Persahabatan antara Dhea, Vindy, Meisha, dan Fara berawal dari pertemuan mereka di SMaN Margawati. Pada awalnya mereka tidak saling kenal tetapi setelah berbincang-bincang akhirnya mereka pun saling kenal. Persahabatan mereka berlangsung sangat lama.
Pada suatu hari, persahabatan antara Dhea, Vindy, Meisha, dan Fara dilanda badai yang ingin menghancurkannya, tetapi mereka tidak akan terpisah karena mereka selalu bersama dan saling mempercayai satu sama lain. Di SMaN Margawati ada tiga orang yang selalu iri terhadap apa yang dilakukan salah satu dari mereka yaitu Dhea. Tiga orang tersebut adalah Lyona, Vanesa, dan Zefne. Mereka selalu mencari cara untuk membuat ulah kepada Dhea, karena dia selalu dipuji oleh banyak orang di sekolahnya. Itulah yang membuat Lyona merasa iri kepadanya.
Pada pagi hari di SMaN Margawati, bel masuk kelas telah berbunyi saatnya mereka masuk kelas dan menerima pelajaran. Pada saat Dhea ingin masuk kelas, Lyona dan kedua sahabatnya mencegahnya untuk masuk kelas.
Ad by Valueimpression
“Ups… ada Dhea” Ujar Lyona sambil memegang pintu kelas.
“Ma’af Lyona, aku harus masuk kelas” Jawab Dhea dengan sabar.
“Kenapa buru-buru sih? kamu bisa kan masuk kelas nanti?”.
“Iya, tapi sebentar lagi pelajaran akan dimulai”.
Kemudian Vindy, Meisha, dan Fara (sahabat Dhea) melihat apa yang sedang dilakukan Lyona dan kedua sahabatnya kepada Dhea. Mereka pun segera bergegas keluar kelas untuk menolong Dhea.
“Apa apaan sih kalian. Dhea itu ingin masuk kelas. kenapa kalian malah mencegahnya sih?” Tanya Vindy dengan wajah marah.
“Dhea aja nggak marah. kenapa kamu yang marah” Tanya balik Lyona.
“Ya iyalah aku marah, karena Dhea itu sahabat aku”.
Pada saat itu Dhea berusaha untuk membuat Vindy dan Lyona menjadi tenang.
“Udah stop. Kenapa kalian malah bertengkar? Kita ke sini untuk belajar bukan bertengkar kayak gini. Dan kamu Lyona (sambil memandangnya), kenapa kamu nggak pernah berhenti untuk mengganggu aku atau sahabat sahabatku?. Please… don’t disturb me and my friends” Ucap Dhea.
Saat itu pula Lyona dan kedua sahabatnya hanya bisa terpaku diam dan mendengarkan perkataan Dhea tersebut karena mereka kehabisan kata-kata. Kemudian Dhea, Vindy, Meisha, dan Fara masuk ke kelas dan duduk di bangku mereka masing-masing.
Kring… Kring… Kring… Bel berbunyi tanda istirahat, saatnya mereka pergi ke kantin untuk membeli makanan. Pada saat Dhea dan ketiga sahabatnya duduk di kursi kantin, Lyona dan kedua sahabatnya berusaha membuat rencana untuk Dhea.
“Lyona, kamu harus melakukan sesuatu kepada Dhea karena kita udah capek dipermalukan di depan anak satu kelas seperti tadi” Ujar Zefne.
“Apa yang dikatakan Zefne itu benar, mendingan kamu buat cara yang bikin Dhea dipermalukan di depan umum karena dia udah mempermalukan kita di depan anak satu kelas seperti tadi” Sahut Vanesa.
“Cara apa lagi coba? Aku itu udah capek bikin cara, setiap aku membuat rencana aku selalu gagal” Jawab Lyona yang hampir kehilangan akal.
“Ya, kamu pikir dong Lyona” Ucap Zefne.
Beberapa saat kemudian Lyona mempunyai cara untuk membuat Dhea dipermalukan di depan umum.
“Aku tau apa yang harus aku lakukan kepadanya” Ucap Lyona sambil tersenyum.
Saat Dhea dan ketiga sahabatnya tersebut sedang asyik menikmati makan siangnya tiba-tiba Lyona menumpahkan minuman ke baju Dhea dengan sengaja.
