Aku Ben Aksara, seorang lelaki yang sangat pendiam. Posisiku bagaikan kerikil batu di pinggir jalan. Tidak terlihat dan sering diabaikan. Hanya bisa pasrah ketika dirundung. Bahkan memendam rasa kala mencintai. Apapun yang terjadi bibirku terus mengatup rapat, seakan terlalu enggan untuk bicara.
Tidak hanya di sekolah, tapi juga di rumah. Ayah dan Ibuku lebih memilih pekerjaan mereka dibanding menghabiskan waktu denganku.
Suatu hari, kelasku kedatangan anak baru. Seorang siswi yang agak nyeleneh. Bagaimana tidak? dia sudah langsung mendapatkan teguran guru gara-gara memiliki rambut yang dicat merah muda.
Namanya Alena, seorang gadis yang selalu berusaha mendekatiku sejak pertamakali masuk ke sekolah. Entah apa yang membuatnya tertarik dengan diriku yang hanya seorang pecundang besar ini.
"Ben, nih buat kamu!" Alena menyodorkan sebatang cokelat ke arahku. Namun aku sama sekali tidak menghiraukan, dan malah beranjak pergi meninggalkannya.
"Ben! mau kemana sih!" sekarang Alena mencoba menyamakan langkahnya denganku.
"Ke kantin ya?" tangannya perlahan melingkar di pundakku.
Aku hanya meresponnya dengan kerutan dahi, sembari menghempaskan tangan Alena. Tetapi gadis itu hanya merespon dengan kekeh menjengkelkannya. Senyuman terpatri menghiasi raut wajahnya.
Jujur aku sangat terganggu dengan kehadirannya, karena dia bukan seorang murid yang benar. Keluyuran sana sini, bahkan selalu membangkang perintah para guru. Reputasiku jelas akan terpengaruh dengan kehadiran Alena yang selalu mengekori bagaikan anak ayam dan induknya.
Sudah beberapa minggu aku menghabiskan waktu bersama Alena. Meskipun aku terus mendiamkannya, gadis itu tetap saja tak henti berceloteh layaknya burung beo.
***
Suatu hari di tengah gerimis, aku melangkahkan kaki untuk segera pulang. Dari kejauhan terlihat seorang gadis dengan rambut merah muda yang tidak lain adalah Alena. Padahal biasanya dia hanya mengikutiku di sekolah saja, sekarang tampaknya gadis tersebut menginginkan lebih dari itu. Kala melihat penampakannya, aku hanya bisa berdecak kesal.
"Ben! udah lama aku nunggu loh!" sapa Alena yang perlahan mendekat.
"Al! cukup! cukup sudah!" aku memekik keras. Hingga membuat mata Alena membola. Dia terkejut mendengar suaraku untuk yang pertama kalinya.
"Akhirnya..." lirih Alena.
"Al kumohon jangan dekati aku lagi!" dahiku mengernyit dengan posisi kepala yang menunduk, karena mataku enggan untuk menatap ke arahnya.
"Ben! kamu mau tahu alasan aku terus mendekatimu?" tangan Alena yang lembut menyentuh kedua pipiku, hal itu sontak membuat pupil mataku membesar. Sorot mata Alena terlihat begitu dalam.
"Karena kita sama... sama-sama kesepian..."sambungnya lagi, wajah Alena semakin mendekat.
"A-a-apa maksudmu?" sahutku sembari mendorong Alena dengan pelan untuk mejauh. Gadis itu pun menyilangkan tangannya di dada dan berkata, "Kamu... sungguh tidak mengerti? atau sedang berpura-pura tak paham?"
"Iya aku tidak paham sama sekali! menjauhlah! Kamu adalah parasit yang sangat mengganggu!!" pekikku yang kemudian langsung melingus pergi dari hadapannya. Gadis tersebut hanya mematung di tempat, dan tidak berusaha mengekori lagi.
Hari itu gerimis menjadi saksi, bahwa pertemuanku dan Alena adalah yang terakhir, sebelum dia tiba-tiba menghilang bagai ditelan bumi. Bahkan para guru pun sama sekali tidak tahu alasan Alena berhenti dari sekolah, padahal dia baru masuk sekitar dua bulanan.
***
Di sekolah aku mulai kembali menjalani semuanya sendirian. Memang terasa lega, Namun tetap saja benakku selalu bertanya-tanya tentang keberadaan Alena sekarang. Apa dia berhenti sekolah karena aku? Apa yang terjadi kepadanya?
Tidak ada yang peduli dengan menghilangnya Alena dari sekolah, baik para murid atau pun guru. Mereka terlihat tak acuh akan hal tersebut. Toh Alena memang sudah dianggap sebagai gadis pembuat onar di sekolah. Sama sepertiku, mungkin semua orang menganggapnya layaknya parasit.
Hari berganti hari, sekarang batang hidung Alena tidak pernah terlihat sedikit pun selama dua minggu. Aku semakin penasaran, ada sedikit kekhawatiran yang benar-benar mengganggu. Hingga akhirnya aku mencoba memberanikan diri untuk datang ke rumah Alena.
Tok! Tok! Tok!
Aku mengetuk pintu rumah Alena. Kala itu hari sudah lumayan sore, bahkan sang surya hampir tergelincir ke ufuk barat. Aku memang biasa pulang terlambat, karena meniru kebiasaan ayah dan ibu.
Ceklek!
