My Diary, 17 Februari 2021
Masih teringat jelas di ingatanku akan pertemuan pertama kita. Pertemuan tak terduga yang selalu ku syukuri sampai saat ini. Pertemuan yang mengikat kita dalam sebuah hubungan persahabatan. Hubungan yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik. Sampai rasa itu hadir dalam hati ini. Hati yang menyalah artikan setiap ucapan dan sikapmu padaku. Hati yang membuat rasa ini tumbuh dengan sendirinya. Rasa yang tak seharusnya ada diantara persahabatan ini. Rasa yang sampai kapan pun tak bisa terucap. Inilah kesalahanku. Kini aku percaya, tidak ada persahabatan yang murni antara lelaki dan perempuan. Akan ada rasa yang tumbuh dari salah satu atau mungkin keduanya akan saling mencintai. Aku ingin berakhir dengan kita yang saling mencintai. Bukan hanya aku...
Tapi nyatanya sampai detik ini hanya aku yang mencintai, tanpa ada hadirnya cintamu.
Kamu bagaikan senja di sore hari. Aku bisa menikmati hangatnya sinarmu, tapi tidak dengan sentuhanmu. Kamu lelaki pertama yang hadir dalam hidupku. Lelaki sabar, sopan dan penyayang. Lelaki yang menjaga kehormatan seorang wanita. Senyum itu, senyum yang ingin ku miliki. Dan tidak pernah sedikit pun aku mendengar suara bentakanmu. Pantaskah bila aku menjadi teman hidupmu, melebihi seorang sahabat? Pantaskah aku meminjam namamu untuk slalu ku sebut dalam setiap doaku? Pantaskah aku meminta pada Tuhan untuk menyatukan kita dalam ikatan sakral yang ku dambakan setiap saat? Pantaskah aku mendapatkan cinta sucimu? Dan pantaskah aku bersanding denganmu? Pantaskah?
Dan jika Tuhan tidak merestui. Apa yang akan aku lakukan saat melihatmu bersanding dengan perempuan lain? Bagaimana caraku menyesuaikan hati ini dengan kenyataan, jika memang kamu bukan jodohku? Dan sampai kapan aku terperangkap dalan perasaan sepihak ini? Akankah ada jawaban untuk ku?
Amaira Darwin.
****
Malam berganti pagi, begitu juga sang mentari kembali menyinari bumi dengan kehangatannya. Menggantikan indahnya rembulan malam. Suara kicauan burung bersautan bersama semilir angin pagi menyejukkan. Tetesan embun malam masih terlihat dihamparan rumput hijau nan luas. Suasana asri khas pedesaan. Semangat baru pun hadir untuk memulai pagi yang indah.
Sama halnya dengan Amaira atau sering dipanggil Ara. Ia sangat bersemangat. Pagi ini ia sudah menyelesaikan pekerjaan rumah. Senyumnya tak pernah luntur sedari tadi. Matanya berbinar memancarkan kebahagian. Sesekali ia menatap jam dinding di kamarnya. Baginya waktu berputar sangat lambat, tapi ia tidak ingin waktu cepat berlalu.
Jam menunjukkan pukul 09.54, ia beranjak mengambil handuk menuju kamar mandi tak lupa membawa baju ganti ditangannya. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan celana jeans potongan selutut dan kaos santai berwarna toska. Ara melangkah menuju meja rias. Menyisir rambut hitam panjangnya menjadi satu ikatan, menggunakan handbody dan parfum, tak lupa ia memakai bedak bayi.
Ting...
Suara ponsel Ara di atas ranjangnya. Ia bangkit melangkah meraih ponselnya. Sudut bibirnya tertarik saat melihat nama pengirim pesan. Ia membalas pesan dari seseorang diseberang sana.
Mau titip apa? Aku dah dijalan, bentar lagi sampai rumahmu.
10.37
Es krim aja, jangan lupa ya. Es krim ;)
10.38
Yakin cuma es krim? Gak mau yang lain?
10.38
Enggak, udah es krim aja ;)
10.49
Senyum Ara tak pernah luntur saat membaca dan membalas pesan singkat itu. Ia terlihat sangat bahagia, seakan hari ini adalah hari yang ia nantikan. Ara menoleh ke arah nakas disamping ranjang tidur, dimana pigora kecil berdiri menampilkan foto seorang lelaki dan dirinya yang tersenyum ke arah kamera.
