Azelia sembari menutup pintu rumah.
-----SELESAI-----