Suara itu sangat jelas, tidurku terganggu. Malam ini, kurasakan udara dingin menyusuri pori-pori yang mulai terbuka, menusuk-nusuk tulang punggungku sesaat setelah selimut dilepas. Tubuhku semakin bergetar, menyadari suara itu dari balik pintu.
Aku berusaha meyakinkan diri, menghampiri suara yang semakin jelas. Dengan perlahan, kusambar pentungan yang berada di samping pintu sebelum memegang knopnya.
Glek
Suara itu menghilang
"Siapa disana?" teriakku, memastikan.
Aku berjinjit, menelusuri setiap ruangan, berteriak dengan melontarkan kalimat yang sama, namun tak ada siapapun yang merespon.
Jam dinding itu menunjuk tepat ke arah angka 12, tepat tengah Malam, suasana semakin mencekam, keringat melintasi pelipisku. Udara semakin dingin, karena malam semakin larut. Aku memeriksa setiap jendela dan pintu dirumah, memastikan tidak ada jalan masuk bagi siapa pun.
Betapa terkejutnya aku menyadari semua pintu dan jendela sudah terkunci rapat-rapat. Dari balik jendela, Bulan Purnama yang indah sedang menoleh ke arahku, tapi rasanya sungguh menyeramkan, ia tampak sedang mengawasi setiap gerak langkahku. Segera kututup tirai jendela dan mencoba mengalihkan pikiran.
"Ahh!"
Aku meloncat dan berbalik karena merasakan sesuatu yang kasar menyentuh pundakku.
"Siapa itu?"
Jantungku berdetak semakin kencang, detakannya membuat sekujur tubuh bergetar dengan kencang, wajahku dipenuhi oleh keringat.
Aku berusaha mencengkram pentungan yang ada ditanganku dan bersiap melemparkannya pada apapun yang bergerak.
Clak
Suara apa itu?
Clak
Rasanya ada sesuatu yang menetes ke lenganku
Darah ... siapa?
Darah itu menggenang dilengan kananku. tak berani melihat kearah sumber darah itu berasal, Aku terpaku.
Trang
Pentungan itu jatuh, tubuhku melemas dan akhirnya terjatuh, aku ingin berteriak, tapi ada sesuatu yang menyumbat tenggorokanku. Dengan segenap tenaga aku mencoba menggerakkan tubuhku, namun ... semua itu sia-sia.
Aku terus berusaha menggerakan tubuhku, dan akhirnya ... kepalaku terangkat ke atas
"Ahh!"
Sesosok perempuan berbaju putih melayang tepat dihadapanku, rambutnya panjang terurai, wajahnya pucat, parasnya cantik, seluruh tubuhnya dipenuhi oleh darah, Ia menatap tajam kearahku.
Ahh! Tolong! Siapa saja tolong!
Aku berusaha berteriak, tapi tidak bisa. Aku hampir putus asa. Air mata menggenang dimataku. Sementara perempuan itu masih menatapku dengan tajam, ia memang tidak bersuara tapi tatapannya saja sudah cukup untuk menghancurkan jantungku.
Wajah cantiknya menjadi menyeramkan, matanya yang merah semakin menonjol tiba-tiba ...
Ahh!!
Matanya meloncat keluar, aku tak tahan ingin berteriak, menyadari mata itu ingin memaksa masuk menggantikan mataku, tapi tidak bisa! ... Aku tidak bisa berteriak.
Aku pun pasrah. Sepertinya inilah akhir dari hidupku.
Tirta ... selamat tinggal! Aku akan pergi.
Jika kau menjumpai aku masih hidup setelah ini, itu bukan aku, Tubuhku akan diambil alih, maaf Aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Terima kasih telah bersedia menerimaku dalam hidupmu, terima kasih telah membelaku. Aku tidak akan pernah melupakanmu, semoga kita akan bertemu kembali diakhirat kelak, Selamat tinggal ... Tirta!
Tak sadar wajahku dibasahi air mata yang telah bercampur dengan keringat dingin.
Perlahan tapi pasti, sosok itu segera menghilang bersama dengan semua penglihatanku, tak ada apapun lagi yang bisa kurasakan.
Pagi itu, aku terbangun dari tidur, tirai itu menyilaukan mata dengan warna merahnya yang menyala terkena sinar mentari. Kuangkat tubuhku....
Ahh!
