Sore itu tanggal 18 November 2017 suamiku keluar rumah, seperti biasanya dia main ke rumah tetangga. Sampai senja tiba suami belum juga pulang, aku bersama kedua anaku mencari keberadaannya di rumah tetangga yang biasa di jadikan tempat nyantai. Tapi sampai malam belum di temukan juga, kami minta tolong warga untuk ikut membantu mencarinya.
Flashback
Suamiku sakit sudah lumayan lama, 5 tahun sudah dia melawan penyakitnya. Dulu pernah stroke ringan pada tahun 2012 dan bisa sembuh walau tidak bisa beraktifitas berat seperti biasanya, tiap bulan kadang tiap minggu aku mengantar suami kontrol ke Rumah Sakit.
Dari bulan ke tahun tidak kunjung sembuh, bahkan kata dokter hipertensi itu ngga bisa sembuh, seumur hidup harus konsumsi obat, seolah obat sebagai penyangga nyawanya, sekali dia telat obat pasti kejang atau muncul keluhan lainya. Tapi suamiku masih tetap semangat minum obat, sehari minum obat sampai 18 butir waktu awal dia kena stroke ringan, kasihan aku liatnya. Pengobatan alternatif pun sudah kami coba, dari akupresure, jamu tradisional dan yang lainnya.
Sakit suamiku komplikasi yang berawal dari hipertensi dan asam urat tinggi, jadi lari ke jantung dan syaraf. Bahkan fungsi ginjalnya juga mulai terganggu.
Flashback End
Akhirnya malam itu suamiku di ketemukan dalam keadaan tidak sadar di pekarangan, malam itu juga langsung kami bawa ke Rumah Sakit di mana dia biasa kontrol. Setibanya di IGD kondisinya makin kritis, perawat jaga memasang beberapa alat di tubuhnya, dia sama sekali tidak sadar, tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Aku dan kedua anakku menangis, kami berdo'a dan berharap kalau suami bisa sembuh seperti biasa.
Dokter yang menanganinya memanggilku." Bu...ibu yang sabar ya, kami pihak Rumah Sakit akan berusaha semaksimal mungkin, ibu banyak-banyak berdo'a semoga ada keajaiban buat suami ibu." Ucap dokter memberikanku semangat.
"Apa yang terjadi dengan suamiku, dok?"
"Suami ibu pendarahan di batang otak, ini stroke yang ketiga kalinya, ibu berdo'a saja ya." Ucap dokter memberiku semangat lagi.
Seketika itu cairan bening langsung meluncur," dokter bilang hanya menunggu keajaiban, dari dulu kena stroke berulang-ulang tidak pernah dokter bilang seperti ini.
Setelah 4 hari dirawat, Alhamdulillah dia sudah bisa merespon, alat lengkap masih terpasang di tubuhnya, karena tangannya tidak bisa diam, perawat berinisiatif mengikatnya di ranjang pasien, supaya jarum infus tidak lepas terus dan mengeluarkan darah.
Aku dan anak-anak selalu ada di sampingnya, biarpun dengan suara yang tidak jelas dia sudah banyak merespon, kami semua senang melihat perubahan itu.
Akhirnya setelah 14 hari dirawat, suamiku sudah diijinkan pulang, kami bersiap untuk pulang. Badannya yang berat dengan keringat yang terus mengucur membuatnya tidak pernah di pakaiin baju. Aku dan anak yang paling besar yang bisa di ajak untuk membantu mengangkat badannya, sedangkan yang kecil belum bisa membantu banyak.
Siang itu tanggal 02 Desember 2017 suamiku pulang dari Rumah Sakit, walaupun hanya tergolek di tempat tidur tapi saya merasa senang, di banding kemarin-kemarin yang sama sekali tidak bisa merespon. Dia hanya bisa minum susu khusus untuk penderita stroke, selain itu tidak bisa masuk, itupun lewat selang yang ada di dalam lubang hidungnya.
