Pernahkah kalian mencintai teman dekat kalian? Yang bahkan sudah mengenal dirimu sejak taman kanak-kanak.
Seorang gadis yang bisa membuat jantung Dimas berdebar-debar menggila, apa kalian pernah merasakannya? Gadis yang sangat hiperaktif dan selalu memberikan perhatiannya kepadamu, tentu kalian akan terbawa oleh perasaan membuat kita mencintainya perlahan-lahan.
Ini adalah kisah seorang Dimas Anggara Syahputra yang sudah mencintai gadis manis dan hiperaktif mulai dari Sekolah Menengah Pertama. Masa dimana seseorang berkembang menuju remaja dimana pasti kalian akan merasakan apa yang namanya jatuh cinta.
Bagaiamana rasanya mencintai dalam diam?
Terjebak cinta friend zone?
Terlalu takut untuk mengungkapkan perasaan kalian? Karena takut dia menjauh? Pasti banyak diantara kalian yang merasakannya, bukan?
Nama gadis yang bisa membuat Dimas berdebar adalah Syahril Oktaviani biasa dipanggil Ani. Seorang gadis dengan rambut pendek seleher dan mempunyai pipi yang sangat chubby.
Sehabis selesai Matkul seperti biasa Dimas menunggu Ani didepan kelasnya. Kegiatan ini sudah lama terjadi tapi dari mereka belum ada satupun yang menyatakan rasa sukanya satu sama lain. Mereka takut merusak persahabatan yang sudah mereka jalin sejak kecil, itulah alasan mereka takut untuk melangkah lebih jauh dengan hubungan mereka.
"Dimas."
Seorang gadis dengan pakaian berwarna biru dibaluti oleh sweter berwarna hitam dan bercelana jeans berjalan menghampiri dirinya. Mereka berjalan bersama menuju tempat parkiran motor.
"Gimana pelajarannya hari ini?" tanya Dimas.
"Huftt mampu membuatku pening," ujar Ani.
"Kamu tau tidak Dimas? Pak Arya dosen matematika, dia ngasih tugas nggak kira-kira! Coba kamu bayangin dia kasih soal kekita dua puluh soal dan harus diselesaikan hari itu juga! Dan yang apesnya aku di suruh maju terus kebagian nomer sembilan belas yang belum aku jawab, aku di omelin habis-habisan sama dia Dimas. Malu banget malah diliatin sama semuanya."
Seperti biasa Ani akan selalu menceritakan keluh kesahnya saat terjadi dalam kelas kuliahnya. Hal ini sudah wajar bagi Dimas dan dia sangat menyukai sifat Ani yang selalu terbuka terhadapnya.
Aku mengacak-acak rambut Ani dan tertawa, "Makanya kamu kalau dikasih tugas harus segera di selesaikan, jangan kebanyakan bercanda jadinya waktu pengerjaannya berkurang kalau kamu ngerjainnya sambil bercanda Ani."
Dimas sudah hafal betul tabiat kebiasaan buruk Ani. Sebenarnya Ani itu cukup pintar hanya saja dia selalu tidak serius saat mengerjakan tugas dan Ani lebih kebanyakan bercanda daripada mengerjakan tugasnya.
Ani mengembungkan pipinya dan menghentakkan kakinya saat mendengar ucapanku. Dan itu membuatku ingin sekali mengikatnya menjadi miliknya.
"Mo... Dimas," kesal Ani dan berjalan mendahuluinya.
****
Disebuah rumah yang sangat besar bergaya eropa dengan nuansa berewarna cream dilapisi warna emas.
Seorang laki-laki turun kebawah dengan menggunakan handuk yang masih melilit ditubuhnya yang atletis itu.
"Ada apa nih Mom? Ko pada ribut-ribut begini masih pagi? Ini kado kenapa begitu banyak sekali? Memang kalian mau ngapain?" tanyaku beruntun.
"Sudah kamu jangan banyak tanya Dimas! Lebih baik kamu bersiap-siap sekarang! Akan ada kejutan yang menantimu," ucap Mommy mengerlingkan matanya kepada Dimas.
Dimas dibuat heran oleh sikap Mommynya tapi ia tidak bertanya lebih dalam lagi. Dimas kembali kekamarnya dan bersiap.
***
Disinilah Dimas berada didalam mobil bersama kedua orang tuanya dan bersama adiknya yang berusia delapan tahun.
"Loh, Mom inikan rumah Ani? Mau ngapain memangnya?" tanya Dimas penasaran.
Biasanya Mommy nya jika ingin mengirimkan baju atau misalkan oleh-oleh selalu menyuruhnya yang mengantarkannya tapi kali ini Mommynya ingin repot-repot mengantarkan kado yang lumayan banyak secara langsung. Membuatnya jadi sangat penasaran, ada apa sebenarnya ini?
"Sudah kamu diam saja, nanti juga kamu akan tau!" ucap Mommy cuek.
Gini nih Mommy kalau nggak mau di tanya lebih lanjut dia bakal bersikap cuek dan cenderung bersikap bodo amat. Aku hanya bisa menghela nafas kasar saat mendengar jawabannya.
Mommy menekan bel rumah sebenyak tiga kali dan keluarlah seorang wanita paruh baya berusia empat puluh tahun membukakan pintunya.
"Loh, Faren kamu sudah sampai toh? Ayo-ayo silahkan masuk, kami sudah menunggunya."
"Aduh makasih loh Salsa."
"Ehh kamu bilang apa sih Faren? Kita kan nanti akan jadi besan jadi nggak usah bilang makasih lahh," bisiknya di telinga Faren.