Sekujur tubuhku terasa sakit, rasanya aku tidak bisa pergi ke sekolah. Tapi, kenapa aku tidur disini? Bagaimana bisa tubuhku tergeletak didepan jendela dapur. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
Apa Aku mengigau??
Dengan perlahan kubuka tirai jendela, membiarkan sinar mentari menembus seisi ruangan. Sinar mentari itu dengan cepat menembus jendela, menyorot pentungan yang tergeletak dilantai
Kenapa pentungan ada disini? Ahh bodo, mungkin aku tak sengaja membawanya saat mengigau
Aku segera menelepon Pak Karma dan Bos Ade, memberitahukan jika saat ini aku tidak bisa pergi ke sekolah dan berangkat kerja.
Aku memang masih duduk dibangku SMP, tapi karena hidup seorang diri, Jadi aku terpaksa bekerja untuk menghidupi diri sendiri.
Selama seharian penuh, tak ada apapun yang kulakukan selain menonton TV. Hingga, menjelang Maghrib, seseorang mengetuk pintu. Aku mempersilahkannya masuk.
Dia adalah Teman sekelasku, sebut saja dia Irfan, Dia adalah orang yang pernah menembakku waktu itu, tapi aku tidak ingat bagaimana jawabanku.
Kami mengobrol santai, Ia menanyakan alasanku tidak berangkat ke sekolah, aku menjelaskannya dengan detail. Rasanya nyaman mengobrol dengannya.
Beberapa saat kemudian suasana menjadi hening, tak ada lagi topik yang menarik untuk dibicarakan.
"Devi?" Irfan memecahkan keheningan
"Ya"
"Sampai saat ini aku masih tetap mencintaimu, walau hatimu masih untuk Tirta, tapi...."
Aku terperanjat mendengar nama itu
"Tirta? Siapa Dia?"
Irfan nampak terkejut melihat ekspresiku "Tirta itukan pacarmu?"
"Aku tidak kenal yang namanya Tirta"
Awalnya wajahnya nampak ragu, tapi setelah melihat keteguhanku Irfan tersenyum
"Kenapa tersenyum?"
Irfan terperanjat "tidak apa apa"
Aku hanya terdiam, sementara Irfan mulai kembali berbicara.
"Kalo gitu maukah kau menerima cintaku?"
Jantungku bergetar, rasa malu bercampur senang mengaduk dalam hatiku. Bingung harus berkata apa, aku meneguhkan hatiku dan menerimanya. Ia sangat senang dan aku pun juga.
Irfan tiba tiba memelukku, aku mencoba melepaskan pelukannya tapi cengkramannya sangat erat.
Cekrek
Kami terperanjat mendengar suara itu, dan saat menoleh, seorang lelaki tengah berdiri mengambil foto kami berdua
Jangan-jangan ... Aku lupa tidak menutup pintu
"Tirta? Kenapa kamu ada disini?"
Jadi dia orang yang tadi dibicarakan? Siapa dia?
"Gak nyangka ya, lu dev bener-bener!"
Tirta tiba-tiba pergi, Irfan berusaha mengejarnya, sementara aku hanya bisa terdiam syok melihat kejadian tersebut. Segera kukunci rumahku rapat-rapat. Dalam benakku ada sesuatu yang mengganjal
Siapa orang itu? Kenapa dia mengenalku?
Singkat cerita, Aku berhenti sekolah karena foto itu terpajang di internet, tersebar kabar bahwa Aku dan Irfan melakukan perzinaan, padahal kami tidak melakukan apa-apa saat itu.
Terdengar kabar bahwa Irfan pindah ke salah satu pesantren yang berada di Tasikmalaya, sementara itu, Bos menyuruhku untuk datang lebih pagi karena dia tahu aku berhenti sekolah. Aku adalah pencuci piring di restoran Adejohn Food.
Malam pun tiba, semua Karyawan bergegas untuk pulang. Aku tidak terlalu banyak mengenal teman kerjaku. Entah kenapa ... dari dulu, aku memang selalu sendiri.
Disekolah, aku tak memiliki teman seorang pun. Mereka justru malah meledekku, mereka menyebutku wanita munafik, jalang, pelakor, wajah datar, dan sebagainya. Tapi, kalau tidak salah ... saat itu ada seorang lelaki yang bersedia menjadi temanku, tapi ... siapa dia?
Aku mencoba mengingat-ingat orang itu.
"Jangan melamun!"
Wanita itu membuyarkan lamunanku, dia adalah seniorku kak Fatimah.