“Ups…sorry. I don’t see you in here” Ucap Lyona setelah menumpahkan minumannya ke baju Dhea.
“Apa apaan ini Lyona, apa lagi yang kamu lakukan kepada Dhea?” Tanya Vindy.
“Kamu pasti sengaja ngelakuin ini kepada Dhea, iya kan?” Tanya Fara.
“Iya. Dan inilah yang kulakukan kepada Dhea”.
“Apa yang kamu lakuin kepada Dhea ini udah melewati batas. Dan kenapa kamu nggak pernah ngelakuin ini ke kita? Kenapa harus Dhea yang selalu kamu jadiin sasarannya?” Tanya Meisha.
“Karena dia udah mempermalukanku dan kedua sahabatku di depan anak satu kelas seperti tadi. Dhea itu sangat lugu, nggak seperti kalian. Dhea juga udah menghancurkan hidupku di mata orang lain dan karena kehadirannya di sekolah ini dia selalu dijadikan nomor satu oleh semua orang. Semua orang juga nggak pernah berhenti untuk memujinya. What I’m wrong do it all?”.
“Iya, semua yang kamu lakukan kepada Dhea itu salah. Kamu boleh ngelakuin apapun kepada Dhea, tapi nggak gini juga Lyona. Ini juga udah melewati batas aku akan melaporkan kejadian ini ke BP” Ucap Vindy.
“Hentikan ini semua. Udahlah Vin, nggak usah melaporkan kejadian ini ke BP. Lagi pula kita juga nggak punya bukti” Ujar Dhea yang berusaha mencegah Vindy untuk pergi ke ruangan BP.
“Kata siapa kita nggak punya bukti. Semua orang melihat pertengkaran ini dan mereka lah yang akan menjadi bukti dan saksi dari kejadian ini” Ucap Vindy.
“Iya tapi udahlah nggak usah membesar besarkan masalah ini apa lagi membawa masalah ini ke BP. Lagi pula ini masalah kecil dan kita bisa menyelesaikannya sendiri tanpa bantuan dari BP”.
“Tapi…”
“Udahlah lebih baik kita pergi dari sini” Ucap Dhea dengan menyeret tangan Vindy dan mengajaknya pergi dari kantin.
Setelah itu Dhea dan ketiga sahabatnya itu pergi ke kamar mandi untuk ganti pakaian yang telah basah karena tertumpah minuman. Setelah mereka keluar dari kamar mandi, mereka melihat papan pengumuman yang isinya “Akan Diadakan Lomba Puisi Antar Siswa”. Vindy, Meisha, dan Fara membujuk Dhea untuk mengikutinya.
“Dhea ini kesempatan kamu untuk membuat puisi lebih baik dari tahun kemarin” Ujar Vindy.
“Iya Dhea, mungkin kali ini kamu bisa menang” Sahut Fara.
“Sepertinya kali ini aku tidak akan mengikuti lomba puisi deh. Karena aku ingin memberi kesempatan kepada siswa yang lainnya” Jawab Dhea.
“Ayolah Dhea kamu harus ikut demi kita” Bujuk Meisha.
“Iya. jika kamu perlu bantuan kami siap kok membantumu” Sahut Vindy.
Akhirnya Dhea pun dapat dibujuk oleh sahabat sahabatnya.
Bel pulang telah berbunyi, saatnya mereka pulang. Di jalan Dhea merasa sakit kepala.
“Dhea, are you okay?” Tanya Vindy.
“Iya aku baik baik aja kok” Jawab Dhea.
“Bener kamu baik baik aja?” Tanya sekali lagi oleh Fara.
“Iya. Lebih baik kita pulang, agar aku bisa istirahat” Jawab Dhea.
Kemudian mereka pun pulang. Sesampainya di rumah Dhea pun meluangkan waktunya untuk membuat sebuah puisi dari curahan hatinya yang berjudul “TRUE FRIEND”. Setelah puisi tersebut telah selesai, tiba-tiba kepala Dhea sakit. Dia pun berusaha pergi ke rumah sakit untuk periksa dan menemui dokter yang dulu telah merawat dan mengobatinya.
