ini bukan sebuah cerpen namun sebuah gambaran kisah nyata seorang wanita muda yang sedang bergelut dengan pikiran dan hatinya. bahkan tidak sempat untuk memikirkan masa depannya. inilah coretan gadis itu. silahkan di baca pembacaku dan semoga di akhir cerita nanti komentar dengan sebutan "dasar wanita gila". daa daa
Hari yang cerah untuk melukiskan betapa hampanya diriku, ketika harus di hadapkan dengan sebuah kenyataan. Amat pahit sangat sangat pahit dan tidak ada hal yang mampu melukiskan itu kecuali dengan air mata.
Kalian melihatku seolah-olah aku ini orang sangat bersyukur. Aku ini adalah orang yang tak mengalami tekanan. Aku ini salah satu orang yang tidak tau apa arti sebuah penderitaan. Perkataanmu salah kawan. Aku sekarang sedang tenggelam pada rasa sakit paling dalam. Tenggelam dalam kekosongan batin dengan mental hampir rusak.
Tapi aku masih hidup kawan, ya untuk sekarang aku bernafas seperti sedang mencoba merebut oksigen karena ibarat tertimpa benda 10 ton. Bayangkan kawan. Itulah keaadanku. Aku tidak bercerita untuk membuat kalian percaya perkataanku
Inilah kehidupanku . Inilah aku . Terkekang dengan keaadaan. Dan aku sendiri tidak bisa menceritakan aku harus apa dan bagaimana. Aku mau apa dan harus dengan siapa?. Tidak kawan. Aku tiada berdaya. Aku seperti bangkai ikan yang hanya mengikuti arus sungai. Tanpa ada hasrat untuk melawan arus air dan bergerak kesana kemari sesuka hati.
Aku terjebak kawan. Terjebak dalam pilihan amat menyiksa. Fisikku sobek, tulangku rapuh, otakku pecah bahkan mentalku kacau. Aku ingin sekali bisa hidup seperti manusia normal kawan. Aku bahkan telah kehilangan indera perasa dengan tidak bisa memunculkan ekspresi bahagia.
Aku bermimpi bisa terbang tinggi hingga aku bisa melihat seluruh dunia ini. Luas pastinya kawan. Memiliki 2 sayap berwana putih dengan gaun putih disertai sepatu berhak tinggi. Terbang melintasi jalan- jalan. Sambil tersenyum bahagia .terkadang juga ada orang yang menyapa. Hatiku saat itu seperti seorang putri di kisah novel yang menemukan cinta sejatinya. Aku tidak akan pernah terbang rendah kawan, karena aku ingin melihat seluruh keindahan alam. Nyatanya itu hanya harapan.
Harapan itu tidak bisa terwujud kawan. Aku si muka datar, si wanita yang terasingkan dan wanita yang tersakiti. Belum sempat senyum lebar hari ini. Belum sempat menangis bahagia hari ini. Belum sempat aku bersyukur hari ini kawan. Aku tiada berdaya seperti perkataanku tadi. Aku hanyalah bisa menerima sebuah kurungan besi dan penggembok hati. Tiada indera perasa dan tiada rasa terima kenyataan.
Mungkin kalian bertanya tanya kepadaku kawan. Apa yang terjadi kepadamu wahai gadis yang malang? Awalnya ku tersenyum menghadapmu kawan, ku tersenyum lebar dan kemudian sesaat kemudian air mata jatuh membasahi pipiku kawan. Namun aku tetap tersenyum. Itu bukti aku kuat.
Sejam kemudian aku terkulai lemas kawan. Tubuhku tidak berdaya seperti orang lumpuh. Namun aku tidak menangis dan tersenyum lagi . Aku memperlihatkan muka tanpa ekspresi disertai tatapan kosong dan rasa kelelahan. Engkau mengangkatku kawan dan membantuku berdiri. Tiada daya dan upayaku kawan . Tulangku patah. Aku tidak dapat berdiri lagi. Tapi aku tidak teriak kesakitan kawan, aku hanya diam tanpa berkata.
Satu hari kemudian aku sudah tidak bisa berbicara, tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat, tidak bisa berfikir, bahkan tidak bisa merasakan apapun lagi kecuali seonggok kerangka tulang yang di lapisi daging, tergeletak di tempat tidur . Dan engkau tahu wahai kawan tempat tidur itu tidak kusut sama sekali, tidak berantakan sama sekali . Sejak terakhir kali dirapikan. Uang, baju bahkan makanan utuh tidak tersentuh oleh diriku. Aku sama sekali tidak berhasrat atas apapun lagi.
Satu minggu ku lalui dengan hal yang sama. Mati rasa namanya. Satu bulan pun begitu hingga 1 tahun kemudian aku mulai tidak bernafas, tidak berdetak jantungku lagi, bahkan suhu tubuhku menurun drastis. Aku yang saat itu hanyalah seorang mayat namun masih di dunia dan belum di kebumikan. Jika aku sudah menuju dalam tanah aku merasa segala bentuk derita dunia hilang seketika. Sekalipun harus menerima ganjaran di dunia lain.
Setiap tahun tubuhku sudah rusak kawan hanya tinggal nama saja. seperti Seekor bangkai ikan yang tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya diam. Itu saja. Mengikuti arus entah ujungnya tersangkut atau bahkan terbawa ke aliran sungai paling menakutkan yang pernah ada. Akulah si tiada berdaya itu.
Engkau bertanya lagi kepadaku kawan " kenapa tidak mencoba cari jalan keluar?. Kawanku aku tiada berdaya. Sudah berapa kali ku lukiskan segala bentuk ketiada berdayaanku. Bukan aku yang memilihnya kawan. Aku tiada jalan. Aku terjebak di jalan buntu. Ini semua berkat pilihanku sendiri. Terima kasih diriku yang telah menghancurkan diriku juga. Jalanku buntu kawan dan aku tiada berdaya untuk segala hal yang telah terjadi. Aku lemah kawan. Aku wanita si pasrah itu.cukup sudah kawan. Jangan bertanya lagi. Yang aku rasakan tidak mungkin kamu rasakan. This my life akhirnya.
TTD PENULIS
SAN