[nama tokoh tidak ada sangkut pautnys dengan nama pena]
.
.
Orang selalu bilang, kalau memang sudah berjodoh, jodoh itu tidak akan kemana. Aku tidak akan menyalahkan hal itu. Karena bagiku, dia adalah separuh hatiku yang kutemukan dalam segenggam memori tentangnya.
.
.
.
.
Leonard Adrian, tengah berjalan menuju sebuah gedung sekolah yang terlihat sederhana. Tidak jauh di depannya adalah kakak kembarnya, Rasyad Adrian, bersama istrinya.
Rasyad telah menikah enam bulan yang lalu. Rasyad dan istrinya bertemu di sebuah seminar ketika Rasyad ditugaskan untuk mengisi seminar itu sebagi motivator delapan bulan yang lalu. Dua bulan kemudian, sebulan menjalani ta'arufan, Rasyad datang untuk meminang perempuan itu.
Leo turut bahagia. Lelaki dua puluh dua tahun itu berpikir Rasyad pantas mendapatkan pendamping yang juga sama-sama sholeh. Kakak iparnya adalah sosok kakak perempuan yang sangat baik. Dia adalah perempuan yang ceria. Menurutnya, mereka berdua saling melengkapi mengingat sifat Rasyad yang kalem dan lembut.
Setelah berbagai kejadian bertahun-tahun lalu, Rasyad dan dirinya semakin dekat. Bahkan Rasyad-lah yang menjadi inspirasi dan motivasi pertama Leo untuk berubah. Untuk berubah menjadi orang yang lebih baik.
Mengingat masa lalunya, terkadang Leo merasa malu. Namun, hal itu menjadi pembelajaran baginya dan Leo berterima kasih kepada kakak kembarnya yang begitu sabar dan tidak pernah marah padanya.
Leo tersenyum menatap punggung Rasyad yang tengah sabar mendengarkan istrinya bercerita. Leo menggambarkan Rasyad adalah sosok malaikat yang dikirimkan Tuhan padanya. Malaikat penolong yang menggandengnya menjauhi sisi gelap.
Hari ini, Rasyad mengajaknya menghadiri sebuah acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Tulips, sebuah yayasan untuk anak-anak disabilitas. Yayasan itu dikelola oleh seorang keturunan Belanda.
Lokasi acara sudah mulai ramai ketika mereka sampai. Sebuah panggung mini berada di depan kursi yang berjejer-jejer. Dekorasi warna-warni menghiasi lapangan outdoor yang digunakan untuk acara. Acara yang diselenggarakan adalah sebuah pentas yang dilakukan oleh anak-anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di yayasan tersebut.
Rasyad dan Leo mewakili yayasan amal mereka yang bekerja sama dengan Yayasan Tulips.
"Kita datang dua puluh menit sebelum acara dimulai," kata Rasyad. "Jadi, kita masih punya waktu kalau mau berkeliling sebentar."
"Aku mau berkeliling sebentar," kata Leo. Rasyad mengangguk mengiyakan.
.
.
.
Leo tengah berada di belakang panggung.
Leo terkekeh melihat tingkah anak-anak itu tengah bergerak kesana kemari ketika dipakaikan kostum mereka.
Dia tersenyum ketika melihat antusiasme yang terpancar di mata mereka. Mereka terlihat senang. Mau tak mau Leo kembali tersenyum ketika melihat seorang anak mencoba menggapai-gapai sebuah bedak dan menumpahkannya di baju seorang perempuan. Perempuan itu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ketika anak itu tertawa dan bertepuk tangan senang. Sepertinya anak itu sengaja mengerjainya.
"Risti, ibumu meneleponku lewat ponselku. Katanya ponselmu tidak aktif."
Leo menoleh ketika mendengar seseorang berkata. Dia mengalihkan pandangannya dari anak-anak itu pada seorang perempuan yang berbicara tadi.
"Benarkah? Ah, afwan, Ponselku mati jadi aku tidak tahu kalau ibuku menelepon," kata perempuan lain yang dipanggil Risti tadi.
"Pakai saja ponselku. Ini," ujar Tiwi sambil menyodorkan ponselnya kepada Risti.
"Afwan, pinjam sebentar ya."