Sesampai di rumah sakit, dia pun bertemu langsung dengan dokter Ferry yang dulu merawat dan mengobatinya. Dia pun berbincang-bincang dengannya.
“Saya Dhea, pasien yang dulu pernah anda rawat. Saya kesini untuk mencari tau tentang penyakit saya” Ucap Dhea kepada dokter Ferry.
“Penyakit apa?” Tanya dokter Ferry.
“Penyakit yang mungkin serius. Saya mau bertanya. Penyakit yang saya derita dulu, apa sekarang benar-benar sembuh?”.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?. Apa ada masalah?”.
“Iya ada. Maka dari itu saya bertanya kepada anda”.
“Baiklah tunggu sebentar, saya akan mengambil berkasnya dulu”.
Setelah beberapa menit dokter Ferry datang dengan membawa berkasnya.
“Di dalam berkas ini tertulis bahwa penyakit yang kamu derita hanyalah kemungkinan dapat sembuh dan dapat juga kembali lagi” Jelas dokter Ferry kepada Dhea.
Dhea pun tiba-tiba pergi meninggalkan dokter Ferry. Hari itulah Dhea merasa sedih dan putus asa dengan apa yang dideritanya.
Pada pagi hari, Dhea berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah tiba-tiba Dhea dikejutkan oleh ketiga sahabatnya tersebut. Mereka pun berbincang bincang mengenai puisi yang telah dibuat oleh Dhea. Mereka juga membacanya hingga akhirnya mereka pun jadi terharu atas puisi tersebut.
“Dhea, puisi kamu indah banget” Ujar Meisha.
“Iya Dhea, kita jadi terharu akan puisi ini” Sahut Fara.
“Apa kita akan selalu seperti itu untuk selamanya?” Tanya Vindy.
“Iya,” Jawab Dhea dengan singkat.
Mereka pun saling memeluk Dhea dengan erat. Setelah itu mereka pun menempelkan puisi tersebut di papan pengumuman.
1 jam sebelum pengumuman tentang pemenang lomba puisi, Vindy, Meisha, dan Fara sibuk untuk merias Dhea agar kelihatan lebih sempurna dihadapan semua orang saat menerima hadiah pemenang lomba puisi.
“Dhea, sini deh. Aku akan merias diri kamu agar lebih sempurna di hadapan semua orang saat menerima hadiah pemenang lomba puisi” Ajak Vindy.
“Tapi kan belum tentu aku pemenangnya” Jawab Dhea.
“Dhea aku yakin hari ini kamu pasti menang” Ucap Meisha.
“Tapi,”
“Udahlah. Biarkan kita merias kamu sesempurna mungkin, lagi pula kita nggak pernah merias kamu. Mungkin juga satu atau dua kali kita merias kamu” Ucap Fara.
Dhea hanya tersenyum melihat sahabat sahabatnya.
Saat Meisha menyisir rambut Dhea, rambut yang dia sisir banyak yang rontok. Dia pun menanyakannya pada Dhea.
“Dhea, kenapa rambut kamu banyak yang rontok?” Tanya Meisha dengan panik.
“Mungkin aku kurang merawat rambutku, jadi banyak yang rontok deh” Jawab Dhea dengan tenang.
“Dhea, kelihatannya kamu pucat deh. Apa kamu sakit?” Tanya Fara.
“Nggak kok, aku nggak ssakit. Udah deh kalian itu nggak usah mikirin aku, karena aku baik baik aja kok”
Vindy, Meisha, dan Fara tak mempermasalahkan apa yang telah dikatakan oleh Dhea.
Bel masuk telah berbunyi saatnya para siswa dan siswi SMaN Margawati berkumpul di halaman sekolah untuk menyaksikan siapa pemenang lomba puisi. Pada saat kepala sekolah membacakan pemenang dari lomba puisi adalah Dhea, disitulah hati Dhea dan ketiga sahabatnya merasa senang. Dhea pun diundang ke atas panggung untuk menerima hadiah dari kepala sekolah. Saat Dhea menerima hadiah, tiba-tiba dia jatuh dan tergeletak di lantai. Dia pun langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Saat berada di rumah sakit, disitulah Vindy, Meisha, dan Fara mengetahui bahwa Dhea menderita penyakit leukemia.