Dengan sabar dan telaten saya merawat suami sembari mengurus pekerjaan yang sudah setengah bulan ditinggal merawat suami di Rumah Sakit. Ada 15 karyawan yang bekerja di rumah mulai aktif lagi, aku punya usaha mengolah limbah triplek biarpun penghasilan tak seberapa tapi saya juga ikut membantu para ibu rumah tangga untuk bekerja di rumah saya.
Tanggal 5 Desember hari selasa, kondisi suami memburuk, dia sudah susah merespon panggilan saya. Aku ke rumah adik dan kakak ipar, minta saran dari mereka.
"Kak...kondisi Mas Manggala semakin memburuk, dia sudah tidak bisa merespon seperti kemarin, apa aku bawa ke rumah sakit aja ya..."
"Tanggal kontrolnya kapan?" tanya kakaku.
"Tanggal 8 hari jum'at, kak...masih lama banget, tapi badannya demam tinggi." Jawabku cemas.
"Ya, udah...nanti aku nyusul ke rumah liat kondisinya." Ucap kakak iparku.
Aku kembali ke rumah, saya temani dia dan menyeka keringetnya.
"Badanya belum turun juga, apa aku bawa ke rumah sakit aja ya, ngga mungkin aku nunggu tanggal 8." Ucapku dalam hati.
Aku langsung berkemas, mengambil baju dan perlengkapan lainnya. Kini tas sudah siap, tinggal menghubungi ambulance saja.
Tiba-tiba kakak dan adik ipar datang ke rumah, melihat kondisi suami yang sudah diam dan tidak merespon lagi mereka berkata " Kamu yang sabar ngikuti perintah dokter, sebentar lagi malam kasian dia harus bolak-balik diangkat junjung."
Aku terdiam mendengar saran mereka, ya mungkin ada baiknya juga. Tapi hati ini tetap ingin membawanya ke Rumah Sakit.
Malampun tiba, banyak saudara berdatangan menengok suami, badannya masih demam. Aku melihat kantong air seni yang biasanya terisi penuh malam itu ngga ada isinya, hanya keringet yang terus mengucur tak ada hentinya.
Jam 1 dini hari tanggal 06 Desember nafasnya terdengar cepat dan tidak teratur, aku duduk di samping tubuh suamiku sambil menyeka keringetnya. Jam 2 dini hari ku lihat lagi kantong air seninya masih belum terisi, tidak seperti biasanya seperti ini. Nafasnya semakin tidak teratur, aku buka selimut yang menutupi kakinya, ku pegang jari kakinya terasa dingin seperti es, bola matanya terus berputar dan nafasnya semakin terengah, aku berteriak memanggil tamu dan saudara yang masih ada di ruang tamu, mereka langsung masuk ke dalam setelah mendengar teriakanku.
"Kamu bantu do'a tuntun dia supaya bisa pergi dengan tenang," ucap pamanku.
"Tidak, suamiku bisa sembuh...aku yakin itu." Ucapku melawan mereka.
"Praak!!" Tiba-tiba mulut suamiku mengeluarkan cairan hitam dan seperti ada yang pecah.
Kami semua melihat ke arahnya, saudara dan kedua anaku menuntunnya dengan kalimat-kalimat Allah di telinganya.
"Panggilkan Bu Lastri untuk melepas alat-alat dan selang yang menempel di tubuhnya," ucap kakak iparku.
Aku kembali memeluk tubuhnya, nafasnya sudah berhenti.
Tangisku pun pecah, disusul kedua anaku yang histeris menyebut bapaknya.
"Jangan tinggalkan kami, Pak...kami minta maaf pak, yang sudah banyak salah, jangan tinggalin kami, kami belum bahagiain Bapak."Mereka menangis sambil mendekap tubuh Bapaknya.
Pukul 02. 35 tanggal 06 Desember 2017 suamiku pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya.