Setelah berkata seperti itu, Risti berjalan menjauh dari keramaian untuk menelepon ibunya menggunakan ponsel Tiwi.
Seorang anak perempuan, kira-kira berusia dua belas tahun, mendatangi Tiwi.
"Kakak! Aku sudah bisa hafal gerakannya lho," kata anak itu.
Tiwi tersenyum dan berkata, "Benarkah? Nanti Cika pasti bisa tampil dengan bagus."
Anak itu mengangguk. "Iya, nanti kakak lihat ya! Di depan."
Tiwi mengangguk. "Pasti. Nanti, kakak akan di depan sama orang tua Cika buat ngasih semangat Cika. Oke?"
"Oke!"
Kemudian, anak itu berlari menjauh dan menghampiri teman-temannya dengan semangat. Tiwi tersenyum melihatnya.
Sementara itu, dari kejauhan, Leo ikut tersenyum melihat interaksi mereka. Dia terdiam beberapa saat sebelum menyadari seseorang menarik-narik celana bahannya. Dia menoleh ke sebelahnya dan melihat seorang anak laki-laki berumur delapan tahun yang tengah menatap ke arahnya. Anak itu telah mengenakan kostum pentasnya, sebuah celana merah dengan rompi biru tua.
Leo tersenyum dan berjongkok untuk mensejajarkan tinggi mereka. "Apa yang bisa kubantu untukmu?"
Anak itu menggerakkan tangannya memberikan isyarat.
Leo mengerutkan keningnya bingung. Dia melihat anak itu mengulang gerakan yang sama. Leo tetap tidak paham. Dia belum pernah belajar mengenai bahasa isyarat sehingga dia tidak paham apa yang ingin disampaikan anak itu.
"Mungkin aku bisa membantumu."
Sebuah suara lembut menginterupsi mereka. Leo menoleh dan mendapati perempuan tadi berdiri tidak jauh darinya. Perempuan itu tersenyum.
Entah kenapa Leo merasa familiar. Hatinya mendesir aneh.
Leo berdiri dan mempersilakan perempuan itu. Leo tidak berani menatap matanya. Dia mengamati gerakan tangan perempuan yang mengenakan kerudung lebar itu. Kemudian, dia menoleh ke arah anak kecil tadi.
Mereka saling melempar isyarat tangan sebelum akhirnya perempuan yang bernama Tiwi itu berbicara padanya.
"Rifan bilang, "Bisakah kakak membantunya menurunkan kucingnya yang ada di boks?""
Leo mengangguk. "Tentu saja. Di mana?"
Dia tersenyum ke arah anak bernama Rifan tersebut. Leo melihat Rifan memberi isyarat.
"Di atas meja," kata Tiwi. Rifan menunjuk sebuah meja yang tidak jauh darinya. Meja itu cukup tinggi untuknya. Leo mengangguk dan berjalan ke arah meja. Dia mengambil boks berwarna oranye dan memberikannya kepada Rifan.
Anak itu tersenyum lebar saat menerima boks berisi kucing kesayangannya. Mau tidak mau hal itu membuat Leo ikut tersenyum. Dia mengacak pelan rambut anak itu dengan sayang.
Tanpa disangka-sanga, anak itu memeluk Leo. Hanya sebatas kaki sampai pinggangnya. Leo yang tidak menduga hal itu cukup terkejut. Dia hanya menepuk-nepuk pelan punggung anak itu.
Kemudian, anak itu berlari menjauh dengan gembira ke arah teman-temannya. Leo memperhatikan punggung Rifan yang mulai menjauh.
"Syukron," kata Tiwi.
Leo menoleh dan mengangguk. "Afwan."
Kemudian, Tiwi pamit undur diri. Leo memperhatikan punggung Tiwi yang tertutup kerudung ungu panjangnya.
Dia merasa pernah bertemu perempuan itu tetapi entah di mana dan kapan.
Leo menatap Tiwi yang kini tengah tertawa bersama anak-anak yang mengelilinginya. Temannya yang bernama Risti tadi sudah kembali dan bergabung bersamanya.
Perempuan itu terlihat begitu lepas dan dia sepertinya dekat dengan anak-anak itu.
Leo ikut terkekeh ketika melihat perempuan itu berusaha menghibur seorang anak perempuan yang merajuk.
