Hari ini adalah hari pertama Airin di sekolah baru. Airin yang tidak mengenal siapapun di sekolah ini, membuatnya tak berani untuk menyapa orang lain. Ya, Airin memang seorang anak yang terbilang pendiam. Karena ini hari pertama, osis disekolahnya hanya memberitahukan barang apa yang akan siswa bawa untuk esok hari dalam rangka Masa Orientasi Siswa.
Sesuai dengan arahan yang telah diberikan di hari sebelumnya oleh Kakak Kakak Osis, Airin datang dengan masih menggunakan seragam putih biru, dan membawa beberapa properti yang digunakan untuk MOS. Airin terlihat memakai topi yang terbuat dari bola plastik, dengan rambut yang dikepang dua, dan juga memakai papan tulisan "Aku Siswa Baru yang Culun" yang menggantung dileher Airin.
Ketika acara berlangsung, seorang kakak osis memanggil Airin untuk berlomba lari dengan seorang laki laki dari sekolah lain yang nantinya akan menjadi teman seangkatan Airin. Tak memperdulikan gender atau mereka hanya ingin mengolok olok Airin saja, Airin yang tidak bisa menang dari kawan seangkatannya itu, terjatuh di lapangan hingga membuat lututnya lecet. Airin terpanah dan tak berkedip menatap seorang kakak osis yang berlari dari ujung lapangan untuk menolong dirinya berdiri kembali. Dengan postur tubuh yang proporsional, tinggi, serta kulit yang berwarna putih, membuat laki laki tersebut terlihat sangat sangat tampan.
"Lututmu berdarah." ucap kakak osis yang menolong Airin itu.
Terlihat nama ALVIN WIJAYA di baju seragamnya itu.
"Baru juga lari kecil, sudah jatuh, dek!" ejek salah satu anggota osis yang membuat perlombaan ini terjadi sambil tertawa.
"Gue udah bilang, ga ada yang namanya rundown acara seperti ini di MOS tahun ini! Lo lihat apa yang terjadi?" kata Alvin.
"Dia aja yang manja!" ucap Eva sang sekretaris osis.
"Gue ketua pelaksana acara ini, jadi gue harap lo semua ga membuat malu organisasi kita dengan kegiatan seperti ini. Dan lo, Eva, lo itu perempuan, seharusnya lebih bijak!" tekan Alvin.
"Sudah ayo, kita ke UKS!"
Alvin memampah Airin ke UKS dan membantu mengobati luka Airin.
"Maafin anggota osis yang lain ya, dek." ucap Alvin.
"Iyah kak. Ga apa apa ko." jawab Airin.
"Siapa namamu?" tanya Alvin.
"Airin kak."
"Nanti dirumah, ganti plesternya dan bersihkan lagi saja." ucap Alvin.
"Kakak ketua osis?"
"Ya, ketua osis untuk tahun ini."
Itulah pertemuan pertama Airin dan Alvin sang ketua osis.
-------------------------------------------------
Hari demi hari, bulan demi bulan telah berlalu, Airin pun kini telah memiliki seorang sahabat yang didapatnya dari sekolah baru ini, bernama Anggita. Ia merupakan teman satu kelas dan juga chairmate bagi Airin. Mereka dekat karna absen mereka yang berada atas bawah. Setiap jam istirahat, baik itu jam istirahat pertama, kedua, maupun ketiga, Airin dan Anggita selalu bersama.
Anggita tau bahwa Airin yang memiliki wajah bak wanita Korea ini, menjadi primadona di angkatannya. Airin di dekati oleh banyak laki laki, banyak teman satu angkatannya yang menembak Airin. Namun selalu ditolak olehnya. Bahkan tak hanya teman seangkatannya saja, Airin juga pernah ditembak oleh kakak kelas yang dulu sempat membuatnya malu karna terjatuh saat MOS.
