Hidup begitu tak adil.
Saat yang kaya semakin kaya dan si miskin makin tak berdaya, mereka tak memberi keseimbangan diantara manusia.
Itulah yang kupikir hingga detik ini.
Kala mataku memandang langit kelabu, ditaman belakang sebuah mansion, bersama mata sembab mempertanyakan alasanku dilahirkan.
"Pasti ada yang bisa kulakukan, dengan tangan ini" Ujarku berulang
Ini tentang ekonomi.
Situasi umum yang dominan menyerang masyarakat kelas menengah sampai bawah. Ini hal biasa, bahwa manusia seperti kami memperjuangkan tiap keringat hari ini, untuk menjalani kehidupan dihari esok.
Bertahan disetiap detik demi hidup sehari lebih lama. Bahkan tanpa mengetahui esok matahari masih dilihat mata atau tidak, kami adalah makhluk egois yang berpikir semua akan baik baik saja.
Manusia...
"Jadi, sudah kau putuskan?"
Terkesiap, kehadiran aura miliknya membuatku terbatu. Aku pun terdiam tak menanggapi kalimat itu.
"Jadi belum ya?" Ujarnya lagi
Berada di belakangku, itulah suara dari seorang pria berdasi yang sangat enggan kutemui. Malas! Rasanya malas melihat dia yang berhasil meyakinkanku tuk menjual hidup ini.
Aku telah termakan
"Beri aku waktu" Jawabku
"Lagi?" Dia menghela
"Bukankah itu hanya membuat uang yang akan kau terima nantinya berkurang? Membuang waktu seperti ini"
"Aku tau"
"Lalu apa yang kau bingungkan? Apa kau khawatir akan rasa sakit? Kubilang bukan, kau dan keluargamu akan baik baik saja"
"Huh?"
Sedikit menggertak. Aku tak percaya yang baru dikatakannya.
Apa dia bilang? Akan baik baik saja?
Hah?!
Memang apa yang dia ketahui tentang hidup dan perjuangan? Dia bahkan tak mengenal rasanya sakit dan putus asa, tapi kini bicara seakan merasakan semuanya
Makhluk seperti dia?!
"Woah, tatapan yang bagus. Apa aku salah bicara?"
Aku berdecak "Ini hidup ku, aku yang memutuskan kapan!" Kataku
"Tapi itu juga bagianku sekarang"
"Berisik!"
Terdiam sebentar. Mendengar kalimatku barusan mungkin membuatnya geram. Tapi aku tidak takut jikapun terbunuh olehnya sekarang.
"Kau benar" jawabnya entah sejak kapan duduk disampingku
"Tapi kini aku juga terlibat. Kita sepakat. Kau membutuhkan uang dan aku membutuhkan darah yang mengalir ditubuh mu. Imbalannya akan kuberi sebanyak yang kau mau, asal kau menjual hidupmu padaku. Itu mutual"
"Pffft" Terkekeh pelan, aku menatapnya geli
Apa apaan dia? Apanya yang berlabel CEO Muda tampan, yang memiliki banyak aset besar dikota, jika sebenarnya hanyalah seorang pria...
"Tak berhati" lirihku disambut gelak tawa nya. Dia tak tersinggung?
"Hahh, jika aku memiliki hati, aku tidak perlu repot membeli hidupmu" Katanya beranjak kedepan ku
"Makanya kuharap, waktu yang kau butuhkan tidak lebih lama. Kau tau bukan,hasratku bisa membeludak kapan saja" ujarnya. Lantas memandang lezat pada leherku yang tertutup rambut, taring kecil itu mencuat.
"Tak kusangka akan melihat seorang pria dewasa berbicara soal hasrat didepan anak SMA. Mesum" Cibir ku
"Apa kau takut?"
Dia bercanda?
"Menemui seorang pembunuh berantai yang tengah diburu polisi, mengetahui bahwa jati diri pembunuh itu adalah vampire. Kau pikir aku akan berada disini jika aku takut?"
"Pffft!! Sungguh, inilah yang kusuka dari dirimu, kau berbeda Athely" Ia menutup mulut
"Ohhhh... Ini membuatku makin tak sabar mencicipi rasa dari tetes pertamamu. Tolong jaga baik tubuh itu"
Shit!
"Kau tidak perlu mengingatkanku"
Lantas berjalan melewati nya, sempat kutepati senyum nan indah ia tampilkan diwajah pucatnya. Dia itu...
Seakan sengaja memberiku pemandangan yang mungkin tak bisa lagi ku saksikan
"Aku permisi, Tuan Rael"
.......
Meninggalkan Mansion yang berada di tepi kota, kaki ku mulai menggoes pedal sepeda menuju istana.
Benar
Itulah kediaman berharga yang sejak dulu kumiliki, satu satunya tempatku untuk berpulang. Rumahku
"Hiks"
Sial!
Kini terpikir olehku, kalau dalam beberapa hari kedepan aku tidak bisa melihat tempat itu lagi.
Tidak lagi, bahkan senyum, kehangatan, dan kebersamaan yang kami miliki di gubuk kecil itu. Hal hal berharga yang tinggalkan demi nominal uang. Akan menjadi kenangan
"Ughh! Hentikan Athel! Kau tidak boleh memikirkannya..."
Ohh astaga
Apa yang kupikirkan?! Bukankah semua akan berjalan baik jika aku percaya?!