Dia larut dalam pikirannya. Perempuan itu membuatnya bertanya-tanya. Mengapa dia merasa tidak asing dengannya?
Hingga matanya tidak sengaja bertemu pandang dengan mata perempuan itu. Tiwi tengah tersenyum hingga kedua matanya melengkung ke atas.
Tiba-tiba waktu seolah berhenti sejenak. Suara-suara keramaian seolah-olah menghilang. Leo tertegun melihat senyumannya.
Senyuman itu. Dia tidak asing lagi.
Leo tidak pernah melupakan senyuman itu.
Hatinya mendesir aneh. Jantungnya tiba-tiba berpacu lebih dari biasanya. Tangannya kini terasa dingin.
Dia menyentuh dadanya, di mana jantungnya kini berdetak lebih kencang.
Dia tidak asing dengan rasa ini.
"Leo."
Seseorang menepuk pundaknya.
Leo sedikit terkejut sebelum buru-buru mengalihkan pandangannya dari arah Tiwi yang kini memberikan arahan kepada anak-anak bersama Risti dan beberapa orang dewasa. Dalam hati dia beristighfar.
Dia menoleh dan mendapati kakak kembarnya dan istrinya.
"Kami mencarimu, tidak tahunya kamu ada di sini," kata kakak iparnya. Leo hanya meringis merasa bersalah.
"Kamu tadi sedang apa?" tanya Rasyad penasaran.
Leo hanya terdiam tidak menjawab. Dia sedikit melirik ke arah Tiwi berada sebelum menggeleng dan tersenyum ke arah Rasyad.
Rasyad tidak meluputkan gestur Leo tadi. Dia juga melihat Leo menatap ke arah perempuan itu sebelum dia menepuk bahunya tadi.
"Sebaiknya kita cari tempat duduk," kata istri Rasyad. Leo mengangguk menyetujui. Rasyad menoleh ke arah di mana Leo tadi melirik, di kejauhan dia melihat perempuan itu tengah berbicara dengan temannya, sebelum mengangguk menyetujui kata istrinya.
.
.
.
Leo tidak bisa fokus memperhatikan acaranya. Pikirannya terbang entah ke mana. Sejak dia duduk di sebelah kakak iparnya, pikirannya terus berkecambuk.
Dia teringat senyuman perempuan itu.
Dia juga teringat senyuman yang sama yang terekam jelas di memorinya sejak bertahun-tahun yang lalu.
Dia ingat saat dia berusia delapan tahun. Waktu itu dia tinggal di rumah kakeknya yang berbeda pulau dari rumahnya selama tiga bulan.
Dia hendak menyusul kakeknya yang tengah memancing ketika dia melihatnya.
Gadis kecil dengan senyuman indahnya.
Teman masa kecilnya dulu.
Waktu itu, Leo tengah bersepeda terburu-buru untuk menemui kakeknya yang memancing di sebuah danau yang tidak jauh dari rumah kakeknya. Namun, di tengah jalan dia terhenti. Dia melihat seorang gadis kecil yang tengah duduk di ayunan tengah menangis sesenggukan. Beberapa anak terlihat mengerubunginya.
Leo berhenti untuk melihat apa yang terjadi.
Seorang anak perempuan sebaya dengan gadis itu berteriak ke arahnya, "Anak Cengeng! Anak Cengeng! Kami tidak mau main sama anak cengeng sepertimu."
Beberapa anak tertawa mengejek.
Seorang anak lelaki bertubuh besar mendorong gadis itu hingga terjatuh.
"Anak hitam."
"Pergi saja sana. Dasar anak cengeng!"
Gadis itu semakin terisak. Kemudian, anak-anak yang lain pergi dari tempat itu dan bermain di sisi lain taman itu.
Tanpa pikir panjang Leo meninggalkan sepedanya dan berlari menghampiri gadis kecil berambut pendek yang tengah menangis.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya khawatir. Rencananya untuk menyusul kakeknya memancing terlupakan begitu saja. Leo berjongkok di depan anak itu.
Gadis kecil itu mendongak dan melihat ke arahnya. Dia masih sedikit sesenggukan.
"Aku mau kok main sama kamu," kata Leo. Dia terdiam sebentar, mengingat-ingat sesuatu, sebelum berujar, "Kata ibu, perempuan yang mudah menangis itu hatinya lembut."