Suatu ketika saat ada jam kosong dikelas Airin, membuat anak anak kelas itu menikmati kebebasannya. Mungkin karna mereka masih kelas 10, maka dari itu kelakuan anak anak kelas itu masih seperti anak SMP yang bermain main dan bersenang senang saja. Airin dan Anggita berdiri di depan kelasnya yang berada di lantai 2, dan mereka berdua sedang melihat pemandangan yang sangat indah di lapangan sekolahnya.
Pemandangan tersebut adalah pemandangan kelas Alvin yang sedang jam pelajaran olahraga. Terlihat para siswa sedang bermain basket dan para siswi bermain volly.
"Rin, ke kantor guru coba, tanya sama guru piket apa ada tugas dari Pak Guntur atau tidak." suruh Davin sang ketua kelas.
"Suruh Doni aja, Vin, dia kan wakil lo." jawab Airin yang masih terus memperhatikan kebawah lapangan.
"Elo kan sekretaris, Rin, tugas lo itu, cepat sana, sebelum kelas kita dibilang kebun binatang." ucap Davin lagi.
"Iya iya gue ke kantor guru. Git, temenin gue yuk ke kantor."
"Yok!"
Airin dan Anggita pun ke kantor guru dan bertanya kepada guru piket hari itu, apakah Pak Guntur sang guru Kimia memberikan tugas atau tidak.
"Pak Guntur hanya meminta kalian untuk mempelajari kembali materi yang sudah dijelaskan olehnya dan minggu depan kalian ulangan." ucap guru piket pada Airin dan Anggita.
"Baik bu, terimakasih." pamit Airin.
Saat hendak kembali ke kelas mereka, bola basket yang sedang digunakan oleh kelas Alvin memantul ke arah Airin yang sedang berjalan. Airin dan Anggita terdiam ketika Alvin yang berlari mengambil bola itu menuju ke arahnya.
"Hay Rin! Maaf ya bolanya hampir kena kamu." sapa Alvin.
"Hay kak. Gpp." jawab Airin dengan senyuman diwajahnya.
"Airin doang yang disapa kak?" tanya Anggita.
"Ga suka saja kamu." ucap Alvin.
"MANA BOLANYA VIN? MALAH PACARAN LO!" teriak Steven teman Alvin.
"Cieee! Cieeee!" ledek anak anak kelas Alvin.
"Alvin pedopil." ledek Steven.
Hal tersebut membuat beberapa kelas di sekitar lapangan mendengar ucapan Steven dan anak anak lainnya yang membuat keributan. Sang guru olahraga, Pak Wawan, pun tidak tinggal diam.
"Sudah sudah kalian ini! Sudah kelas 12 kelakuan seperti anak kecil! Membuat keributan saja." maki pak Wawan pada anak kelas Alvin.
"Kalau anak IPS yang olahraga sih auto rame pak! Kecuali anak IPA, mengheningkan cipta semua!" jawab Steven.
"Ya iya, apalagi kalau anak IPS dan ketua kelasnya itu seperti kamu! Sudah kelar." sambung pak Wawan.
"Aaa si bapak!" ucap Steven.
----------------------------------------------
"Lo suka sama kak Alvin, ya Rin?" tanya Anggita secara tiba tiba.
"Ha? Ya enggalah! Gue sadar diri, Git. Kak Alvin itu kan cogannya sekolah kita. Sedangkan gue cuma siswa biasa." jawab Airin.
"Siswa biasa apanya? Lo itu primadona angkatan kita, Rin. Selain itu, lo juga cerdas. Lo itu orang hebat! Gue aja iri sama lo!"
"Semua yang gue punya seperti wajah yang seperti ini, otak yang seperti ini, dan mobil kendaraan gue ke sini, itu semua cuma titipan, Git. Tidak ada yang perlu di irikan dari gue!" saut Airin dengan bercanda.
"Ini yang gue suka dari lo, Rin! Kalau gue jadi cowo sih udeh gue pacarin cewe kaya lo!" kata Anggita.
