Katanya jatuh cinta adalah anugerah terindah yang dirasakan dua insan manusia, tapi apakah itu berlaku untuk mereka yang berbeda keyakinan? Apakah dengan semua perbedaan yang ada mereka akan tetap dipersatukan?
Senyum merekah di bibir Zen, tatkala ia memandangi kotak cincin yang ia pegang di tangan. Hari ini ia berencana untuk melamar kekasihnya yang sudah menjalin hubungan selama tiga tahun.
Gauri, gadis berparas ayu rupawan dengan sifat keibuan yang membuat Zen jatuh hati pada sosoknya.
Zen melambaikan tangan ke arah Gauri saat melihat gadis pujaannya itu memasuki pintu Cafe. Senyum terpancar dari kedua insan yang sedang melepas kerinduan.
“Sayang rasanya udah lama banget ya kita gak ketemu.” Gauri menghambur memeluk Zen.
“Aku merindukanmu.” Zen melepas pelukan mereka dan menatap tepat manik mata Gauri yang berwarna cokelat.
Mereka duduk lalu memesan makanan dan menghabiskan waktu sambil berbincang. Maklum saja momen seperti ini sudah jarang bisa mereka nikmati, Zen yang berprofesi sebagai arsitek sudah hampir 6 bulan ini di tugaskan di luar kota untuk menangani proyek pembangunan sebuah taman hiburan. LDR hubungan yang saat ini sedang mereka jalankan.
“Sayang, aku mau bicara serius sama kamu,” ucap Zen seraya menggenggam kedua tangan Gauri.
“Bicaralah sayang aku dengarkan!” sahut Gauri seraya tersenyum kepada Zen, dan memperhatikan ia dengan seksama.
Zen mengeluarkan kotak cincin yang sedari tadi sudah ia siapkan. Ia membuka kotak itu di depan Gauri seraya berucap.“ Gauri, maukah kamu menikah denganku, menjadi pendamping hidupku dan menua bersamaku?”
Gauri menatap haru Zen, ia mengangguk lalu menghambur ke pelukan Zen sebagai jawaban.
“Terima kasih,” lirih Zen di telinga Gauri.
****
Hari berganti bulan, waktu bergerak perlahan. Tak terasa sudah dua bulan lebih Gauri dan Zen tidak bertemu dikarenakan jarak dan waktu membentang. Saat ini Gauri sudah menunggu Zen di bandara. Tak lepas pandangan matanya memandangi cincin yang disematkan Zen dua bulan yang lalu, bahagia itulah yang selalu ia rasakan.
“Zen!” panggil Gauri seraya melambaikan tangan pada kekasihnya, memberi tahu keberadaannya.
Zen berjalan dengan langkah lebar seraya tersenyum ke arah Gauri.
“Tak bantu bawa ya!” tawar Gauri saat melihat barang bawaan Zen yang banyak.
“Tidak usah, aku bisa membawanya sendiri. Mari kita makan siang aku lapar!” ajak Zen pada Gauri yang dijawab dengan anggukan.
Cafe bertema alam menjadi pilihan makan siang Gauri dan Zen. Mereka memilih untuk duduk di area luar Cafe, pemandangan yang asri nan hijau membuat mereka merasa nyaman duduk di area luar.
“Mau makan apa sayang?” tanya Gauri pada Zen yang duduk di hadapannya.
“Seperti biasa saja.”
Gauri mengangguk lalu segera ia memesan makanan yang biasa mereka berdua makan, dan kembali lagi duduk bersama Zen. Ia memandang Zen yang terlihat sedikit berbeda sikapnya.
“Sayang kok kamu diam saja, apa kamu sakit?” tanya Gauri pada Zen memastikan.
Zen menggeleng. “Tidak aku baik-baik saja, seperti yang kamu lihat.”
“Tapi, kenapa dari tadi kamu hanya diam saja?” sebal Gauri.
Zen menegakkan tubuhnya, merubah posisi duduk yang tadinya bersandar menjadi tegap. Ia lalu menatap mata Gauri yang duduk di hadapannya.
“Apakah aku harus mengatakan semua ini sekarang?” batin Zen mempertimbangkan.