"Benarkah?" gadis kecil itu mencicit. Sepertinya dia anak yang pemalu. Pipinya memerah sehabis menangis. Dia menghapus air matanya dengan kedua tangannya.
Leo mengangguk. "Iya! Ayo main sama aku. Aku janji aku akan membela dan melindungimu nanti kalau mereka berbuat nakal lagi padamu."
Gadis kecil itu tertawa kecil.
Leo mengulurkan tangannya dan gadis kecil itu menyambutnya. Dia tersenyum hingga kedua matanya melengkung ke atas.
Leo terdiam menatap senyuman itu sebelum ikut tersenyum juga.
Dia bilang tanpa pikir panjang, "Senyummu cantik! Sama seperti ibu."
Kemudian, pipi gadis itu memerah.
Leo tersenyum kecil mengingatnya. Sayangnya, dia lupa nama gadis dengan senyuman indahnya itu. Dia hanya ingat gadis itu berusia sembilan tahun, dua bulan lagi sepuluh tahun, saat dia pertama kali bertemu kala itu. Sementara dirinya baru saja berusia delapan tahun. Dia sedih saat harus pindah karena pekerjaan ayahnya padahal dia baru saja mendapatkan sahabat terbaik. Leo hanya sempat bermain dengannya selama tiga bulan sebelum pindah.
Lamunannya terbuyar ketika suara riuh tepuk tangan terdengar. Dia baru sadar, pentasnya sudah selesai dan dia tidak sempat melihatnya keseluruhan.
Dia menjadi sedikit menyesal tidak memperhatikan. Namun, dia ingat kalau kakak iparnya itu suka merekam acara pentas yang disukainya dan Leo tahu kakak iparnya itu suka acara anak-anak.
Mungkin dia nanti akan melihat dari rekaman kakaknya.
.
.
.
Mereka bertiga berjalan keluar gedung untuk pulang.
"Bagaimana acaranya menurutmu, Leo?" tanya perempuan satu-satunya dalam rombongan itu.
Leo pertama kali menghadiri acara seperti tadi dan berinteraksi langsung dengan anak-anak berkebutuhan khusus.
"Bagus. Anak-anaknya terlihat bersemangat sekali," jawab Leo dengan jujur.
"Setiap tahun Yayasan Tulips memang mengadakan acara seperti ini," kata Rasyad.
Leo mengangguk-angguk paham.
Kemudian, Leo mengalihkan pandangannya. Dia melihat-lihat gambar-gambar yang menghiasi dinding gedung. Beberapa lukisan dan foto terpajang.
Mereka berjalan melewati lobi. Sebuah lemari kaca yang di dalamnya berisi berbagai macam piala terletak di seberang meja resepsionis. Mata Leo menangkap sesuatu yang berada di atas meja itu.
Dia berjalan menghampirinya, tidak memperhatikan tatapan heran dari keluarganya.
"Ada apa?" tanya Rasyad.
Leo mengambil benda itu. Sebuah Al-Quran berukuran panjang dua puluh senti. Sampul Al-Quran itu berwarna biru muda dengan motif hiasan bunga-bunga kecil.
"Ini," jawab Leo sambil menunjukkannya ke arah dua saudaranya.
"Punya siapa?" tanya Rasyad lagi.
"Sepertinya tertinggal. Coba kamu cek ada namanya tidak. Mungkin itu milik pegawai sini atau pengunjung," kata istri Rasyad.
Leo membuka sampul dari kitab yang dia yakin adalah milik seorang perempuan.
Sebuah kertas terjatuh.
Leo memungut kertas yang ternyata adalah pembatas buku. Sebuah tulisan tertera di sana.
La tahzan, innallaha ma'ana.
Begitu yang tertulis di sana. Leo merasa familiar dengan tulisan tangan itu. Dia juga tidak asing lagi dengan kata-kata di sana.
Leo pernah mendapatkan tulisan yang hampir mirip bersama dengan sebuah Al-Quran sekitar tujuh tahun lalu. Sampai sekarang, Leo masih menyimpan tulisan itu.
Kemudian, dia mencari nama yang mungkin ada di sana.
Dia menemukan sebuah nama yang tertera di pojok kanan atas halaman yang berisi asmaul husna.
Pratiwi Barrah.
Sepertinya dia kenal.