Semakin hari, semakin banyak orang orang yang berbicara bahwa sebenarnya Alvin dan Airin berpacaran. Mulai dari Alvin yang membelikan Airin minuman sehabis jam olahraga, menghampiri Airin dikelasnya hanya sekedar untuk mengobrol dan makan bekal bersama dengannya. Sebenarnya, Airin dan Alvin belum ada hubungan apapun diantara mereka. Dan gosip yang beredar tentang Alvin yang sering mengobrol dan makan bekal dikelas Airin itu semua sebenarnya hanya Alvin yang meminta bantuan pada Airin untuk mengajarinya pelajaran matematika kelas 10 untuk olimpiade yang akan datang.
"Airin! Pinjam buku mate kamu dong!" sapa Alvin yang melihat Airin hendak berjalan keluar gerbang sekolah.
"Hari ini kelasku ga ada pelajaran mate kak."
"Yasudah aku nanti ke rumahmu."
"Ha? Rumah?"
"Ya! Dimana rumahmu? Biar aku ambil ke rumahmu. Sekarang, kau mau kemana sekarang?"
"Ke seberang kak."
"Ngapain?"
"Naik angkot." jawab Airin.
"Ga bawa mobil?"
"Mobilku lagi service di bengkel, jadi naik angkot."
"Bareng aku aja."
"Apa ga ngerepotin kak?"
"Sekalian aku mau pinjam bukumu."
"Oh iya." jawab Airin.
Airin yang sudah PD dengan tawaran Alvin pun hanya menundukkan kepalanya saja. Tanpa Airin sadari sebenarnya Alvin hanya ingin mengganggunya saja dengan beralasan meminjam buku.
Dalam perjalanan menuju rumah Airin, Alvin berhenti di pinggir jalan.
"Aku lapar. Kita makan dulu ya?" tanya Alvin.
"Kakak saja yang makan. Dirumahku banyak makanan." jawab Airin.
"Makanan dirumahmu itu, bisa untuk makan malam. Sekarang makan saja dulu. BANG BAKSO 2!"
Setelah makan bakso, Alvin benar mengantar Airin pulang.
"Sebentar ya kak aku ambil bukunya dulu." ucap Airin.
"Hey tunggulah sebentar."
Alvin mencegah Airin untuk masuk ke dalam rumahnya dan mengambil sesuatu dari ransel yang dibawa oleh Alvin. Yang dibawa oleh Alvin ternyata adalah sebucket bunga mawar.
"Rin, aku tau aku bukan cowo romantis seperti yang lainnya, dan aku mencari alasan belajar denganmu, hanya untuk mendekatimu saja. Memang pak Wawan memintaku untuk ikut olimpiade matematika, dan karna aku melupakan pelajaran kelas 10, beliau memintaku untuk meminjam buku dan belajar denganmu. Aku menyukaimu, Rin. Sungguh menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu datang ke SMA 12 dengan seragam putih biru dan kemudian terjatuh di lapangan." aku Alvin..
Pengakuan dari Alvin, membuat Airin terkejut. Ternyata cintanya selama ini tidak bertepuk tangan.
"Tapi aku adik kelas kakak." kata Airin.
"Aku tak peduli mau teman temanku berkata aku pedopil atau yang lainnya, karna menurutku kita itu teman. Teman bahagia. Kamu boleh panggil aku dengan namaku saja."
"Tidak tidak. Kak Alvin tetap kakak kelasku."
"Jadi bagaimana? Aku di terima ga?" tanya Alvin.
"Memang kakak bertanya padaku? Tadi kakak hanya mengakui perasaan kakak saja."
"Baiklah baiklah. Airin, kamu mau jadi kekasihku ga?" tanya Alvin.
"Mau." jawab Airin.
"Kenapa mau?"
"Karna aku juga suka sama kak Alvin."
Alvin merupakan cinta pertama Airin. Selama ini, banyak laki laki disekolahnya yang ia tolak. Dan hal itulah yang membuat Alvin sempat ragu untuk menembak Airin, karena ia takut ditolak oleh Airin.
