Suara musik pop terdengar sangat nyaring, Seorang remaja pria tengah asyik berjingkrak-jingkrak karena alunan musik tersebut. Suara volume televisi sengaja diperbesar hingga seluruh ruangan hanya di isi oleh musik pop tersebut.
Sementara di sudut ruangan seorang pria berusia 30 tahunan tengah sibuk dengan pekerjaannya, namun suara bising membuatnya tidak fokus. Berkali-kali ia menoleh ke arah remaja itu, namun ia terlihat seperti ragu-ragu, dan selalu berakhir mencoba berkonsentrasi kembali dengan pekerjaan nya.
Namun apa boleh buat, suara hentakan kaki remaja itu kini ikut mengganggu karena semakin bersemangat melompat-lompat, ditambah teriakan-teriakan keras tidak jelas membuat lelaki dewasa itu kehilangan kesabaran,
" DION, bisa kamu kecilin ga volume nya!" perintahkan lelaki itu sedikit berteriak.
remaja yang bernama Dion itu tidak merespon karena sepertinya ia tidak mendengar teriakan itu.
Lelaki itu kemudian meremas kertas dan melemparnya ke arah Dion, kertas itu tepat mendarat di punggung Dion.
Dion berbalik melihat orang yang tengah duduk di kursi dengan wajah sedikit kesal, diapun langsung menggerakkan tubuhnya seolah bertanya "Ada apa?"
" PELANKAN VOLUMENYA !" teriak lelaki tadi.
" Ini acara yang aku tunggu-tunggu," Balas Dion menunjuk layar televisi dengan remote sambil mengecilkan volumenya.
" Om ga peduli, berisik tau ga," ketus orang itu kemudian berbalik membelakangi Dion.
Dion terus menekan remote hingga suasana ruangan menjadi hening. Dion tentu melakukan itu karena kesal dengan respon om nya itu.
" Nah bagus, kalau gini kan enak," ucap lelaki itu bersiap untuk kembali bekerja.
" kamu tuh kebiasaan sih, volume nya suka kenceng banget, kasian kan tetangga pada terganggu," celotehnya lagi.
" ehmm, kalau gini tetangga yang ganggu kita ya om?" ucap Dion sambil cengengesan.
Om nya itu celingukan karena suara musik perlahan terdengar nyaring padahal baru sesaat ruangan itu hening, ia mencari sumber suara dan ternyata tetangganya pun tengah menonton acara yang sama, dengan volume yang keras pula.
Dion terus menonton wajah kesal omnya sambil cengengesan,
" Kenapa semua orang harus menyukai nya sih?" gumam om nya melihat orang di dalam layar Tv.
Dion mengangkat bahu dan alisnya sambil memasang wajah mengolok pamannya yang menurutnya bersikap kolot, dan tidak tahu trend.