Aku Hana, Aku ingin menceritakan sedikit kisah ku tentang seorang lelaki bernama Abhiza Gautama. Orang orang biasa memanggilnya dengan nama Tama atau Abhi. Dia adalah tetangga, teman sekolah, dan juga pacarku. Ya, kami sudah berteman sejak kecil sampai di akhir kelas tiga SMA dia menyatakan cintanya. Dari kecil kami selalu bertengkar dan alhasil kami tidak akan bicara satu sama lain. Tama adalah sosok orang yang ceria, baik, perhatian, dan penyayang. Saat masih sekolah, tidak akan ada yang berani mengganggu ku karena Tama selalu bersamaku. Tidak sedikit juga yang cemburu dan kesal karena kedekatan ku dengan Tama.
Hari itu aku merasa ada yang lain dengannya. Dia lebih sering mengajakku makan diluar dan juga bertemu. Tama adalah orang yang tidak terlalu pandai dalam hal romantis. Tapi hari itu dia selalu memelukku dan mengatakan bahwa ia sangat menyayangiku.
Hari itu, cuaca sedikit mendung. Dia mengetuk pintu kamarku. Ya, rumah ini sudah seperti rumahnya sendiri bagi Tama. Bunda juga sudah tidak asing dengan suara dan langkah kakinya. Aku bergegas untuk membuka pintu kamarku.
"Hai!" sapa ku antusias. Tapi yang kulihat dia hanya tersenyum melihatku. "Kenapa? aku ada salah sama kamu?" tanyaku. Tama menggeleng.
"Ayo jalan jalan" ujar nya. Aku sedikit memicingkan mataku kemudian tersenyum.
"Baiklah, aku ambil Sweeter dulu" Aku masuk lalu mengambil Sweeter dan ponselku.
Tama mengajakku ke danau Hijau yang letaknya tidak jauh dari komplek perumahan kami. Hari itu ia tidak banyak bicara, sesekali dia mengelus rambutku dan juga pipiku.
"Ada apa?" tanya ku curiga meskipun begitu aku tetap tersenyum. Tiba tiba aku mengkhawatirkan sesuatu.
"Han" panggilnya.
"Eum?"
"Aku akan pergi ke Singapura" ucap tama. Senyumku perlahan luntur.
"Singapura?" tanyaku. Tama mengangguk. "Tiba tiba seperti ini?" tanyaku lagi.
"Tidak lama, mungkin hanya sebentar" jawabnya.
"Ah begitu" ucapku sedikit lega. Aku tersenyum. "Kamu akan berlibur tanpa aku rupanya, jahat sekali" ucapku sembari tertawa kecil.
"Jangan menungguku" ucap Tama. "Jangan pernah menungguku lagi" imbuhnya.
"Maksud kamu?" tanya ku bingung.
"Hana, ayo berhenti sekarang" ucap Tama.
"Berhenti? apanya?" tanyaku.
"Kita sampai disini saja" jawab Tama. Aku terdiam, aku berusaha mencerna kata kata yang barusan dia ucapkan.
"K-kenapa?" tanyaku gugup.
"Karena aku tidak ingin bertemu denganmu lagi" jawab Tama. Siapapun yang mendengarnya pasti tau bahwa hatiku sudah hancur detik itu juga. Aku tertawa tidak percaya.
"Kamu pengecut atau apa?" tanyaku kesal. "Kalau kamu mau pergi ya pergi saja" tukas ku.
"Berjanjilah, kau tidak akan menangis" ujar Tama.
"Aku akan berusaha untuk tidak menangisi lelaki sepertimu. Kamu terlalu mudah berkata bahwa kamu tidak ingin bertemu denganku lagi. Kau terlalu mudah mengatakan bahwa aku tidak boleh menangisi mu. Kau memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas" ucap ku dengan suara yang sudah parau.
"Kau boleh membenciku" ucap Tama. Aku tertawa lagi.
"Aku sudah melakukannya sekarang, aku sudah membencimu" ujarku menahan tangis. Aku pergi setelah mengatakan itu.
Sejak hari itu aku tidak pernah lagi mendengar kabarnya. Aku hanya tau Tante Dona dan om Haris ikut pergi bersama Tama. Dua hari setelahnya, kakak perempuannya yaitu kak Nara ikut menyusul ke Singapura. Kak Nara sempat pamit dan bilang bahwa aku harus menunggu. Apa ini? aku semakin bertanya tanya. Tapi aku sudah berjanji bahwa aku tidak akan menunggu, aku akan memulai hidupku tanpa dirinya lagi. Meskipun begitu, Aku tetap menangis di tengah malam yang sepi.