“Zen kamu kenapa sayang?” panggilan dari Gauri membuyarkan lamunan Zen.
“ Gauri, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan kepadamu.”
“ Apa? katakanlah!” ucap Gauri sambil tersenyum.
Zen menarik dan membuang nafasnya perlahan, ia lakukan itu berulang kali. Sampai akhirnya ia berucap. “ Gauri kita akhiri saja hubungan ini.”
Senyum yang tadi Gauri sunggingkan perlahan pudar, ia tak menyangka kalimat itu terlontar dari orang terkasihnya. Matanya mulai memanas menahan tangis, tapi ia tetap tersenyum lalu berujar. “Kamu jangan bercanda sayang, aku yakin apa yang kamu ucapkan itu hanya gurauan iyakan? Atau aku yang salah dengar? Iya aku salah dengar.”
Zen menggeleng. “Aku tidak bercanda, dan kamu tidak salah dengar Gauri. Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini.” tegas Zen sekali lagi.
“Tapi kenapa Zen, apakah karena kita menjalin hubungan jarak jauh dan kamu sudah menemukan yang baru dan lebih baik dariku?” lirih Gauri, ia masih mencoba menguasai dirinya.
“Bukan seperti itu Gauri, aku masih sangat mencintaimu dan tidak ada penggantimu. Alasanku bukan itu, LDR antara kita bukan hanya sekedar jarak dan waktu melainkan jarak perbedaan sebuah agama,” jelas Zen pada Gauri.
“Tapi kita sudah membicarakan ini sebelumnya, aku tidak masalah sayang, sungguh. Kamu boleh tetap dengan keyakinanmu dan aku pun begitu.”
Zen tersenyum, ia sebenarnya juga tidak ingin perpisahan terjadi tapi keputusan yang ia ambil sudah di pikirkan matang-matang.
“Maafkan aku Gauri, tapi aku tidak bisa. Aku akan hidup dihantui rasa bersalah jika pernikahan kita benar terjadi. Bukan hanya keluargamu juga keluargaku yang merasa dikhianati, tapi juga Tuhan kita. Aku mencintaimu, tapi aku tidak ingin merebutmu dari Tuhanmu.”
Zen menarik nafasnya lalu kembali berujar. “Jarak di antara kita amat jauh Gauri, kamu menyembah Allah dan aku menyembah Sang Hyang Adi Buddha, tempat ibadahmu masjid dan tempat ibadahku Vihara, kitabmu Al-qur’an dan kitabku Tipitaka, saat kamu memutar tasbih aku memutar Nichiren shu juzu. Lantas apakah dengan perbedaan itu kita masih tetap bisa bersatu? Aku tidak mau kau menghianati Tuhanmu karena aku, dan aku pun tidak ingin menghianati Tuhanku. Aku sangat mencintaimu, maafkan aku Gauri.”
Gauri menangis mendengar ucapan dari Zen, ia masih tidak tahu harus bersikap seperti apa, sesak yang ia rasakan sekarang.
“Kenapa kamu melakukan ini Zen? Setelah kamu memberikan harapan besar kepadaku untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius dan sekarang kamu minta putus? Wah kamu hebat Zen.”
“Maafkan aku Gauri, aku hanya tidak mau menyeretmu masuk ke dalam lembah dosa yang akan kau sesali seumur hidupmu. Sedangkan aku tahu kalau di kitabmu tertulis jelas bahwa perempuan Islam harus menikah dengan lelaki Islam, dan di agamaku juga harus seagama tidak boleh di tawar. Aku mencintaimu Gauri, tapi aku lebih mencintai Tuhanku.” Keputusan Zen sudah bulat, ia tidak mau menyakiti Gauri lebih lama lagi.
“Baiklah Zen aku menerima keputusanmu. Percayalah rasa yang kumiliki padamu tulus. Namamu selalu ku langit kan, kusebut dalam setiap doa dan sujudku agar kita bisa dipersatukan. Tapi sekuat apa pun doaku ingin bersamamu jika takdir Tuhan berkata lain. Aku bisa apa?” Gauri menarik nafas dan kembali berujar.
