Old Man & Little Mouse
Karya: Nanhi
🍂🏚️
Di tengah sesaknya arus kehidupan di kota yang dipenuhi gedung-gedung yang menutupi sinar mentari, terlihat sebuah rumah kayu rapuh nan usang masih kokoh berdiri diapit oleh bangun beton yang tinggi.
Rumah siapakah itu? Adakah yang tinggal di situ? Kenapa masih ada gubuk yang hampir roboh di tengah kota seperti ini? Itu sebagian kecil pertanyaan yang timbul di benak mereka yang melihatnya.
Tentu saja ada! Gubuk hancur di mata mereka, tapi itu istana bagi seorang kakek tua yang tengah duduk bersandar dengan mata yang terpejam di kursi kayu miliknya.
Begitu damai ... tenang ... dan tentram. Sesekali sang kakek membuka matanya melihat kearah jendela memastikan hari sudah gelap atau masih terang.
Aneh ... seperti ada makhluk yang sedang mengintip di balik lobang kecil di dinding kayu rumah sang kakek.
Oh! Dia masih di situ. Eh! Ekor panjangnya kelihatan. Tidak ada makhluk lain yang akan tinggal di lobang kecil seperti itu selain tikus-tikus kecil.
~~~~
Di balik lobang kecil nan gelap itu, terlihat dua tikus kecil sedang berdiskusi.
"Hari sudah hampir gelap, kita harus bersiap-siap untuk bekerja!" Kata seekor tikus yang lebih besar dari tikus yang sedang mendengarkan.
"Kak ... bolehkah aku libur? Aku sangat malas hari ini ...," keluh tikus kecil itu.
"Terserah padamu, jika kau ingin mati kelaparan, kau boleh saja bermalas-malasan di sini dan tidak usah cari makan!" Bentak si tikus besar pada tikus kecil yang memperlihatkan wajah memelas.
Dengan berat hati si tikus kecil harus juga bekerja untuk mengisi perutnya malam ini.
~~~~
Malam pun mulai memeluk bumi. Namun, manusia penuh nafsu, masih saja menguras energi tubuh yang hampir remuk demi kepuasan duniawi.
Sang kakek mulai menutup tirai jendela satu persatu. Dia mulai memasukkan batang kayu kecil ke perapian untuk menghangatkan tubuh tuanya.
Jangan lupakan dua tikus kecil tadi. Mereka mulai bersiap-siap untuk mencari sisa makanan di rumah tua sang kakek. Mereka menunggu sang kakek tertidur terlebih dahulu.
~~~~
Malam semakin dingin dan larut. Sudah di pastikan sang kakek telah tertidur pulas di kamar kecilnya.
Mulai lah dua ekor tikus itu keluar dari persembunyiannya. Perlahan dan hati-hati, mereka berdua langsung bergegas lari ke arah dapur, tempat makanan diolah dan disimpan.
"Kecil ...! Cepat!" Seru si tikus besar pada teman kecil yang mengikutinya.
Mereka telah sampai di dapur. Kini mereka harus cukup lihai dalam meloncat dan memanjat. Sebuah meja kayu kecil terpampang di depan dua tikus itu.
"Aku rasa ... di atas situ ada makanan!" Terka si tikus besar dengan yakin.
"Kita harus memanjat ke situ?!" Seru si tikus kecil merasa tidak yakin.
"Tentu saja!" Putus si tikus besar sembari mengambil ancang-ancang untuk meloncat ke salah satu kaki meja kayu itu.
~~~~
Walau sedikit sulit, akhirnya dua tikus itu sampai di atas meja dengan selamat. Namun, betapa terkejutnya mereka saat melihat ada sobekan roti dan potongan keju yang diletakkan di atas meja tanpa ditutup dengan apapun. Seaakan menyuruh mereka untuk mengambilnya.
Tikus kecil sungguh bahagia, dia tidak percaya ada makanan yang datang tanpa di cari.
"Kak! Ini keberuntungan kita ...!" Seru si tikus kecil dan segera mendekati makanan itu.
Namun, si tikus besar menaruh kecurigaan besar pada makanan tersebut.
