Orang-orang berkumpul mengelilingi sebuah lubang yang disebut sebagai tempat peristirahatan terakhir.
Awan mendung bergesekan di langit, menciptakan suara gemuruh dan kilat. Kedua netraku menatap sayu kobaran api besar yang melahap tumpukan kayu dan jasad di dalamnya.
"Herold Degreen, kepala desa sekaligus kepala klan utama yang gugur dengan gagah, demi melindungi warganya dari segerombolan pemberontak garang. Diberkatilah dia dalam peristirahatan," ucap seorang pria berusia senja yang biasa dipanggil Tetua Tiga.
Rasanya seperti baru saja terjadi. Secara langsung aku menyaksikan bagaimana ayahku berjuang bersama para pria gagah lain untuk melindungi desa. Mereka memang menang, terutama karena ayahku, Herold, menggunakan kekuatan sihir turun temurun dari Klan Degreen. Namun tanpa disadari, seorang pemberontak tiba-tiba menusuknya tepat di tengah dada.
Upacara pembakaran sudah selesai. Mereka memasukkan abu ayahku ke dalam guci tanah liat, yang akan diletakkan bersama guci abu mantan kepala klan lainnya. Lamunanku gagal ketika perdebatan mereka menarik atensiku.
"Dia tidak boleh jadi kepala desa! Bahkan menggunakan sihir turun temurun saja tidak bisa. Lagi pula dia itu perempuan!" ucap Tetua Dua dengan leher tegang.
Tetua Empat mengangkat guci abu di tangannya. "Herold sudah mati, dan penerusnya lah yang harus menjadi kepala desa. Memang belum pernah dalam sejarah Desa Degreen dipimpin oleh perempuan, tapi apa boleh buat."
Fakta menyedihkan itulah yang mendorong ibuku, Bluwie, untuk bunuh diri. Dia selalu ditekan dan dihina oleh para tetua, bahkan suaminya sendiri, karena tidak bisa melahirkan anak laki-laki. Setelah melahirkanku, tabib mengatakan dia tidak bisa memiliki anak lagi. Aku bisa lahir dengan selamat saja sudah termasuk anugerah.
"Sudahlah. Lebih baik kita mengadakan sayembara saja untuk mencari penerus dari klan cabang," usul Tetua Lima yang paling muda. Tetua lainnya mengangguk setuju, kecuali Tetua Satu.
Aku tertunduk lesu, tidak berani memberikan respon apapun. Jujur saja rasanya cukup menyakitkan. Bahkan setelah ayah yang selalu dingin padaku meninggal, ternyata ada orang lain yang siap menggantikan posisinya untuk menghancurkan harapanku.
Tetua satu yang sedari tadi bungkam tiba-tiba berjalan ke arahku. Dia menatapku intens, menciptakan sedikit gejolak dan percikan api aneh di dalam sanubariku. Pria tua itu berbalik, menghadap para tetua lain yang lebih muda darinya.
"Kita beri anak ini lima hari sebelum mencari penerus yang lain. Jika dia bisa memimpin dengan baik, tidak ada alasan untuk menggantikannya," ucap Tetua Satu seraya menepuk pelan bahu kiriku.
Aku terkesiap. Gejolak semangat yang tadi Tetua Satu salurkan seketika membara di hatiku. Sempat terpintas rasa ragu dan ingin menyerah sebelum berperang. Namun, tepukan bahu dari Tetua Satu tadi benar-benar memberiku kekuatan.
Keesokan pagi, hari pertamaku sebagai pemimpin yang belum resmi dimulai. Aku berkeliling desa setelah sekian lama terkurung di rumah untuk belajar, yang tentu saja adalah paksaan dari ayahku.
Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat betapa kacaunya sistem di Desa Degreen ini. Sama sekali tidak ada keadilan, perempuan sungguh diinjak-injak.
Aku menoleh ke seberang jalan. Terdapat seorang wanita yang dipukuli oleh pria, yang mungkin adalah suaminya sendiri. Aku kembali menoleh ketika mendengar keributan dari sisi jalan yang sempit dan agak tertutup. Perlahan aku mengendap-endap ke sana.
Ada seorang wanita yang hampir telanjang sedang ditarik paksa oleh pria bertubuh kekar. Ekspresinya jelas memandang rendah sang korban tatkala dia mulai menangis keras. Beberapa pria lain yang melihat justru mentertawakan perilaku sadis dan kejam di hadapan mereka. Wanita itu meronta-ronta, memohon untuk dibebaskan, bahkan meminta maaf sampai berlutut. Namun, suara tawa mereka justru semakin menggila.
Tidak tahan melihat itu semua, aku memutuskan pergi dan lanjut keliling desa. Belum jauh berjalan, aku melihat sebuah pondok yang dihuni beberapa anak laki-laki. Namun secara diam-diam, sekitar tujuh orang gadis ikut memperhatikan guru yang sedang mengajar.