“Aku kembalikan cincin ini padamu, dan aku kembalikan juga rasa cinta yang sudah kau berikan padaku. Berikan semua itu untuk wanita yang akan mendampingimu kelak. Terima kasih, telah hadir dan membuat keberadaanku seolah penting. Sekarang aku pergi, maaf aku tak bisa mengantarmu pulang, salamku pada Ayah dan Bunda ya.”
Gauri pergi meninggalkan Cafe tanpa menoleh lagi ke belakang, ia berjalan menunduk sampai tiba di mobilnya.
“Sejak awal kamu sudah tahukan Gauri, kalau perbedaan diciptakan untuk berdampingan bukan untuk bersatu. Tapi kenapa kamu bisa sebodoh ini selama ini. Selama ini saya jatuh ke dalam permainan cinta yang salah.” Gauri menangis menumpahkan kesedihannya. Setelahnya ia mengemudikan mobil untuk pulang.
Zen menatap kepergian Gauri, hatinya juga merasa sakit akan hal ini. Tapi ini sudah menjadi keputusannya. “ Keputusanmu sudah tepat Zen, kamu tidak perlu menyesalinya, Gauri gadis baik, dia pasti akan mendapatkan yang terbaik juga.” Zen meyakinkan hatinya lalu meninggalkan Cafe dan beranjak untuk pulang ke rumah.
Di tengah perjalanan pulang, Zen melihat banyak orang berkerumun dan terdapat garis polisi melintang. Ia menatap lekat mobil yang mengalami insiden kecelakaan dengan truk itu.
“Ya Tuhan, mobil Gauri,” pekik Zen dalam hati
“Pak berhenti!” perintah Zen kepada sopir taksi online
“Tapi kita belum sampai di titik tujuan pak.”
“Saya bilang berhenti pak, cepat!” teriak Zen pada sopir itu.
Mobil menepi, Zen turun dan berlari ke arah mobil Gauri. Langkahnya perlahan melemah tatkala melihat gadis pujaannya sudah bersimbah darah penuh luka. Ia menerobos garis polisi yang melintang, memeluk Gauri yang sudah terkulai tak bernyawa.
“Gauri ... bangun sayang ... Gauri, jangan bercanda seperti itu sayang candaanmu tidak lucu, ayo jangan berpura-pura tidur begitu ... bangun Gauri ayo bangun!” teriak Zen penuh keputusasaan.
“Maaf Pak, Anda bisa pergi sekarang! Nona itu sudah meninggal.” Perintah salah satu anggota polisi yang bertugas.
Zen meletakkan tubuh Gauri perlahan, ia berdiri. “Apa yang terjadi pada Gauri Pak? Kenapa dia bisa kecelakaan?” tanya Zen dengan nada bergetar.
“Maaf sebelumnya, apakah Anda memiliki hubungan dengan nona ini?” tanya polisi itu memastikan.
“Iya Pak, saya tunangannya,” tukas Zen cepat
“Kejadiannya bermula saat ada truk yang mengalami rem blong Pak, pengemudi truk itu lalu membanting setir ke kiri yang saat itu ada mobil nona ini sedang terparkir. Hantamannya sangat keras Pak, Anda bisa melihatkan mobil nona ini hampir hancur seluruhnya. Saat evakuasi pun kami sedikit kesusahan mengeluarkan jasad nona ini karena tubuhnya terjepit truk dan mobil.”
Hati Zen hancur mendengar penjelasan itu, seandainya saja ia menahan Gauri lebih lama lagi insiden ini pasti tak akan terjadi, atau seandainya saja ia tidak memutuskan hubungan hari ini dan tetap pulang bersama Gauri kejadian ini tak akan pernah terjadi.
Zen mengangguk paham mendengar semua penjelasan yang dituturkan polisi, Zen menguatkan hatinya, ia lalu menelepon keluarga Gauri dan memberi tahu kecelakaan yang dialami putri semata wayangnya.
****
Pemakaman di laksanakan satu hari setelah kepergian Gauri. Tangis semua orang pecah tatkala ia di istirahatkan di pembaringan terakhirnya. Ibu Gauri menangis, dan menyalahkan Zen atas semua yang dialami oleh putrinya.