"Berhenti! Jangan sentuh makanan itu ...!!" Tukas Si tikus besar dengan wajah khawatir.
"Hah?! Kenapa? Kenapa tidak boleh menyentuhnya?! Apa kau ingin mengambil ini untuk mu sendiri?!!" Ucap si tikus kecil dengan wajah kesal.
Mendengar ucapan adiknya itu, si tikus besar langsung menyanggah, "Bukan ...! Bukan seperti itu maksudku!"
"Lalu ...?!" Tambah si tikus kecil masih dengan wajah kesal.
"Aku curiga makanan itu sudah diberikan racun. Pikirkan saja ... tidak ada manusia yang membiarkan makanan yang bisa dikonsumsi besok terletak begitu saja ...! Pasti roti dan keju itu sudah dicampurkan dengan racun untuk membunuh kita!" Jelas si tikus besar dengan logikanya sendiri.
"Kak ... apa kau tidak bisa melihat? Kau tau sendiri kan ... si kakek tua itu sudah mulai pikun. Mungkin saja dia lupa untuk menutup atau menyimpan makanan ini di lemari es ...!" Bantah si tikus kecil dengan argumennya sendiri.
Si tikus besar tetap pada pendapatnya. "Sudah! Kita cari saja makanan yang lain. Jangan sentuh itu, lebih baik kita waspada daripada mengambil jalan pintas yang bisa-bisa membunuh kita." Putus si tikus besar dan segera turun dari meja kayu itu.
~~~~
Si tikus kecil seperti bimbang dengan keputusan yang diambil oleh kakaknya. Didukung dengan perut yang sudah berbunyi, akhirnya dia memutuskan untuk mengambil makanan di depannya dan segera melahapnya sampai tak tersisa.
Alangkah terkejutnya si tikus besar saat melihat adiknya tak mendengar apa yang dia katakan.
"APA YANG KAU LAKUKAN ...?!!" Teriak si tikus besar dengan wajah penuh amarah.
"Aku sangat lapar! Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak memakannya!" Tukas si tikus kecil sambil terus memakan roti dan keju itu dengan rakus.
"Kau tidak takut jika saja makanan itu sudah diberi racun?! Kau akan mati ...!" Si tikus besar sungguh tak bisa menahan nafsu makan dari adik kecilnya itu.
"Aku tidak peduli! Jika pun aku mati, maka aku akan mati dengan perut kenyang! Aku tidak akan menyesal!" Ucap si tikus kecil dengan penuh kepuasan.
Sudah tidak ada yang bisa dikatakan oleh si tikus besar. Dia hanya bisa menghela nafasnya. Adik kecilnya itu akan segera berakhir, begitu pikirnya.
~~~~
Sudah hampir menjelang pagi, kedua tikus itu mulai menyudahi perburuan mereka. Dengan segera mereka berdua kembali ke lobang kecil tempat mereka tinggal dan beristirahat.
Sekali si tikus besar melirik kearah adik kecilnya. Si tikus kecil itu terlihat baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda kalau dia keracunan.
Sungguh tidak bisa dipercaya. Apa mungkin benar yang dikatakan oleh si tikus kecil? Bisa saja si kakek tua itu lupa menutupi makanannya? Timbul pertanyaan di benak si tikus besar.
"Sudahlah ... aku jadi lega jika makanan itu memang tidak diberikan racun." Putus si tikus besar dan langsung meringkuk dan memejamkan matanya. Waktunya beristirahat.
~~~~
Mentari sudah bersinar terang di ufuk Timur. Sang kakek mulai menyiapkan sarapan paginya. Saat mendekati meja kayu, sang kakek sedikit tersenyum melihat piring tempat ia meletakkan roti dan keju semalam telah bersih tak bersisa.
Segera sang kakek mencuci bersih piring itu. Seperti biasa, sang kakek hanya menghabiskan harinya dengan bersantai menikmati waktu yang kian cepat berlalu.
Malam pun kembali menyapa bumi. Bulan terlihat bersih menyoroti cahayanya malam ini.
Alangkah berisiknya kendaraan bermesin itu. Tidak ada jam istirahat baginya. Dia terus saja membawa manusia memenuhi hasrat mereka.
