Allah itu maha segalanya, jika Allah berkehendak maka terjadilah, semua itu tidaklah mustahil seperti cerita ini.
PASRAH...
Satu kalimat yang mengambarkan kisah ini, bukan hati yang menyerah tapi raga, raga ini memilih menyudahi semua ini. Dia Luman, sosok lelaki penyabar yang menyukai seorang gadis cantik berkerudung biru di suatu pondok.
Perlahan Luman meletakkan bukunya, saksi semua keluh kesal dan perjuangannya, menatap malam yang di temani bulan serta bintang yang menyinari bumi.
Lelaki berumur Dua puluh dua tahun itu sangat menyukai malam apalagi ada bulan dan bintang, membuatnya bisa mengingat gadis tersebut yang namanya sama yaitu 'Bulan', apalagi nama mereka saling bersandingan BULAN DAN BINTANG. Seperti pasangan kan?.
Luman bintang perkasa, orang tua nya memberi nama berharap kelak dia akan menjadi sosok bintang yang menyinari hidupnya dan juga pelindung untuk pasanganya.
Tapi kini semua harus melebur bersama sang waktu, menyerahkan setiap untaian kenangan bersama detik waktu.
Membayangkan bagaimana dia akan memilikinya, melamarnya dan mengucap janji suci didepan semua orang selalu berputar dalam kepalanya, hanya dengan membayangkan saja sudah membuatnya tersenyum.
Baru saja dia akan melangkah untuk bisa mencapai tingkat kesuksesannya kenyataan pahit menampar dia dengan sangat keras, menariknya ke dalam lubang realita sebenarnya.
Dia sudah menjadi milik orang lain.
Dia bukan lagi pangeran di hati bulan.
Begitu mengejutkan dan begitu pahit, selama ini dia membawa nama yang selalu tersemat dalam setiap doa dan langkahnya, tapi Allah menunjukkan sebuah kenyataan pahit.
Padahal semua sudah dia rencanakan, bertemu dengan orang tuanya untuk meminta dan memilikinya, lalu berakhir dengan duduk bersama di bangku pelaminan sambil mengucap janji suci seumur hidup.
Tapi semua harus menjadi ekspetasi sekarang.
LUPAKAN!, kata yang selalu dia gumam untuk menyakinkan hatinya berhenti memikirkan seorang 'BULAN', berhenti membuat sesak didalam hati.
Tapi Allah tetap membuatnya memikirkan gadis tersebut, Allah tak membuat hatinya berpaling barang sedikitpun. Ini cobaan yang begitu berat.
Dia menjauh, tapi semua yang berhubungan dengan Bulan mendekat kearahnya perlahan, "cobaan apa ini Ya Allah hambamu ingin melupakan semua nya tentang bulan, tapi kenapa engkau terus mengingatkannya?." Luman bertanya dalam hati, Apa arti semua ini?
"Bulan kamu tau, aku sedang bersedih, bolehkah aku menangis untuk kali ini?," gumam Luman memandang bulan yang tengah bersinar di langit.
"Padahal kamu adalah penyemangatku bulan, tapi kenapa malah jadi seperti ini?" Lanjut Luman sambil menumpu kepalanya dengan kedua tangan.
Mungkin terdengar konyol atau aneh tapi kenyataanya memang seperti ini, Gadis yang selalu dia sematkan dalam doa, gadis yang sedang dia perjuangkan bertahun tahun tanpa lelah kini sudah sepenuhnya milik orang lain.
Kini dia menyesal karena tidak memberikan secerca harapan kepada gadis pujaannya.
Menyesal? Luman terkekeh memikirkanya, "Tahukah kamu bulan, jika kini aku sedang menyesal terhadap keputusanku?," Gumam Luman.
"Apa aku harus memperjuangkanmu kembali?" Lanjutnya, entah pada siapa.