----------------------------------------------
Sebentar lagi, Alvin akan meninggalkan sekolah tercintanya ini karna ia akan lanjut ke jenjang perguruan tinggi.
"Sekolah jadi ga asik lagi karna ga ada kamu, kak." ucap Airin.
"Dasar bucin!" jawab Alvin sambil mencubit hidung Airin.
"Aku ga punya teman ke kantin lagi!"
"Ada Anggita kan, sayang."
"Dia sudah bucin sama kak Rama sekarang. Masa aku yang gantian jadi kambing? Dulu Anggita yang jadi kambing diantara kita."
"Kamu juga sebagai sahabatnya, jahat, melangkahi Anggita."
"Anggita aja yang terlalu galak sama laki laki, kak. Dan kakak yang terlalu cepat menembak aku."
"Salah lagi, aku." ucap Alvin.
"Memang ini salah kakak!"
"Ya ya ya! Pria selalu disalahkan!" jawab Alvin.
"Terserah kamu aja, Vin!"
"Apa kita bisa LDR ya, Rin?" tanya Alvin.
"Aku ga yakin."
"Ga ada gunanya aku kuliah di NSU kalau kamu ga ada disana. Aku ga mau jauh dari kamu."
"Tuh sekarang kamu yang bucin, kak! Dasar."
"Aku mau walaupun nanti kita ga satu sekolah lagi, aku tetap akan meluangkan waktuku untuk menjemput kamu."
Sebenarnya papa dan mama Alvin ingin agar Alvin melanjutkan pendidikannya di Singapura, tapi Alvin menolaknya bahkan ia tidak mau kuliah di lain kota, karena ia tak mau jauh dari Airin.
-------------------------------------------
Dalam sebuah hubungan tidak mungkin bila tidak ada batu kerikil yang membuat pondasi hubungan itu kokoh. Ada pepatah berkata, jika sebuah hubungan berjalan mulus secara terus menerus, maka hubungan tersebut akan mudah roboh saat diterjang badai.
Terlebih lagi ketika mulai memasuki kancah dunia luar alias perkuliahan, Alvin menjadi salah satu mahasiswa yang banyak dikagumi oleh mahasiswa lain baik dari yang seangkatan dengannya maupun kating katingnya. Alvin berusaha untuk menghindari mereka semua. Bukan karena sombong atau yang lainnya, Alvin menghindari mereka untuk menjaga perasaan Airin dan juga perasaan perempuan lain. Ia tidak ingin menyakiti perempuan karena Alvin adalah anak yang sangat sayang kepada mamanya.
"Vin, tugas kelompok kita kapan mau dikerjakan? Jangan karna lo laki sendirian ya, buat para cewe yang kerja!" ucap Sarah teman sekelas Alvin.
"Gue bukan tipe orang yang seperti itu!" saut Alvin.
Ya, seperti yang diketahui oleh semua mahasiswa, bahwa Alvin ini adalah salah satu mahasiswa yang sangat sulit untuk di dekati. Ia hanya menyapa kepada dosen, dan juga teman pria terdekatnya.
Sesudah menyelesaikan kerja kelompok, Alvin berniat untuk pulang ke rumahnya, karna hari ini Airin akan pergi bersama teman temannya.
"Vin, lo bawa motor kan? Gue nebeng sampai stasiun dong!" ucap Sarah.
"Sorry, Sar, motor gue cuma muat satu orang." jawab Alvin.
"Lo kira gue orang bego ya, Vin? Motor lo itu motor ninja dan ada tempat dibelakangnya! Bilang aja kalau lo ga mau tolongin gue!" maki Sarah yang kecewa karna ditolak mentah mentah oleh Alvin.
"Ayo!"
Alvin akhirnya setuju untuk membantu Sarah menghemat uang jajannya untuk naik ojek ke stasiun. Akhirnya, Sarah pun naik ke motor Alvin dan memeluk Alvin dari belakang.
"Woi! Gue bakal jalan pelan. So, lo ga usah pegangan apalagi peluk2 gue!" ucap Alvin.