“Dhea, kenapa kamu nggak bilang ke kita kalau kamu menderita penyakit leukemia?” Tanya Vindy sambil meneteskan air matanya.
“Aku tidak ingin membuat kalian sedih karena aku”.
“Dhea, kata dokter kamu nggak lama lagi tinggal di dunia ini” Kata Meisha.
“Jika seperti itu persahabatan kita akan berakhir bukan?” Tanya Fara.
“Selama aku masih ada di hati kalian, persahabatan kita masih belum berakhir”.
“Tapi, kita tidak dapat melihat wajah cantikmu lagi bukan?” Tanya Vindy.
“Selama kalian masih mengingat wajahku persahabatan kita masih belum berakhir”.
“Kamu pernah menulis isi hatimu ke dalam puisi yang mengungkapkan bahwa “sahabat selalu bersama hingga akhir, mereka saling percaya, tak peduli terpisah atau saat bersama, mereka tidak akan pergi dari sisimu, mereka selalu ada di sana, mereka menolong saat kau jatuh” kamu bilang kita akan seperti itu untuk selamanya” Ucap Vindy.
“Aku kira, kita akan seperti itu selamanya, tapi takdir telah berkata lain”.
Vindy, Meisha, dan Fara pun meneteskan air matanya karena mendengar perkataan dari Dhea.
Hari sudah semakin larut. Saatnya Vindy, Meisha, dan Fara untuk pulang dan meninggalkan Dhea di rumah sakit. Sebelum pulang, tak lupa mereka untuk memberikan semangat kepada Dhea dalam menjalani pengobatannya.
Pada pagi hari, Vindy, Meisha, dan Fara pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah, mereka pun langsung masuk ke kelas. Di kelas mereka merasa kesepian tanpa Dhea di sisi mereka.
“Tanpa Dhea di sini, suasananya jadi sepi” Ujar Meisha.
“Iya. Apalagi sebentar lagi kita akan ditinggalkan Dhea untuk selama lamanya” Sahut Fara.
“Iya, tapi,”
Vindy memotong pembicaraannya karena tiba-tiba bu Mirna datang untuk mencarinya dan memberitahu tentang kabar duka.
“Apa saya bisa bertemu dengan Vindy, Meisha, dan Fara?” Tanya bu Mirna.
“Iya bu, kami ada di sini. Ada apa ibu memanggil kami?” Tanya Vindy.
“Ibu ke sini mau memberitahu kabar duka kepada kalian bahwa sahabat kalian yang bernama Dhea telah menghembuskan nafas terakhirnya” Kabar duka untuk Vindy, Meisha, dan Fara.
Mereka pun langsung menuju rumah sakit. Disaat itu juga Lyona mengetahui bahwa Dhea telah menghembuskan nafas terakhirnya. Dia pun meneteskan air mata pertamanya untuk Dhea. Setelah itu dia juga mengikuti Vindy dan kedua sahabatnya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Lyona pun datang untuk meminta maaf kepada Vindy dan kedua sahabatnya atas perbuatannya selama ini.
“Kalian yang sabar ya. Aku turut berduka cita atas kepergian Dhea” Ucap Lyona.
“Kenapa?. Bukankah selama ini kau menyakitinya?” Tanya Vindy.
“Iya. Aku memang pernah menyakitinya, tapi hari ini aku sadar bahwa apa yang selama ini aku lakukan kepadanya, semua itu perbuatan salah. Aku sungguh minta maaf kepada kalian. Aku sangat menyesalinya”.
“There is not forgive to you, karena tak ada gunanya lagi kau meminta maaf kepada kami. Kini kami telah kehilangan Dhea untuk selamanya” Ucap Meisha.
“Dan persahabatan kami dengan Dhea telah berakhir untuk selamanya” Sahut Fara.
“Apakah ini yang selama ini kau inginkan?” Tanya Vindy.
“Tidak,” Jawab Lyona dengan singkat.
Vindy, Meisha, dan Fara langsung pergi meninggalkan Lyona yang sedang menyesali perbuatannya. Mereka pun pergi menuju pemakaman Dhea. Dhea pun dimakamkan di samping makam kedua orangtuanya. Pada hari itu juga persahabatan terakhir mereka bersama Dhea…
Tamat