Naskah lomba by. Fany_Haryani
"Dasar anak gobl*k! Main kayak begitu saja tidak bisa!"
"Tidak usah temenan sama anak itu, nanti kamu tertular penyakit bodohnya itu lo," seru anak kecil lainnya.
"Yok kita pergi!" Ajak anak kecil yang lainnya.
Begitulah makanan sehari-hari yang didapat Gio di sekolahnya maupun lingkungan tempat tinggalnya.
Banyak cacian yang setiap hari ditujukan pada anak laki-laki yang berusia 6 tahun itu. Setiap ia bermain dengan teman sebayanya, bukan kebahagiaan yang didapat tetapi malah ejekan.
Apakah hal itu tidak akan mempengaruhi perkembangan psikis seorang anak kecil yang sedang dalam masa perkembangan otak? tentu jawabannya sangat berpengaruh.
"Ma, kenapa aku berbeda? kenapa aku selalu diejek!" Isak seorang anak kecil yang sedang berada dalam dekapan mamanya.
"Kamu gak berbeda sayang, tapi kamu istimewa buat mama."
"Kenapa mereka menyebutku gobl*k? Apa salahku, padahal aku tak pernah mengejek mereka."
Entah kenapa pertanyaan itu membuat hati seorang ibu sedikit teriris. Selama aku melahirkan sampai membesarkannya tak pernah sedikitpun aku melontarkan perkataan kasar seperti itu padanya.
Karena aku sadar dengan mengeluarkan perkataan kasar itu sama saja membunuh kepribadiannya secara perlahan. Disaat orang lain ingin menjatuhkannya, akulah orang pertama yang berdiri di barisan terdepan untuknya.
Aku berjanji dan berusaha untuk membangun kembali kepercayaan dirinya.
Disaat anak-anak lain tumbuh berani dan pandai belajar dalam hal apapun. Anakku tumbuh dengan hal yang istimewa.
Dia memang terlambat berjalan saat berusia satu tahun, karena ia bisa berbicara terlebih dahulu. Sampai para tetangga selalu membandingkan dia dengan anak lain yang tumbuh kembangnya lebih cepat. Setiap hari, hanya doa yang menguatkanku.
Kini anak itu mulai sekolah, ia juga agak sedikit tertinggal dibandingkan siswa lain. Tapi ada satu kelebihan yang ia punya, darah seni yang mengalir ditubuhnya.
Alfarizal Giovanni adalah namanya. Dalam pelajaran akademik dia memang kurang. Tapi aku berjanji akan memperbaiki semuanya, agar ia mampu berdiri diatas kakinya sendiri nanti.
Sudah banyak tenaga pengajar yang disewa kedua orangtuanya untuk memberikan pelajaran ekstra padanya. Tapi itu pun tak mempengaruhi nilai akademisnya.
Sampai ahirnya mamanya memutuskan resign demi mendidik anaknya tersebut. Satu hal lagi yang ia sadari, ketika dia mengantarkan putranya sekolah, banyak anak-anak lain yang mengejeknya gobl*k didepan matanya sendiri. Hatinya pasti terluka, terlebih hati seorang mama yang sudah melahirkannya.
Suatu ia tak sengaja mendengar neneknya sendiri memakinya dengan kata itu. Hanya karena Gio kecil belum paham tentang arah mata angin, mana selatan mana timur. Perkataan kasar itu meluncur dari mulut neneknya sendiri.
Betapa sakit rasanya hati seorang ibu mendengar anaknya dimaki-maki seperti itu.
Mungkin saat dulu ia bekerja ia tak pernah mengetahuinya, karena ia tidak pernah mendengar hal itu. Tapi kini saat ia di rumah ia baru menyadari bahwa selama ini, anaknya sudah mengalami beban pikiran karena hal itu. Bahkan sudah seperti makanan setiap hari bagi Gio.
"Sayang kita tunjukkan bahwa apa yang kamu miliki jauh lebih istimewa ketimbang orang-orang yang mengejekmu."