"Sorry!" jawab Sarah.
Tanpa Alvin ketahui, ada beberapa pasang mata yang melihat kejadian itu dari balik mobil. Ya, mereka adalah Airin, Anggita, dan Agatha.
"Itu kan Alvin cowo lo, Rin." ucap Agatha.
"Ya gue tau." jawab Airin singkat.
"Tapi sepertinya itu bukan kak Alvin deh, Rin." alih Anggita yang ingin menenangkan Airin.
"Itu Alvin, Git! Ga mungkin salah! Motornya juga itu." kekeh Agatha.
"Yu kita langsung masuk aja." ajak Airin.
"Lo ga papa, Rin?" tanya Agatha.
"Hm." jawab Airin.
"Yakin lo ga papa ni?" tanya Anggita.
"I'm good! Ada yang salah kah?"
"Nope." jawab Anggita dan juga Agatha.
Setelah habis makan, Airin mendapat pesan dari Alvin.
*Kamu dimana beb?
*Aku sudah dirumah sekarang. Tadi habis kerja kelompok.
Airin memilih untuk tidak menjawab chat tersebut. Lagi lagi ponsel Airin terus berbunyi. Akhirnya, Airin memilih untuk mematikan ponselnya.
Setelah selesai dengan teman temannya, Airin segera pulang ke rumahnya. Dan tanpa diduga, Alvin menunggu Airin di depan rumahnya. Airin memilih untuk memakirkan mobilnya dulu di garasi, baru ia akan menghampiri Alvin.
Alvin yang telah merasa atmosfer yang berbeda pun mengetahui kalau ada yang salah dengan Airin.
"Baru pulang?" tanya Alvin.
"Yang kamu lihat?" jawab Airin ketus.
"Ketus banget sih, adikku ini! Gimana tadi have fun?"
"Have fun dong! Apalagi tadi aku melihat sebuah adegan drama romantis." sindir Airin.
"Cerita cerita dong.... Aku mau dengar."
"Tadi saat aku sampai cafe untuk makan sama Gita dan Gatha, aku melihat ada seseorang laki laki tampan bersama perempuan cantik, berpelukan diatas motor ninja warna MERAH!" cerita Airin pada Alvin dengan penekanan dikata merah.
"Aku bisa jelasin semuanya, don't be mad!" ucap Alvin yang sudah mengetahui bahwa dirinya tertangkap basah.
"Silahkan dijelaskan, bapak Alvin Wijaya. Saya akan mendengarkan." saut Airin dengan senyuman.
"Pertama, aku ada tugas kelompok dari dosen. 2 anggotanya itu perempuan. Aku hanya laki laki sendiri di kelompok itu. Dan kita janjian mau mengerjakan di Cafe Warna. Saat sudah selesai, Sarah minta nebeng sampai stasiun, dan aku sudah menolaknya. Tapi aku juga tidak tega. Saat dia memelukku dari belakang, aku sudah memperingatinya. Lagipula, aku membawa backpack sayang, jadi ga bersentuhan langsung. Percayalah aku ga bohong." jelas Alvin.
Melihat kesungguhan dimata Alvin, Airin pun percaya.
"Aku percaya. Lagipula aku ga berhak mengatur kamu untuk dekat dengan siapa. Karna aku hanya pacar kamu." ucap Airin.
"Perlu sekarang aku masuk ke rumah kamu dan minta izin ke mereka untuk menikahi kamu?" tanya Alvin.
"Jangan gila deh, Vin! Kita ini masih muda, dan bahkan aku saja belum lulus SMA!" maki Airin.
"Aku hanya bercanda, sayang! Jangan marah lagi ya?"
"Iya!"
"Ke minimarket depan komplek yu, aku beliin es krim." ajak Alvin.
"Kamu kira aku bocah?"
"Kamu itu akan selalu jadi adik kecil yang menggemaskan bagi aku." ucap Alvin.
"Aku adik atau pacar kamu sih?" tanya Airin.