Sekian detik Luman kembali tersadar dari ide konyol tersebut, Dia menggelengkan kepalanya menepis segala ide konyol yang sempat terlintas di benaknya.
Dia tak ingin menjadi perusak, maka dari itu dia memilih menghindar memutuskan semua komunikasi tentang masalalunya, berlari layaknya penjahat yang sedang bersembunyi dari kejaran polisi, kenapa hidupnya begini?
Kenapa?
Dan kenapa?
Tapi lama-lama dia merasa ingin berhenti.
Lelah, tingkahnya sekarang seperti tak menerima takdir sama sekali.
Pada akhirnya, dia memilih menyerahkan semua takdir dan jalan hidupnya pada sang kuasa, jika dia akhirnya bertemu mungkin itu sebuah hadiah dari Allah untuknya. Sebuah kesempatan untuk melihat sang pemilik hatinya.
Mungkin raga tak bisa memilikimu, tapi hati tetap ada namamu bulan.
Bulan saja selalu ditemani bintang, sejauh manapun kamu berada akan ada bintang yang membantumu bersinar.
Curahan hati yang dia tuangkan pada sebuah buku, melegakan hati supaya dia tak risau, jika bulannya sudah ada yang menjaga.
"Entah ini benar atau tidak, tapi aku memiliki keyakinan dan harapan jika kita suatu saat akan bertemu kembali." Ucap Luman sambil memandang bulan di atas langit.
"Ku simpan secara erat untaian cinta yang ku punya, dan akan selalu tersimpan di tempat istimewa di dalam hatiku,"
"Meski harus layu bagaikan bunga tapi rasa ini akan tetap ada sampai kapanpun."
Kini dia menekan setiap rasa dan menahan tali perasaan ini agar tak terurai begitu saja. Seikat cinta dia kemas dengan baik tersimpan jauh dalam hatinya hanya untuk dirinya sendiri dan Allah yang tahu.
"Doa akan selalu ku panjatkan untukmu Bulan." Luman mendongak menatap bulan yang sedikit tertutup awan.
"Ya Allah dalam keadaan apapun maka pertemukanlah aku dengan Gadis bernama Bulan, entah bagaimanapun kondisinya, walau sampai memiliki 5 anak sekalipun akan aku terima." Doa yang terpanjat dia ucapkan sambil menengadahkan tanganya.
Bukan sebuah janji tapi sebuah Permintaan untuk bisa bertemu sekali lagi dengan Gadis tercintanya, walau bukan sebagai pasangan pun tidak apa.
Dan sampai saat itu tiba maka dia akan menabung ribuan rindu untuk dia berikan pada gadis tersebut.
Berakhirlah sekarang kisahnya, mimpi menikahi dan memiliki hanya jadi angan untuk sekarang, entah masa yang akan datang, Allah itu maha segalanya, apapun yang tak mungkin bisa menjadi mungkin.
Terima kasih ya bulan, kamu telah menjadi sebuah alasan terbesar hingga aku bisa berdiri dengan tegap disini.
Dan terima kasih untuk hati yang dulu pernah memberikan aku sebuah tempat untuk bersinggah.
Kamu masih tetap menjadi putri yang duduk di singgasana hatiku.. Bulan.
Semua tulisan yang dia buat di buku ini akan terus teringat bagaimana dia mencintai, bagaimana dia belajar ikhlas untuk sebuah perasaan yang tak harus memiliki.
Inilah akhir kisah singkat seorang Luman Bintang perkasa, Lelaki dengan segudang rasa rindu yang siap dia curahkan untuk gadis pujaannya dan juga lelaki yang akan selalu menyinarinya walau harus berjauhan dengan bulannya.
Maka perjuangkanlah seseorang yang memang menurutmu pantas untuk kamu perjuangkan, wanita memang tak ingin digantung tapi setidaknya berikanlah mereka secerca harapan yang bisa mereka jadikan alasan untuk tetap menunggu.
[TAMAT]