Pagi itu tamu berdatangan untuk melayat suamiku, dengan mata sembab aku dan kedua anaku ikut memandikan. Aku berusaha menahan tangisku, karena aku tidak mau membebani kepergian suamiku menuju syurga Nya dengan tetesan air mata. Aku memandikannya, mengusap wajahnya pelan, ini yang terakhir aku menatap dan memegang wajahnya, karena setelah di wudhu in aku sudah bukan mukhrimnya lagi begitu kata pak Ustadz.
Setelah selesai dimandikan suamiku di pakaiin kain kafan, aku sudah tidak di ijinkan memegangnya, aku hanya boleh memandang wajahnya dia terlihat tenang dan damai.
"Kamu sudah tidak merasakan sakit lagi, Mas...semuanya sudah berakhir, kamu yang tenang di sana...Aku akan menjaga buah hati kita." Ucapku dalam hati.
Tidak terasa cairan beningpun meluncur deras, aku menahannya supaya suara tangisku tidak pecah. Kedua anakku duduk di sampingku di depan keranda.
Hari dunia terasa berhenti berputar, kehidupan serasa berakhir...dunia begitu gelap aku rasakan.
"Yang sabar..."
"Ikhlaskan dia pergi, supaya jalan menuju syurga tidak terbebani"
"Ini yang terbaik buat suamimu dan juga kamu"
Begitu kata orang-orang memberiku semangat, yaa...mereka yang tidak merasakan bisa mengucapkan kalimat seperti itu, tapi aku yang sedang mengalami ternyata sangat berat. Selama hampir 20 tahun kami hidup dalam biduk rumah tangga, dia orang yang penyabar, tidak pernah ringan tangan, dia begitu perhatian pada keluarga.
Tepat pukul 10.30 upacara pemakaman di mulai, setelah selesai jenazah suamiku di gotong oleh kakak dan adik iparku. Aku tak kuasa menahan rasa kehilangan, mendadak pandanganku gelap aku merasa tidak bertenaga dan akhirnya aku tidak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian aku mencium aroma minyak kayu putih, perlahan aku membuka mataku, pandanganku masih kabur. Aku melihat sekelilingku, ada bibi dan adik yang berada di sampingku.
"Bi...apa aku mimpi? Mas Manggala pergi meninggalkan kita." Ucapku sambil mengangkat tubuhku yang terasa lemah.
"Nyebut, nduuk...nyebut...ikhlaskan suamimu." Kata bibiku.
"Jadi, semua ini benar, bi..." Aku kembali menangis, adikku berusaha menenangkan aku, tapi tangisku tidak bisa berhenti.
"Mana Laras sama Puspa, Ti..." Ku tanyakan keberadaan kedua anakku pada adikku.
"Dia sedang ikut ke makam," jawabnya.
"Aku ingin ikut ke sana..."
"Kalau kamu tidak bisa menahan tangismu, lebih baik jangan...do'akan saja dia," Kata pamanku dari luar kamar.
Aku bangun dari tempat tidurku dan keluar kamar, aku menatap kembali tempat tidur suamiku. Selama 4 hari dia terbaring di sini, aku duduk dan memgusap kasurnya, ku bayangkan kalau dia masih tertidur di sini.
Rabu, 06 Desember 2017, adalah hari yang tidak mungkin aku lupakan, hari di mana suamiku menghembuskan nafas terakhirnya. Keinginanya terkabul, dulu kamu pernah bilang kalau hariku tiba, aku ingin berada di pangkuanmu, Mah.
Begitulah seklumit kisahku, kisah nyata yang aku alami. Sayangi dan jaga mereka yang masih ada. Manusia hanya bisa berencana selebihnya milik Allah. Yang terbaik menurutku belum tentu yang terbaik menurut Allah. Jadi, percayalah bahwa Allah itu menyayangi kita.
The End