Marisa..
Begitu biasa aku di sapa, aku adalah anak terakhir dari lima bersaudara.
Tapi alih-alih bermanja-manja sebagai anak terakhir, aku memutuskan untuk belajar mandiri dengan bekerja di negeri tetangga.
Ya, itu karena aku juga sudah lumayan bosan mendengar ceramah dari kedua kakak perempuanku, meskipun mereka sudah menikah dan hidup terpisah dengan kami (aku, emak, bapak) tapi pada saat mereka berkunjung ke rumah, mereka pasti akan ceramah tiada henti hingga membuatku jengah.
Siapa sangka, kini ceramah yang mereka begitu berguna bagiku, dan menjadi hal yang sangat ku rindukan saat di sini, di Malaysia.
Aku mempunyai dua orang kakak laki-laki dan dua orang kakak perempuan, mereka semua sudah menikah, membangun keluarga kecil sederhana yang bahagia dan tinggal di kota yang berbeda-beda. Itu membuat kedua orang tuaku kesepian karena hanya tinggal mereka berdua saja di rumah, sedangkan aku masih harus stay disini sampai kontrak kerjaku habis.
Sebenarnya aku juga gak tega sama mereka, tapi mau bagaimana lagi, semua demi kelangsungan hidup kami semua, demi membahagiakan emak dan bapak juga.
Tiga kali sehari aku menelpon emak, sudah seperti minum obat saja, bahkan kadang lebih. Hal itu bisa sedikit mengurangi rasa rinduku pada mereka. Bisa menghapus rasa sepiku di Negri Jiran ini.
Mak.. Pak..
Do'akan Marisa selalu ya, supaya bisa mencapai apa yang ku inginkan, dan membahagiakan kalian. I love you all..
Malaysia, September 19.