Ketika Iba Menjadi Cinta
By Waliya Inang Sari
Jumkat cerpan 2247 (maaf bener2 cerita panjang)
Anjas melihat karyawan kopi shopnya sedang bekerja melayani pelanggan. Jarang Anjas memantau kinerja anak buahnya saking sibuk diusaha lainnya perbengkelan mobil dan motor. Tapi kali ini ada pandangan lain yang lebih ditatap Anjas lebih lama.
Tidak melihat Bisma meracik kopi, melihat Gery bercanda sembari mencatat pesanan kopi pelanggan, tapi melihat salahsatu pramusajinya Irene.
Irene yang baru mau lama kerja di kopi shop Anjas terlihat melamun melihat Bisma dan pandangannya begitu sayu seakan ada hasrat tertahan entah apa itu.
"Eh Ren anterin ini dua espresso ini ke meja delapan ya." Titah Gery menyerahkan sebuah talenan berisi dua mug espresso hangat.
Gerry mengibas tanganya di depan wajah Irene tapi Irene tetap melamun.
"Irene." Sapa Gerry dekat dari telinga Irene.
Irene mendongak wajah ke hadapan Gerry membuat Gerry mengulang titahnya lagi pada Irene.
"Ger ... gue izin dulu ya sebentar bilang bos kalau nanya." Teriak Bisma meninggalkan Ajakoshop, nama milik kopi shop Anjas.
Tanpa Bisma tahu Anjas melihat kepergiannya langsung. Dan lagi Anjas melihat tatapan kosong Irene melepas kepergian Anjas.
Dan pada malam harinya Anjas balik ke kopi shopnya ingin mengecek nota catatan yang tertinggal di sana. Ketika sampai Anjas melihat Irene duduk termangu tak jelas.
"Permisi."
Irene mengangkat kepalanya.
"Bapak."
"Kok belum pulang ?"
"Menunggu jemputan Bisma tapi tak datang-datang dari sore tadi Pak."
"Kamu pacar Bisma ya?"
"Temen sejak kecil Pak."
"Coba telpon Bisma."
"Hape udah tak ada Pak dijual buat bayar tebusan obat Bapak Irene di kampung."
"Bapakmu sakit apa ?"
"Banyak Pak karena faktor usia."
"Saya masuk dulu dan kamu tunggu disini nantj saya anterin kamu pulang."
"Merepotkan Bapak."
"Tidak justru keselamatan pegawai itu tanggung jawab saya."
Di mobil Anjas tidak banyak bicara selain menanyakan arah jalan menuju rumah Irene.
Keesokan harinya pegawai Ajakoshop kegirangan gaji duluan plus bonus, mereka disukai Anjas setelah pengunjung membludak semua terpesona pramusaji baru Agnes. Sejak saat itu pandangan bukan cuma pengunjung tapi para pegawai cowok tak lagi mengagumu Irene semua tertuju pada Agnes.
Di ruang Anjas.
"Ren tolong setiap tips yang saya berikan jangan kamu beritahu yang lain ya ingat atensi ini."
Anjas menatap Irene lekat saat Irene mengantar mochachino untuknya.
"Baik Pak."
"Oh ya Bapakmu bagaimana kabarnya ?"
"Masih sakit-sakitan Pak dan tambah parah karena Bapak ngotot jadi buruh harian di peternakan Juragan kampung."
"Lho kenapa ngotot 'kan beliau sedang sakit ?"
"Bapak tidak mau ngebebani saya katanya tapi saya sama sekali tidak terbeban Pak malah bahagia bisa bahagiain orangtua selagi ada."
"Kata-katamu bikin baper aja Ren oke kalau begitu kamu sibuk gak ?"
"Maaf Pak jadi baper dan aku tidak sibuk Pak pas pengunjung sedang sepi jam segini."
"Oke kamu tolong catat ini di pembukuan saya ya karena berantakan jika masih tersimpan tumpukan nota begini nanti saya beri tips."
"Tidak usah tips Pak 'kan Bapak bos saya."
"Iya tugasmu menyajikan kopi bukan membuat pembukuan."
Sejak itu Irene kerap bersama Anjas karena pegawai lain sibuk apalagi Agnes tak bisa diganggu menjadi daya tarik pandangan konsumen. Dalam kesibukan itu Anjas sering mergoki Irene menatap Bisma dari kejauhan.
Dulu Bisma dikira pacaran dengan Irene padahal cuma teman tapi keakraban semuanya pudar entah mengapa. Apa karena Bisma mau deket teman barunya, Agnes atau ada faktor lain.
Dan berapa bulan ini Anjas jarang ke Ajakoshop karena ada urusan penting yang harus ia urus membuatnya hanya lewat aplikasi hijau memantau pembukuan Ajakoshop.