"Aku dengar kamu sebatang kara? Memangnya kemana orang tuamu?"
Orang Tua? Alisku mengerut
Apakah selama ini aku punya orang tua?
Aku berusaha mengingatnya tapi tidak ada yang bisa kuingat. Sebenarnya ... Aku ini siapa?
Sadar tak ada respon dariku, kak Fatima memegang pundakku.
"Sudah! sudah! tidak perlu dibahas"
"Tidak apa-apa"
"Ngomong-ngomong malam ini bulan purnama akan kembali muncul, kau mau melihatnya?"
"Bulan purnama ya? pasti aku akan melihatnya".
Kami berbincang-bincang selama perjalanan, lalu berpisah dipertigaan, dan aku segera beranjak ke kamar dan ambruk diatas tempat tidur.
Sesak
Tidurku terganggu karena rasanya napasku berat, sesak sekali rasanya.
Aku mencoba membuka mata
Ahh!
Sesosok Perempuan berambut panjang tengah menatapku dengan matanya yang merah membara, Ia mencekikku dengan keras. Aku panik.
Kukerahkan seluruh tenaga yang tersisa unyuk melepaskan cengkramannya yang kuat, namun ... dia tidak goyah sedikit pun.
Hihihihi...
Wanita itu tertawa, sungguhmenakutkan. Aku masih berusaha melepaskan cengkramannya, namun tubuhku melemas, paru-paruku kekurangan oksigen, rasanya aku tidak bisa berbuat apa apa lagi.
Mungkin inilah akhir hidupku, Ya Allah maafkan hambamu ini.
Tiba-tiba sosok itu melepaskan cengkramannya, Ia menjerit seperti Anjing yang ekornya terbakar, aku segera lari meninggalkan tempat tidurku. Tepat tengah malam.
Segera kubuka pintu keluar, tapi ...
Ahh!
Rasanya sesuatu yang dingin menusuk perutku. Aku meringik kesakitan. Seorang pria berjubah hitam menusukku dari balik pintu keluar.
"Tirta?"
Aku ingat ... kaulah satu-satunya teman yang kupunya, kaulah orang yang selama ini menjagaku dari ejekan mereka.
Aku mencoba mengatakannya, tapi tubuhku terjatuh karena tak kuasa menahan rasa sakit. Dia menatap kearahku dengan tatapan yang dipenuhi kemarahan. Sejenak Aku kehilangan kendali atas seluruh tubuhku.
Ahh!
Pisau itu menusuk punggungku dengan membabi buta, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena dahsyatnya rasa sakit yang tengah kurasakan.
"Mati kau dasar Jalang!"
Kata itu terus ia ucapkan berulang-ulang. Rasa sakitnya semakin dahsyat kurasakan
Sekarang suara itu tidak terdengar lagi, rasa sakit ini tak lagi kurasakan, dan Tirta ... sudah tak lagi terlihat.
Sekarang Aku dapat mengingatnya
Saat itu Aku masih duduk dibangku SD, aku membantu seorang Nenek tua yang tampak kesulitan dengan barang dagangannya dipinggir jalan.
Sebagai ucapan terima kasih Nenek itu membawaku kerumahnya, dan memasangkan susuk pada wajahku.
Dia bilang Aku menjadi wanita tercantik yang pernah dizaman ini, senang sekali rasanya. Namun ... kesenangan itu tak kunjung lama
"Jika Bulan Purnama datang, kau harus menumbalkan seseorang yang sedang mengisi hatimu".
Aku panik saat itu, tapi Nenek itu bilang susuk itu tidak bisa dilepas. Aku mencoba memaksanya tapi hari hari berikutnya, ia menghilang entah kemana.
Setelah itu Ayahku, Ibuku dan semua keluarga dan teman yang kucinta, mati pada setiap malam Bulan Purnama dengan cara yang tidak wajar.
Sosok wanita cantik itu selalu datang pada pertengahan malam
Bulan Purnama berikutnya, seperti biasa dia datang, korban selanjutnya adalah lelaki yang Aku cintai, Glen. Tapi ... aku tidak bisa tersakiti lebih dari ini.
"Jangan ambil lagi orang-orang yang aku sayangi! itu menyakitkan, ambil saja Ingatanku terhadap mereka! supaya tidak ada lagi rasa sakit yang kurasakan".
Dia pun menerimanya dengan sebuah syarat:
"Jika tidak ada lagi seorang pun yang kau sayangi, aku akan mengambil nyawamu".
Tamat