"Saya terima nikah dan kawinnya Ailla Putri Hanafi binti Muhammad Hanafi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagai mana saksi sah?"
Sah
Serangkaian acara pernikahan telah kami lalui, menjadi ratu sehari nyatanya cukup melelahkan.
Seorang pria yang baru saja berstatus menjadi suamiku, Ghibran Hisyam kini sudah berada dibelakangku untuk membantu membuka seluruh benda yang berada dikepalaku sisa acara resepsi pernikahan kami yang baru saja selesai.
"Sudah selesai, kamu mau mandi dulu atau mau langsung tidur?" Kata Ghibran memegang bahuku yang tengah duduk di depan meja rias.
"Aku mau mandi dulu, badan ku lengket banget mas." Ucapku meletakkan sepasang anting yang baru saja ku lepas.
"Ya sudah, mau dibantu buka bajunya?" Kata Gibran, ku lihat dia tersenyum dari pantulan kaca.
"Ti-tidak perlu aku bisa sendiri." Kataku meninggalkan suamiku sendiri.
***
Malam yang panjang membuatku tertidur sangat lelap, hinggaku terbangun pagi ini penuh semangat .
Ku berdiri di depan balkon rumahku menghirup segarnya udara pagi. Dengan secangkir teh yang menghangatkan tubuhku.
"Sayang." Ucap Ghibran sambil memelukku dari belakang.
"Mas, kamu udah bangun." Kataku menggenggam tangan yang melingkar diperutku.
"Hmm."
"Mandi dulu sana, aku mau kedapur buatkan kopi untukmu." Kataku memutar tubuhku menghadapnya.
"Oke sayang, terimakasih istriku." Ucapnya mencium keningku.
🐁
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, tiga bulan sudah menjadi istri dari seorang Ghibran aku sangat bahagia, perlakuannya yang manis dan dia juga sangat perhatian terhadapku membuat cintaku terus bertambah.
Suatu hari ibu mertuaku menelfonku dan memintaku untuk menjemput seseorang kerabat yang akan datang dari suatu daerah.
"Ailla, mamah boleh minta tolong?" Kata mamah mertuaku.
"Iya mah, ada apa?" Kataku dari sambungan telepon.
"Ada teman mamah sama anaknya mau datang ke sana karna anaknya mau training dekat dari rumah kalian, mamah tadi udah minta izin sama Ghibran, mungkin anaknya teman mama akan menginap selama beberapa hari disana Ailla, kasian kalau dia harus ngekost sendirian." Kata mamah mertuaku.
"Owh iya mah gak apa-apa biar aku juga ada teman dirumah." Kataku.
"Makasih ya Ailla nanti tolong jemput mereka diterminal ya nak."
"Iya mah." Jawabku mematikan sambungan telepon setelah menanyakan jam berapa teman mamanya sampai.
Pukul 20.00 aku dan Ghibran menjemput mereka diterminal, aku melihat seorang wanita paruh baya dengan seorang gadis cantik sepertinya usianya tidak terlalu jauh dariku.
"Dheby?" Kataku menghampiri dua wanita yang baru saja turun dari bus.
"Istrinya bang Ghibran?" Kata wanita itu dan akupun mengangguk.
Dheby dan tante Mirna pun berjabat tangan dengan Ghibran, sekilas aku melihat tatapan Dheby terhadap suamiku sedikit berbeda. Namun aku segera usir pikiran itu dalam benakku.
Seminggu sudah Dheby dirumah kami, kini dia berpamitan untuk kembali kekampungnya. Sedangkan tante Mirna sudah pulang lebih dulu. Aku dan Ghibran mengantarnya kedepan teras rumah
"Kak Ailla makasih ya Dheby udah boleh nginep di sini." Kata Dheby.
"Sama-sama Dheb, aku juga senang kamu di sini, kamu beneran gak mau dianter aja?" Kataku tulus.
"Gak usah kak, aku udah pesen ojek." Ucapnya.
"Ya sudah kalau begitu, hati-hati ya Dheb." Ucapku dan Ghibran.
Kepergian Dheby ternyata membuatku kesepian, selama satu minggu ini aku punya temen ngobrol tapi sekarang hanya berdua lagi dengan suami.
"Sayang, kenapa wajah kamu ditekuk begitu? Udah kaya pakaian belum digosok tau." Ucap Ghibran.
"Lecek atuh mas." Kataku sambil menyandarkan tubuhku disofa.