Dan keuntungan Anjas semakin hari semakin menurun. Melalui laporan teman-teman Anjas sajian kopi disana tanpa Anjas kurang nikmat apalagi tak ada big bos membuat pegawai lalai dalam bertugas.
Kerja berdasarkan mood dan satu pegawai menuai pujian yaitu Irene yang rajin wara-wiri bertugas juga terciduk nyapu jalanan depan Ajakoshop cari uang serseran buat keperluan orangtuanya. Anjas tersenyum mengenang Irene pegawai polos yang selalu jujur apa saja itu.
Akhirnya Anjas gulung tikar. Semua pegawai diberhentikan karena Anjas kesulitan membayar gaji mereka. Lain dengan Irene tetap bertahan.
"Pak ruko ini masih hak Bapak 'kan jadi mari buka usaha lain lagi Pak atau kopi shop nuansa baru lagi."
"Butuh modal besar Ren buat gaji pegawainya."
"Kita berdua aja Pak."
"Kita berdua ?"
"Iya Pak karena Bapak baik sama aku dan sering bantuin Bapak jadi kini aku wajib membalas kebaikan Bapak ikhlas seikhlasnya."
"Tapi kamu 'kan butuh makan juga Ren masa kerja tanpa gaji."
"Allo akan datengin rezki kok Pak dan aku juga jadi buruh kebersihan jalanan tiap pagi Pak jadi itu cukuplah buat aku sendiri."
"Makasi ya Ren baiklah kita buka usaha barenga sekali lagi makasi ya."
Dan akhirnya Anjas membuka kopishop lagi bahkan kopishop mereka punya cirikhas dari nama mereka berdua Aren koshop dimana pas nama itu untuk menu baru gula aren menjadi pemanis dan pewangi sajian kepulan asap kopi. Benar-benar menu funtastic.
Untuk menggaji Irene sendiri jelas Anjas bisa ditambah bahan lain untuk kopi shop Anajs sudah punya jadi mudah ia menjalani bisnis kopi lagi.
"Pak yuk kita pulang udah aku beresin shopnya."
"Masa Bapak terus sih Ren panggil Mas aja."
"Udah kebiasaan Mas hehehee ..."
Anjas tersenyum lalu ia mengantarkan Irene pulang.
"Aku turun dulu ya Mas."
"Ren tunggu em aku mau ngomong sama kamu."
"Oh iya silahkan Mas."
"Ren apa kamu belum punya pacar ?"
"Masih jomblo Mas."
"Serius kamu jangan bohong lho."
"Mas gak percaya nih ya Mas selama kita bersama di shop Mas tahu apa-apa aja aku katakan jujur karena aku tak pernah diajarkan orangtua buat bohong apalagi dengan Bos."
"Ren apa kamu mau membuka hatimu ?"
"Soal itu selalu aku buka Mas tinggal Dewa Amore memanah panah asmara sama siapa, dimana, dan kapan."
Anjas tersenyum.
Keesokan harinya di Aren koshop kedatangan orang lama, Bisma ngobrol dengan Irene saat Irene istirahat terlihat keduanya bercanda bersama.
"Kok Bisma kesini dan mesra banget sama Irene apa jangan-jangan dia itu pacarnya Irene ? Tapi Irene bilang mereka temenan ah apa itu alasan mereka tak enak cinta-cintaan di tempat kerja."
"Tapi dulu Bisma kayaknya lebih deket sama Agnes hmmmm jadi tanda tanya apa hubungan mereka sebenarnya karena aku suka sama Irene karena dia perhatian banget."
Duahari kemudian Irene libur dan hari ini ia masuk. Di Ajakoshop mata Irene terlihat sembab tapi Anjas enggan menyelidiki apa yang terjadi pada Irene, ia menunggu waktu secepatnya membongkar isi hati Irene yang sebenarnya.
"Bener dugaanku Irene libur karena ada masalah sama Bisma tuh cowok dateng lagi." Gumam Anjas melihat kedatangan Bisma.
"Mas, aku kedepan dulu sebentar mau bicara penting sama Bisma."
"Eh Irene ini jam kerja kalau mau ngobrol nanti jam istirahat."
"Ini penting Pak."
"Saya tidak suka ya pegawai mengutamakan urusan pribadi di tempat kerja."
Mata Irene berair dan ia kembali ke belakang. Anjas tersenyum melihat Bisma pergi lagi.
"Lagian ngapain ganggu pegawai mantan bosnya jam kerja dasar error." Anjas mengumpat sedirian.
"Aku pesen coffelatte dua dan kopi aren dua juga anter ke meja enam ya."
"Oke terima kasih Nona cantik tunggu pesenanya dateng bentar lagi ya."