Kemudian, matanya membulat tidak percaya. Dia ingat.
'Dia....' batin Leo masih tidak percaya.
"Risti, Al-Quranku mana ya? Kok tidak ada di tas."
Mereka bertiga menoleh bersamaan saat mendengar suara itu. Tidak jauh dari mereka, dua orang perempuan tengah berhenti di halaman di depan lobi.
Sepertinya mereka hendak pulang.
"Seriusan?" tanya Risti. "Kamu tadi naruhnya di mana terakhir kali?"
"Aku lupa," jawab Tiwi sambil kembali menggeledah tasnya.
"Subhanallah."
Leo menatap ke arah Rasyad dan berujar, "Sepertinya aku tahu ini milik siapa."
Leo berjalan ke arah Risti dan Tiwi berada diikuti Rasyad dan istrinya di belakangnya.
"Assalamu'alaikum."
Tiwi dan Risti menoleh dan menjawab secara bersamaan, "Wa'alaikumsalam warahmatullah."
"Afwan, saya tidak sengaja mendengar percakapan kalian. Saya mau memberikan ini," kata Leo sambil menyodorkan Al-Quran yang ditemukannya tadi.
"Saya menemukannya di meja lobi. Mungkin ini yang dicari."
Tiwi tersenyum dan berujar, "Syukron, jazakillah khairan katsir. Ini memang Al-Quran saya. Terima kasih sekali lagi."
Tiwi mengambil Al-Quran tadi dan memasukkannya di tas. Entah kenapa, Leo merasa de javu.
Dengan mata yang bengkak dan sembab, dia mendongakkan kepalanya. Leo melihat seorang perempuan dengan penampilan alim, khimar dan jilbab lebar, berdiri di depannya.
Leo tidak peduli seorang perempuan melihatnya menangis. Dia tidak bisa melihat wajahnya karena perempuan itu mengenakan sebuah masker. Apa dia sakit?
Perempuan itu mengulurkan sebuah kitab kecil padanya. Leo menerimanya dengan bingung.
Tujuh tahun yang lalu adalah kejadian yang merubah segalanya.
Tujuh tahun yang lalu juga adalah kejadian yang membuatnya hampir kehilangan Rasyad karena kebodohannya.
Tujuh tahun yang lalu itu pula adalah kejadian yang menjadi titik awal baginya.
"Sekali lagi terima kasih," perkataan Tiwi membuyarkan lamunan singkatnya. Dia melihat Tiwi tersenyum.
'Senyum itu....' batinnya.
Perempuan itu mengangguk. Dia melihat matanya melengkung ke atas dan Leo berasumsi bahwa dia tengah tersenyum.
Leo balas tersenyum. "Afwan."
'Mata yang tersenyum,' batin Leo. 'Hal itu ada padanya.' Desiran aneh itu muncul semakin kuat.
Mata Leo dan Tiwi tidak sengaja bertemu pandang. Menyadarinya, mereka kemudian memalingkan wajah malu secara bersamaan. Mereka tidak menyadari tiga pasang mata yang memperhatikan keduanya. Ketiga orang itu hanya tersenyum.
Kemudian, Risti memutuskan untuk memecah keheningan.
"Afwan, kenalkan saya Risti," kata Risti. "Dan dia adalah sahabat saya, Pratiwi. Kami staf tidak tetap Yayasan Tulips."
"Saya Rasyad dan itu adalah adik saya, Leo," kata Rasyad sambil tersenyum. Dia menoleh ke arah istrinya.
"Sementara ini adalah istri saya," katanya. Perempuan itu tersenyum dan menjabat tangan Risti.
"Annisa."
***
.
.
.
.
.
Epilog
.
.
.
Enam bulan kemudian....
.
.
.
Acara malam ini tampak ramai.
Malam ini adalah acara resepsi pernikahan salah satu sahabatnya, Risti Prameswari. Tidak begitu mewah tetapi dapat dibilang tamu yang hadir terbilang banyak. Acara dengan konsep prasmanan ini diselenggarakan di rumah suami Risti, Luthfi Algozali. Rentang usia mereka adalah tiga tahun.
Tiwi senang melihat sahabat seperjuangannya sejak kuliah itu pada akhirnya menikah.
'Menikah ya?' batinnya. Dia jadi teringat seseorang.