"Apa itu mungkin ma?"
"Kamu percaya sama mama bukan? Kapan mama pernah berbohong sama Gio."
"Ga pernah ma," ucapnya polos.
"Maka dari itu ikut mama yuk, kita belajar mewarnai dan kita tunjukan kalau kamu bisa juara."
Beberapa hari kemudian, di tempat belajar Gio diadakan lomba menggambar dan mewarnai tingkat anak TK. Kebetulan Gio masih TK B, maka ia pun ikut lomba sesuai usianya.
Sedari pagi ia sudah sangat antusias mengikuti lomba tersebut, karena sejak seminggu yang lalu ia berlatih mewarnai. Tentunya ia didampingi mamanya.
Dan hari ini berkat dukungan mamanya, ia pun mengikuti lomba tersebut. Satu setengah jam kemudian, ia dan peserta lain sudah menyelesaikan lomba mewarnai. Dan kini ia tinggal menunggu hasil dari para juri.
Tiga puluh menit kemudian, semua peserta lomba dikumpulkan dan mulailah acara pemberian hadiah.
Satu persatu juara diumumkan, mulai dari Juara Harapan 2 hingga Juara 2 sudah dibacakan. Kini tinggallah pengumuman Juara 1.
"Ma, aku takut ..." ucap anak kecil itu.
"Sayang apapun hasilnya nanti, mama akan tetap menyayangimu."
Jauh didalam lubuk hatinya, ia juga khawatir, tapi ia hanya bisa berharap bahwa lomba ini bisa membangkitkan semangat dan juga rasa percaya diri sang putra. Lantunan doa ia panjatkan untuk putra semata wayangnya itu.
"Dan ahirnya kami umumkan bahwa untuk Juara 1 Lomba Mewarnai Tingkat TK dan sederajat adalah ... jeng ... jeng ... jeng ...." suara dari arah panggung memecah keheningan kami.
Semua peserta tampak menunggu sang juri membacakan hasilnya.
"Dan mari beri applause untuk Juara 1 kita ... adik kita Alfarizal Giovanno."
Prok ... prok ... prok ...
Dan terdengarlah gemuruh tepuk tangan dari para peserta dan orang tua pendamping lomba. Dengan didampingi mamanya, Gio kecil pun naik ke panggung.
Ia tersenyum lebar tatkala ia diberikan satu buah piala dan juga piagam penghargaan dari juri. Senyum merekah jelas tergambar dari wajah anak laki-laki itu. Begitu pula dengan mamanya.
Ahirnya satu langkah baru baru saja dimulai. Dan setelah lomba selesai mereka pun pulang. Berita tentang kemenangan yang diperoleh sang cucu pun terdengar oleh kedua kakek, nenek serta keluarga besar mereka. Banyak ucapan dan doa yang diberikan untuk Gio.
Sejak saat itu, omongan miring untuk Gio pun tergeser dengan prestasi yang ia dapat. Apalagi sejak saat itu motivasi belajarnya juga semakin meningkat. Dan tentu saja itu sangat berpengaruh baik pada prestasi akademis yang ia dapat di sekolahnya.
Ia juga menjadi rajin mengaji seperti dulu. Teman-temannya tak pernah mengejeknya lagi seperti dulu. Bahkan teman-teman Gio juga sering belajar kelompok di rumah Gio. Ahirnya sejak saat itu, Gio kecil kembali tumbuh menjadi anak berprestasi dan memiliki banyak teman.
Pelajaran yang didapat dari cerpen Fany kali ini adalah janganlah kamu membunuh karakter dan kepribadian seseorang anak dengan perbuatan jelek ataupun perkataan kasar yang ditujukan padanya. Berbicaralah seolah kamu sedang berbicara dengan dirimu sendiri. Jadilah contoh baik untuk anak-anak, karena kedua orangtua dan lingkungannya adalah guru pertama yang akan membentuk kepribadian seorang anak di kemudian hari.
~ TAMAT ~