"Haha,, makanya senyum jangan pasang wajah kaya begitu. Ada apa sih?" Kata Ghibran duduk disampingku.
"Dheby pulang rasanya sepi banget mas." Kataku.
"Kita keluar yuk." Kata Ghibran
"Main kemana?" Kata ku antusias.
"Hemmm mau shopping, makan, atau mau nonton?" Kata Ghibran.
"Pantai." Ucapku memasang senyuman semanis mungkin.
"Berangkat." Kata Suamiku.
"Kamu kaya pemain di tukang ojek pengkolan mas siapa itu namanya aku lupa." Kataku mencoba mengingat sesuatu.
"Lilis Sutisna?" Kata Ghibran.
"Entis mas, masa Lilis." Protesku membenarkan.
"Lah udah ganti namanya emang? Kok mas gak tau." Kata Ghibran.
"Emang dari awal juga entis mas, mas ini ganti-ganti nama orang udah bikin bubur merah putihnya emang?" Kataku.
"Idih ngapain? Emang mas ini ibunya dia, sory layaw." Ucapnya menirukan gaya wanita berjakun.
"Hahaha,, mas kamu ini kenapa cuco banget, aku jadi ngeri apa jangan-jangan kamu itu dulunya, siang jadi Ghibran tapi malem jadi Gherlin." Kataku bergidig ngeri.
"Asal aja kalau ngomong, keburu sore sayang ayo jadi jalan gak?" Katanya.
"Brangkat." Kataku meniru suamiku tadi dan dia pun terkekeh.
Setelah sampai ditepi pantai, ku lepas sandalku dan berjalan mendekati bibir pantai. Hingga kedua kakiku disambut dengan baik oleh pasir yang diterjang gelombang.
"Kamu seneng sayang?" Kata mas Ghibran, aku mengangguk.
Ia mengenggam sebelah tanganku, aku tatap wajahnya yang tengah memandang jauh kedepan.
Aku menunduk, ku cipratkan air pantai itu kewajahnya hingga membuat dia tersadar dari lamunannya.
Saat mas Ghibran hendak membalasku, aku berlari menjauhi suamiku dan diapun mengejarnya.
Aku terus berlari-lari diatas pasir putih dan mas Ghibran terus mengejarku.
Akh...
Ku hentikan langkahku saat mendengar rintihan dari seseorang dibelakangku, aku melihat kearah suamiku yang tengah memeluk perutnya erat, aku sangat khawatir melihatnya yang terlihat kesakitan.
"Sayang kamu kenapa?" Kataku berjongkok dihadapannya.
"Perutku." Ucapnya masih dengan memeluk perutnya sendiri.
"Ya ampun sayang kamu kenapa, Ayo kita kerumah sakit." Kataku betul-betul khawatir.
"Perut ku laper, whe." Ucapnya sambil menjulurkan lidah.
"Usil, gak lucu bercandanya mas." Kataku setengah merajuk.
"Iya maaf sayang, kita pulang yuk udah mau malam." Ucapnya mengusap lembut rambutku
Satu bulan kemudian, seperti biasa ku menjalani hari-hariku menjadi seorang istri yang menyambut suaminya saat lelah pulang bekerja, semakin hari perhatian mas Ghibran selalu bertambah. Sesaat ku mendengar dering ponsel milikku.
"Hallo kak." Kata Dheby diseberang teleponnya.
"Iya Dheby, gimana kabarmu?" Kataku antusias.
"Aku baik kak, kak lusa Dheby ada kunjungan lagi dikantor pusat. Apa Dheby boleh nginep dirumah kakak lagi beberapa hari?" Kata Dheby.
"Owh boleh dong, kamu kesini aja ya. Masih ingat kan jalannya?" Kataku.
"Ingat dong kak, ya sudah sampai ketemu lusa kak." Kata Dheby menutup teleponnya.
Setelah mendapatkan telepon dari Dheby dua hari yang lalu, kini wanita itu sudah berada dirumahku. Hari-hari terus berlalu hampir satu minggu Dheby berada dirumahku, aku tidak merasa kesepian lagi bila suamiku pulang terlambat.
Pagi harinya aku lihat Dheby tengah membersihkan sepatunya dibelakang rumahku, aku pun menghampirinya.
"Dheb." Aku panggil namanya dan dia pun melihat ke arahku dengan tangan yang terus menyikat sepatunya.