Dua tikus kecil itu mulai bersiap-siap untuk mencari makan malam ini. Sudah memastikan kakek tua itu tidur, mereka segera beraksi.
Sungguh terkejutnya dua tikus itu, saat melihat piring yang diisi dengan sobekan roti, keju, dan ditambah dengan ikan kering, terpampang nyata di depan mereka.
Si tikus kecil sudah tak bisa menahan insting laparnya itu. Dia langsung berlari kearah makanan lezat tersebut. Si tikus besar hanya terdiam, dia ragu untuk menahan adiknya itu. Dia sempat berpikir, mungkin saja si kakek sengaja memberi mereka makan.
"Kak ...! Kemari lah ...! Ini sangat lezat!" Seru si tikus kecil dengan bahagia.
Si tikus besar ingin menolak, tapi tubuhnya berkata lain. Dia sungguh sangat lapar hari ini, sudah tak tertahankan lagi.
Akhirnya, kedua tikus itu memakan makanan itu dengan lahap, tanpa memikirkan resiko apa yang akan terjadi nanti.
~~~~
Sebulan telah berlalu ...
Dua tikus itu sudah tau, bahwa si kakek memang sengaja memberikan mereka makan. Sungguh tidak bisa dipercaya.
Untuk beberapa hari mereka masih sedikit ragu dengan sikap sang kakek yang ramah pada mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka menyadari bahwa kakek tua itu benar-benar ingin memberi mereka makan.
Kedua tikus itu merasa kasihan pada si kakek. Sudah puluhan tahun dia tinggal sendiri dan tidak ada yang berkunjung atau menemuinya.
Apa dia tidak memiliki keluarga? Atau tidak adakah teman yang ingin menemaninya? Terbesit pertanyaan itu di benak si tikus besar saat mengintip dari balik lobang kecil.
~~~~
CTARRR ....!!!!!
Suara sambaran petir cukup membuat merinding. Cuaca sangat buruk malam ini. Hujan yang turun dengan deras, serta angin yang cukup kencang.
Tak ada yang menyangka, takdir ini akan terjadi.
Tiba-tiba sang kakek terjatuh di lantai rumahnya. Kakek tua itu tidak sadarkan diri. Kebetulan, si tikus kecil sedang berjalan-jalan di sekitar rumah. Dia begitu terkejut saat melihat sang kakek terbaring di lantai yang dingin.
Tikus kecil itu tak berani mendekat. Dia segera berlari ke sarangnya untuk memanggil si tikus besar.
"Kak ...! Kakak ...!!!" Panggil si tikus kecil dengan tergesa-gesa.
Si tikus besar merasa heran, "Ada apa?! Kau terluka?!" Tanya sang kakak khawatir.
"Tidak ...! Aku baik-baik saja! Tapi kakek tua tidak baik-baik saja ...!" Jelas si tikus kecil dengan cemas.
"Apa maksudmu?!" Si tikus besar tak paham dengan perkataan adiknya.
"Ikutlah dengan ku sekarang! Kakek tua sepertinya terluka!" Ucap si tikus kecil kembali.
Segera kedua tikus itu keluar dari sarangnya dan berlari mendekati tubuh sang kakek yang terbaring di lantai.
"A ... Apa yang terjadi dengan kakek tua?!" Tukas si tikus besar saat melihat tubuh sang kakek yang tak bergerak.
"Aku tidak tau kak ... dia sudah seperti ini sejak tadi!" Sahut si tikus kecil.
~~~~
20 menit kemudian ...
Sang kakek masih tidak bergerak sama sekali. Kedua tikus itu semakin cemas.
"Kak ...! Kita harus lakukan sesuatu!" Saran si tikus kecil.
"Tapi apa? Apa yang bisa kita lakukan?!!" Ucap si tikus besar dengan cemas.
"Aku ... Aku juga tidak tau." Rasa sesal menyelimuti ke dua tikus itu.
Apa yang bisa dilakukan oleh dua makhluk kecil seperti mereka. Tidak ada yang bisa di lakukan.
Tapi ... mengingat kebaikan sang kakek, mereka tidak ingin menyerah.
