Apa kalian pernah merasakan di khianati oleh seseorang yg kita sayangi,
Oh... kurasa aku salah.
Bukannya beberapa orang di dunia ini pun merasakan hal yg sama?
Di khianati oleh keluarga, pacar, atau teman,itu sudah sangat populer saat ini.
Aku bernama Elly, umurku sudah 19 tahun.
Orang tuaku sudah meninggal dunia sejak aku berumur 13 tahun.
Yg merawatku sekarang adalah kakak ku.
Namanya Yulia, dia sudah berumur 21 tahun.
Kak Yulia meneruskan bisnis ayah ku, sejak ayah meninggal.
Aku sudah punya pacar,,,
Kami sudah menjalin hubungan tiga tahun lamanya.
Pacarku namanya Zen, dia seumuran dengan kakak ku.
Awal kami bertemu itu di pinggir danau, saat itu kulihat dia sedang di bully oleh beberapa teman sekelasnnya.
Aku yg sudah menguasai banyak ilmu bela diri pun membantu Zen, hingga akhirnya mereka semua pergi.
Dari saat itu aku dan Zen berkenalan, dan perlahan-lahan hubungan kami semakin dekat sampai kami menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
Selama tiga tahun aku bersama Zen,
Aku mengira Zen sangat baik, Zen setia, dan dengan bodohnya lagi aku mengira dia sangat mencintai ku.
Ternyata tidak....
Semua perkiraan ku salah.
Ternyata beberapa bulan yg lalu Zen dan kakak ku mengkhianati ku.
Mereka berselingkuh di belakangku.
Dan kalian pasti bertanya bukan?
Kenapa aku bisa mengetahui nya?
Karna aku melihat kakak ku menangis di kamarnya sambil memegang tes pack atau apa lah itu.
Saat itu aku bertanya padanya.
"Kak, apa ini!? Siapa yg menghamili kakak? Jawab kak!" Tanya ku sambil mengguncang bahu kak yuli.
Aku yg saat itu tidak tau apapun rasanya ingin membunuh pria yg berani menghamili kakak ku.
Kak Yulia hanya menangis, dan menunduk.
"Kak jawab Elly!" Teriak ku.
"Zen" jawabnya dengan nada kecil tak lepas dengan suara isakan tangis nya.
Walaupun suara kak yuli mengecil namun aku masih dapat mendengar.
Saat itu terdiam sejenak mencerna jawaban kak yuli.
"Ap apa.. kak hahaha kak yuli bohong kan? Gk lucu kak, gk mungkin lah,orang Zen sayangnya sama Elly kok, Elly gk bisa di prank kak" jawabku sambil tertawa.
"Gk Elly! Aku hamil anak Zen! Hiks...
Maafin kakak ell "jawab kak Yulia sambil berlutut di depan ku dan memeluk kaki ku sambil menangis.
Syok, marah, sedih, tak percaya itulah yg aku rasakan saat itu.
Dengan penuh emosi ke tepis pelan tangan kak Yulia dari kaki ku, lalu aku berjalan ke aras meja rias kak Yulia.
Dan mengambil hP kak yuli dan menelpon Zen.
Setelah tersambung.
"Ada apa Yul?" Tanya Zen di telpon.
"Kerumah ku skrng juga" jawabku dengan nada dingin.
"Lah kok kamu Elly, kak Yul...." belum sempat Zen menyelesaikan kata kata nya aku langsung memutuskan panggilan itu.
Aku langsung membanting hP kak Yulia ke cermin hingga kaca itu pecah menjadi beling beling yg tajam.
Lalu aku kembali ke hadapan kak Yulia.
Aku duduk di lantai agar menyesuaikan ku dengan kak yuli yg terduduk dan menangis.
"Sudah berapa lama kak?" Tanya ku dengan nada lembut dan mencoba tenang.
"Sejak Lima bulan yg lalu Elly,,, maafin kakak hiks..." jawab kak yuli yg masih saja menunduk.