"Pak izin sebentar mau ketemu Bisma."
"Aduh ini jam kerja Irene dan ini ada pesenan lho mau diantar sekarang."
"Ini 'kan jam saya istirahat Pak."
Anjas membuang nafas beratnya dan nanarnya memerah menahan luapan kemarahan akan kehendak tak berguna Irene ingin bertemu kekasih rongsokannya itu. Anjas memalingkan wajahnya dan ia sibuk meracik kopi pesenan tadi.
Irene segera menemui Bisma.
Di sekitar meja teras tempat Bisma dan Irene ngobrol Anjas berpura-pura sibuk lalu lalang dan sok rajin banyak kerjaan demi menyelidiki pembicaraan keduanya. Hati Anjas geram jatuh hati pada gadis yang udah punya gebetan dan baginya Irene ganjen berbuat baik padanya menaruh harapan saat ia sudah ada yang punya.
"Aku tuh udah nebak kamu kesini cuma buat nipu aku doang udahlah gak usah sok suci." Gertak Bisma.
Irene tak kuasa menahan tangisannya membuat hati Anjas tak tega melihatnya tapi ia sebal ngendeketin Irene saat ada Bisma.
"Udah pokoknya aku gak mau deket sama kamu lagi." Bisma semakin meninggikan intinasi emosionalnya.
"Yess bearti putus." Spontan Anjas melontarkan perkataan itu membuat Irene dan Bisma menoleh ke arah Anjas.
Gluduk!
Talenan yang dipegang Anjas terjatuh karena ia kaget disoroti tatapan sinis Bisma dan pandangan menyedihkan pujaan hatinya tak kesampaian.
Tututu tutuyu tututu!
Bisma meniup siulan sambil pura-pura mengelap meja kayu kopishopnya lalu ia berjalan menjauhi Bisma dan Irene. Kini dibatasi tiang teras kopi shop Anjas mengawasi dari jauh Bisma dan Irene.
"Mas pesen kopi white satu."
"Mas ...eh Mas mau pesen kopi white satu."
Anjas menoleh ke belakang.
Psssttt!
Desis Anjas.
"Eh Mas ini udah haus mau kopi white sekarang." Lagi pria berbaju hitam mengulangi pesanannya pada Anjas.
"Saya lagi sibuk Mas." Tolak Anjas melayani pelanggan satu ini.
"Sibuk apaan dari tadi meluk tiang kayak gini kurang kerjaan." Semprot pelanggan itu.
"Ini misi rahasia Mas atau gini aja Mas bisa gak bikin white kopi sendiri ?"
"Bisa kenapa Mas ?"
"Oke hari ini Mas bikin sendiri ya pesanannya juga buat teman-teman Mas boleh buatin juga kopi apa aja free tapi bikin sendiri silahkan."
"Beneran Mas ?"
"Yoi yaudah sana jangan ganggu saya."
"Baik makasi ya Mas."
Pelanggan itu masuk ke dapur Aren koshop dengan senyum sumringah.
"Ganggu aja tuh orang." Keluh Anjas.
"Bisma percaya aku." Teriak Irene.
Breemmmm!
Bremmmm!
Bunyi gas roda dua Bisma tancap gas meninggalkan Irene. Irene sampai sesenggukan dan langsung Anjas berlari mendekati Irene.
Aw!
Aw!
Teriakan kaget Anjas berkali-kali tabrakan dengan pengunjung yang begitu banyak tiba-tiba datang ke kopishopnya. Sambil menahan sakit di dada dan pundaknya Anjas melihat kemana meja-meja tujuan pengunjung belasan orang ini.
Mata Anjas melek kaget melihat semua pengunjung datang ke meja pelanggan mendapat free kopi tadi.
"Mas Anjas makasi ya kopi gratisnya ini semua teman-teman saya menikmati kopi gratis kopishop Mas." Teriak pemesan kopi white tadi.
Anjas mengulum bibirnya menahan emosinya membludak ingin memaki pelanggan itu tapi ini bukan saatnya karena Irene sedang membutuhkannya membuat Anjas mengabaikan kelakuan gila pelanggan satu itu berpesta kopi gratis hari ini.
"Ren ... Ren ... Ren ... kamu kenapa kok nangis udah ikhlasin Bisma biarkan dia bahagi dengan cewek barunya dan kamu pasti dapet cowok baru kok percaya sama saya." Bisik Anjas sambil mengelap airmata Irene.
Anjas akhirnya tutup kopishopnya dan ia mengantarkan Irene pulang ke kosannya.
"Kamu yakin mau balik ke rumah Bapakmu ?"
"Iya Mas karena Bapak butuh aku saat ini."
"Bapak kamu kenapa ?"
