Sebuah taman besar terlihat jelas di depan mata seorang Yura. Gadis itu berjalan mengarah ke taman besar tersebut. Melalui terowongan yang menjadi gerbang dari sebuah taman besar tersebut, Yura tampak takjub dengan pemandangan yang sudah di tampilkan. Meskipun hanya bagian depannya saja.
Yura melangkah masuk ke area taman yang luas itu.
"Taman yang baru ku kunjungi ini sangat cantik dan luas."
langkah gadis itu terhenti, ketika melihat seorang laki-laki berada di depan mata dengan membelakanginya.
"Siapa dia?" tanya Yura.
"Aku tahu kamu bertanya mengenai diriku." balasnya dengan cepat.
"Cepat sekali dia membalasku." gumam Yura.
Laki-laki itu mulai mendekati Yura.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Yura.
Lelaki itu mendekati wajahnya ke arah gadis itu.
"Kenapa kamu bertanya mengenai itu?"
"Sebab kamu ingin mengancamku." balas Yura.
Laki-laki itu tertawa beberapa saat usai mendengar perkataan dari Yura.
"Sejak kapan aku mulai mengancammu?" tanyanya pada sang gadis.
"Sejak dirimu berlagak sok keren dengan wajah tidak santai." ucap Yura.
"Hah? Tidak santai bagaimana?"
Yura diam dan memalingkan pandangannya.
"Hei perhatikan aku." kata si pria itu yang merasa jengkel.
Yura berjalan menyusuri taman, dan meninggalkan laki-laki itu begitu saja. Melihat kelakuan dari Yura tersebut, lelaki itu langsung menarik sebelah tangan dari gadis tersebut.
"Aku belum memberimu izin berkeliling area ini."
"Memangnya kamu yang punya taman ini?!" Yura merasa kesal.
"Iya." jawab laki-laki itu.
Diam tak berkata, Yura mengehela nafas dan melepaskan pegangan tangan dari laki-laki itu.
"Aku pulang saja."
"Mau pulang kemana? Kamu pikir bisa pulanh dengan berjalan kaki begitu?" lelaki asing itu menggelengkan kepala.
"Jadi apa yang aku harus lakukan?" tanya Yura.
"Sebelumnya pekenalkan diri dulu. Aku adalah..."
"Sudah cukup. Tidak perlu perkenalan. Katakan saja bagaimana aku bisa pergi dari sini." Yura memotong ucapan dengan tidak sabaran.
"Aku Ridel. Penjaga taman ini. Jika kamu sudah memasuki taman ini, kamu tidak bisa pulang tanpa izin dariku." ujarnya pada Yura.
"Harus izin juga? Lalu bisakah kamu izinkan aku pulang sekarang?" tanya Yura.
"Kamu mau pulang kemana?" ada dua pilihan yang ditawarkan oleh Ridel.
Pilihan itu menbuat Yura kesal.
"Kenapa pilihannya alam baka dan sebuah panti jompo?"
"Itu adalah pilihannya kalau kamu mau pulang sekarang." kata Ridel pada Yura.
Menghela nafas lalu memegang pundak dari Ridel.
"Bisakah kamu serius dengan ini? Aku hanya ingin pulang kerumahku.
"Baiklah. Tapi sebelumnya, kamu harus melakukan sesuatu terlebih dahulu." Ridel menyingkirkan tangan gadis itu dari pundaknya.
"Apa itu?"
"Kamu harus membuat sebuah permohonan?" ucqp Ridel.
"Permohonan seperti apa? Bolehkah aku memohon pembuatan sebuah surat tanah untukku?"
"Hei.. Kamu pikir aku mengurus hal semacam itu apa?!"
"Ya namanya juga permohonan." balas Yura.
"Maksudku, buatlah sebuah keinginan. Itu maksudku."
"Apa nanti kamu akan mengabulkannya?" tanya Yura memastikannya.
"Ya."
Setelah mendengar itu, Yura pun mulai berpikir sejenak akan keinginannya. Usai beberapa saat kemudian, Yura pun mulai mengatakannya pada Ridel.
Ridel mendengarkan keinginan dari seorang Yura. Lalu Ridel pun mulai memegang kepala gadis itu dengan sebelah tangan.
"Aku sudah mendengarkannya. Dan sekarang waktumu untuk pergi dari sini."
Taman itu seketika dipenuhi dengan cahaya yang menyilaukan. Yura tidak bisa melihatnya terlalu lama. Perlahan kedua matanya pun menutup seiring sinar dari cahaya itu semakin besar.
---
Suara alarm terdengar dengan keras mengisi satu ruangan. Yura terbangun dari tidurnya.
"Dimana aku?" tanyanya dalam hati.
Bangkit dan duduk disela menguap.
"Ternyata hanya mimpi."
Beranjak dari tempat tidur dan membuka jendela kamar yang tertutup gorden.
Cahaya mentari pagi menembus ruang kamar dari Yura. Dan tiba-tiba dirinya dikejutkan oleh sesuatu.
"Apakah keinginanku yang iseng itu terkabul?!"
Yura melihat fenomena yang ada di depan rumahnya dari balik kaca jendela.
Saat di dalam mimpi...
"Aku menginginkan barang-barang yang aku inginkan selama ini. Kamu bisa membaca isi hatiku kan? Sebab aku tidak bisa mengatakan semuanya." ucap Yura.
"Aku sudah mendengarkannya. Dan sekarang waktumu untuk pergi dari sini." kata Ridel pada Yura yang menjadi akhir dari pertemuan antar mereka berdua.
Kini apa yang diinginkan oleh Yura sudah terwujud. Dan dia harus menangani deretan mobil pengangkut barang yang tengah berbaris di depan rumahnya itu. Pusing dan kebingungan, inilah efek dari permintaan isengnya tersebut.
"Aku harus membeli rumah yang lebih besar lagi untuk menampung semua ini! Ridel tolong aku!"
-----SELESAI-----