Aku menggenggam tangan ku, dan menutup mata ku mencoba mengingat saat itu aku dimana.
Dan ternyata aku mengingat nya.
Ya saat itu tepat Lima bulan yg lalu aku ulang tahun.
"Dihari ulang tahun ku? Jadi saat itu kak yuli gk ada dirumah karna pergi bersama Zen?"tanya ku dengan air Mata yg menetes perlahan-lahan.
"Maaf..." hanya kata itu yg keluar dari mulut kak yuli.
Belum sempat aku menjawab Zen sudah mengetuk pintu rumah ku di depan.
Dengan segera aku pergi ke pintu luar dan membuka nya.
"Hai sayang" ucapnya sambil ingin memeluku.
Namun aku langsung menghindari nya.
"Why?" Tanya nya heran.
Aku menggeleng lalu memegang tangan Zen lalu menarik nya ke kmar kak Yulia.
Sampai disana Zen melihat kak Yulia terduduk dengan keadaan kacau pun segera membantunya berdiri dan membantu kak Yulia duduk di pinggir kasur.
"Ada apa? Kamu kenapa Yul, ada yg sakit kah?" Tanya Zen yg terlihat sangat khawatir.
Aku yg melihat itu pun tersenyum pahit.
Baru beberapa bulan saja mereka menjalin hubungan sudah sedekat ini,
Lalu bagaimana denganku yg sudah pacaran dengan nya selama Tiga tahun.
"Zen... elly" ucap kak yuli menyadarkan Zen akan masih adanya aku disana.
Sontak Zen pun langsung berdiri.
"No! Duduk kembali Zen,, ayo duduk disini" ucapku sambil memegang kedua bahu Zen dan menuntunnya duduk di samping kak Yulia.
"Elly.."
"Ssttttt" ucapku sambil menaruh jari telunjukku di bibir ku.
Setelah itu aku menatap mata Zen.
"Kenapa tak bilang Zen? Kenapa tak bilang kalau kau sudah gk mencintai ku lagi? Oh..... aku salah harusnya aku tanya, kenapa gk bilang kalau kau tidak pernah mencintai ku?" Tanya ku dengan nada lembut.
"Ap.. apa maksudmu elly? Aku mencintaimu" Zen masih mampu mengelak.
"Oh ya.... kalau begitu bisa jelaskan, kehamilan kak Yulia skrng?" Tanya ku dengan bibir bergetar.
"APA! Yu.. Yulia kamu hamil" tanya Zen dengan mata berbinar menatap kak yuli.
Dan saat itu kak yuli mengangguk sontak saja Zen memeluk kak yuli erat.
Sungguh saat itu aku tak kuat lagi, aku memalingkan wajah ku tak mampu melihat pemandangan ini.
Air mata yg kutahan kembali lolos.
"Ekhem"
Mendengar deheman ku Zen melepas pelukan nya.
"Jadi?" Tanya ku.
"Aku akui, aku memang salah Elly, aku dulu sangat mencintaimu tapi, setelah melihat yuli, aku....
Aku minta maaf "jawabnya sambil menunduk.
Aku tersenyum kecut mendengar jawaban nya.
Apa yg kuharapkan. Haiss sungguh bodohnya diriku.
"Sudahlah, kita sudah hubungan kita, dan kalian bisa menikah kapanpun kalian mau, aku tidak akan menghalangi kalian" ucapku.
"Dek,, kakak.." ucap kak yuli sambil menatap ku.
"Cukup kak... sudah cukup,, hadiah yg kakak berikan ini sungguh indah kak, ini adalah hadiah ultah yg tak pernah kulupakan seumur hidup ku, terima kasih sudah mau merawat Elly sampai skrng, dan kau Zen, terima kasih akan luka yg kau torehkan, terima kasih atas semua kebohongan yg kau berikan, dan terima kasih sudah membuat aku sadar bahwa aku adalah perempuan terbodoh di dunia ini" ucapku sambil menangis.