"Ayah, Faren sama keluarganya sudah sampai!" teriak Salsa.
Begini nih kebiasaan Bundanya Ani yang suka teriak sama seperti anaknya. Untungnya Dimas sudah biasa tapi tidak untuk kedua orang tua Dimas.
Kami dipersilahkan duduk oleh Bunda Ani. Disini juga sudah ada Ani yang memakai dress navy dengan pita di sebelah kirinya yang membuatku terpana oleh kecantikannya.
Ani menyentuh tanganku membuatku membuyarkan lamunanku, Ani memberi sinyal kepadaku 'Ada apa sebenarnya?' aku hanya mengendikkan bahunya tidak tahu.
Aku dan Ani hanya memerhatikan Mommy Dimas yang sedang menyerahkan bungkusan kado kepada Bunda Ani.
"Mari silahkan di makan sambil kita membicarakannya," Seorang laki-laki paruh baya dengan kaca mata yang bertangkar di hidungnya dan wajah tegas yang mendominasi dirinya.
Dimas memang sudah sangat dekat dengan Bunda Ani tapi tidak untuk Ayah Ani. Karena setiap kali ia kerumah Ani tidak pernah bertemu dengan beliau. Beliau orangnya sangat tegas dan selalu sibuk dengan perusahaannya, itu membuat Ani kesepian karena kesibukan Ayahnya. Tapi Ani bisa memaklumin pekerjaan Ayahnya.
Kami semua memakan sambil mengobrol lebih tepatnya yang mengobrol adalah para orang tua sedangkan Aku dan Ani hanya mendengarkan saja.
"Nah jadi maksud kita berkumpul di sini adalah Mommy ingin Dimas dan Ani menikah."
Uhukk... Uhukk....
Aku dan Ani tersedak oleh makanan karena pembicaraan tiba-tiba Mommy Dimas.
"Ehh ya ampun pasti kalian kaget ya, maaf-maaf." Bunda Ani menuangkan air yang berada teko kedalam gelas dan memberikannya kepadaku dan Ani.
"Bun, ko tiba-tiba main nikahin aja sih?" tanya Ani.
"Ini tidak tiba-tiba ko Ani, sewaktu kalian masih bayi kami para orang tua memang sudah menjodohkan kalian berdua. Makanya Bunda selalu menyuruh kamu untuk dekat dengan nak Dimas." jelas Bunda Ani.
"Dimas ingat tidak saat Mommy menyuruh kamu untuk berteman baik dengan Ani dan selalu menjaga Ani? Itu karena kami sudah membuat perjanjian menikah untuk kalian dan tujuan kami yang lebih utamanya lagi adalah biar kalian tau satu sama lain sifat dan karakter satu sama lain," Mommy Dimas ikut menyambung ucapan Bunda Ani.
"Jadi bagaimana perasaan kalian? Kami hanya ingin kalian jujur satu sama lain. Kami tidak akan memaksakan perasaan kalian. Jadi gimana Dimas perasaanmu terhadap Ani? " tanya Bunda Ani tersenyum.
Jujur sebenarnya ini adalah berita yang sangat mengejutkan bagi mereka berdua. Dimas yang mendengar kabar mengejutkan ini sangat senang dan inilah saatnya ia mengungkapkan perasaannya yang selama ini ia pendam begitu lama terhadap Ani.
"Saya sangat mencintai Ani, Bunda."
Ucapan Dimas langsung membuat Ani tersentak kaget jantung Ani berdebar begitu keras tanpa sadar senyum Ani mengembang diwajahnya.
Dimas menghampiri Ani dan berjongkong di hadapan Ani ia mengenggam tangan Ani seraya tersenyum tulus.
"Ani, sebenarnya Dimas sudah mencintai Ani sejak lama tapi Dimas takut membuat persahabatan kita hancur. Dimas pengecut ya?"
Ani menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Dimas.
"Ani, Dimas sangat sangat mencintai Ani dengan setulus hati. Ani will you merry me?"
"Yes, I will." Ani menjawab dengan cepat tanpa ada keraguan dalam dirinya.
"Dimas, sebanarnya Ani juga mencintai Dimas. Tapi Ani takut kalau Dimas tidak mencintai Ani dan menjauhi Ani."
Dimas memeluk Ani dan mencium kening Ani. Akhirnya perasaan yang selama ini Dimas pendam bisa berbuah dengan manis pada akhirnya.
"Aku sangat sangat mencintaimu Syahril Oktaviani."
Bunda Dimas memberikan cincin kepada Dimas, lalu Dimas memasangkan cincin tersebut kepada Ani. Begitu pula dengan Ani yang memasangkan cincin kepada Dimas.
"Kamu sangat sangat cantik Ani, seperti bidadari yang turun dari surga. Dan aku adalah pria yang sangat beruntung mendapatkan dirimu bidadari surgaku." Bisik Dimas ditelinga Ani.
Pipi Ani bersemu merah mendengar bisikan Dimas untuknya rasanya seperti ada kupu-kupu yang berada di dalam perut Ani. Membuatnya sangat sangat bahagia, ini adalah moment paling berharga yang tak akan pernah terlupakan oleh mereka berdua.
Tidak ada yang tahu rencana tuhan kepada umatnya. Mereka yang awalnya saling mencintai dalam diam lalu disatukan oleh perantara kedua orang tuanya.
Ia sangat bersyukur mempunyai Ani dalam kehidupan dirinya. Ani adalah belahan jiwa Dimas.