Tiwi berjalan berkeliling sendirian. Sebenarnya dia datang berempat. Namun, entah kenapa mereka bisa terpencar. Tiwi sempat bertemu beberapa teman semasa kuliahnya yang hadir di acara malam hari ini.
Dia bahkan bertemu sahabat sejak SMP dulu, Rika. Rika ternyata bekerja satu divisi bersama Luthfi di tempatnya bekerja. Luthfi merupakan kepala divisinya.
Mereka sempat berbincang sebentar sebelum seseorang di depan panggung sana meminta perhatian dari para tamu.
Seorang laki-laki bertubuh tinggi tengah duduk di kursi di atas panggung dengan sebuah gitar. Dia lalu berbicara melalui pelantang.
"Assalamu'alaikum, afwan tidak bermaksud mengganggu kesejahteraan kalian semua. Sebelumnya, saya mau bilang barakallah kepada pengantin baru, Risti dan Mas Luthfi, semoga menjadi keluarga yang samara dan dikaruniai putra-putri yang sholeh sholehah."
Para tamu undangan mengamini perkataannya.
"Saya juga mau mengucapkan terima kasih sudah diizinkan untuk menyela sejenak. Di sini saya ingin menyanyikan sebuah lagu yang mungkin hampir dari kalian familiar dengan lagu ini."
"Selamat mendengarkan," lanjutnya sebelum terdiam sejenak.
"I found a love for me," laki-laki itu mulai memetik gitarnya sambil bersenandung. Lalu diikuti pemusik lain.
Lagu yang familiar terdengar. Semua tamu memperhatikan laki-laki bersuara bagus itu bernyanyi menyanyikan lagu yang berjudul Perfect.
Irama lagu yang mellow membuat suasana malam ini semakin terasa. Sebagian tamu terlihat terhanyut dengan lagu yang dinyanyikan.
Tiwi dan Rika ikut melihatnya.
"Cause we were just kids when we fell in love. Not knowing what it was..."
"Masya Allah, suaranya sangat bagus," bisik Rika pada Tiwi. Tiwi mengangguk menyetujui. Matanya masih terpaku di depan.
Dia tidak menyangkal perkataan Rika. Laki-laki itu memiliki suara yang bagus.
Tiwi terhanyut dalam pikirannya. Berbagai hal telah terjadi. Dia ingat sebuah kenangan. Kenangan tentang bocah kecil delapan tahun yang menjadi sahabat kecilnya.
Dia tersenyum mengingatnya. Kemudian, dia kembali memfokuskan pandangannya ke depan.
"We're still kids, but we're so in love. Fighting againts all odds. I know that we'll be allright this time...."
Tanpa sadar Tiwi tersenyum. Dia suka lagu ini dan ketika dinyanyikan malam ini, dia merasa tersentuh. Hatinya tiba-tiba terasa hangat.
"Darling just hold my hand. Be my girl, I'll be your man. I see my future in your eyes..."
Matanya dengan mata laki-laki itu bertemu pandang. Laki-laki memberikan senyumannya sambil meneruskan lagunya.
Tiwi kemudian menundukkan pandangannya. Entah kenapa halaman berumput itu lebih menarik perhatiannya. Wajahnya memerah.
"Now I know I have met an angel. In person, and she looks perfect. No I don't deserve it, but you look perfect tonight..."
Suara tepuk tangan menyambut selesainya lagu itu dinyanyikan. Namun, Tiwi tetap menundukkan kepalanya.
"Syukron, jazakillah khairan katsir," kata laki-laki tadi. "Lagu tadi saya persembahkan untuk kedua pengantin baru dan juga pasangan yang ada di sini."
"Terutama untuk istri saya," laki-laki itu mengedarkan pandangannya. Hingga bertemu sepasang manik kecoklatan milik sang istri.
Tiwi bisa mendengar beberapa perempuan mengeluh karena mengetahui bahwa pemuda tampan itu sudah menikah. Hampir semua tamu bersiul-siul dan bertepuk tangan.
Bahkan ada beberapa yang bertanya siapa istrinya.
"Pratiwi Barrah."