"Dan mulai skrng kalian bisa melanjutkan hubungan kalian, jangan khawatir aku akan pergi dari sini skrng juga, anggap saja aku tak pernah ada mulai lah hidup baru, lupakan aku..
Selamat tinggal "ucapku lalu berlari keluar kamar kak Yulia dan segera masuk ke mobil ku lalu mengendarai nya dengan kecepatan tinggi.
Kak Yulia saat itu ingin mengejar ku tapi tanganya di tahan oleh Zen.
Zen hanya memeluk kak Yulia yg menangis keras saat itu.
Sementara aku..
Aku disini di tergeletak di jalanan dengan berlumuran darah.
Ya beberapa menit lalu aku mengalami kecelakaan tunggal, mungkin memang sudah takdirnya saat itu mobil yg ku kendarai ternyata rem nya bocor.
Aku saat itu melompat keluar berniat menyelamatkan diri namun saat berhasil lompat tubuhku terhantam mobil yg melaju hingga tubuhku terpental jauh ke pinggir jalan dan terhantam trotoar.
Mataku mulai berat, aku sudah mulai tak sadarkan diri saat itu, samar samar kulihat banyak orang mengelilingi ku.
Yg ada pikiranku saat itu adalah ingin melihat wajah kak yuli untuk terakhir kalinya.
Namun seperti nya itu hanya harapan saja beberapa menit kemudian aku sudah tak bernyawa lagi.
Satu bulan kemudian.
Yuli dan Zen sudah menikah namun mereka masih belum mengetahui keadaan Elly.
Saat ini mereka sedang berada di rumah.
Di depan mereka sedang berdiri seorang polisi
"Maaf pak ada apa ya?" Tanya yuli.
"Kami ingin memberitahu kabar buruk,, bahwa seorang gadis yg bernama Elly atau nama lengkap Elly clastin satu bulan yg lalu mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat pada pukul 20:15, jenazahnya sudah di kuburkan di *****, kami baru mengabari karna kami menemukan identitasnya di dalam mobil" jelas pak polisi itu sambil memberikan sebuah tas yg ternyata adalah tas Elly.
Dengan tangan gemetar yuli mengambil tas itu dan melihat semua isinya.
Ternyata benar
"Gak mungkin! Gk mungkin Elly masih hidup!" Teriak yuli.
Sementara pak polisi tadi sudah pergi setelah memberikan tas itu pada yuli.
"Tenang dulu yul ayo kita ke makam nya" ucapnya.
Setelah sampai di makan elly.
Yuli melihat tulisan yg bertuliskan nama Elly di batu nisan itu.
Kaki yuli pun melemas dia terduduk di pinggir kuburan Elly.
Begitu juga Zen.
"Kenapa Elly? Kenapa!! Apa begini caramu membalas kakak hah! Hiks...
Bangun Elly bangun!!
Ayo bangun, marahi kakak mu ini, kalau perlu pukul aku sepuasmu Elly, jangan tinggalin kakak hiks... "teriak yuli sambil memukul mukul gundukan tanah kuburan Elly.
"Elly maaf, mungkin aku memang gk pantas untuk di maafkan,,,, tapi kenapa kau pergi secepat ini Elly, aku sudah menganggapku adikku sendiri, aku memang salah harusnya aku melepaskanmu dari dulu bukanya menggantung perasaan mu seperti ini,,, aku bodoh Elly,,,
Jangan hukum kami seperti ini... "ucap Zen dalam hati air mata nya pun ikut menetes sambil menatap batu nisan Elly.
Sementara Yulia dia hanya memeluk erat batu nisan yg bertuliskan nama adiknya itu.
Mereka kini tak bisa berbuat apapun.
Hanya penyesalan yg berada dalam hati mereka seumur hidup.
Penyesalan yg tak mampu mereka hilangkan.