Cuaca sedikit berangin, daun daun berguguran tanpa arah. Setelah hampir seharian aku duduk di taman belakang dan mendengarkan musik. Aku meletakkan airpod ku dan berniat untuk mandi. Setelah beberapa saat aku keluar dan melihat notifikasi pesan di ponselku. Aku hendak mengabaikannya, tapi aku bukan orang yang suka mengabaikan. Aku membukanya, aku mengerutkan dahi ku saat tau yang mengirimi ku pesan adalah kak Nara.
Kak Nara
-Han, besok kami semua pulang
Aku awalnya sangat senang tentunya. Tapi seperti yang dikatakan Tama, aku tidak boleh menunggunya.
kak Nara
-Han
iya kak Ra, hati hati ya-
Kak Nara
-Operasinya gagal, Kita harus kuat ya
Operasi maksudnya?-
Aku mengerutkan dahi ku, jantung ku tiba tiba berdetak tidak karuan.
Kak Nara
-Abhi sudah meninggal tadi siang, operasinya gagal
Aku terdiam, tanpa sadar ponselku jatuh begitu saja. Operasi? operasi apa? Otakku di penuhi dengan banyak pertanyaan. Hatiku menjadi sesak, tubuhku luruh ke lantai. Aku mengambil ponselku dan langsung menelepon kak Nara.
"Halo Han"
"Maksudnya apa? aku tidak tau apa maksudnya" ucapku.
"Abhi ke Singapura untuk menjalankan operasi pengangkatan sel kanker di tubuhnya" Jawab kak Nara. Hari itu, duniaku benar benar runtuh. Aku hancur seketika, air mataku lolos begitu saja. Apa ini alasan dia tidak ingin bertemu dengan ku lagi? Aku menangis sesenggukan.
"Tapi Abhi tidak pernah menyatakan apapun" ucapku yang masih tidak percaya.
"Itu karena dia tak ingin melihatku bersedih, setidaknya sekarang hatinya tak lagi sakit karena harus dibenci olehmu" ucap kak Nara.
"Tapi dia tak harus seperti ini kak" ucapku sambil terisak.
"Dia sudah tenang, apa yang dia katakan? kamu sudah berjanji tidak akan menangis untuknya" ujar kak Nara. Siapa yang tidak akan menangis? siapa yang hatinya tidak sakit.
"Baiklah kak, cepatlah pulang. Kami akan menjemput di bandara" ujarku.
"Eung, kakak tutup teleponnya ya" Setelah itu sambungan terputus. Aku menarik nafas berat, Aku kembali menangis setelah beberapa detik mencoba menahannya. Aku menoleh saat ada yang mengetuk pintuku. Aku berlari dan langsung membukanya. Aku lupa, Tama sudah tak lagi ada. Aku lihat mata ibuku basah, beliau langsung memelukku dan kami menangis bersama. Ini benar benar menyakitkan bagiku, Aku masih tidak percaya bahwa kata terakhir yang ia ucapkan adalah untuk tidak menunggunya. Karena Tama tau, penantian ku akan berbuah pahit. Dia sudah tau bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi.
"Tama, Bun" ucapku.
"Yang sabar sayang" ucap bunda sambil terisak. "Dia sudah tidak merasakan sakit lagi, dia sudah hidup dengan baik. Dia pasti lelah selama ini sudah menyembunyikan semuanya" imbuhnya. Aku mengangguk mengerti, meskipun kenyataannya aku masih tetap tidak percaya.
Sejak hari itu, aku tidak pernah jatuh cinta lagi. Aku hanya menjalani hidupku seperti biasa dan berharap semua akan segera berakhir. Di kehidupan yang lain, aku akan membuatnya menetap lebih lama lagi. Luka itu tidak pernah sembuh, dan aku tidak pernah berniat untuk menyembuhkannya. Aku akan menangis saat aku ingin, dan aku tidak bisa tertawa seperti dulu lagi. Menatap jendela kamarnya adalah obat penenang bagiku, Biasanya dia akan keluar dan turun dari tangga yang langsung terhubung dengan halaman sebelah rumah. Biasanya dia akan duduk di kursi belakang rumahnya sembari menghidupkan musik dengan kuat, dan aku adalah orang pertama yang akan merasa terganggu dengan itu. Tapi sekarang aku sangat merindukannya. Aku menyesali sesuatu, aku menyesal karena aku tidak mencoba menahannya hari itu. Aku malah pergi dan menyatakan bahwa aku sudah membencinya. Lukaku benar benar sangat parah. Sejak hari itu, Aku benci perpisahan.