Ditengah dinginnya hawa sejuk kala dedaunan tengah berguguran, Adelia berjalan menyusuri sebuah jalan setapak yang lurus ke depan. Jalanan itu hanya dilalui oleh beberapa orang saja di saat hari sudah sore. Jalan yang dilalui oleh Adelia itu dipenuhi oleh daun beragam warna.
Ia menatap ke arah depan sembari merenungkan suatu hal.
"Apa yang akan aku lakukan dengan ini?"
Langkah kakinya terus bergerak pelan.
"Aku telah membuat kesalahan yang cukup fatal. Lalu apa yang harus aku perbuat?"
Saat sedang berjalan, Adelia mendapati sebuah kursi panjang yang tampak kosong tersebut. Ia pun duduk lalu lanjut merenung.
"Bagaimana bisa aku membuat hal sekacau ini!"
gumamnya dalam hati.
Perempuan itu menunduk dan memandang ke bawah dengan tatapan bingung.
"Apakah diriku sama seperti daun-daun di musim gugur ini?" tanyanya dengan nada rendah.
"Tidak"
Seketika seseorang membalas sebuah tanya dari Adelia, yang dia sendiri terkejut usai mendengarnya.
"Siapa kau?" tanya Adelia pada laki-laki asing itu.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku. Yang jelas aku sudah mengetahui tentang perasaanmu saat ini. Kamu sedang mengalami masalah kan?"
Adelia hanya diam dan mengubah arah pandangnya.
"Jangan anggap dirimu seperti daun musim gugur. Karena kamu berbeda dari mereka." lanjut lelaki itu.
"Sama saja. Aku jatuh layaknya mereka di musim ini. Dan tidak bisa berbuat apa-apa hingga akhirnya tersingkirkan dari kehidupan yang rumit ini." balas Adelia ketus.
"Aku tidak tahu apa detail permasalahanmu sebenarnya. Tetapi yang jelas, aku tahu kamu sedang mengalami masalah yang dirasa cukup berat. Namun, jangan anggap hal ini seperti menjadi akhir dari kehidupanmu." kata si laki-laki asing pada Adelia.
"Hidup memang rumit. Tetapi apa yang kamu anggap mengenai kehidupan itu salah. Kamu masih bisa bangkit. Kamu berbeda dari daun yang ada di musim gugur ini. Ingatlah, bahwasannya bila kamu memiliki tekat yang kuat dan tidak mudah menyerah, pasti kamu bisa bangkit dan mendapat apa yang kamu usahakan."
"Kamu berbicara telalu banyak." Adelia menatap orang yang ada didepannya.
"Tentu saja. Agar kamu bisa mengerti mengenai kehidupan itu sebenarnya. Hidup tidak ada yang mudah. Kamu harus berjuang di dalamnya. Hidup ini layaknya sebuah persaingan. Jadi kamu juga harus bersaing untuk bisa menggapai keinginanmu. Walaupun sempat mengalami kegagalan atau melalui jalan lain." ujar lelaki itu.
"Jadi apa yang harus aku lakukan untuk memulainya kembali?" tanya Adelia.
"Jika kamu sudah jatuh di dasar, kamu harus bangkit dan memulainya dari awal. Tetaplah semangat dan pegang tekat kuatmu untuk menggapai apa yang kamu impikan. Ada berbagai banyak hal yang bisa kamu gapai. Jalan tidak ada yang mulus dalam kehidupan ini, jadi teruslah melangkah meskipun mendapati rintangan ada didepanmu. Dan pikirkan itu baik-baik."
Lelaki itu tersenyum di akhir usai berkata panjang lebar pada seorang Adelia. Setelah itu ia pun pergi menjauh dari lokasi dimana Adelia berada.
Adelia menatap laki-laki itu yang terus berjalan. Dan mulai menyadari tentang kehidupan itu sebenarnya.
"Kamu benar. Hidup memang rumit. Dan seharusnya aku tidak boleh melebur didalamnya. Aku harus berjuang lebih keras lagi agar kehidupanku tidak serta merta berada di dasar terus menerus. Aku harus bangkit!" ungkap Adelia.
Perempuan itu berdiri dan memandang ke arah dimana laki-laki itu melangkah sebelumnya.
"Aku tidak tahu siapa kau. Tetapi terimakasih atas masukannya."
Adelia pun mulai berjalan meninggalkan tempat tersebut.
-----SELESAI-----