Surya telah tergantikan purnama yang tak kalah indah dalam menyinari buana. Namun, tergantikannya surya dan menyergapnya kesunyian tak kunjung menghantarkan pria itu ke peristirahatan. Ia terduduk di salah satu ruangan di tempat persembunyiannya, netranya tak henti menatap monitor-monitor yang menampilkan begitu banyak 𝘢𝘭𝘨𝘰𝘳𝘪𝘵𝘩𝘮 𝘤𝘰𝘥𝘦, sedangkan jemarinya yang cekatan terus menari di atas 𝘬𝘦𝘺𝘣𝘰𝘢𝘳𝘥.
Penampilannya tampak tak terurus, netranya tak memancarkan satupun emosi bagai tak ada jiwa yang mengisi raganya. Tanpa menghentikan aktivitasnya di atas 𝘬𝘦𝘺𝘣𝘰𝘢𝘳𝘥, salah satu tangannya meraih sekaleng soda dan meneguknya dalam sekali tegukan. Lalu, dilemparkannya kaleng soda kosong itu ke tumpukan kaleng lainnya yang sudah tak berisi lagi, diraihnya juga chips yang selalu dikonsumsinya sebagai penghilang rasa lapar. Ia melanjutkan pekerjaannya lagi, mengembalikan 𝘤𝘪𝘱𝘩𝘦𝘳𝘵𝘦𝘹𝘵 demi mendapatkan informasi yang diinginkannya. Menemukan kembali adiknya yang telah terpisah darinya sejak sepuluh tahun silam.
Dialah Araquiel, satu di antara orang-orang jenius yang eksistensinya begitu dicari dan salah seorang agen kelas S itu kini tengah menggila demi mendapatkan kembali adiknya. Pun tak dapat terhitung lagi berapa banyak pekerjaan kotor yang telah ia lakukan demi menggapai keinginannya itu. Dimulai dengan meretas begitu banyak situs berkeamanan tinggi berbagai negara hingga melakukan berbagai penyamaran tanpa memandang gender. Bahkan, menghilangkan nyawa lain demi meraih tujuannya mungkin bukanlah hal yang mustahil untuk ia lakukan. Terlebih, ia sendiri telah sadar betapa kotornya dirinya itu dan tak keberatan melakukan hal serupa lainnya.
Mungkin penampakan dirinya saat ini memang tak terlihat seperti fakta dari kehidupannya yang begitu kelam dan kotor. Pun sungguh hal yang begitu masuk akal bila orang-orang yang melihatnya untuk pertama kali memberikan impresi tak mengenakkan yang tak lebih dari orang tak berguna yang bahkan merawat dirinya sendiri pun tak bisa dilakukannya. Namun, itulah dirinya yang sesungguhnya. Penampilan menipu merupakan poin lebih yang begitu berguna baginya. Topeng yang digunakannya sungguh bisa memberikan impresi berbeda dari setiap orang yang ditemuinya melebihi aktor papan atas yang telah mendapatkan berbagai penghargaan sekalipun.
Sesungguhnya, apa yang didambakannya itu sudah hampir dicapainya. Namun, bagaikan dipermainkan oleh takdir, alih-alih dipertemukan dengan adiknya itu, Araquiel malah semakin dijauhkan darinya. Memunculkan perkara lain yang semakin rumit untuk dihadapinya.
Seketika, Araquiel menghentikan jemarinya, memukul 𝘬𝘦𝘺𝘣𝘰𝘢𝘳𝘥 di hadapannya dan meremas rambutnya sendiri. Berbagai macam umpatan pun terlontar begitu saja. Di saat umpatan-umpatan tersebut mulai terhenti, sebuah ingatan terlintas di benaknya. Ingatan 10 tahun silam di kala adiknya masih bersamanya. Kenangan indah yang juga kenangan tergelap dalam kehidupan mereka. Kenangan di mana ia dan adiknya Ariel harus terkurung di rumah itu. Rumah yang selama 12 tahun memberikan trauma kepada masing-masing dari mereka, alih-alih memberikan kehangatan seperti apa yang biasa diucapkan orang-orang. Ia dan adiknya tak sekalipun dapat terlepas dari berbagai kekerasan yang dilayangkan oleh orang tua mereka sendiri.