"Dua hari yang lalu Bapak kelelahan dan langsung terkena serangan jantung kronis dan Bapak harus dioperasi."
"Astaghfirullah jadi kamu gak absen kemarin kamu nemenin Bapakmu di rumah sakit ?"
"Iya Mas dan hari ini mau bertemu Bisma minjem duit dia tapi dia takut aku tipu dan dia tak percaya Bapakku sakit butuh biaya banyak karena itu Bisma jauhin aku dan sering marah saat aku minjem duit sama dia."
"Apa jadi kalian berantem bukan karena pacaran lalu putus ?"
"Bukan Mas tapi kami sahabatab sejak kecil hanya soal uang bikin persahabatan kami retak."
Anjas menyesal salah paham dengan Irene dan ia sangat membenci Bisma sama sekali tidak membantu teman lamanya dan merasa takut ditipu. Kemudian Anjas menjual usaha kopishopnya dan membiayai operasi Bapak Irene.
Seiring waktu Bapak Irene dinyatakan sembuh. Anjas sering datang berkunjung ke kediamannya orangtua Irene melihat perkembangan Bapak Irene takut ngotot kerja berat. Di sana Irene dengan sebagian uang buka usaha kecil-kecilan warung kopi biasa untuk menyambung hidup.
"Nak Anjas kapan kesini kamu selalu membawakan oleh-oleh kota Jakarta kesini tapi kapan kamu bawa orangtuamu kesini ?"
Mata Anjas dan Irene melek kaget mendengar pertanyaan Yusuf Bapaknya Irene.
"Bawa orangtua kesini buat apa Pak ?" Tanya Anjas Kaget.
"Buat lamar anak sayalah masa buat lamar saya hehehehee ..."
"Ih Bapak ini ada-ada aja ngomong begitu sama Mas Anjas." Tukas Irene memerah wajahnya.
"Ya kamu juga kapan dia dateng uh senyum-senyum girang toh jadi ya tunggu apalagi selagi Bapak masih hidup ya menikahlah Ndok jangan nanti Bapak udah mati tidak menjadi saksi kebahagiaanmu dunia akhirat."
Brugh!
Irene menghambur memeluk Yusuf dan keduanya menangis haru membuat mata Anjas pun berkaca-kaca.
"Nak Anjas jadi kapan mau ngelamar Irene ?"
"Jika Irene mau sekarang langsung saya lamar saat ini juga Pak."
Irene menyeka airmatanya dan menatap Anjas lalu merebah kepelukan Yusuf lagi malu-malu kucing.
"Irene kesana berdiri dulu hadepin Nak Anjas mau melamarmu buruan nanti dia pegelinu berdiri terus."
Malu-malu kucing Irene berdiri berhadapan dengan Anjas. Dan Anjas membuka cincin yang ada di saku celananya cincin yang sudah lama ingin ia berikan pada Irene tapi terhalangi kehadiran Bisma.
"Ren maukah kamu menikah denganku ?"
"Buruan jawab toh Ndok jangan lama-lama."
Pipi Irene memerah dan senyumnya ditahan membuat cubbynya menggelembung gemesin. Lalu Irene mengangguk berulang-ulang.
"Alhamdulillah anakku punya calon suami."
Anjas tersenyum bahagia begitu pun Irene lalu Anjas mengenakan emasputih ke jari manis Irene. Mereka bertunangan. Dan langsung Anjas pulang menjemput orangtuanya langsung menentukan tanggal pernikahan sederhananya bersama Irene.
Akhirnya Anjas dan Irene menikah lalu mereka tidak bulan madu tapi terus menjalankan usaha warung kopi Irene dan dibantu orangtua Anjas membuat warung kopi Irene semakin besar dan laris manis.
Hingga pada suatu hari Bisma datang ke warung kopi Irene, ia ingin meminjam sedikit uang Irene untuk depe motor barunya karena ia ingin kredit motor supaya cepat dapat motor lagi setelah motor lama terjual demi bisa membeli semua keperluan fashion dan skinkare Agnes sewaktu jadian dulu setelah motor Bisma terjual langsung ia ditinggal Agnes mentah-mentah.
Tapi bukannya tak memberi pinjaman tapi tak ada simpanan jumlah banyak hanya untuk putar modal dan kebutuhan sehari-hari karena baru saja Anjas membeli ruko baru dan segala perlengkapan kopi shop seperti usaha lamanya dulu. Dan sampai sekarang kopi racikan istri Anjas menggoda lidah semua usia dan terkenal sampai ke Malaysia. Akhinya mereka hidup bahagia ditambah Irene sudah berbadan dua kebahagiaan tak terkira.
Tamat.
Nah bagiamana cerpen ini Kak sudah kukasih kremes-kremes konflik jadi enggak datar plong endinngnya kayak kisah Audy.