Tepat di seberang jendela kamar ini, selalu kutemukan dia, seorang gadis cantik, yang tidak kuketahui namanya, maka kupanggil saja dia Jasmine, nama mantan kekasihku yang tewas 2 tahun lalu.
Kulambaikan tanganku, dia memandangku dengan senyumnya yang manis dan balik melambai, kuperhatikan dengan seksama dia membaca buku yang sama lagi, namun aku tidak terlalu fokus dengan judul buku tersebut, aku memandang lekat wajah Jasmine yang sendu sembari menikmati buku tersebut lembar demi lembar, sambil sesekali tertawa kecil memandang balik padaku.
Apa? Apa yang kau pikirkan? Apakah kau memikirkan apa yang kupikirkan?
Kurasakan angin malam ini mengantarkan pertanyaan-pertanyaan lain yang belum terjawab, di jendelanya, masuk ke dalam kamarnya yang hangat, dengan aroma khas bunga melati.
Karena dari situlah asal usul namamu bukan?
Dia mengangguk. Kemudian disusul gerimis, dan kutemukan diriku terbangun dan melihat jam menunjukan pukul 3 pagi.
Aku memandang ke seberang kamarku. Tidak ada jendela, tidak ada kamar, dan tidak ada Jasmine. Hanya hamparan gedung-gedung pencakar langit.
Terdengar suara ketukan di pintu.
"Malam. Obatnya sudah diminum, Pak?"
Suaranya mengingatkanku pada Jasmine. Untuk kesekian kalinya.