Author: Nocita Maria
Length: 1shoot
Main Character
- Min Yoongi as Yoongi
- Son Seung-wan as Wendy
Cameo
- Jung Hoseok as Hoseok
Genre: Marriage Life
Enjoyed.
.
.
.
.
"Yong, aku pergi!!" pamit seorang wanita pada seorang pria yang masih tenggelam dengan koran paginya saat ini.
"Hmm ..!!!" sahut si pria yang membuat wanita tadi jadi membuang nafasnya dengan lelah.
Ini sudah semakin parah!! batin wanita itu sedih, sebelum akhirnya memutuskan pergi meninggalkan prianya yang masih asyik dengan bacaanya dan tidak menghiraukan sang wanita sama sekali.
1 tahun yang lalu.
Flashback On.
"Chagi ... aku pulang. Neo eodiso? Kau di mana?" seru seorang pria yang terlihat begitu sangat ceria saat ia baru saja memasuki rumahnya sore ini.
Tak ada jawaban, pria tadi lantas mulai menyusuri rumahnya dengan perlahan.
"Chagi, apa kau sedang di Taman belakang?" panggilnya lagi, setelah mengecek di sekeliling rumah namun tak kunjung berhasil menemukan wanita yang dicintainya itu.
"Chagi kau ..!!" kata pria itu tercekat, saat matanya berhasil menangkap sosok seorang wanita tengah tersenyum dengan lebar di taman belakang rumah mereka.
"Tara ... kejutan!!" kata sang istri dengan bibir tersenyum lebar, kemudian berlari kecil ke arah si pria yang langsung memeluknya dengan mesra.
"Astaga, aku bahkan lupa kalau hari ini aku ulang tahun!!" gumam si pria dengan mata memandang pada sekeliling taman belakang mereka yang sudah disulap menjadi penuh hiasan warna-warni, balon, dan juga satu potong kue tart berukuran sedang.
"Hehe, syukurlah kalau begitu," kekeh istrinya yang merasa lega.
Bermaksud untuk melepaskan diri dari pelukan suaminya, yang terjadi tangan si pria yang melingkari pinggangnya justru sama sekali tak mau melepaskannya.
"Hei ... kau ke mana, eoh?" tanya si suami, dengan mata menatap wajah istrinya penuh cinta.
"Aku mau memotong kue untukmu. Ayo cepat lepaskan!" pinta istri si pria.
"Sebentar. Aku mau bicara dengan jagoan kecil kita dulu!" kata si suami tiba-tiba, lalu mulai mensejajarkan telinganya di depan perut istrinya yang kini tengah hamil besar.
"Hei, jagoannya Appa!! Apa tadi kau juga turut membantu Eomma-mu menyiapkan kejutan untuk Appa, eoh?" tanyanya dengan tangan mengusap lembut perut besar sang istri.
"Ckck, tentu saja, Chagi. Dia kan terus bersamaku," sahut si istri yang justru menjawab.
"Hehe, aku tau itu," kekeh si pria, lalu kemudian menegakkan tubuhnya kembali.
"Tapi Chagi, lain kali jangan melakukannya sendirian, oke? Itu terlalu beresiko untukmu," pinta si suami kemudian dengan tangan kembali merangkul pinggang istrinya untuk ia peluk.
"Arraso, aku mengerti. Aku hanya sekedar ingin membuat kejutan untukmu saja!! Tenang, aku akan selalu berhati-hati," balas si istri dengan tangannya yang kini turut pula mengeratkan pelukannya pada sang suami walau terhalang perut besar berisikan bayi mereka yang sebentar lagi akan terlahir ke dunia.
End of flashback.
.
.
.
.
"Aku makan di luar bersama rekan-rekan kantorku. Kami akan pulang dini hari, jangan menungguku!!"
Isi memo singkat dari suaminya yang ditempelkan pada pintu kulkas dan baru saja selesai di baca oleh Wendy.
Mendesah kecewa, kini ia alihkan kedua netranya pada kedua tangan miliknya yang saat ini tengah memegang dua kantung penuh belanjaan yang rencananya akan ia masakkan untuk suaminya nanti.
"Dia melakukannya lagi!!" lirih Wendy. Lalu segera meletakkan belanjaanya tersebut di atas meja dapur dan pergi mengurung diri ke kamar tidur mereka setelahnya.
.
.
.
.
"Apa? Astaga, dia di mana sekarang?" terdengar seorang pria tengah bertanya dengan panik melalui handphone-nya yang saat ini tengah ia genggam dengan erat.
"Baiklah, aku akan segera ke sana. Tunggu aku!!" tutupnya kemudian, lantas dengan cepat mengambil kunci mobil yang ia gantungkan dan segera berlari keluar dari ruangannya dengan terburu-buru.
"Hei, ada apa dengan si bos!!" bisik beberapa karyawan, yang melihat pria itu tadi keluar dengan tergesa-gesa.
