Musim panas identik dengan cahaya matahari yang berinar penuh seharian seiring menyengat kulit. Suhu panas disertai langit biru cerah menggambarkan latar dari musim tersebut.
Liburan musim panas, Welda bersantai di sebuah kursi panjang miliknya. Ia memegang buku sekaligus menghabiskan waktu dengan sebuah bacaan. Perkalimat di bacanya dalam hati seiring waktu berjalan. Siang itu sangatlah panas, Welda pun telah mempersiapkan segelas minuman dingin untuk mengatasi dahaganya. Sesekali ia meneguk minuman yang ada di sebelahnya itu. Tak terasa kegiatan membacanya sudah sampai di lembaran akhir. Dan juga segelas minuman yang telah habis tak bersisa.
Welda memandang seisi kota dari balkonnya. Gedung-gedung padat penduduk itu tengah dilanda musim panas yang cukup menyengat.
"Melihat kota yang padat dikala sedang musim panas, rasanya seperti sesak dan pengap ya." cakapnya.
Baju kaos dan celana pendek, menjadi tampilan dari diri Welda saat itu. Walau sudah dirasa cukup terbuka, tetap saja hawa panas membuat dirinya terus berkeringat.
"Apakah ini rasa gurun?" tanyanya nyeleneh.
Beberapa saat kemudian, Welda pun terpikir akan suatu hal. Kemudian ia bergegas mengambil sesuatu dari dalam ruang apartemennya. Setelah itu, dia mempersiapkan diri.
Sebuah bak mandi karet telah diisi oleh air. Welda pun langsung berendam didalamnya dengan pakaian seadanya serta tak lupa pula ia memakai kacamata renang.
"Ini konyol sekali bukan? Hanya karena aku mengingat masa kecil, jadinya diriku ini melakukan hal yang terkesan kekanak-kanakan."
Perempuan itu teringat akan masa kecilnya usai membaca sebuah buku yang dibaca sebelumnya. Welda melakukan hal itu lantaran dahulu, dirinya suka berendam di dalam bak mandi yang terbuat dari karet. Tetapi kenangan tetaplah kenangan. Momen yang dirasakan oleh Welda kini sudah berbeda dari masa dahulu.
"Memang suasananya sudah berbeda. Meskipun aku sudah tumbuh besar dan melakukan hal kekanak-kanakan seperti ini, aku tetap merasa senang." ucapnya sambil memandang ke depan.
Welda termenung dikala sedang berendam.
"Tiba-tiba saja aku mengingat sosok dirinya."
Baju kaos, celana pendek, serta memakai kacamata. Dia adalah orang yang ada di ingatan Welda. Laki-laki yang selalu memperhatikan gerak geriknya itu sudah masuk ke dalam pikiran. Seketika senyuman terukir di wajah Welda.
"Dia anak yang sangat rapi dan juga memperhatikan tiap gerak-gerikku agar lebih bisa berhati-hati. Dia menjagaku dengan sangat ketat. Dan hal itu pula lah yang membuatku merasa jengkel atas perlakuannya tersebut. Namun, sekarang aku malah merindukannya."
"Kamu merindukannya?"
"Ya. Aku merindukannya."
balas Welda.
Setelah menyadari ada orang lain yang bercakap, Welda pun langsung memutar pandangannya ke arah suara itu. Ia terkejut dan diam dalam bak mandi karet tersebut.
"Sedang berendam wahai anak kecil yang bandel?" ucap orang yang ada dibelakang Welda.
"Apakah ini nyata?" Welda tak menyangka.
Seketika dahi Welda ditepuk oleh orang itu. Dan hal itu memang nyata adanya.
"Sekarang kamu masih menganggap ini mimpi anak bandel?"
Welda tak tahu harus berkata apa. Sebab dirinya pun juga sulit untuk berucap karena perasaan yang dialaminya.
Tanpa pikir panjang, Welda langsung memeluk orang yang barusan ditemuinya itu.
"Kamu sangat merindukannya ya ternyata."
"Ya aku merindukanmu, kakak!"
Orang yang tadi ditemuinya itu merupakan kakak dari seorang Welda. Lelaki itu kini sudah berpenampilan gagah, dengan setelan jas hitam disertai dasi yang diikat rapi. Tak lupa kacamata khasnya masih ada sampai kini.
"Kamu tidak ingin bertanya mengenai aku setelah sekian lama?"
"Jangan katakan hal lain dulu. Saat ini aku hanya ingin memelukmu."
Perempuan itu terdiam sembari memeluk sang kakak dengan kuat.
"Lalu apakah kamu tidak bertanya mengenai kenapa aku bisa masuk ke dalam?"
Tanya sang kakak kembali.
"Itu kesalahanku." jawab Welda.
"Kamu tidak jauh berubah ya, Welda adikku."
Lelaki itu membalas pelukan adiknya dan mereka berdua pun akhirnya bertemu kembali usai sekian lamanya tidak berjumpa.
-----SELESAI-----