Senja ini, di suatu desa di atas gunung, udara dingin terus menyerang, menerobos kulit tipis makhluk lemah yang berada di luar sarangnya, menelusup melalui pori pori kecil berusaha membelai tulang sang pemilik tubuh.
Seorang nenek tua yang tengah duduk di sebuah bangku menjadi santapan empuk bagi angin malam untuk menguji kemampuannya. Sudah barang lama nenek itu duduk disana. Di bangku panjang terminal yang terbuat dari kayu yang telah lapuk termakan usia. Beberapa paku penguatnya sudah mulai berkarat, bahkan di beberapa tempat telah hilang.
Sebuah tong sampah besar yang berdiri tegak di samping bangku panjang, tak mampu lagi menampung bayaknya sampah yang terus dijejalkan oleh para pengunjung terminal. Beberapa genangan air menghias jalan keluar masuk terminal.
Nenek tua dengan pakaian panjang dan sebuah jaket rajut yang membalut tubuh kurusnya, menggenggam selembar kertas lusuh berwarna biru muda yang di bagian ujungnya sudah mulai koyak. Sorot matanya menunjukkan kekecewaan yang mendalam. Sebentar melihat jalan masuk terminal, sebentar menatap kertas lusuh yang digenggamnya.
Semakin larut, hawa semakin tak dapat dikendalikan. Nenek tua itu mulai menaikkan kaki kaki kurusnya, menyembunyikannya dibawah duduknya.
Tak lama kemudian, terlihat sebuah angkutan masuk ke area terminal. Nenek segera bangkit dari duduknya. Ia berjalan tertatih menghampiri angkutan. Nenek itu melongok ke dalam angkutan. Tak ada siapapun di dalam kecuali seorang pengemudinya.
"Nenek mau kemana? Biar saya antar nek."
Nenek menundukkan wajahnya. Kecewa.
"Tidak, terimakasih nak."
Nenek kembali duduk di bangku terminal. Sedang angkutan kembali dilajukan keluar dari area terminal.
Tulang punggung nenek yang telah rapuh, tak kuasa lagi menopang tubuhnya. Ia membaringkan tubuhnya di atas bangku. Ia enggenggam erat kertas biru mudanya,menyembunyikannya dibalik jubah rajutnya. Matanya mulai terpejam. Ia tak mempedulikan angin malam yang terus mengepung tubuh rapuhnya. Rasa kantuk telah mengalahkan segalanya.