Tepat di taman yang indah ini banyak orang yang bersama dengan pasangannya untuk menikmati indahnya senja. Sedangkan di bangku taman yang lainnya ada seorang gadis yang hanya memperhatikan beberapa pasangan yang sedang bermesraan di sekitarnya.
'Sopan kah begitu di depan jomblo' cibir Yuna.
Tin gua rindu lu, gua rindu lu langsung nyelonong masuk ke rumah gua buat makan. Lu kapan balik sih dari London , gua kangen lu tapi lu udah punya kakak cantik. Batin Yuna.
Ya sebut saja gadis itu Yuna. Dia adalah anak yang baik namun, sayangnya dia dibenci beberapa orang karena kedekatannya dengan seorang pria yang populer di sekolah dan juga karena fisik nya. Pria populer itu adalah Justin. Justin dan Yuna adalah teman sekelas bahkan mereka sangat akrab ketika di kelas sampai membuat beberapa siswi yang ada di kelasnya cemburu. Ya cemburu karena mereka berdua saling memanggil satu sama lain menggunakan nama kesayangan.
1 tahun yang lalu tepatnya ketika Yuna sedang duduk di bangku SMP tepatnya kelas 3 SMP. Yuna memiliki perasaan kepada Justin namun ia enggan untuk memberitahukan nya pada Justin karena ia takut Justin menjauh darinya. Dan saat itu juga beberapa siswi yang ada dikelas mengajak Yuna ke kantin. Saat mereka sedang menunggu pesanan mereka datang ada seorang siswi yang bertanya pada Yuna
“Yun, kamu suka ya sama Justin?” tanya Vio.
“Emang kenapa?”
“Jawab aja, Yun”
“Kalau aku jawab engga emang kenapa? Terus kalau misalnya aku jawab iya juga kenapa?”
“Cuman nanya doang”
“Oh”
Tak lama kemudian pesanan kami datang dan kami segera makan. 7 menit telah berlalu. Yuna segera kembali ke kelas sedangkan yang lainnya masih berada di kantin untuk bergosip. Saat jam masuk pun guru IPA kami masuk,
“Silahkan ketua kelas beserta satu temannya untuk ke perpustakaan mengambil buku paket di sana”
“Baik Bu”
“Yuna, ikut gua”
“Okey”
Lalu kami berdua segera pergi ke perpustakaan hanya berdua saja. Dan biar ku tebak bahwa anak dari kelas lain sedang menatap heran kami berdua dari kelas mereka masing-masing. Namun kami berdua tetap tidak peduli bahkan Justin seenaknya saja merangkul ku sampai-sampai adik kelas yang sedang berolahraga teriak histeris mungkin ia iri. Aku yang mendengar teriakan itu pun segera melepaskan rangkulan Justin.
“Pao, Napa dilepas sih rangkulannya?” tanya Justin pada Yuna.
“Tangan lu berat, tin ”
“masa sih?”
“Ya”
“Eh kantin dulu yuk”
“kata ibu tadi ambil buku lain buat ke kantin”
“Yaudah gua kantin sendirian”
“Heh jangan macam-macam lu. Sini ikut gua” kata Yuna yang sambil menarik telinga Justin.
“Awh sakit woy, lepasin gak.”
“Entar nunggu di perpustakaan, dikit lagi nyampai”
“Lu mau buat telinga gua makin lebar gitu?”
“ Mungkin”
Lalu mereka pun tiba di perpustakaan dan segera mengambil buku paket itu. Dan mereka pun segera kembali ke kelas. Saat tiba di kelas pun mereka segera membagikan buku paket itu lalu mengikuti pelajaran. Saat jam istirahat tiba Justin pun segera pergi ke kantin dan Yuna segera memanggil Justin namun Justin seperti nya sengaja menghiraukan panggilan itu. Dan Yuna segera menghampiri Justin
“Tin, maaf”
“Maaf kenapa sih, Pao” kata Justin yang mencubit gemas wajahnya.
“Maaf karena udah narik telinga lu”
“Udah gak papa. Lebih baik kantin yuk”
“Yok”
Lalu Justin segera merangkul ku dan ya banyak tatapan iri yang sedang menatap kami berdua. Namun, kami tidak peduli dan terus berjalan seperti biasanya. Saat di kantin pun banyak tatapan dan omongan yang pedas namun ku sudah terbiasa mendengar nya.
“pao, lu mau pesan apa?” tanya Justin.
“Samain aja kaya punya lu”
“Oke”
“Bu saya pesan mie ayamnya satu porsi”
“Lah kok satu?” tanyaku
“Biar makannya samaan. Lagian lu juga gk pernah habis kalau makan”
“yaudah serah lu”
“Nah gitu dong” kata Justin yang sambil mencubit gemes wajah Yuna.
"oh iya, kok muka lu makan tembem sih kek bakpao"
"Udah ih jangan cubit lagi sakit tau gak"
"Hehe maaf, habisnya lu gemesin banget sih"
"noh makanannya udah siap ambilin gih gua laper nih"
"siap tuan putri"
Lalu Justin segera mengambil makanan tersebut dan ya mereka makan bersama. Bahkan mereka berdua sempat bermesraan di depan umum sehingga membuat orang yang ada dikantin itu berteriak bahkan ada yang memeluk tiang. Dan begitulah keseharian kami berdua saat di sekolah bahkan saat dirumah pun Justin masuk begitu saja ke kamar ku untuk menonton tv padahal di ruang tengah ada tv yang sangat besar tapi ia lebih memilih nonton di kamar bersamaku dengan alasan di kamarku banyak kue.
sampai di suatu hari ada seseorang yang menyebar gosip bahwa aku dan Justin berpacaran. Dan darimana mereka tau kalau aku suka dengan Justin sedangkan untuk berpacaran semua itu salah. Lebih parahnya lagi aku mendengar kabar bahwa Justin sudah tau kalau aku suka sama dia dan di gosip itu kalau aku yang nyatain perasaan ku ke dia lewat chat sedangkan kami berdua chattan saja sekali seminggu.
