By: Tompealla Kriwieal'TK
Tema: cinta kasih dan toleransi
Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata seseorang yang sudah tiada. Semoga beliau mendapatkan surga di alam sana. Aamiin 🤲
Nama dan tempat hanya rekayasa.
Semoga bisa kita ambil hikmahnya.
***
Di sebuah rumah sederhana di ujung perkampungan desa Jetis, Lampung.
Jauh dari keramaian kota, bahkan bisa di bilang jika desa ini termasuk desa terbelakang. Letak geografis yang berbukit membuat desa Jetis ini jarang mendapat fasilitas yang bisa di dapat dengan mudah.
Simbah Marno hidup berdua bernama sang istri yang bernama Lastri. Mereka tidak memiliki keturunan seorang pun. Dan ini memang sudah di ketahui oleh Simbah Marno dari awal bertemu istrinya sebelum menikah. Bahkan tanah tempat mereka mendirikan bangunan rumah adalah tanah desa. Jadi bukan hak milik mereka berdua.
"Ini mbah kopinya!" Simbah putri, panggilan untuk Simbah Lastri, menawarkan kopi yang dia suguhkan untuk suaminya, yaitu simbah Marno.
"Terima kasih Mbah putri." Simbah Marno pun mengucapkan terima kasih. Mereka berdua saling pandang dan tersenyum dengan hangat.
Begitulah keseharian mereka berdua. Mereka tidak punya sawah ataupun ladang untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. Hanya membantu tetangga kanan kiri rumah yang membutuhkan mereka bisa mendapatkan makanan. Tapi di balik kekurangan yang terlihat sebenarnya mereka bukan orang sembarangan.
***
Pada masa perang kemerdekaan. Marno muda adalah ajudan presiden Sukarno. Bisa di bilang dia adalah pengawal pribadi beliau. Kemanapun beliau pergi Marno muda tidak pernah tertinggal.
Pada suatu hari presiden Sukarno melakukan perjalanan ke daerah Sumatra. Beliau membawa beberapa pengawal dan juga tentara untuk mengawal perjalanan ini. Jalur darat jaman dahulu masih berupa hutan dan jalanan pun terjal serta licin. Tiba pada suatu daerah mereka menemukan segerombolan tentara Jepang yang sedang menyiksa seorang Jugun ianfu atau wanita muda yang menjadi penghibur untuk mereka.
Setelah melakukan baku tembak dengan beberapa prajurit Jepang tersebut, akhirnya mereka bisa menyelamatkan wanita muda tersebut. Namun sayang, kondisi wanita itu sangat memperhatikan. Akhirnya mereka membawa wanita tadi ke desa terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
"Bapak, bolehkah saya tinggal di desa dan merawat wanita ini?" Tanya Marno pada bapak Sukarno. Dia memang terbiasa memanggil beliau dengan sebutan bapak.
Setelah mendapat persetujuan dan ijin dari bapak presiden dan juga dari pihak kepala desa Marno merawat wanita tersebut dengan telaten, sedangkan rombongan bapak presiden kembali melakukan perjalanan mereka.
"Jika kamu berubah pikiran, segera kembali dan ikut dengan rombongan. Tapi jika kamu sudah berniat melakukan semua ini, kamu tetaplah pengawal bagiku, meskipun tidak ada seorang pun yang mengenalmu di kemudian hari." Begitulah kira-kira pesan presiden Sukarno sebelum melanjutkan perjalanan.
Awalnya Marno muda tidak mengerti maksud dari pesan tersebut, tapi setelah bertahun-tahun kemudian barulah beliau menyadarinya.
***
"Saya tidak mungkin bisa memberikan keturunan." Itulah jawaban Lastri, wanita Jugun ianfu yang beberapa waktu lalu Marno tolong. Dia mengaku jika rahimnya sudah dirusak oleh obat-obatan yang diberikan pihak tentara Jepang sejak awal.
"Aku menikahimu bukan untuk mencari anak. Tapi menemaniku hidup untuk kedepannya." Marno pun memberikan penjelasan jika dia tetap berniat menikahi Lastri meskipun tidak akan mendapatkan keturunan.
"Anda bisa kembali ke Jakarta dan menjadi pengawal istana dan hidup dengan baik di sana!" Marni terus berusaha menolak karena merasa tidak pantas.
"Aku tidak tahu apa yang pantas untuk kehidupan ini. Aku hanya tahu jika apa yang kita yakini adalah yang baik untuk kita." Marno pun tidak mau kalah dan menyerah begitu saja.
Akhirnya mereka berdua pun menikah secara sederhana di desa tersebut dengan bantuan para warga. Pihak kepala desa menawarkan Marno untuk jadi penjabat desa, tapi dia menolaknya. Dia hanya ingin hidup sederhana.
"Jika tidak mau jabatan mungkin ladang yang ada di ujung desa bisa di terima untuk lahan." Kepala desa menawarkan tanah untuk bercocok tanam.
"Saya tidak ahli berkebun, tapi saya bisa membantu. Biarkan warga yang menanam, saya akan ikut menjaganya." Marno muda menawarkan bantuan jika memang di butuhkan.
"Lagi pula buat apa lahan dan harta, karena jika kami tiada nanti tidak ada juga yang mewarisi." Begitulah alasan Marno menolak, dia juga tidak mau merebut hak warga yang sudah biasa menanam di lahan tersebut.
Begitulah akhirnya, Marno yang sudah menikah hidup sederhana bersama sang istri. Dia sering membantu penduduk untuk meningkatkan kualitas tanaman dan membantu anak-anak mereka belajar. Jika ada makanan yang datang dari pemberian orang-orang, Simbah putri juga membagikan untuk anak-anak yang sering bermain di sekitar rumahnya.
***
Marno mahir berbahasa Belanda dan juga Jepang. Mahir juga beberapa bahasa daerah di Indonesia. Dari beberapa cerita yang keluar dari mulut ke mulut akhirnya banyak orang yang datang ke rumahnya.
Banyak orang yang datang dengan tujuan beragam. Ada yang minta nasehat, petunjuk dan banyak juga mahasiswa yang datang saat pembuatan skripsi untuk mewancarai beliau. Simbah Marno pun membantu mereka dengan ikhlas tanpa memandang siapa yang datang. Ada juga beberapa pejabat yang datang langsung dari Jakarta, menawarkan beliau pensiun sebagai veteran. Tapi Simbah Marno menolaknya.
"Kenapa Simbah menolak tawaran tersebut?" Tanya salah satu mahasiswa yang kebetulan datang bersamaan dengan salah satu pejabat negara.
"Aku bukan tentara bayaran. Aku mencintai tugasku dan negaraku sama seperti aku mencinta hidupku." Simbah Marno berkata dengan pandangan menerawang jauh.
"Aku masih bisa bertemu dengan Bapak jika sedang bersemedi." Simbah Marno melanjutkan kata-katanya.
Simbah Marno memang suka bersemedi di kamarnya. Beliau bukan muslim, bukan pula pemeluk agama lain seperti kebanyakan penduduk kampung yang beragam keyakinannya. Tapi mereka tetap hidup rukun dan saling membantu.
TAMAT