Di rumah sakit.
"Itu tidak mungkin kan, Uisa-nim!?" kata seorang namja berkulit pucat yang shock, dan saat ini tegah menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri atas info yang baru saja ia dapatkan.
"Maafkan kami, Yoongi-ssi. Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi mungkin Tuhan punya rencana lain untuk buah hati anda, " ujar seorang dokter paruh baya dengan ekspresi terlihat menyesal.
"Ya Tuhan, anakku!!" lirih Yoongi.
"Ikhlaskan, Yoongi-ssi," hibur si dokter lagi dengan tangan menepuk pelan pundak Yoongi di depannya.
"Jja, kalo begitu saya pamit untuk memeriksa pasien lain, ne! Selamat malam, Yoongi-ssi."
Sepeninggal sang dokter, kini yang tersisa di ruang tersebut hanyalah Yoongi bersama sosok Wendy yang masih tak sadarkan diri.
"Ini tidak mungkin!! Mimpiku ..!! " Terdengar isak tangis Yoongi yang rupanya masih belum bisa merelakan kepergian anak mereka.
.
.
.
.
"Ceraikan saja aku kalau sikapmu selalu begini padaku, Yong!!" pekik seorang yeoja dengan air mata yang sudah mengalir dengan deras pada kedua pipinya yang mulus. Sementara itu, sang suami saat ini masih diam tak bergeming dari tempatnya berdiri di depan ambang pintu.
"Berkali-kali kau terus saja meninggalkan aku menyendiri di rumah ini, Yong. Saat aku pergi, kau pulang. Saat aku pulang, kau justru pergi. Kau tidak pernah mengangkat telephone dariku lagi. Kau, Kau juga mengabaikan semua pesan yang aku berikan padamu. Jika kau sudah bosan melihatku sebagai istrimu, ceraikan aku, Yong. Jangan membuatku merasa serba salah seperti ini," isak yeoja itu lagi sambil sesekali sesegukan di tempatnya.
"Yong, kau mau ke mana? Apa kau akan pergi lagi, bahkan di saat kau baru saja pulang ke rumah ini?" teriak si Yeoja lagi, saat dilihatnya Yoongi telah memutar kenop pintu rumah mereka.
Tak mengabaikan teriakan istrinya, Yoongi si namja berkulut pucat justru langsung pergi begitu saja meninggalkan istrinya, Wendy, yang kini tengah meraung-raung sendiri di tempatnya.
"Yoongi ..!!" isak Wendy memanggil nama suaminya dengan suara yang serak.
.
.
.
.
"Yong mianhae, aku menyesal. Maafkan aku, Yong?" mohon Wendy yang tengah meminta maaf pada Yoongi yang kini berdiri di samping ranjangnya.
"Ckk. Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tidak kemana-mana, Wendy!? Kenapa kau selalu saja melakukan apa yang tidak kusuruh, eoh? Apa segitunya kau tidak mau menuruti kata-kataku!?" sahut Yoongi yang terlihat marah dan dengan nada yang terdengar sangat dingin.
"Maafkan aku, Yong!! Aku mendapat pesan dari Hoseok, dia bilang dia membutuhkan aku."
"Oh, jadi itu alasan kenapa kau sampai keluar rumah bahkan saat kondisi kehamilanmu saat ini tengah rawan?? Kau ... Kau benar-benar keterlaluan, Wendy. Bukankah Hoseok hanya sebatas temanmu saja? Atau jangan-jangan, kalian justru berhubungan dengan diam-diam di belakangku, hah?" hardik Yoongi dengan ketus serta mata mendelik pada Wendy yang membuat si empunya kaget.
"Demi Tuhan Yong, kenapa kau selalu mengatakan hal-hal keji seperti itu di saat hubunganku dan Hoseok memang hanya sebatas sahabat saja!? Dia kehilangan ibunya, Yong," jelas Wendy dengan terisak.
"Dan aku kehilangan anakku!!" sahut Yoongi melanjutkan perkataan Wendy, sontak membuat istrinya seketika terdiam.
"Yong ... mianhae!!" Hanya itu yang dapat Wendy katakan setelahnya.
.
.
.
.
.
Di suatu taman hiburan di mana sekarang tengah liburan weekend, terlihat tempat itu tengah dipadati oleh banyak pengunjung. Duduk di bawah pohon rindang selagi menikmati pemandangan danau yang terbentang luas di hadapan mereka, Yoongi adalah salah satu pengunjung yang ada.
Duduk menyendiri di bawah pohon. Yoongi memilih spot yang jaraknya sedikit jauh dari para pasangan yang ada di sekitarnya. Tengah asyik dalam dunianya sendiri, tiba-tiba lamunan Yoongi terusik kala sayup-sayup telinganya mendengarkan suara sepasang kekasih tengah bicara dalam jarak yang cukup dekat dengan spotnya tadi.
