genre:horror, misteri, fiksi
DEPRESI
Aku adalah Himari, seorang siswi SMK di Hokkaido, Jepang.
masa sekolahku tak terlalu menyenangkan seperti siswa-siswi lain, sebab aku memang anak yang pendiam sehingga kerap menjadi bahan ejekan. Tetapi aku tak terlalu memperdulikannya dan hanya menganggapnya sebagai angin lewat yang akan segera berlalu.
aku hanya yakin, jika suatu saat mereka juga akan memerlukanku.
Namun kenyataan jauh dari dugaanku selama ini, makin hari justru makin banyak orang yang mengejekku, bahkan hampir seluruh isi sekolah pun mengejekku.
Ya, apa boleh buat? gadis sepertiku hanya bisa diam dan tak dapat melawan sepatah kata pun, hal itu karena aku takut jika mereka justru melukai ku.
satu semester telah berlalu, kini ujian sudah ada didepan mata. Aku tetap mendapati temanku terus mengejekku setiap harinya.
hal ini kerap membuatku strees dan tak jarang pula kehilangan selera makan.
malam itu aku sedang belajar untuk ujanku besok, sendirian dikamar. Ya, memang aku tinggal sendirian sejak ibuku meninggal dunia dan ayahku meninggalkan ku entah kemana. Sudah bertahun-tahun aku menjalani hidup mandiri tanpa seorang keluarga sedikit pun. Memang ada om dan tante ku, namun mereka bekerja di luar negri dan sangat sibuk, jadi tak pernah sempat untuk mengabariku lewat telepon.
Ketika malam tiba, aku kerap tidak tidur semalaman karena mengharap keluarga ku kembali lagi. Namun apa boleh buat, mereka tak pernah memperhatikan ku sama sekali. Seolah aku dikucilkan dan tak dianggap.
"setidaknya jika aku tak dipedulikan keluargaku, teman temanku harusnya menemaniku. Huftt! jangankan mempedulikanku, mereka semua justru mengejekku... apa mungkin karena aku pendiam?" ucapku pada diri sendiri
aku menatap cermin dibelakangku, dan memperhatikan diriku sendiri. Sempat berfikir jika mereka menjauhi ku karena wajahku yang buruk rupa, namun tak mungkin hal itu terjadi. Mereka sering sekali menjuluki ku "si cupu", dan hal itu pasti karena aku pendiam.
"memangnya menjadi pendiam itu salah?"
karena terlalu banyak melamun tak tidak fokus, aku tak menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, Hampir tiba waktu ku untuk tidur namun aku belum selesai mempelajari satu mata pelajaran.
"ah, baiklah.. sekarang kau harus fokus, himari" ujarku
ketika pukul 00.00 aku tertidur di atas meja belajarku. ya, aku memang sering tertidur dimana-mana karena aku sering kelelahan.
keesokan paginya, pukul 06.00 aku mendengar suara notifikasi di ponselku, sontak aku langsung terbangun dan mengeceknya.
entah dari siapa, sebuah pesan aneh dikirim kepadaku dan hanya berisi kode-kode angka yang tak pernah kulihat sebelumnya.
"sudahlah mungkin hanya orang iseng" kemudian aku menuju kamar mandi dan mengguyur badanku dengan air yang sejuk, hal itu memang menyejukkan pikiranku yang sering tertekan.
pukul 08.30 aku sudah siap dan hendak berangkat ke sekolah(rata-rata sekolah di jepang dimulai pukul 09.00-16.00) walaupun sering ragu sebab takut menerima caci maki temanku, tetapi tak mungkin juga aku bolos hanya karena masalah sepele.
aku berjalan kaki dengan ekspresi datar dan tatapan kosong, hingga tak menyadari ketika ada mobil yang melaju kencang ke arahku. Sontak aku terkejut dan melompat ke pinggir jalan hingga hampir saja terjatuh.
"kehidupanku seperti ini ya, tak pernah ada mulus-mulus nya"
"andai saja ibuku masih ada disampingku, pasti bebanku akan jauh lebih ringan karena ada yang membelaku" aku menatap keatas langit, berharap dapat melihat wajah ibuku hanya untuk terakhir kalinya, tak lama aku mulai meneteskan air mata.
"astaga, apa yang ku lakukan... aku harus nya semangat, disekolah aku dapat membaca buku menarik diperpustakan dan menambah wawasan lebih luas" gumamku.
ketika sampai di depan gerbang sekolah, langkah ku terhenti sejenak. Aku memandang kelasku yang sudah sangat ramai. Aku berfikir jika mereka akan menyambutku dengan ejekan, namun tak mungkin aku akan berdiri disini sepanjang hari.