"Iya kak?" Ucapnya.
"Aku mau keluar dulu ada urusan, gak apa-apa kamu aku tinggal sendiri? Atau mau ikut?" Kataku ada rasa tidak enak meninggalkan tamu dirumah seorang diri.
"Iya gak apa-apa kak, aku dirumah aja." Katanya lagi.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya." Kataku dan diangguki Dheby.
Setelah aku pergi dari rumah selang dua jam suamiku menelponku, ku lihat jam sedikit heran ada apa suamiku menelfon diwaktu jam kerja karna tidak biasanya dia seperti itu, takut ada yang penting aku segera angkat panggilannya.
"Sayang, kamu dimana?" Kata suamiku.
"Aku lagi dirumah ibu mas, tadi kan aku udah kasih kabar." Kataku.
"Masa? Aku belum lihat sms kamu mungkin. Aku dirumah mau ambil berkas, kamu liat gak berkasku yang warna biru?" Kata suamiku.
"Ada didalam laci nakas depan mas." Kataku.
"Owh ya sudah mas cari dulu terus langsung balik ke kantor. Kamu hati-hati ya." Kata mas Ghibran dan aku mengiyakannya.
Setahun sudah kami mengarungi biduk rumah tangga, suamiku pria yang sangat baik, selama setahun ini tidak pernah kami ada pertengkaran sekecil apapun bahkan setiap harinya mas Ghibran selalu menghujaniku dengan cinta yang dia miliki.
Kebahagiaan kami bertambah sempurna saat dokter mengatakan aku positif hamil, raut kebahagiaan terukir jelas dari wajah suamiku.
Kami mengabarkan kehamilan ini kepada seluruh keluarga, mereka pun sama bahagianya seperti kami.
Ghibran memperlakukanku dengan sangat baik bahkan dia tidak membiarkanku mengerjakan sesuatu pekerjaan apapun.
Kini sudah dua bulan usia kehamilanku, aku mendapatkan sebuah pesan dari nomor yang tidak aku kenal.
+62 : "Foto"
Aku : "siapa kamu, apa maksudnya foto-foto ini?"
Aku tidak membuka foto itu hanya saja terlihat dua orang berlawan jenis jelas tergambar.
+62 : "tinggalkan Ghibran."
Aku : "memangnya kamu ini siapa menyuruhku untuk meninggalkan suamiku?"
+62 : "dia tidak mencintaimu, tidak kah kamu lihat foto itu?"
Aku : "lalu apa kamu berharap aku mempercayai apa yang kamu berikan dan katakan?"
+62 : "Tinggalkan dia atau kau tidak akan pernah melihat anakmu.
Aku : "siapa kamu sebenarnya?"
Tidak ada balasan lagi, aku mencoba untuk menghubungi nomor ponsel itu, namun nomor tersebut tidak aktif lagi.
Setelah melihat lagi foto yang ku terima, rasanya duniaku hancur melihat siapa orang yang ada dalam foto tersebut, ingin rasanya aku tidak mempercayai semua ini namun semuanya jelas tergambar dalam beberapa foto-foto itu.
Aku cari nama kontak suamiku dan memintanya untuk segera pulang.
Tak lama kemudian mas Ghibran menghampiriku yang tengah termenung.
"Kamu kenapa sayang?" Kata mas Ghibran mengusap rambutku.
"Mas." Kataku sambil menyambut tangannya lalu ku cium.
"Kamu kenapa? Apa anak kita menginginkan sesuatu?" Kata mas Ghibran, akupun menggelengkan kepalaku.
"Lalu kamu kenapa, ada yang sakit?" Imbuhnya, lagi-lagi aku menggeleng.
"Mas, seandainya aku menutupi sesuatu dari kamu dan aku mendua. Kamu akan bersikap seperti apa mas?" Kataku menatapnya mencari sebuah kebohongan dalam mata itu.
"Kamu bicara apa sayang? Jangan ngelantur, aku tau kamu tidak akan melakukan itu." Kata Ghibran dengan yakin.
"Jawab mas." Kataku memaksa.
"Kalau kamu sampai seperti itu mungkin aku tidak akan memaafkanmu sayang, dan pergi darimu mungkin itu keputusanku." Kata Ghibran menggenggam tanganku.
"Pergi ya mas, kalau begitu izinkan aku pergi dari kamu mas." Kataku, sekuat tenaga aku menahan air mataku agar tidak menetes.
