Black Coffee [Drama, Romance]
<<<<<--->>>>>
Aku gesya, aku anak sma tapi sangat mencintai kopi. Tak terpikir bahwa aku akan jatuh cinta karena hobi isengku terhadap kopi. Saat itu sore hari, setelah pulang sekolah aku langsung mampir ke cafe kopi baru.
Disana aku bertemu dengannya, alex.. Barista yang biasa saja tapi ada wajah sendu sekaligus hangat saat melihatnya. Saat itu aroma kopi pun tidak tercium denganku, suara bisingpun aku hiraukan.
Entah kenapa aku merasa 'dialah orangnya' Aku disadarkan oleh pelanggan dibelakangku karena membuat antrian terhenti, aku meminta maaf dan lekas memesan kopi kesukaanku.. Cappuccino, kududuk dimeja paling ujung menghadap kaca sambil melihat nya dengan cahaya sore.
Tak lama kemudian mata kami bertemu dan dia tersenyum,aku tak suka itu.. Aku memalingkan wajahku yang bersemu merah, aku akhirnya hanya menatapnya dari pantulan kaca.. Beruntung kaca dicafe ini memperlihatkan pantulan sehingga aku betah
"baiklah, silakan nikmati kopimu.. Jangan lupa datang lagi, dan jangan terlalu sering melihat ku dari pantulan kaca itu haha" dia mengejekku dan pergi.
Aku malu sekali ternyata dia menyadari nya, cepat cepat kuhabiskan kopiku dan pulang kerumah karena malu. Keesokan harinya kubawa temanku leni untuk menemaniku, jujur saja aku masih malu.
Kalau saja bukan karena kopi disini enak, mungkin aku takkan datang lagi. Yah tapi untungnya kopi disini enak. Entah aku bersyukur atau tidak haha. Namun, aku tak melihat alex hari ini. Mungkin belum beruntung, akhirnya aku dan leni duduk ditempat kemarin.
Aku mendengar ada seseorang yang masuk ke cafe dan saat kulihat itu adalah alex. Dia menghampiriku dan duduk disampingku. Dengan sok akrab dia bercanda denganku.
"hai gesyaa, datang lagi ya? Hehe" Ucap Alex dengan santainya.
"iya, aku mengajak temanku.. Ini leni.. Leni, ini alex" Aku pun mengenalkan mereka.
Kita pun saling mengobrol lama, entah kenapa cepat sekali akrab bersama. Dan seterusnya kami selalu bersama setiap pergi kemanapun, kami bersahabat. Dan ya aku menyukai alex sejak pertama melibatnya, dan sepertinya dia menyukaiku.
Leni bilang alex sering sekali memintanya menceritakan tentangku padanya. Aku pun merasa mendapatkan harapan baru. Sampai pada saat valentine aku dan alex janjian bertemu di cafe. Seperti biasa aku duduk ditempat favoritku, dengan secangkir kopi.
Aku berdebar karena alex malu malu saat mengajakku ke cafe. Kutunggu alex tak kunjung datang, sudah 3 jam berlalu. Aku sengaja belum meminum kopiku dan hanya melihat orang berlalu di kaca cafe dengan harapan alex cepat datang.
Bel cafe berbunyi tanda ada orang baru yang datang, kulihat leni datang dan menghampiriku saatku hendak meminum kopiku. Perasaanku tidak enak, ada hal buruk yang terjadi rasanya. Leni duduk didepanku dan memberitahuku hal aneh.
"alex... Telah pergi" Leni mengucapkannya dengan tatapan sendu terhadapku.
Disaat yang sama ku meminum kopiku dan kusadari itu bukan cappuccino yang biasa aku minum saat alex disini, itu.. Black Coffee.
Ya, pahit seperti hal yang aku dengar sekarang. Tidak, aku tidak menangisAku hanya terdiam, leni hanya menemaniku tanpa berkata sepatah katapun. Aku meminum kopiku sampai habis dan pulang kerumah.
Leni tidak menemaniku karena aku menolaknya mengantarku, aku butuh waktu sendiri. Saat di tengah perjalanan, salju pun turun. Aku tak peduli lagi, mau dengan pesanan kopiku yang salah maupun salju yang membuat tubuhku dingin saat ini.
Aku hanya termenung memikirkan kenangan bersama alexKulihat ada seseorang didepan rumahku dan itu alex. Aku menangis dan langsung memeluknya erat, aku harap ini bukan bagian dari ketidakwarasan ku. Aku mencium aroma kopi khas di dekapan alex.
Dia terdiam, tak lama kemudian dia melepas pelukanku dan mencium keningku dan membisikanku sesuatu 'aku mencintaimu'. Alex menghilang.
Ah aku mengerti, dia hanya ingin mengucapkan selamat tinggal rupanya. Berkat itu aku menangis sejadi-jadinya.
6 tahun kemudian, aku menjadi seorang barista. Entah karena aku tak bisa melupakan alex atau karena aku mencintai kopi. Kulihat ada yang datang ke cafe dan berdiri didepanku. Saat melihatnya, aku kaget karena dia mirip dengan alex. Tapi dengan profesional kulayani dia seperti biasanya.
"Anda ingin memesan atas nama siapa?" tanyaku.
Dan, dia menjawab "Alex".
The end.