"Sayang, kau mau cemilan kecil, tidak? Aku pergi belikan sebentar, ya!" terdengar suara seorang pria tengah menawarkan sesuatu pada yeoja-nya yang sedang duduk di sisi kiri si pria.
"Ok. Tapi jangan lama-lama, ya?" balas si yeoja dengan manja, dengan bibir ikut pula tersenyum manis pada si namja. Sementara itu, tangannya tampak mengusap-ngusap perut miliknya yang sepertinya tengah hamil besar.
"Arrasseoyo, aku mengerti. Tenang saja, aku akan kembali dengan cepat," sahut si pria menyanggupi.
"Baby, jaga eomma-mu, okay?" Tak lupa pria tadi berpesan pada bayi mereka yang masih ada di dalam perut istrinya.
"We-Wendy ..!!" guma Yoongi tiba-tiba, karena mendadak ingat dengan masa lalunya.
Sementara itu di tempat lainnya, Wendy kini tengah berada di ruang tamu rumah mereka dan terlihat sedang melamun.
Yongie, kau ke mana? Ini sudah dua minggu berlalu sejak saat itu. Kenapa kau tak kunjung pulang? Kau bahkan sama sekali tak menelpon dan mengirim pesan. Apa itu artinya kau sudah tak ingin bertemu denganku lagi? isi hati Wendy saat ini.
Menghembuskan napas dengan berat, sementara itu mata Wendy terlihat bengkak juga merah. Terus-terusan menangis, itulah alasan kenapa matanya bisa dalam kondisi tersebut.
"Ini sudah final!! Seharusnya memang sudah sedari dulu aku melakukannya. Aku begitu egois, dia pasti sudah sangat bosan dengan tingkahku selama ini," tiba-tiba Wendy bersuara dengan bibir tersenyum getir setelahnya.
"Mianhae Yong, aku akan mengembalikan semuanya seperti awal lagi. Kuharap, setelah ini kau bisa hidup dengan bahagia," ujar Wendy yang kini berbicara pada sosok namja di figura photo yang saat ini tengah dipegangnya.
.
.
.
.
Seorang yeoja dengan sebuah koper yang ia seret dengan tangan kanannya, kini tengah berjalan keluar dari rumah yang selama ini telah ia tempati bersama suaminya dulu.
Berdiri di depan pintu pagar dengan mata tampak memindai semua sudut yang bisa ia tangkap, mata si yeoja yang tak lain adalah Wendy terlihat berair dengan hidung yang sedikit memerah.
"Aku tidak menyangka kalau kita akan berpisah dengan cara seperti ini, Yong!! Maafkan aku atas semua yang telah aku lakukan padamu. Tenang saja, wanita penganggu ini ... aku tidak akan pernah lagi muncul di hadapanmu. Selamat tinggal!" monolog Wendy yang terdengar serak, lantas segera menghapus air matanya yang entah sejak kapan telah mengalir dengan deras pada kedua pipinya.
"Wendy ... kau akan pergi ke mana?" tiba-tiba terdengar suara seorang pria bertanya pada Wendy yang sontak membuat si empunya mendadak jadi diam terpaku.
"Wendy, kau tidak bermaksud meninggalkan aku sendiri, kan?" suara itu lagi.
Memberanikan diri untuk memutar tubuhnya menghadap ke sumber suara, seketika mata Wendy kembali berair kala dilihatnya Yoongi, suaminya yang sudah lama ia tak jumpai, kini persis telah berdiri di depannya.
"Wendy, maafkan aku!!" tiba-tiba Yoongi meminta maaf dengan Wendy yang kini sudah berada dalam pelukannya.
"Yong ..!!" isak Wendy dengan suara serak.
"Sst ... uljima, Wendy. Mian, aku pasti telah membuatmu terlalu lama menunggu, bukan? Maafkan aku, Chagi," suara Yoongi lagi dengan kali ini telah menjauhkan tubuhnya dari Wendy agar mereka bisa saling berhadapan.
"Tapi Yong, a-aku .... "
"Mari kita mulai semuanya dari awal lagi, Chagi!" interupsi Yoongi tiba-tiba.
"Ka-Kau, kau serius?" tanya Wendy dengan ekspresi tak percaya.
Menganggukkan kepala dengan bibir ikut pula menampilkan senyum favorit yang sangat di sukai oleh Wendy, tentu saja hal tersebut pun langsung membuat Wendy kembali pecah dalam isak tangisnya.
"Hiks ... Yong ... hiks ... maafkan aku!!" ujar Wendy sesegukan dan meminta maaf setelahnya.
"Sst uljima! Kita akan mulai semuanya dari awal lagi, Wendy. Tak apa, sudah kumaafkan," balas Yoongi dengan tangan kembali merengkuh pinggang Wendy di depannya.
The End