Plakk
Tamparan keras di pipi kanan Zen diberikan oleh Ibunda Gauri.
“Lihat sekarang kamu sudah puaskan, kamu sudah membunuh putri saya! Dasar pembunuh!” emosi Ibunda Gauri diluapkan pada Zen.
“Maafkan saya bunda,” lirih Zen berucap sambil menundukkan kepala
Ibunda Gauri tak menyahuti dan melengos meninggalkan Zen begitu saja.
Zen hanya menundukkan kepala, ia juga menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Gauri yang sebenarnya sudah takdir. Ia bahkan tidak membantah ucapan yang terlontar dari mulut Ibunda Gauri, semua orang juga menyalahkan Zen bahkan Ibu dan Ayah Zen sendiri.
“Nak, jangan didengarkan omongan Ibu tadi, beliau hanya sedang terpukul atas kepergian Gauri. Jangan menyalahkan dirimu, karena ini sudah takdir,” ucap Ayah seraya menyunggingkan senyum kepada Zen.
“Kalau begitu Ayah pergi dulu ya, mau menemani Ibu. Kamu yang kuat ya, Ayah tahu kamu juga terguncang dan merasa kehilangan, tapi Ayah mohon ikhlaskan Gauri. Agar dia bisa beristirahat dengan tenang,” lanjutnya sambil menepuk bahu Zen memberi ketenangan dan ketegaran pada Zen.
Zen memeluk Ayah Gauri seraya berkata. “Maafkan saya yah, jikalau bukan karena saya mungkin Gauri masih ada bersama kita.”
Ayah menepuk punggung Zen menenangkannya. “Jangan salahkan dirimu nak, ini sudah takdir.”
Zen telah kehilangan separuh dirinya, separuh dirinya pergi bersama kematian Gauri. “Bahkan aku belum mengucapkan kata maaf dan perpisahan dengan benar kepadamu, tapi kau sudah pergi meninggalkanku. Sebenci itukah kamu denganku?” tangis Zen di pembaringan terakhir Gauri, ia menyesali semua yang terjadi. ‘Seandainya’ hanya itu yang selalu terputar dalam pikiran Zen.
“kau duniaku, tapi kau pergi. Aku hanya ingin memelukmu sebentar, tetapi Tuhan dan dunia tidak mengizinkannya. Bahkan belum sempat aku membahagiakanmu Tuhan lebih cepat mengambil nyawamu. Aku hanya ingin menikmati senja tanpa luka, dan menikmati hujan tanpa air mata tapi semesta tak mengizinkannya. Aku tak menyesali pertemuan kita waktu itu, tapi aku kecewa dengan kepergianmu yang tiba-tiba.”
“Aku berhasil melepaskanmu Gauri, tapi belum bisa mengikhlaskanmu. Mungkin akan tapi belum. Karena perpisahan dan jarak, bukan berarti perasaanku berhenti mencintaimu. Terima kasih setidaknya Tuhan pernah menitipkan bahagia, atas hadirmu dalam kisahku.”
****
Tangisan sebelum rebah, perasaan rindu yang membuncah, menitipkan rasa pada seseorang yang telah tiada, mengoyak hati hingga patah tak beraturan. Perasaan bersalah juga kerinduan melebur jadi satu seolah menjadi teman untuk menghabiskan malam panjang. Jarak abadi terbentang di antara mereka, bukan hanya tidak bisa bersama didunia tapi juga di alam selanjutnya.
Tragis memang saat dua hati saling mencintai tapi terhalang dinding raksasa bernama keyakinan. Saling mengucap amin walau berbeda iman, sepenuh hati berdoa walaupun bukan di tempat yang sama. Mereka tahu akan akhirnya, tapi mereka menolak untuk berpisah. Sampai akhirnya Tuhan merengutnya, mengambilnya secara tiba-tiba. Memporak-porandakan hati yang bahkan belum tertata kembali setelah mengucap kata pisah, ia harus dihancurkan lagi untuk kesekian kali saat melihat pujaan hati kembali pada sang Pencipta. Takdir semesta tiada yang tahu akhirnya, berjalan sesuai harapan atau malah berujung kesedihan.