Malam,
Faber sedang berdiang bersama kenalan barunya dengan api unggun yang baru menyala. Viona heran sekaligus tertarik dengan kejadian sebelum ini, lantas bertanya pada Faber
"Memangnya tidak ada lagi ya, sesuatu yang bisa kau lakukan? "
Mendengar pertanyaan itu Faber menatapnya dengan tatapan kosong kemudian hanya menggeleng.
"Bisa jelaskan? " tanya Viona lagi
"Aku hanya bingung, " ucap Faber lalu menghela nafas panjang "tidak ada hal yang kuingin dari awal aku hidup, " lanjutnya
"Tapi-" Viona sempat terkekeh sebelum menyelesaikan kalimatnya "-Kenapa mencoba bunuh diri di kolam renang?"
"Aku tak bisa berenang, "
"ya, tapi itu kan tempat umum? "
"sepi " jawab Faber singkat
Viona kembali terkekeh pelan. Ia tidak menyangka itu saat Faber menggelepar akan tenggelam. Ia kira Faber hanya tak pandai berenang, ternyata bukan cuma itu jawabannya
Viona sering sekali pergi ke kolam renang umum untuk yah.. sekedar berolahraga. Ia tertarik dengan ini karena ia akan jadi seorang sosiolog suatu hari, dan kasus Faber bisa jadi bahan latihan, kalau ia bisa menyelesaikan permasalahan yang dihadapi Faber. Ia memulai kuliah 2 tahun lalu, sedangkan Faber baru akan mendaftar kuliah.
"Apa kau tak punya orang tua? atau rumah? "
"Masa depan satu satunya hal yang aku tak punya"
"Akan kubantu kau untuk mencari masa depanmu, kau harus jawab pertanyaanku dulu, " ujar Viona menatap Faber penuh empati
"Aku... aku kabur dari rumah. Aku ingin survive biar mandiri "
"Hei, bukan begitu caranya, dasar kau ini"sanggah Viona " Tapi baiklah, karena kau sudah mengatakan sesuatu dan ini sudah malam... "
Viona tak melanjutkan kalimatnya. Faber memandangnya, menunggu kalimat yang menggantung itu selesai, tapi Viona hanya mengangkat kedua alisnya sambil sedikit mencondongkan kepala.
"Apa? " tanya Faber bingung
"Aku bilang aku mau membantu, jadi ayo istirahat di tempatku, ikut aku " ajak Viona
"Bisa aku beri saran? "
"Aaa aku bilang ini sudah malam, besok saja, " Viona tak peduli. Ia menggerakkan tangannya, mengisyaratkan Faber untuk mengikutinya
Akhirnya keduanya pulang ke rumah Viona. Di perjalanan Faber bertanya
"Jadi aku tidur di rumahmu? "
"Hm, siapa bilang? "
"I, itu tadi-"
"Aku punya ruang galeri, terpisah dari rumahku"
Mereka berjalan dan akhirnya sampai ke ruang galeri Viona. Gadis itu membentang tangan
"Nah, anggap saja rumah sendiri... walaupun ini bukan rumah, sebenarnya"
"Aku yakin ini sudah mendekati, " celetuk Faber sambil memandangi dan mangut mangut. Viona tertawa kecil melihatnya
"Aku pulang dulu" Ucap Viona
"Ee, tunggu! namamu siapa? Um, kalau namaku Faber"
"Viona! " jawabnya sedikit keras karena sudah jauh
"Viona?! "
Faber tampak agak terkejut mendengar nama itu, tapi bodoamat lah... ia pun masuk ke ruang galeri dan kembali memperhatikan seisi tempat tersebut. Disitu ia melihat banyak lukisan. Ia menemukan sofa, kasur untuk satu orang, meja dan beberapa buku dalam rak tersusun.
siapa yang pernah tinggal disini sebelumnya? apa ada? pikir Faber lalu berlalu lagi. Kemudian ia mendapatkan tumpukan kanvas, penyangganya untuk digunakan saat melukis duduk, serta cat akrilik lengkap dengan kuasnya.
Keesokan paginya Viona pergi ke ruang galeri lagi untuk... yah, mengecek apakah ada yang hilang
Maksudnya melanjutkan ngobrol dengan objek penelitiannya
Tak lupa Viona bawa beberapa roti untuk sarapan, sekalian ia sarapan bersama Faber untuk menjalin hubungan... ee.. rekanan maksudku
"Bagaimana, em-?? " Viona ingin memulai percakapan dengan basa basi, menanyakan kondisi Faber pagi ini. Tapi belum ditanya, ia melihat Faber sedang menatapnya dengan kondisi sama sekali tak baik. Faber paham maksud' bagaimana ' tadi membalas dengan lesu
"oh.... tak begitu baik kurasa, aku lelah, "
"Kenapa? Apa yang kau lakukan semalam? "
Faber hanya menujuk ke suatu tempat di sekitar lantai. Viona melihat tumpukan itu, beberapa kanvas yang telah berisi lukisan
"wah, ini-"
Viona melanjutkan gumamnya dengan kekaguman
"Indah, "
(Maaf baru dilanjutkan, terkadang menjadi pengrajin agak sulit :v)
Selesai makan pagi- ya, karena porsi yang diambil Faber tidak terlihat seperti sarapan, belum sempat Viona berbicara Faber mencari sapu dan alat bebersih lainnya, lalu ia mulai membenahi tempat tinggal nya tersebut.
"hei, sarapan tadi tidak gratis"
Oh, maaf. Aku akan bersihkan ini, rumahmu juga. Tapi kalau uang aku tidak punya, "
Tiba tiba Faber mempercepat bersih bersih nya dengan sedikit panik.
"eh, bu, bukan itu maksudnya. Kita perlu bicara"
Mendengar kalimat tadi hati lelaki itu serasa terlepas dari belenggu. Namun suasana hatinya berubah lagi saat ditanya oleh Viona
"Kenapa kau tiba-tiba bebersih? "
"Tempat tinggal kan seharusnya dibersihkan? " jawabnya
"Tapi aku tak menyuruh mu? "
"itu kan tanggung jawabku, "
Mendengar itu, langsung saja Viona berceletuk" Apa maksudmu? apa kau tau arti tanggung jawab? " Faber hanya mengangguk sambil tetap bekerja
"Lalu, kenapa kau lari dari rumah? itu kan tidak bertanggung jawab? "
Dan komentar itu secara spontan membuat Faber terhenti.
Untuk sesaat hanya ada suara angin membelah senyap, detik berikutnya Faber berlalu pergi. Viona baru menutup mulutnya setelah baru sadar akan perbuatan yang ia lakukan. Berbicara seperti tadi benar benar merobek suasana hati rapuh yang sedang senang. Mood Faber ambyar dan ia bingung mau melakukan apa setelah kalimat tadi membuatnya overthinking. ia mencoba duduk di sofa sambil kemudian memegangi kepala
"M, maaf-maafkan aku tidak bermaksud begitu. Ak, aku... "
"-Kenapa mesti repot repot minta maaf, sih?! Orang orang memang membenci kami, sudahlah, aku pergi saja! "
"jangan! tidak perlu semarah itu, kamu masih boleh disini" jawab Viona asal, ia pun masih belum mengerti kenapa ada kata 'kami'? apa artinya?
"Lepaskan! kau tau apaa soal kami? dunia ini mengutuk kami!!..... "