Aku akhirnya masuk kedalam kelas dan benar saja, baru aku melangkahkan kaki kedalam, aku sudah dicaci maki oleh mereka tetapi aku berusaha untuk berpura-pura tidak tahu dan akhirnya meletakkan tas ku di salah satu tempat duduk. Di sekolah, aku tak pernah punya teman dan bahkan tak ada yang mau mendekat padaku, sampai akhirnya aku memutuskan untuk angkat bicara. "ada apa dengan kalian?, kenapa kalian suka mengejekku?. bertahun-tahun aku diam tak melawan, namun hal itu justru membuat kalian makin menjadi-jadi. Padahal aku tak pernah mencaci kalian, tetapi mengapa kalian yang selalu mencaci ku?"
sontak mereka terdiam sejenak, aku berfikir setelah ini semua akan baik-baik saja. Namun tak lama mereka justru tertawa terbahak-bahak. Aku merasa sangat dikucilkan, saat itu aku berusaha menahan tangis agar tak semakin diejek.
selama jam ujian berlangsung, aku hanya melamun.
ketika jam ujian telah usai, aku berlari dahulu keluar kelas dan segera pulang serta menghindari teman-temanku.
Aku biasa pulang melewati sebuah jembatan yang dibawahnya terdapat sebuah rell kereta api.
tak disangka, mereka justru sudah membuntuti ku dari belakang.
mengetahui hal itu, aku mempercepat langkahku, namun sialnya aku didorong mereka hingga jatuh kebawah jembatan tersebut dan meninggal saat itu juga.
Teman-temanku terdiam dan tak lama mereka berhamburan pergi meninggalkan mayatku yang ada dibawah.
KISAH SETELAH KEMATIAN
tak lama aku melihat sebuah cahaya dan jalan lurus didepanku, kemudian aku menuju cahaya tersebut dan terbawa di suatu tempat sunyi. Tiba-tiba tanganku digandeng oleh seseorang yang tak aku kenal, aku dibawa ke suatu tempat dan bertemu dengan ibuku.
"nak, bagaimana kau bisa disini di usia mu yang masih sangat muda?"
"tak apa, ibu! aku justru lebih suka disini, tenang dan bebas, aku juga dapat bertemu dengan ibu. dari pada aku dibully dikelasku"
"nak, kau harusnya melawan mereka, bukannya hanya diam"
"melawan bagaimana lagi bu? mereka justru mentertawakan ku ketika aku angkat bicara pada nya"
namun tiba-tiba aku diseret dan kembali ke dunia, tetapi ketika aku melihat mayatku, aku mendapati mayatku belum di rawat dan tak diperkuat sama sekali. Hal itu membuat aku geram dan merasa jika seperti nya memang benar ucapan ibuku. Sekarang aku menjadi arwah, dan harusnya aku balas dendam pada mereka yang sudah melukai ku dan membuat ku depresi selama ini.
BALAS DENDAM
keadaan disekolah saat itu sedang ramai, salah satu siswi bernama hiroshi adalah murid yang disegani dikelas, padahal dia justru yang membuatku depresi semasa aku hidup.
"kehidupan lebih tenang setelah anak cupu itu M4TI" teriak Hiroshi
semua siswa tertawa seolah ikut senang dengan kematianku.
mereka tak menyadari jika aku terus mengawasi dimanapun mereka berada.
saat pulang sekolah, hiroshi dan kawan-kawan nya berjalan pulang bersama.
ketika mereka mulai berpisah karena berbeda tempat tinggal, Hiroshi pupang seorang diri melewati jembatan yang sama.
"kali ini aku akan membuat kau mengalami hal yang sudah pernah kau perbuat padaku, Hiroshi Aoyama" bisikku pelan. Ya, tentu Hiroshi tak dapat mendengar suara ku, namun ia ku buat merasakan kedatangan arwah penasaran seperti ku. Hiroshi merasakan angin kencang dan hawa dingin yang menusuk.
tak lama aku berlari kearahya dan menunjukkan rupa ku yang sudah penuh darah padanya, aku pun menyerang nya dan membuatnya terjatuh kebawah jembatan.
"satu persatu akan kubunuh mereka, dan terakhir akan ku bantai seluruh murid di sekolah"
ujarku sambil tersenyum
"orang jahat, lahir dari orang baik yang tersakiti"
begitu kisah ku dalam pembalasan dendam, satu persatu murid di kelasku mati ditanganku, dan terakhir aku sudah bersiap membantai murid di sekolah.
PEMBANTAIAN
kisah kematianku, menjadi legenda urban yang sering diceritakan anak-anak disekolah ku. Mereka sering menceritakan nya satu sama lain, namun tak sedikit pula yang tak percaya akan hal itu.
hari itu ada ekstrakurikuler yang berjalan sampai larut malam.
ketika mereka mulai pulang dari sekolah, aku sudah membuntuti mereka.
Ketika sampai di jembatan yang sama pula, aku melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan ketika balas dendam pada teman sekelasku, namun saat ini aku sedikit menerror mereka.
aku melempar sebongkah kayu kedepan mereka dan bermaksud menghalangi jalan. Kemudian aku mencekik salah satu siswi serta menampakkan wujud ku.
"himari, tolong maafkan aku. Aku tak bermaksud ingin mencaci maki dirimu ketika masih hidup"teriak salah seorang siswi.
namun aku tak memperdulikannya dan melempar mereka semua ke bawah jembatan hingga mereka mati dalam keadaan seperti ku.
-----------------------------------------