Foto itu mereka ambil saat sedang merayakan hari ulang tahun Ara yang ke 19 tahun. Sekaligus foto terakhir, sebelum mereka memutuskan untuk mengejar cita cita mereka. Dan kini, setelah satu tahun berlalu mereka memutuskan untuk berkumpul santai di hari libur kerja ini. Ara sangat merindukan lelaki yang selama ini slalu berada disampingnya. Berpisah selama satu tahun membuat rasa rindu semakin membuncah.
BRUUMM BRUUUMMM
Terdengar suara motor sport yang terparkir dihalaman depan rumah Ara. Ara yang mendengar dari kamar segera berlari menuju pintu ruang tamu. Sesaat ia terdiam merasakan debaran, yang selama ini slalu ia rasakan setiap kali akan bertemu dengan lelaki itu. Perlahan ia membuka pintu, memperlihatkan pria yang selama ini ia rindukan. Pria itu tersenyum melangkah mendekati Ara yang terdiam berdiri di ambang pintu dengan sekantong makanan yang ia bawakan untuk Ara.
Dia Kevin Aditama, sahabat Ara semasa sekolah sampai saat ini. Lelaki yang diam diam ia sukai. Lelaki yang diam diam ia kagumi. Ara membalas senyum lelaki didepannya.
‘Tuhan senyum itu masih sama. Masih sama seperti awal kita bertemu. Senyum yang selama ini ku rindukan. Sekarang ia berdiri dihadapku, lelaki yang setahun ini tidak ku temui karna kesibukan masing masing‘ batin Ara.
“Ini es krimnya, gimana dah siap buat keluar?” tanya Kevin sambil memberikan sekantong plastik berisi es krim kesukaan Ara.
“Makasih es krimnya, emang mau keluar kemana? Gak masuk rumah dulu aku buatin kopi kesukaan kamu.” sahut Ara meraih kantong plastik tersebut.
“Udah gih ikut aja sana cepet ganti baju dulu. Aku tunggu disini, cepetan sana. Sekalian nyobain motor baru aku, hasil kerja keras aku“ ucap Kevin sambil mendorong bahu Ara masuk, dan ia menunggu di ruang tamu berbincang dengan nenek Ara. Karna Ara hanya tinggal berdua dengan neneknya, orang tuanya bekerja diluar kota.
Ara tersenyum saat keluar dari kamar melihat keakraban neneknya dan Kevin. Pemandangan yang sangat ia dambakan. Kevin tersenyum melihat penampilan sahabatnya yang tak pernah berubah, celana jean hitam sama dengannya dan hoodie abu abu warna kesukaan Ara. Tak lupa rambut yang ia kuncir ekor kuda.
“Baiklah nek, saya ijin bawa Ara keluar ya nek. Cuma jalan deket deket sini aja kok dan gak akan lama” ucap Kevin sambil menyalami tangan nenek Ara.
“Iya, ingat pesan nenek jangan ngebut ngebut dan tetap hati hati” pesan nenek
“Siap nek, kalo gitu kita pergi dulu ya nek” jawab Kevin menaiki motor sport miliknya.
“Ara pergi sama Kevin dulu ya nek” pamit Ara lalu duduk di jok belakang.
“Kita pergi dulu nek. Assalammualaikum“ ucap mereka bersamaan pada nenek.
“Waalaikumsalam, hati hati nak Kevin” jawab nenek.
Kevin mengangguk dan mulai menjalankan motor sportnya. Ara tersenyum memegang bahu Kevin sepanjang perjalanan. Percakapan dan canda tawa menghiasi kebersamaan mereka. Kebersamaan yang sangat dirindukan Ara. Ara terus mengukir setiap kejadian hari ini dalam memori ingatannya. Senyumnya, tawanya, suaranya dan sikap Kevin padanya. Tidak ada sedikit pun yang terlewatkan. Ia tidak ingin waktu cepat berlalu. Karena ia sadar waktu yang ia lalui saat ini sangat berharga. Kini Ara percaya akan pentingnya sebuah waktu. Karena yang terjadi hari ini belum tentu terulang kembali nantinya. Bisa saja yang terjadi hari ini, akan menjadi penutup kenangan indah dihati.