Tasya berdiri di depan pintu ruang kerja pimpinan perusahaan tempatnya bekerja. Perasaan gugup bercampur tegang, saat tangannya bergerak mendekati kenop pintu. Desahan napas keluar dari sela-sela bibir, ia mencoba menenangkan diri yang begitu ragu untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Sebuah amplop berwarna putih sudah berada dalam genggaman tangan kirinya. Ia mengalihkan pandang sejenak pada meja kerja yang terdapat papan nama miliknya.
“Tidak sepantasnya kamu mendapatkan perhatian lebih dari Pak Dimas. Kamu hanya sekretarisnya”
Telinga wanita itu terasa panas setiap kali mengingat ungkapan-ungkapan tak menyenangkan yang ditujukan padanya. Awalnya dia mencoba untuk tetap bertahan dan menganggapnya angin lalu. Sayang, dia semakin tidak nyaman bekerja di perusahaan tersebut, bukan hanya karena perlakuan rekan-rekan kerjanya, tetapi atasannya itu semakin sering memberikan perhatian kepadanya.
Cukup lama Tasya terdiam di depan pintu ruang kerja Dimas—CEO DC Group, tempatnya bekerja. Matanya masih tertuju pada amplop yang dia pegang. Ia menghembuskan napas panjang, seiring sorot matanya yang terlihat yakin saat wanita itu mulai menarik knop pintu di depannya.
Sosok pria yang tengah berkutat di depan layar komputer, dengan ditemani setumpuk berkas di atas meja, menoleh ke arah Tasya saat menyadari pintu ruang kerjanya terbuka. Kerutan di dahi yang sempat terlihat, perlahan tergantikan dengan raut wajah senang saat wanita itu masuk ke dalam ruangannya.
Tasya tersenyum tipis ketika langkahnya semakin mendekati meja kerja Dimas. Pria itu masih memandanginya sambil tersenyum lebar.
“Maaf kalau kedatangan saya mengganggu waktu Anda, Pak,” ucap Tasya dengan kepala tertunduk.
Dimas menggeleng, “Sama sekali tidak. Ada apa?”
Hening. Belum ada jawaban yang keluar dari wanita itu, sebelum akhirnya dia menyodorkan sebuah amplop putih yang bertuliskan keterangan ‘surat pengunduran diri’.
Dimas mendongak, menghadahi sorot mata bingung kepada Tasya yang kini masih tertunduk di depannya. Kerutan di dahinya semakin kentara karena wanita itu tak kunjung memberikan keterangan.
“Apa maksudnya ini?” Dimas mengangkat amplop yang baru saja disodorkan Tasya.
“Saya ingin mengundurkan diri, Pak,” suara Tasya terdengar sangat pelan dan sarat akan rasa bersalah yang menghinggapinya.
Jujur, sebenarnya Tasya senang dengan pekerjaannya sebagai sekretaris. Hanya saja, situasi di lingkungan kerja yang membuatnya tak nyaman. Cibiran dan juga makian dari beberapa karyawan wanita yang sepertinya pengagum Dimas, membuat dirinya memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan properti tersebut.
“Kenapa kamu ingin berhenti? Kamu tidak suka bekerja di sini?”
“Tidak, bukan seperti i—”
“Kamu tidak suka bekerja dengan saya?” potong Dimas dengan sorot mata memelas.
Tasya menggeleng cepat, rasa bersalah semakin tampak jelas di wajahnya, “Bukan itu maksud saya.”
“Lalu apa?”
Tasya menggigit bagian bawah bibir, lalu mendesah pelan sembari mengusap tengkuknya.
“Tasya, kamu belum menjawab pertanyaan saya,” desak Dimas mulai tak sabar.
“Maafkan saya, Pak,” Tasya membungkuk cukup lama sebelum dia kembali berdiri tegak seperti semula. Sementara Dimas masih memandanginya dengan raut wajah kecewa.