Lantas mengelap air mata yang terus mengalir, hatiku mencoba kuat dengan berpikir setidaknya
Ada tempat yang lebih bagus untuk ibu dan adikku bernaung setelah kepergianku nanti. Mereka juga tidak perlu dibayangi tagihan hutang yang selama ini menyiksa kami.
Mereka akan bahagia, meski tanpaku.
Benar. Aku harus kuat!
Akan ku nikmati kebersamaan kami untuk yang terakhir.
Aku harus tersenyum
...........
3 hari kemudian
Kembali seperti janjiku pada tuan Rael
Aku diminta memasuki lantai dua mansion yang selama ini adalah wilayah terlarang.
Langkahku berpadu
Menyaksikan arsitektur luar biasa di tiap dinding, mataku terpukau melihat salah satu sudut yang menggambarkan jelas sebuah sayap dan seorang pria.
Aku pun berjalan kearahnya.
"Eh?"
Apa ini...
Kupikir ini hanya patung pahat biasa yang mencerminkan suatu makna, namun setelah kuteliti lagi, entah mengapa ada sesuatu yang janggal disana.
"Dari sisi lain, pria ini tidak memiliki sayap" Ujarku
Sadar sayap yang terpahat adalah milik seorang wanita. Aku terkejut bahwa kehadirannya baru nampak setelah diriku berada 45 derajat, di depan tangga.
"Ini menakjubkan" Pujiku, lalu
"Kau menyadarinya?"
"Huh?"
Menoleh melihat dia, tanganku lantas menggaruk tengkuk. Ohh tidak, aku sudah tak sopan melihat lihat rumah orang.
"Tuan Rael"
Pria itu berjalan menghampiri "Aku menunggumu sejak tadi, tapi kau tidak kunjung datang" ujarnya
"Aku baru akan kesana" elakku, dia pun terkekeh
"Sungguh? Tapi tak apa, aku tidak akan marah. Aku bukan pria jahat yang memaksa seorang gadis datang tanpa kemauannya. Jadi nikmati saja waktumu"
Deg
"Oh.. kau benar"
Berpikir kembali bahwa kedatanganku untuk memberikan hidup pada seorang vampire, bukankah aku nampak terlalu bahagia ?
"Untuk manusia yang akan tiada, kamu cukup bersemangat, ya" tuan Rael tersenyum
Haha!
Mengapa tepat sekali!
"Aku anggap itu pujian"
"Sama sama kembali. Nah... Kau sudah yakin, kali ini?" Tanya Tuan Rael, aku pun mengangguk
"Meski aku tak menyebut ciri khusus dari rumah yang kuingin, kau sudah memberi lebih dari yang kuharap. Fasilitas, kendaraan, pendidikan untuk Ethan, bahkan uang yang menjamin kehidupan keluargaku sudah kau beri. Jadi tak ada alasan lagi untukku lari"
Aku mengulur tangan
"Kini giliranmu mendapat apa yang kau mau" Jelasku
Menatap yakin padanya yang kini membeku, dapat kulihat segaris senyum mulai merekah.
"Jangan berubah pikiran, ya" ujarnya yang langsung meraih pinggangku tanpa ragu.
Aku diminta terpejam agar ia dapat mengikat sebuah kain penutup mata. Lalu tak lama dituntun, ia membawaku masuk kesebuah ruangan dilantai itu.
Inilah akhir dari hidupku. Menjadi santapan seorang vampire.
Itu konyol bukan?
Namun mengingat awal pertemuan kami, sedari awal tuan Rael telah membantuku. Saat aku hampir tertabrak bus, Tuan Rael menyelamatkanku, bahkan membayar tagihan rumah sakit ibu yang kala itu sedang ku bingungkan.
Jadi ini tak lebihnya balas budi.
Aku tidak boleh ragu
Apalagi alasanku melakukan perjanjian ini demi mereka. Demi memberi kehidupan yang layak pada ibu dan adikku dirumah.
Aku sendiri sudah menerima cukup waktu yang memuat kenangan manis bersama keluarga. Aku harus sadar semua itu tak terlepas dari kesabaran tuan Rael yang mau menunggu. Karena itu sungguh! aku tidak akan menyesal
Aku tidak akan menyesali keputusan ini.
Tidak akan
"ACKKK!"
Menggelinjang kuat, mataku terbuka menahan rasa sakit yang tiba tiba menjalar.
Shhh Srrrulp Srrlp
"A.. ah! Hngh!!!"
SAKIT!
Apa ini?!
Darah yang dihisap tuan Rael lewat Nadi dileherku. Rasanya sangat menyakitkan sampai tak lagi dapat ku hirup udara dengan benar.
Sesak !!!
Tajam !!!
Ini lebih dari menyakitkan kala panjang dari gigi taringnya dapat kurasakan! Mereka menancap kuat! Tubuhku pun melemas sadar sudah banyak darah yang menghilang.
Ibu...
Kini teringat wajah ibu dan Ethan, air mataku mengalir deras.
Seperti sudah saatnya, pandanganku yang sejak tadi gelap menjadi terang, sampai tiba tiba secercah cahaya dapat kulihat, rasa sakitku ikut menghilang bersamaan sebuah suara yang memanggil
"My eve"
Suara itu membalutku dalam kehangatannya diujung kata. Mendekapku seakan akulah satu satunya. Suara ini
Tuan Rael
..........
Athelya
(End)