Ingatannya berlanjut ke masa di mana ia dan adiknya diam-diam menyelinap ke luar rumah demi merasakan kebebasan yang tentu hanya bersifat sementara, pun masa di saat ia dan adiknya saling berjanji satu sama lain. Janji yang masih terukir jelas dalam ingatan Araquiel. Tak hanya tentang apa yang mereka janjikan, namun juga rasa saat masing-masing dari mereka mengaitkan jari kelingking satu sama lain serta senyum bahagia tanpa bercampur kepalsuan saat mereka mengucapkan janji itu.
Araquiel yang sebelumnya tak mengeluarkan suara sedikitpun, kini tengah mengalirkan tita yang berasal dari netranya. Ia terisak. Bahkan, orang pun akan ikut terisak bersamanya bila mendengarnya. Suara isak tangisnya begitu menyiratkan kepedihan yang harus ditanggungnya selama ini. Namun, bukanlah ingatan perihal kekerasan yang diterimanya yang menjadi sebab semakin keras isak tangisnya. Melainkan rasa gagal karena tak dapat memenuhi janjinya itu. Janji untuk selalu melindungi adiknya yang begitu lemah serta janji masing-masing dari mereka untuk tetap tidak berubah di masa mendatang.
Dirinya yang telah mengotori tangannya sendiri bukanlah sosok yang dikenal adiknya di masa lampau, bukan dirinya yang selalu bersikap optimis dan tersenyum lebar tak peduli seberapa berat perkara apa yang tengah dihadapinya. Dirinya yang dituntut untuk menjadi dewasa dibanding anak seusianya pun bukanlah hal berat baginya, melainkan cara untuknya dan adiknya untuk melanjutkan hidup di dunia yang tak sedikitpun memberi celah bagi mereka untuk menjadi lemah. Namun, dirinya di masa kini merupakan parasit yang eksistensinya tak lebih dari merugikan pihak lain maupun mesin pembunuh yang siap membunuh tak peduli kapanpun waktunya. Hal itulah yang memberikannya rasa takut perihal adiknya yang mungkin tak akan mengenali dirinya bila kelak mereka telah bertemu. Pun rasa takut perihal dirinya yang akan mengecewakan adiknya itu.
Araquiel kini terlelap, begitu damai bagai orang yang sungguh berbeda atau mungkin inilah saat dimana ia kembali menjadi dirinya sendiri, serta waktu yang tepat untuknya beristirahat sejenak dari segala rasa pahit kehidupan. Tak terasa waktu demi waktu pun berlalu, dirinya telah berhasil melacak keberadaan adik dirinya dan cara bagaimana untuk membawanya kembali. Ia pun kini bisa hidup bersama adiknya kembali.
Araquiel telah bertemu dengan Arael, namun tak semua realita dapat berjalan sesuai apa yang diekspektasikan sebelumnya. Mereka tak sepenuhnya dapat mengenali satu sama lain, terdapat rasa benci yang diarahkan Arael kepada Araquiel yang dianggapnya telah menelantarkannya selama ini. Tak hanya itu, keadaan pun semakin memburuk karena agensi yang telah menaungi Araquiel selama ini.
Sebagai seorang agen, sebuah hal utama yang harus dilakukan adalah menghapus eksistensi mereka dari kehidupan tak terkecuali keluarga mereka. Namun, pertemuannya kembali dengan Arael telah membuatnya melanggar hal tersebut dan tentu terdapat harga di baliknya.
Araquiel tentu begitu paham terhadap konsekuensi apa yang akan diterimanya nanti, terutama apa yang akan menimpa adiknya kelak. Oleh karena itu, ia memenuhi ucapan perihal dirinya yang tak segan untuk menghilangkan sebuah nyawa, menepati hal tersebut dengan nyawanya sebagai bayaran. Dengan begitu, Araqiel pun berhasil menepati janji yang telah dibuatnya selama 10 tahun. Sebuah janji untuk selalu melindungi Arael serta janji untuk tetap menjadi dirinya sendiri.
***
Di sisi lain, tampak seorang gadis yang menghempaskan telepon genggamnya sambil terisak. Tak percaya terhadap akhir dari game yang selama ini dimainkan olehnya. Akhir yang pada akhirnya membawa kepedihan baginya. Sang tokoh utama yang ia dambakan kebahagiannya berakhir dengan dirinya yang mengorbankan nyawanya sendiri.