Di tengah hujan yang deras, dua tikus itu mencoba menarik tubuh sang kakek ke arah pintu depan. Mereka berencana untuk menyeret kakek ke luar rumah.
Mereka berharap ada seseorang yang akan menolong sang kakek saat melihatnya.
Dengan sekuat tenaga mereka terus menarik tubuh sang kakek dengan mulut mereka. Namun, tenaga mereka tak seberapa dengan berat sang kakek. Ayo! Kalian tidak boleh menyerah tikus kecil!
Akhirnya sampai di depan pintu depan. Kini si tikus besar segera berlari untuk membuka pintu kayu itu dengan bergelantungan di gagang pintu.
Pintu itu akhirnya terbuka. Dengan segera dua tikus itu menarik kembali tubuh sang kakek. Di tengah udara yang amat dingin serta hujan yang di sapu angin, tubuh sang kakek tergeletak di halaman depan rumah.
"Bagaimana ini ... kakek tua malah terkena hujan! Lihat ... tidak ada yang datang!" Gerutu si tikus kecil merasa sangat cemas.
"Tenang lah! Kita cari solusi lain!" Seru si tikus besar.
Dengan berbekal logika yang kecil, ke dua tikus itu mencoba membuat kegaduhan untuk menarik orang melirik kearah rumah sang kakek.
PRANG ...!!! PRING ...!!!! BHAMM ...!!!
Kerja keras mereka tak sia-sia, seorang pejalan kaki melihat kearah rumah sang kakek. Tak berani mendekat sendiri, pejalan kaki itu memanggil polisi .
Pada akhirnya sang kakek dibawa ke rumah sakit. Ke dua tikus itu baru bisa merasa lega. Kakek akan baik-baik saja, begitu harap mereka.
~~~~
Satu Minggu kemudian ...
"Apa si kakek tua baik-baik saja, Kak?!" Tanya si tikus kecil yang mengintip ke luar dari jendela.
"Aku juga tidak tau, tapi sudah satu Minggu kenapa dia belum kembali?" Ucap si tikus besar dengan cemas.
"Mungkin ... dia harus dirawat lebih lama." Tukas si tikus kecil dengan yakin.
Hanya anggukan kecil yang di balas oleh si tikus besar. Dia berharap seperti yang adiknya katakan.
1 tahun kemudian ...
Suara gemuruh dari luar membuat dua ekor tikus yang sudah tumbuh besar merasa terganggu.
Dan tiba-tiba saja atap rumah kayu milik sang kakek seperti dijatuhi sesuatu, ambruk seketika.
"Apa ... Apa yang terjadi?!!" Ucap si tikus dengan terkejut.
BHAAAMMMMM ....!!!!!!!
Dalam sekejap, rumah kayu nan rapuh itu rata dengan tanah. Tak ada yang tersisa, hanya kayu-kayu tua yang dimakan rayap dan genteng tua yang berkarat.
"Huk ...! Huk ...! Ada apa ini?!" Ucap si tikus kecil dengan wajah bingung.
"Cepat ke luar ...!!! Rumah ini akan di hancurkan!" Teriak si tikus besar pada adiknya.
"Apa?! Kenapa mereka menghancurkan rumah di kakek?! Lalu kakek akan tinggal dimana ...?!" Seru si tikus kecil sembari berlari ke tempat yang aman.
"Kakek tua tidak akan kembali lagi ...! Di sudah pergi ke tempat yang lain! Cepat lah!" jelas si tikus besar.
"Ke tempat ... dimana dia akan bahagia dan tidak kesepian lagi."
~~~
Selama satu tahun sudah ke dua tikus itu menunggu sang kakek kembali. Namun, hari itu lah hari terakhir mereka melihatnya.
Tak ada makanan lezat lagi. Tak ada perapian hangat lagi. Tak ada yang akan pulang ke rumah itu lagi.
Kita tahu, bahwa tak ada makhluk yang tidak punya hati nurani. Disaat kita berikan kebahagiaan pada mereka, tak mungkin kita dibalas dengan kepedihan.
Ingat! Kamu hanya makhluk biasa ... tak ada hal istimewa jika hatimu tak terisi kasih dan cinta.
TAMAT🍂🥀