Aku refleks menahan napas ketika seorang anak menyadari kehadiran mereka. Para lelaki dengan sigap menahan tubuh ketujuh gadis itu, lalu dibawa ke guru pria yang berdiri marah di depan pondok.
Plak! Ctas! Ctas! Suara rotan kayu yang bertabrakan dengan kulit mereka terdengar jelas. Gadis-gadis itu menjerit kesakitan, tetapi sang guru enggan berhenti. Sama seperti para pria tadi, anak laki-laki yang ada di pondok itu semuanya tertawa. Seolah mereka sedang menonton pertunjukan lawak ataupun badut yang menari.
Apa boleh buat. Yang bisa kulakukan hari ini hanyalah melihat semua ketidakadilan dari kejauhan.
Di hari kedua, aku mengajak para gadis yang kemarin mengintip untuk belajar di rumahku. Untung saja aku berhasil menemukan mereka sebelum mereka bersembunyi di balik dinding kayu pondok lagi.
Hingga hari berikutnya, kami belajar secara diam-diam dan serius. Syukurnya sekarang mereka sudah bisa menulis beberapa kalimat di atas kertas yang kusediakan. Namun ketika kami sedang asik belajar, seseorang mendobrak paksa pintu rumahku.
Brak!
"Kami sudah tahu kau pasti melakukan sesuatu yang terlarang! Apa-apaan ini?!" amuk Tetua Dua bersama Tetua Lima di sampingnya.
Aku terperanjat, gelagapan menyembunyikan kertas dan pulpen yang sudah terlanjur mereka lihat. "Tu-tunggu! Dengarkan aku! Perempuan juga layak mendapat pendidikan seperti laki-laki. Aku hanya membagi ilmuku pada mereka, itu saja!"
Namun, usahaku sia-sia. Kedua Tetua itu membubarkan paksa pertemuan kami, lalu menyeretku ke tempat tinggal utama para tetua desa. Ketika sampai disana, ruang pertemuan sudah diisi lengkap oleh semua tetua. Aku duduk berhadap-hadapan dengan mereka. Sedikit gemetar karena merasakan hawa yang mencekam dan menakutkan.
"Jelaskan kenapa kau melakukan itu, Navy Degreen," ucap Tetua Dua menahan emosi.
Aku menarik napas panjang, emosiku sudah menggebu-gebu. "Karena wanita juga layak mendapatkan apa yang pria dapatkan. Sekarang aku tahu, begitu banyak ketidakadilan di desa ini. Wanita dan perempuan dianggap seperti keset kaki, sedangkan pria dan laki-laki adalah tamu yang harus dilayani. Kenapa hal ini bisa terjadi? Tentu saja karena sistem dan peraturan yang salah."
Namun, Tetua Empat justru melemparkan cangkir padaku dengan kekuatan sihirnya.
Lalu dia berkata sinis, "Jangan bicara tentang hak wanita jika kau sendiri tidak mampu menguasai sihir turun temurun!"
Aku terpaku diam. Tubuhku dibasahi oleh teh hijau hangat. Tetua Empat yang paling jarang berbicara, justru mengatakan hal yang paling menusukku keras.
Bahkan mengangkat sebuah pulpen pun aku tidak bisa, apalagi memperjuangkan hak kaum wanita yang habis terkubur di dalam tanah.
"Pergilah Navy, manfaatkan dua hari yang tersisa dengan baik," perintah Tetua Satu. Aku mengangguk patuh, dan segera menyingkir dari pandangan mereka.
Keesokan hari, ketika baru saja membuka pintu rumah, bahuku lemas melihat para tetua mulai melaksanakan sayembara. Ada poster kertas dan pengumuman di mana-mana, tentang syarat untuk menjadi kepala desa dari luar Klan Degreen. Aku kembali menutup pintu, dan memutuskan untuk merenungkan tindakanku selanjutnya.
Tok! Tok! Tok! Aku tersentak bangun dari kasur, dan langsung berlari ke depan rumah. Ternyata para gadis datang seperti biasa. Aku langsung mengizinkan mereka masuk, dan menutup semua pintu serta jendela.
Melihat semangat mereka dalam belajar sungguh menyentuh hatiku. Meskipun tubuh dipenuhi lebam, hati dipenuhi dendam, dan suara yang terus diredam, mereka tetap tersenyum dan belajar dengan serius. Seolah berharap suatu hari nanti, ilmu ini akan berguna bagi Desa Degreen.
"Navy, kau adalah kepala desa terbaik yang pernah ada," celetuk seorang gadis sembari tersenyum lebar. Dia menunjukkan selembar kertas yang diisi coretan berbentuk manusia dengan tulisan 'Navy si Kepala Desa' di bagian atasnya.
Kali ini, aku tak sanggup menahan air mata haru. Padahal umur kami setara, tetapi mereka benar-benar memperlakukanku dengan hormat layaknya seorang kepala desa. Semangat yang sempat padam kini kembali bergejolak di dalam hatiku.
