Gerimis
Tak terasa kini sudah memasuki musim penghujan.
Mereka jatuh dengan jumlah tak terhingga diiringi angin dan semerbak aroma tanah. Sangat menenangkan, meski hembusannya membuat tubuhku memeluk erat.
"Hahh"
Aku mengeluarkan nya.
Lagi
Deru napas ini.
Kegelisahan ini.
Perasaan ini.
Bersama rintikan hujan kuharap, seperti dedaunan yang mendapat perciknya. perasaan ku juga dapat tersampaikan pada dia.
"CEPAT !!"
BUGH
"Auch..."
Sakit !
Seenaknya berlari dan menabrak, netraku menatap sinis punggung Isabel yang abai dengan kesalahannya. Dia teman sekelas ku, memang sudah menjadi wataknya acuh tak acuh.
Tapi entah apa yang membawanya tergesa-gesa keluar kelas. Padahal biasanya, gadis itu paling malas bepergian. Hal itu membuatku sedikit penasaran.
"Sudahlah.."
Sambil menggaruk tengkuk, aku melanjutkan langkah menuju tempat duduk yang berada dibarisan belakang.
Ahh Lapar sekali...
Karena tak sempat membuat bekal, istirahat kali ini aku terpaksa turun ke kantin untuk membeli sebungkus roti dan teh kotak. Jujur ini melelahkan, terdesak dalam kerumunan orang dikantin membuat kakiku sempat terinjak.
"Mending jangan kelupaan bikin bekal lagi, deh..." Gidik ku ketika
"Loh, Daina?" Tara berhenti dihadapan ku
Tumben sekali orang ini menyapa. Ia tersenyum memampang cengir khasnya yang di idamkan banyak adik kelas. Aku mengernyit
"Apa?"
Tara menggaruk tengkuk. "Gak papa si, aneh aja. Cuma Lo cewek yang gak naik ke lantai atas"
Eh?
Aku spontan mengedar pandang memastikan kalimat Tara... Dia benar. Hanya aku perempuan di kelas ini, Kemana yang lain?
"Memang ada apa?"
"Oh, belum tau ternyata? Pantes"
"Hm? Ada apa?"
"Yah.. Erm" Alih alih menjawab, Tara justru mengalih muka. Ia mengabaikanku yang masih menunggu penjelasan dengan tak sabar.
"Kalau gak mau kasih tau, gue gak maksa." Ujarku. Rasa laparku jadi hilang.
"Ehh! Bukan! Gue cuma bingung mau jelasinnya."
"Iya emangnya apaan?"
Sedikit memelankan suara, Tara merundukan badannya "Dion di tembak Caroline"
"Hah?"
"Sekarang mereka jadi tontonan anak anak lain. Khususnya fans Dion yang bikin heboh koridor diatas. Gua kira Lo tau"
Setelah mengatakan itu, Tara melanjutkan langkah melewati ku "Aneh juga liat salah satu Fans Dion gak kepo sama si Dion" kekehnya seraya berlalu.
Yeah.. Dia benar. Aku memang salah satu dari fans Dion si pangeran sekolah. Tapi tentang kabar ini aku jujur, baru mengetahuinya.
"Menyebalkan!" aku tidak bisa berbuat apa apa meskipun aku ingin.
Maksudku, Dion di tembak? Terang terangan? Sama kak Caroline?
Kenapa aku bisa nggak tau?!
dan Tara???
Mengalahkan rasa lapar yang sejak tadi terus menggusar, aku berjalan menuju kursi Tara. Obrolan Tara dan teman temannya terhenti seketika.
"Kenapa lagi, Na?" Tanya Tara. Aku berdecak
"Kok lo bisa santai?"
Tara mengernyit "Maksudnya?"
"Lo Fans nya kak Caroline juga kan? Kok Lo ga ke sana? Gak hentiin dia??"
"...Pfffttt, HAHAHAHA !!"
"Huh?!'
Terpaku melihat Tawa beberapa siswa yang pecah, aku bertanya tanya tentang yang terjadi sebenarnya. Maksudku, apanya yang lucu? Sedang disini hatiku terasa sakit menerima fakta bahwa orang yang paling ku damba ditembak bidadarinya sekolah.
Puk
Tangan Tara mendarat di kepalaku. Mata kami pun bertemu.
Namun, apa ini?
Kenapa Tara menatapku teduh? Sinar maniknya seolah padam membuat bibirku bungkam tak kuasa bicara
Tara ini, bukanTara yang kukenal
"Lo sendiri, kenapa gak hentiin Dion buat Nerima tembakannya Caroline?"
"Dion udah Nerima??" Kaget ku. Tara mendelik bahu.
"Ya gatau. Tapi kalau dia belum Nerima, apa yang bakal Lo lakuin?"
Nafasku terhela. Saat itu juga aku menurunkan tangan Tara dan menjawab dengan logika.
"Dia punya kehidupannya sendiri. Hentiin dia bukan hak gue. Gue... Cuma Fan"
"Same here! Tapi tepatnya, suka gue ke Carol itu sebatas dia jago Karate, bukan perasaan Suka kayak Lo ke Dion"
Aku terkejut "Eh?"
"Kenapa? Gak boleh? Bandel bandel gini gua juga punya orang yang disuka pake hati kok..."
Loh? Memangnya gak papa yah dia jujur tentang ini padaku? Tapi sudahlah.
"Begitu... Padahal Lo juga populer. Gue gak nyangka, saat lo ada peluang besar buat dapetin hati Caroline, malah Lo sia siain gini. Padahal gue tau Lo mampu. Gak kayak gue..." tuturku jadi mengutarakan pendapat.
Tara tersenyum kecil
"Itu kata Lo. Yang tau kemampuan gua, cuma gua. Bukan cewek yang suka insecure kayak Lo! Hah, dasar gapernah percaya diri." Tangannya menyentil dahiku
"Denger ya... Kalau orang didepan gua aja gatau gimana perasaan asli gua. Naklukin Caroline yang ber-label bidadari sekolah itu mustahil..."
"Huh?"
Tara mengalih muka. Telinganya entah mengapa memerah. "Tapi gua bersyukur si, orang didepan gua ini selalu insecure buat deketin Dion, jadi gue gausah khawatir Dion bakal ngerebut dia dari gua"
Manikku pun melebar.
Eh? maksud dia...?
"Gua juga bersyukur banget kalau orang yang ada DI DEPAN gua ini, susahnya pake Astaghfirullah buat peka sama perasaan gua. Jadinya gua bisa bebas nunjukin suka ini ke dia. Iya nggak?"
Teman teman Tara tertawa
Sedang memberi jeda untuk otakku berpikir, kulihat hampir semua orang dikelas tersenyum smirk menatap kami.
"Kapasitas otak lo bisa pahami ini, nggak?" Tanya Tara hingga akupun tersadar.
Pipiku lantas memerah. Sementara Tara, mendadak dia melepas jaketnya lalj meletakannya di kepalaku
"Bersyukurlah ada banyak orang disini, Na. Gatau apa yang terjadi kalau cuma berdua, dan gue lihat pipi Lo memerah."
Glup
Tara mendekat. "Jangan pernah tunjukkin ekpresi semanis itu didepan orang lain, selain gua yah..."
KRINGGG KRINGGG
Bersamaan bel sekolah. Aku pun melangkah kembali ke tempat duduk meninggalkan Tara dengan kalimatnya yang tergantung. Dia kembali memanggilku.
"Daina!"
Netraku melirik.
"Pulang bareng, ya!"
BLUSHH!
Ahhh ... Kenapa jadi seperti ini?!
***
(End)