"Adik rasa pacar." jawab Alvin.
"Bukan pacar rasa adik?"
"Kalau adik rasa pacar itu artinya aku sayang sama kamu seperti aku sayang sama adik aku sendiri, tapi status kamu pacar aku. Kalau pacar rasa adik itu, status kamu pacar tapi seperti adik kakak." jelas Alvin.
"Bukannya sama aja?"
"Beda, cintaku, duniaku. Pokoknya rasa sayang aku dan rasa cinta aku ke kamu itu ga bisa digambarkan dengan kata kata."
"Modus kamu! Geli ih."
"Yang penting kamu bahagia. Ayo!"
------------------------------------------
Hari kelulusan pun tiba, dan Airin mendapatkan predikat sebagai siswi terbaik diangkatannya.
"Lo itu seharusnya mendapat gelar sebagai siswi terbucin, Rin. Bukan terbaik!" ucap Anggita.
"Bisa aja lo!" saut Airin.
"Jadi lanjut kemana lo, Rin?" tanya Agatha.
"Ke ptnnya Alvin, dong!"
"Tu betul kan kata gue, si Airin bagusnya itu siswi terbucin!" kata Anggita lagi.
"Bucin itu adalah suatu hal yang wajar, Git. Lo juga bucin sama kak Rama!" ujar Airin.
"Tapi ga seakut elo." jawab Anggita tak mau kalah.
"Lo ga kasihan apa bahas bucin bucin, sedangkan teman lo yang satu ini jomblo?" tanya Agatha.
"Teman kampus Alvin ada yang ganteng loh, Gat." pancing Airin.
"Kenalin satu ke gue." saut Agatha.
"Nanti kalau Alvin ajak gue main sama temannya, gue ajak lo juga." ucap Airin.
"Lo ambil jurusan apa dikampus kak Alvin, Rin?" tanya Anggita.
"Gue ambil farmasi, Git. Kalau lo?"
"Gue diminta ortu untuk ambil kedokteran di Malang." jawab Anggita.
"Ga ambil jurusan yang sama kaya kak Alvin, Rin?" tanya Agatha.
"Dia itu bisnis digital, masa gue ikutin dia? Mimpi kita beda, Gat." jawab Airin.
"Asik ni si Anggita... Satu bidang sama kak Rama." ucap Agatha.
"Permintaan ortu, gais. Lagipula, Rama di Bali. Tetap aja LDR."
"Lo pasti bisa, Git." Airin memberikan semangat.
"Thanks Rin. Kalau lo kemana, Gat?"
"Gue sih ke kampus dekat sini aja, ambil Ekonomi." jawab Agatha.
"Elo anak ipa masuk ekonomi?"
"Habisnya jurusan MIPA di kampus kampus sini susah carinya, Git. Belum lagi, otak gue ga mampu. Huhuhu....." saut Agatha.
"Gue dukung lo terus ko Gat!" ucap Airin.
-----------------------------------------
Walaupun satu kampus yang sama dengan Alvin, tetap saja mereka hanya bisa bersama sama selama 2 tahun saja dilingkungan kampus. Selanjutnya, Alvin akan lulus dari kampus ini.
"Mamaku meminta aku untuk melanjutkan S2." ucap Alvin.
"Lanjut saja, S2 ga lama ko, beb." jawab Airin.
"Tapi aku punya mimpi, begitu lulus kuliah, aku akan membuka bisnis baru, dan menikahi kamu."
"Menikah adalah hal yang gampang. Lagipula aku belum lulus kuliah, kak." ucap Airin.
"Jadi, aku akan membuka sebuah bisnis baru, dan kamu harus tunggu aku pokoknya!"
"Iyah kakak ketosku......"
"Aku hanya jadi ketos setahun aja, Rin."
"Tetap saja kenangan itu akan membekas dihatiku."
Cukup sekian cerpen Ketua Osisku ini 😉
Sampai bertemu dicerpen cerpen yang lain gais 😘