Pintu perlahan terbuka, namun aku tidak melihat seorang pun dari balik pintu. "Alena?" panggilku untuk mencoba memastikan ada atau tidaknya sang penghuni rumah.
"Hei Ben!" jantungku terasa seperti disambar petir tatkala Alena tiba-tiba muncul dari samping.
"Al, kamu membuatku kaget tau!" dahiku mengernyit. Lagi-lagi Alena hanya merespon dengan kekeh menjengkelkannya.
"Ngapain kamu cari aku, kangen ya?" ujar Alena yang tentu saja langsung membuat pipiku tersipu malu.
"Enggak kok! aku disuruh bu Chika untuk menanyakan alasanmu, karena sudah tidak masuk sekolah selama dua minggu belakangan," bantahku gelagapan, yang dipenuhi dengan kalimat kebohongan.
"Alasan?" gumam Alena, raut wajahnya berubah menjadi sendu. Aku menganggukkan kepala seraya memandangi wajahnya. Ada yang aneh, kulitnya terlihat pucat kala itu.
"Kamu tidak apa-apa kan Al?" tanyaku.
"Aku hanya kesepian Ben..." sahutnya lirih, mata gadis itu mulai berembun.
"Maafkan perkataanku tempo hari ya, aku tidak bermaksud--"
"Tidak Ben, semuanya bukan karena kamu!" Alena menyela perkataanku dan sekarang dia menampakkan ekspresi yang sedikit bersemangat.
"Ikut aku yuk!" ajaknya sambil mencengkeram lenganku.
Matahari sudah menghilang, gelap mulai menyelimuti perkotaan. Aku sudah mulai bisa menikmati kebersamaan dengan Alena. Dia benar-benar orang yang sangat menyenangkan. Mungkin kecocokan kami terjadi karena adanya kesamaan. Seperti yang dikatakan Alena, kami sama-sama kesepian.
Alena mengajakku duduk di taman bermain anak di dekat rumahnya. Kami berdua duduk di ayunan sembari menikmati es krim cokelat.
"Al, boleh aku tahu alasan kamu lebih memilih mendekatiku, dibanding murid-murid lainnya di sekolah?" aku mencoba memecah kesunyian yang terjadi selang beberapa detik.
"Karena kamu selalu sendirian Ben... dimataku kau sangat menonjol," jelas Alena.
"Benarkah? bukan karena aku tampan ya?"
"Idih! kepedean banget!" kekeh Alena. Kali ini aku ikut tertawa kecil bersamanya.
"Ben, aku mau pergi... makanya berhenti dari sekolah..." ucapan Alena itu sontak membuatku kaget.
"Maaf ya..." sambungnya lirih. "Pergi kema--" tanyaku dengan dahi mengernyit.
"Sudah! aku mau pulang sekarang nih, malam sudah larut!" ucap Alena seraya beridiri dari ayunan, tampaknya dia tidak berniat menjawab pertanyaan yang aku lontarkan. Kami pun segera melangkahkan kaki untuk pulang. Tidak butuh waktu lama, kami berdua sudah tiba di depan rumah Alena.
Alena berjalan menuju pintu rumahnya, namun tiba-tiba dia langsung berbalik dan menempelkan bibirnya ke pipiku.
Deg!
Jantungku sontak berdebar tidak karuan. Selanjutnya dia berkata, "Ben! apapun yang terjadi, berjanjilah padaku, kamu harus bisa menghilangkan rasa kesepianmu. Jagalah dirimu baik-baik!"
Bruk!
Gadis tersebut langsung berlari dan menutup pintu sebelum aku menyahut ucapannya. Aku hanya bisa menghela nafas panjang dan segera melangkah untuk pulang.
***
Keesokan harinya saat di sekolah. Ada kabar yang sangat mengejutkan, dan begitu menusuk hati.
"Alena ditemukan tidak bernyawa di rumahnya dengan bersimbah darah, katanya dia diperkosa dan dibunuh sama ayahnya sendiri..." bisik Ari si ketua kelas.
Nafasku menjadi naik turun dalam tempo cepat. Aku benar-benar tidak percaya. Padahal kemarin malam dia terlihat baik-baik saja. Tanpa pikir panjang aku segera beranjak pergi ke rumah Alena. Teguran teman sekelas dan guru tidak aku gubris sama sekali. Untuk yang pertama kalinya aku membolos dari sekolah. Persetan dengan reputasi!
Sesampainya di depan rumah Alena. Hatiku semakin sakit bahkan tidak bisa lagi membendung air mata. Terutama saat melihat garis polisi mengelilingi rumah gadis itu. Tangan ayahnya Alena juga tampak diborgol. Kakiku rasanya melemah, dan tidak terasa terduduk di tanah.
Bahkan perbincangan para polisi semakin membuatku tercengang. Katanya Alena sudah meninggal dua minggu yang lalu. Lalu bagaimana bisa Alena menghabiskan waktu bersamaku kemarin malam? tidak ada yang tahu.
Yang jelas kebersamaan pertama dan terakhirku dengan Alena telah mengubah segalanya.
Aku mulai terbuka untuk berbicara dengan orang lain, meski harus menaklukan kecanggungan sebisa mungkin. Bahkan sekarang aku baru tahu bahwa ayah dan ibu selalu peduli. Sebab di suatu malam, aku memergoki mereka menengok ke kamar dan menatapku yang sedang tertidur. Semuanya berubah, berkat seorang gadis yang seharusnya tidak aku sebut parasit.