Wajah Tiwi tidak bisa tidak semakin merah. Dia meremas kedua tangannya gugup. Rika yang melihat sahabatnya hanya tersenyum. Dia menyenggol bahu Tiwi pelan. Rika yang menghadiri acara pernikahan sahabatnya tentu tidak terkejut. Sama seperti beberapa orang yang hadir di sini dan pengantin baru, Risti dan Mas Luthfi.
Namun, teman-teman kuliahnya dulu yang belum tahu kalau dia menikah terkejut. Beberapa dari mereka melemparkan pertanyaan yang sama, "Kapan?" lalu "Benarkah?".
Tiwi bisa merasakan pandangan semua orang kini terarah padanya. Dia semakin menundukkan kepalanya.
"Seriusan?" seseorang berceletuk. "Dia biasa aja tuh."
Bahkan Tiwi yakin dia mendengar seseorang bergumam, "Maksudmu perempuan berkulit sawo matang itu? Tidak cocok."
Wajahnya kini terlihat memerah seperti kepiting rebus.
Rika yang mendengar hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia bergumam, "Astaghfirullah."
Rika melihat laki-laki itu melihat perempuan di sebelahnya dengan pandangan khawatir.
"Jangan menundukkan kapalamu," katanya pada perempuan dengan khimar hijau toska itu.
"Suamimu sedang melihat ke arah sini."
Dengan perlahan Tiwi mengangkat kepalanya. Pandangannya kembali bertemu pandang dengan laki-laki di atas panggung yang berada tepat lurus tak jauh di depannya.
Laki-laki itu kemudian meletakkan gitarnya dan turun dari panggung mini. Berpasang-pasang mata menatapnya saat dia berjalan ke arahnya.
"Dia adalah malaikat yang berhati lembut. Ana uhibbuki fillah, Ai," katanya dengan lembut. Namun, beberapa orang yang berdiri tidak jauh dari mereka bisa mendengarnya.
Tiwi melemparkan senyum malu-malu ke arahnya yang dibalas senyuman lembut.
.
.
.
Beberapa saat sebelumnya...
.
.
Leo agak gugup. Meskipun sebenarnya dia sudah terbiasa berada di atas panggung untuk bernyanyi. Dia tergabung dalam grup musik religi di kota ini meski dia lebih fokus bekerja bersama kakak kembarnya mengelola yayasan amal. Leo meminta Rasyad menemaninya dengan bermain keyboard. Sementara Annisa, istri Rasyad tengah duduk ditemani dan berbincang dengan salah satu adik Risti, Aya.
Annisa sedang mengandung.
Leo ingin memberikan kejutan kecil untuk istrinya.
Dia sudah menikah tiga bulan yang lalu dengan teman masa kecilnya dulu. Gadis kecil dengan senyuman indahnya.
Setelah bertemu kembali di acara Yayasan Tulips beberapa bulan yang lalu, Leo tahu Pratiwi Barrah adalah gadis kecilnya. Dia selalu mengingat senyum khasnya itu.
Leo juga tahu bahwa gadis di rumah sakit yang memberinya sebuah Al-Quran tempo itu adalah orang yang sama dikenalnya sebagai sahabat masa kecilnya. Kemudian, dia kembali bertemu dengannya setelah beberapa tahun berlalu. Bahkan, Leo baru sadar ketika Tiwi bercerita bahwa dia sebenarnya adalah kakak kelasnya di SMA.
Tiwi berada di tingkat akhir ketika Leo masuk SMA. Tiwi langsung tahu ketika beberapa kali berpapasan. Namun, Leo tidak menyadarinya.
Leo tertawa kecil ketika mengingat kejadian yang tidak disangkanya itu.
'Sejak kecil, aku sudah suka dengannya,' batinnya lalu dia tersenyum. 'Kemudian, kita dipertemukan kembali setelah bertahun-tahun.'
Leo sudah meminta izin kepada Mas Luthfi dan Risti untuk menyanyikan lagu untuk istrinya. Mas Luthfi adalah kakak tingkatnya waktu di kuliah sekaligus merupakan mentornya.
Dia ingin mengatakan lewat lagu untuk memberitahu Tiwi kenyataan yang kadang disangkal olehnya. Kepercayaan diri.
Kemudian, Leo mengambil napas dalam-dalam sebelum menaiki panggung mini tersebut di ikuti oleh Rasyad yang berjalan di belakangnya.
.
.
.
end for now