Mulai dari situ kedekatan aku dan Justin mulai renggang. Aku dan dia tidak berbicara satu sama lain sampai kami lulus dari SMP. Dan saat ku sudah lulus aku baru menyadari yang menyebarkan gosip ini adalah orang yang benar-benar suka dengan Justin ya siapa lagi kalau bukan Vio.
Dan saat malam perpisahan antara aku dan Justin mulai berbicara lagi.
"Yun, gua lanjut Sekolah di London. lu jaga diri baik-baik ya"
"iya. Dan maaf"
"Gak perlu. Lagi pula semua itu gak benar kan ku harap kita masih bisa sahabatan lagi kaya dulu"
"iya"
wow, bisa-bisa nya lu bilang itu semua gak benar. Tapi gak papa gua rela nunggu Lo kok. Batin Yuna.
3 tahun berlalu dan kami sering video call bahkan ia juga mengenalkan pacarnya kepada ku. Sungguh sangat sakit ketika mendengar dan mengetahui hal tersebut namun diri ini masih bisa tersenyum. Sungguh hebat. Sampai di detik ini juga di taman ini ku rela nunggu dia buat datang kesini hanya taman ini yang satu-satunya dekat dengan rumahku bahkan ini tempat kami sering bertemu dan bermain bersama.
Dan pada hari ini tepatnya saat ku sudah lulus dari SMA dan sedang kuliah di semester pertama ku masih setia untuk mengunjungi taman ini dengan alasan menikmati indahnya senja. Bahkan ada beberapa orang yang sedang bermesraan.
'Sopan kah begitu di depan jomblo?' cibir Yuna.
"makanya jangan kelamaan jomblo" kata sosok pria tampan yang berada dibelakang Yuna. Yuna yang mendengar hal itu pun segera menoleh ke arah suara tersebut.
"Justin"
"Ya"
Dan Yuna pun segera berlari ke arah Justin untuk memeluknya.
"Huaa gua rindu"
"Me too. Lu jadi orang susah banget sih di bilangin buat jangan keluar sore"
"hehe maaf. Btw pacar kamu mana?"
"Laura?"
"iya"
"gua udah putus"
"lah kenapa?"
"dia selingkuh dari gua dan hari ini dia nikah sama selingkuhan nya"
"haha kasihan banget sih"
"dih"
"btw lu kapan nyampe disini sih?"
"kemaren malam"
"lagi libur?"
"ya sekalian datangin calon istri"
"siapa tuh kok gak kenalin ke gua"
"ngapain gua kenalin ke Lo kalau orang nya lagi duduk di sebelah gua"
"Hah?"
" Ya "
"Gua gak mimpikan?"
"gak kok"
"gua gak percaya"
"yaudah yok balik"
Lalu kami pun kembali ke rumah ku dan saat dirumah ku pun aku mendapat kejutan dari keluarga ku.
"cie yang bentar lagi nikah" kata adik sepupu ku"
"Mah gak mimpikan gua kalau Justin ngelamar gua"
"gak kok"
Lalu Justin pun berjongkok di hadapan ku.
"Yun, sebenarnya gua suka sama lu dari dulu tapi gua gak berani buat bilang makanya gua lebih milih lanjut sekolah di London supaya gua bisa ngelupain lu tapi kenyataannya gak bisa. So, Will you marry me?"
"Terima,,,terimaa" kata keluargaku
"Ya" jawabku
Lalu Justin segera memasang kan cincin di jariku begitu pun sebaliknya.
"Tapi-"
"Kita nikahnya setelah kita wisuda"
"Oke"
🌸🌸
6 tahun telah berlalu dan kami telah wisuda dan aku juga dapat pekerjaan di kantor sedangkan Justin sibuk mengurus perusahaan ayahnya.
Tepat hari ini adalah hari pernikahan kami, setelah resmi menjadi suami istri Justin pun segera mencium Yuna.
"SOPAN KAH BEGITU DI DEPAN JOMBLO?" Teriak Vino dari tempat duduknya sehingga membuat seisi gedung tertawa.
Dan ya kami berdua kini sudah resmi menjadi suami istri, bahkan 9 bulan telah berlalu kini Yuna sedang melahirkan anak laki-laki yang mereka beri nama Nathan.
4 tahun kemudian tepatnya di hari Minggu dimana kami semua menghabiskan waktu bersama.
"Mommy" panggil Nathan pada Yuna.
"Ya sayang"
"Aku mau punya adek"
"Nanti malam Daddy sama mommy buatin" balas Justin yang sedang memasak.
Yuna yang sedang makan cemilan tiba-tiba tersedak saat mendengar perkataan Justin.
Uhuk,,,uhukkk
" Mommy ni minum dulu"
"Makasih sayang"
Lalu Yuna segera meminum air pemberian anaknya itu.
"Mommy gak papa?" tanya Nathan.
"Gak papa kok"
"Yaudah yuk kita makan, makanannya udah disiapin oleh Daddy"
"Yok"
Lalu kami makan bersama setelah selesai makan pun Justin mengajak Nathan bermain di halaman belakang sedangkan Yuna sibuk membersihkan rumah. Namun, ia masih memperhatikan dua lelaki tampannya yang sedang bermain di halaman belakang rumah mereka.
{THE END}
Happy reading semuanya 😊.
Makasih buat yg udah mampir.