Air laut mulai surut, ia memancarkan cahaya yang dipantulkan dari mentari. Angin yang sejuk datang dan berlalu. Perlahan tapi pasti, seorang pria berambut panjang kini terlihat.
Dengan punggung yang terluka, baju yang sobek, dan beberapa rumput laut yang menempel pada tubuhnya, ia perlahan membuka matanya dan bangkit.
Pria itu terperanjat, ia seperti mencari sesuatu.
"Itu dia!" Ia segera mengambil sebuah batu kuno yang bertuliskan huruf-huruf surya. Lalu segera beranjak dari tempat itu.
Beberapa saat setelah ia memasuki perkebunan di dekat pantai itu, seorang lelaki paruh baya berpidato di depan khalayak ramai. Karena penasaran, pria itu menghampiri riungan tersebut.
"Jadi sebenarnya tanah ini adalah tanah persembahan dari Shuzaku"
Pria itu menyeret beberapa orang, memaksakan tubuhnya untuk masuk.
"Kita tidak diusir oleh ras manusia putih, nenek moyang kita meninggalkan lingkaran dalam karena penghormatan kita terhadap hadiah dari Shuzaku, leluhur Vampir. Maka dari itu, jangan pernah berfikir untuk membinasakan Ras kita sendiri!".
Pria itu nampak setuju dengan pidato yang di sampaikan oleh lelaki paruh baya itu. Namun tidak bagi yang lain, mereka tampak tidak setuju dan menganggapnya sebagai lelucon.
Semua orang menertawakan lelaki paruh baya itu, dam seseorang berkata dengan lantang.
"Apakah anda bisa membawakan bukti yang kuat?"
Lelaki paruh baya itu terdiam. Nada suaranya menjadi gagap. Ia nampak bingung.
Sementara semua orang menertawakannya, Pria pendatang itu dengan berani menaiki panggung, ia menunjukan prasasti kuno yang dipengangnya, lalu berkata dengan lantang.
"Prasasti ini! Disini ditulis bahwa, yang dikatakan oleh bapak ini adalah benar"
Sejenak semua orang terdiam, namun salah seorang diantara mereka angkat bicara.
"Kami tidak bisa ditipu dengan trik murahan. Batu itu kamu ambil di jurang sebelah sana lalu kamu tulis dengan tulisanmu sendiri."
Semua orang kembali menertawakan mereka. Tidak terima dirinya dilecehkan, Pria itu menghembuskan Api kepada seluruh penonton. Namun dengan sigap seseorang mengangkat tanah di sekeliling penonton.
Semua penonton marah. "Suku api?... Beginikah cara kalian untuk membenarkan pernyataan kalian? Sungguh menjijikan!."
Akhirnya mereka beradu mulut, hingga pria paruh baya itu menenangkan pria pendatang itu, dan membawanya turun dari panggung, dan selama perjalanan, semuanya melempari mereka berdua dengan sampah.
Pria paruh baya itu membawa pria suku api itu kerumahnya yang tidak jauh dari tempat ia berpidato.
"Ayah, siapa dia?" Seorang wanita tiba tiba muncul dari dalam rumah tersebut.
Pria paruh baya itu menatap pria suku api itu dengan heran karena ia juga belum tahu siapa yang ia bawa.
"Saya Bayazid Ceceli, saya dari kekaisaran Surya Agung."
Wanita itu nampak terganggu dengan kehadiran suku api itu. Sementara Pria paruh baya itu mengenalkan diri.
"Saya Jean, dan ini putri saya Amira, tinggallah bersama kami!"
"Tinggal bersama?" Amira menaikan nada bicaranya. "Ayah tahu kan kita itu orang miskin, bagaimana mungkin kita menambah seseorang dalam hidup kita?"
"Amira, bagaimana pun kita sesama manusia harus saling tolong menolong".
"Tolong menolong? Ayah tahu kan tetangga-tetangga kita sering mengolok-olok kita, teman-temanku, semuanya, dimana letak kasih yang selalu Ayah bicarakan? Itu semua hanya omong kos..."
"Cukup Amira! Ayah tidak mendidikmu menjadi pendendam!".
"Oke, terserah Ayah, tapi ingat!" Amira menunjuk Bayazid "kamu harus bekerja!".
Singkat cerita, Akhirnya mereka hidup bertiga dalam sebuah gubuk yang kecil dan sederhana. Pak Jean menceritakan perjalanannya mengelilingi Dunia serta kematian istrinya.
"Semenjak saat itu Amira terpukul, terlebih setelah saya menjelaskan fakta sejarah yang saya temui selama mengelilingi Dunia, saya dan Amira selalu dijadikan bahan ejekan, mungkin itulah yang membuat wataknya maenjadi keras."
Hari silih datang dan berganti, Bayazid membantu Pak Jean berdagang, walaupun kerap kali, pasti ada saja orang yang mengusili Pak Jean, beberapa kali Bayazid marah dan hendak memberinya pelajaran, nun Pak Jean tetap melarangnya.