"Apa maksud kamu sayang? jangan sembarangan kalau bicara." Kata Ghibran mengelus lembut kedua tanganku.
Aku memberikan semua foto yang ku terima tadi, dan sebuah chat terakhir yang aku yakin itu adalah pesan dari wanita yang sama, yang ada difoto bersama suaminya itu.
_Maafkan aku kak, tolong relakan bang Ghibran untukku karena apa yang sudah kami lakukan, masa depanku sudah hancur. Sebagai wanita aku yakin kakak mengerti perasaan aku, aku juga sangat mencintai bang Ghibran._ Dheby.
Melihat apa yang baru saja aku tunjukan, aku melihat raut penyesalan dari wajahnya.
"Sayang." Hanya itu yang keluar dari mulut suamiku.
Air mata yang sejak tadi aku tahan kini mengalir dengan derasnya, melihat wajah itu aku tau bahwa apa yang sejak tadi tidak ingin aku percaya adalah sebuah kebenaran.
Sakit, kecewa, marah semua itu aku rasakan. Pria yang satu tahun lalu mengucap janji suci untukku, dia telah berkhianat.
"Sejauh mana." Aku mencoba berlapang hati menerima kenyataan ini.
"Maaf." Kata itu lolos dari mulut suamiku yang menundukkan kepalanya dihadapanku.
"Berapakali?" Kataku ingin tau sejauh apa suamiku mengkhianatiku namun tidak ada jawaban dari Ghibran.
"Jawab mas." Kataku terus merobek lukaku sendiri semakin dalam.
"Ti-tiga."
Jlebbb...
Tiga? Kejadian yang tidak bisa dikatakan hanya sebuah kesalahan, rasa sakit ini semakin parah.
Aku kalah, aku usap lembut perutku yang masih rata. Menyadari ada sebuah kehidupan lain di dalam sana.
"Maafkan ibu nak." Ucapku dalam hati, rupanya mas Ghibran melihat tenganku yang terus mengusap perut.
"Maafkan aku Ailla, aku khilaf. Maafkan aku." Kata suamiku menggenggam tanganku.
"Maafkan aku mas aku tidak bisa, izinkan aku pergi. Dan jemputlah wanita itu untuk hidup bersamamu." Kataku menepis tangan suamiku.
"Sayang sungguh aku minta maaf, aku tau aku salah, aku tidak mau bersama dia.yang aku mau kamu dan anak kita." Kata Ghibran.
"Bukankah kita pernah saling menerima masalalu kita satu sama lain, tolong kasih aku kesempatan sekali lagi. maafkan aku atas kesalahanku Ailla." imbuhnya.
"Aku menerima semua masalalu kamu mas, seburuk apapun itu. tapi aku tidak pernah bisa memaafkan sebuah penghianatan mas." kataku.
"Aku gak menyangka kamu bisa mengkhianati aku seperti ini mas, aku benci sama kamu, aku benci." Kataku terus menangis lalu pergi dari hadapan suamiku.
Ku raih kunci motor milikku, Ghibran mengejarku dan mencoba menghalangi diriku. Namun langkahnya kalah cepat, aku lebih dulu sampai diatas motorku.
Aku tarik gas motorku pergi meninggalkan rumah yang sejak satu tahun lalu ku tempati.
Terus pergi tanpa tujuan, aku melihat sebuah mobil yang aku kenal mengikutiku mencoba menghadangku dan memintaku untuk berhenti, namun melihat wajah itu rasanya aku tidak sanggup.
Ku tarikan gas sekencang mungkin untuk menjauhi mobil mas Ghibran, dipersimpangan jalan ku melihat sebuah truk besar muncul dengan tiba-tiba.
Brakkkkk.
Hanya itu yang terdengar oleh telingaku, aku merasakan tubuhku melayang, aku memeluk perutku sendiri dengan erat "Maafkan ibu nak,tidak bisa menjagamu dengan baik." lalu semuanya menjadi gelap.
Aku menerima segala masalalumu, menerima segala kekuranganmu, tapi sebuah penghianatan? maaf aku tidak bisa menerima itu. Disaat kamu melakukan itu kamu sudah membunuh rasa kepercayaan dan rasa kesetiaanku terhadapmu. dan kamu tau betul keduanya itu adalah pondasi utama dalam sebuah hubungan.
💓💓💓💓💓