Hari itu cuaca sangat dingin, salju mulai berjatuhan mengenai rambutku dan jaket tebalku ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.50, sebentar lagi pukul 23. Namun, aku masih berada di sini, di bangku taman yang sepi dan dingin ini.
Ketika aku sedang melamun di tengah dinginnya cuaca ini, datang seorang gadis. Gadis itu tidak cantik, tidak juga tinggi. Namun, saat ia menyapaku, kulihat wajahnya yang begitu imut dan manis. “anyeonghaseyyo.. nae ileum-eul Lee Hye Ryeon-ibnida”. Aku masih menatapnya, akhirnya aku membalasnya, “ah…, mianhae, naneun Kim Jae Ri-ibnida. Sedang apa kau di sini? Ini sudah terlalu larut untuk gadis sepertimu”
“aniya, aku hanya ingin berjalan jalan saja”. kami mengobrol cukup lama, aku merasa nyaman bicara dengannya. Kupikir aku menyukainya walau baru bertemu.
“ini pakai jaketku, pakaianmu itu tidak cukup menghangatkanmu”, aku memakaikan jaketku untuknya. “ah.. ani ani.. kau tak perlu repot repot seperti itu, aku akan pulang sekarang. Nanti malah kau yang kedinginan”. “gwenchana hye ryeon-a, aku bisa menahannya. Kau lebih membutuhkannya daripada aku”. “gomawo”, katanya dengan memberikan senyuman manis yang baru pertama kulihat. “ne. Arasseo, kajja kita pulang sekarang. Ini sudah terlalu larut”.
Selama musim dingin berlalu, aku menunggunya di tempat ini. Namun ia tak kunjung datang. Apakah hanya malam itu perjumpaan pertama, juga terakhir kita?
Padahal aku belum sempat menyatakan perasaanku padanya.
Gwiyeoun.. saranghaeo