Hingga suatu ketika, Amira dan Bayazid merawat Pak Jean yang jatuh sakit. Selalu dengan tatapan yang sinis, Amira memerintahkan Bayazid untuk pergi membeli obat. Tapi sepertinya Bayazid sudah mencapai batas, ia tidak tahan diperlakukan sebagai budak oleh Amira.
Baru saat itu ia dengan berani membentak Amira dihadapan Ayahnya yang sedang sakit. Raut wajah Amira berubah, tubuhnya bergetar, sepertinya ia kaget dengan apa yang barusan ia alami. Ia pun segera beranjak pergi untuk membeli obat.
Masih dalam lingkup emosi, Pak Jean mencoba menenangkannya.
"Bayazid, redamlah amarahmu! Jika kau tak mampu memadamkannya apa bedanya kau dengan Amira? Tapi ya sudahlah Amira memang sudah sepantasnya mendapatkan itu".
Suasana menjadi hening, Bayazid tidak berkata apa-apa, ia merasa bahwa apa yang ia lakukan berlebihan. Ia memutuskan untuk pergi menemui Amira untuk meminta maaf.
"Ahh!"
Amira tergeletak di depan lima orang warga, dengan seluruh wajah dan tubuhnya nya dipenuhi oleh lumpur.
"Nahh ini baru yang namanya Vampir" ucap seseorang diantara mereka.
"Dan kalian adalah makanannya"
Orang orang itu terperanjat mendengar ucapan itu.
"Kamu suku api yang sama bodohnya itukan? mau apa kamu kesini? mau dimake up juga?"
"Orang bodoh adalah mereka yang tak mampu menghargai orang lain".
Merasa ditantang oleh ucapan Bayazid, mereka semua melemparinya dengan Lumpur.
"Gua kira, gua bakal ditelen oleh bumi, sepertinya kalian bukan pengendali bumi ya? mau gua make upin?"
Bayazid mengeluarkan api éari jentikan jarinya.
Melihat hal itu orang orang itu lari terbirit birit.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Jangan sok jadi pahlawan! kau tahu? kau memperburuk keluargaku di mata orang-orang, harusnya kau memang tidak pernah hadir di keluargaku"
Berlinang air mata, Amira segera meninggalkan tempat itu.
Kenapa dia? Kenapa selalu saja seperti itu? Terlebih... Apa ini? Kenapa rasanya sakit sekali? Baru kali ini aku merasakan rasa yang sesakit ini... Tapi apa ini? Apakah ini yang orang orang maksud sebagai cinta? Tapi kenapa harus dia?
Hujan pun tiba menemani suasana rumah Pak Jean yang sangat kaku. Bayazid merasa bahwa selama ini dia hanya membebani keluarga Pak Jean.
Tapi kenapa rasanya berat jika harus berpisah dengan Amira?
Sementara disisi lain Amira sedang menangis di kamarnya.
Kenapa dia harus bersama keluargaku? Dia tidak pantas untuk mendapat hinaan dan cacian dari warga desa... Cukup aku saja yang mendapatkan hinaan dan cacian itu. Jangan dia! Aku tidak tahu mengapa mendengar Bayazid dihina lebih sakit daripada mendengar aku sendiri yang dihina.
Hujan semakin deras membasahi seluruh penjuru desa dengan kebimbangan dan keresahan.
Bayazid membulatkan tekadnya. Ia segera membenahi seluruh barangnya dan berpamitan pada Pak Jean.
Mendengar Bayazid ingin pergi, Amira terperanjat, tanpa sadar ia berlari memeluk punggung Bayazid dengan erat.
"Jangan pergi! Aku tidak ingin kau pergi. Maaf selama ini aku selalu memperlakukanmu sebagai budak. Aku sangat menyesal. Aku ingin membuatmu tidak nyaman dan pergi dari keluargaku, Aku tidak tega melihatmu dihina dan dilecehkan seperti tadi. Aku tidak memintamu untuk memaafkanmu, tapi Aku... Aku .. Aku...."
"Aku mencintaimu".
Amira terperanjat karena apa yang ingin ia ucapkan telah terlebih dahulu diucapkan oleh Bayazid.
Sedih, senang, menyesal, dan bahagia bercampur aduk dalam hati Amira. Ia seperti terbius hanya dengan dua kata.
Bayazid juga merasakan hal yang sama, ia bingung harus berkata apa lagi. Sementara Pak Jean tersenyum menyaksikannya.
Akhirnya kisah ini dengan cepat datang dan berlalu, seperti angin yang menyejukan dan menghancurkan.
Beberapa Bulan kemudian Amira dan Bayazid resmi menikah dan hidup bahagia.
----------------
*Kelanjutan perihal Vampire dan sebagainya akan dimuat dalam bentuk Novel dan memiliki Judul tersendiri yaitu "Namikaze, the Story of Raito Yukimura