“Saya ingin berhenti bukan karena saya tidak suka bekerja di sini. Jujur saja saya senang bisa bekerja dengan Bapak. Saya hanya merasa tidak nyaman dengan rekan kerja lainnya, karena Anda selalu memberikan perhatian khusus kepada saya dibanding mereka. Menurut saya itu terlalu berlebihan,” lanjut Tasya.
Dimas terdiam, sebelum akhirnya menghela napas dan tersenyum kepada Tasya.
“Jadi itu alasan kamu ingin berhenti bekerja?” tanya Dimas memastikan yang segera dibalas anggukan Tasya.
“Saya minta maaf, Pak.” Tasya membungkuk lalu memutar tubuhnya, bersiap meninggalkan ruang kerja Dimas.
“Tunggu!”
Tasya terkesiap ketika mendengar seruan Dimas yang menyuruhnya berhenti. Ekor matanya berhasil menangkap gelagat pria itu yang sudah berdiri dan berjalan mendekatinya. Tasya mengerutkan dahi saat melihat kedua tangan Dimas terangkat ke atas, tepat di depan wajahnya dengan surat pengunduran diri yang baru saja ia berikan.
SRET!
Dalam hitungan detik, surat itu menjadi empat bagian setelah dirobek oleh Dimas. Tasya menatap tak percaya pada potongan-potongan surat yang mendarat mulus di atas lantai. Ia mendongak, mendapati Dimas sedang menatapnya dengan senyum penuh kemenangan.
“Apa yang Bapak lakukan?!” pekik Tasya.
“Haruskah aku menjawabnya?” Dimas memajukan wajahnya sembari tersenyum menyeringai, “Kuanggap kamu tidak pernah memberikan surat itu kepadaku.”
“Pak Dimas ....” Tasya sampai kehabisan kata-kata akibat sikap keras kepala yang dimiliki pria itu. Ia mendesah kesal dengan tangan yang mengepal dan tatapan tajam kepada Dimas.
“Aku mau saja mengizinkanmu berhenti bekerja. Tapi, dengan satu syarat,” ucap Dimas dengan senyum lebarnya, lalu berjalan mendekati Tasya yang menatapnya dengan mimik wajah bingung.
BRAK!
Beberapa barang yang ada di atas meja kerja Dimas tanpa sengaja terjatuh, saat tubuh Tasya terjepit antara tepian meja dan tubuh pria itu. Posisi keduanya sangat dekat hingga nyaris tak ada jarak. Aroma khas dari parfum yang dipakai Dimas membuat wajah wanita bersurai cokelat itu memerah.
“Kamu harus bersedia menjadi istriku,” lanjut Dimas diimbangi seringaian di wajah yang kian terlihat.
Napas Tasya sedikit tertahan. “Sa-saya ... tidak paham maksud ucapan Bapak.”
“Ck, bahkan saat aku sedang melamarmu seperti ini, kamu tidak mengerti juga? Pantas saja kamu tidak bisa memahami alasanku memberikan perhatian penuh kepadamu selama ini.” Dimas tertawa pelan hingga memamerkan deretan giginya yang berjejer rapi.
Tak ada perubahan yang diperlihatkan Tasya, selain kedua alis yang bertaut dan sorot matanya yang menyiratkan kebingungan luar biasa. Beberapa detik kemudian, ia akhirnya mendapatkan jawaban berupa sebuah kecupan yang mendarat tepat di bibirnya. Rona merah itu semakin terlihat jelas di wajah Tasya, setelah Dimas mengakhiri ciuman mereka dengan memposisikan bibirnya tepat pada telinga kanannya.
“Aku melakukannya karena aku mencintaimu, Tasya.”
Tasya mengerjapkan matanya tak percaya. “Pak Dimas?”
Dimas tersenyum. “Tasya, menikahlah denganku.”
THE END
Note : Ada yang mau di posisi Tasya? 🌝