Sudah saatnya sistem peraturan desa yang semena-mena pada wanita dilenyapkan.
"Ayo tolong aku membuat poster. Kita harus bergerak sekarang demi kesejahteraan wanita," ucapku mantap. Mereka mengangguk serempak, tampak antusias ingin ikut serta.
Kami membuat puluhan poster seadanya dari kertas dan pulpen, yang bertuliskan 'Wanita layak hidup bebas! Wanita layak berpendidikan! Wanita layak mendapatkan semua yang pria dapatkan! Hancurkan sistem desa yang berantakan!'
Setelah semua beres, kami bersama-sama mengelilingi desa. Kami menempelkan kertas itu di atas semua poster sayembara pencarian pemimpin baru yang terlihat.
Malam harinya, para tetua benar-benar berang. Aku langsung disidang di lapangan desa, disaksikan oleh semua warga. Tetua Dua hingga Tetua Lima terus melontarkan sumpah serapah dan kalimat menusuk. Bahkan dengan sengaja melakukan sihir-sihir kecil untuk meledekku.
Sesaat, Tetua Satu yang selama ini membelaku hanya diam dan memperhatikan. Hingga akhirnya dia buka suara, dan mengatakan "Bagaimana bisa kau merasa hak wanita sangat berpengaruh bagi desa ini? Sudah bertahun-tahun peraturan itu ada, sedangkan kau tidak punya kuasa untuk mengubahnya. Aku memberimu waktu, karena berharap kau akan sadar dan mengikuti alur yang sudah ada. Namun, ternyata aku memihak pada seorang pemberontak."
Aku lagi-lagi terpaku diam. Kalimat itu terus bergema keras di dalam kepalaku, juga memberi bekas yang lebar di dalam hatiku.
Keesokan paginya, hari terakhirku sebagai kepala desa bertepatan dengan hari perayaan yang penting. Jadi, para pria akan pergi berburu secara besar-besaran. Mereka semua pergi kehutan dipagi hari, lalu kembali disore hari untuk memberikan hasil tangkapan kepada para wanita. Sehingga malamnya mereka bisa makan besar.
Namun disiang hari, gerombolan pemberontak yang kemarin menyerang desa kembali datang, dan membuat kerusuhan di gerbang masuk desa. Para tetua langsung sigap menghalangi mereka, tetapi karena faktor usia, mereka berhasil dikalahkan.
"Cepat panggil navy!" titah Tetua Satu yang sudah kesulitan bernapas. Para gadis yang ada disana langsung berlari ke rumahku. Mendengar ada kegaduhan, aku langsung keluar dan bertemu dengan mereka. Tanpa basa-basi, aku beserta para gadis dan wanita pun segera berangkat menuju gerbang depan dengan peralatan seadanya.
Wanita-wanita yang tadi sedang bersiap memasak melemparkan bumbu dapur berupa lada, dan menghembuskannya dengan kipas rotan untuk meniup tungku. Air rebusan yang mendidih juga bersama-sama disiramkan ke para pemberontak.
Para gadis melempar bara api tungku dan obor yang masih menyala. Semua pemberontak itu langsung berlari pergi. Kami bersorak senang. Aku tersenyum bangga karena berhasil mengarahkan pasukan kecil ini.
Namun, orang yang dulu menusuk ayahku tampak sangat geram, sehingga dia melemparkan batu bata besar ke arahku.
Bugh!
Nahas, aku tidak sempat menghindar. Setelah sesuatu yang keras membentur kepalaku, segalanya berubah menjadi gelap.
***
Desa Degreen sekali lagi dilanda duka. Upacara pemakaman seseorang yang sudah berjuang keras demi warga desa baru saja selesai. Langit berubah mendung, seiring air mata yang semakin tak sanggup dibendung.
"Narleo Degreen, Sang Tetua Satu, mantan pemimpin klan utama yang telah mengabdi hingga masa senjanya. Dia gugur dengan gagah, demi melindungi warganya dari segerombolan pemberontak garang. Diberkatilah dia dalam peristirahatan," ucap Tetua Tiga berlinang air mata.
Hatiku hancur melihat satu-satunya orang penting yang membelaku kini terbakar di atas tumpukan kayu. Memang terasa sangat berat, tetapi aku harus kuat. Semua gejolak semangat dan tekad yang dia salurkan hari itu, tidak boleh padam hingga aku juga disebut sebagai Tetua Satu.
"Sesuai wasiat terakhirnya, Kepala Desa Degreen yang baru adalah Navy Degreen," ucap Tetua Dua dengan wajah dingin. Seluruh warga wanita, langsung bersorak gembira dan menyerukan namaku.
Aku berjanji akan memimpin desa dengan baik, meskipun perban masih menutupi seluruh dahiku.
Semenjak saat itu, Desa Degreen akhirnya hidup dalam keadilan, kesejahteraan, dan kesetaraan bagi semua orang.
*T A M A T*
Terima kasih sudah membaca!;)