"Bagaimana paman??" seorang gadis berpakaian kasar tiba-tiba muncul di belakang Paman Roy yang tengah memeriksa tanamannya di kebun.
Ia menggeleng pada Raina dan berkata, "Nak?! Semuanya kering, tanaman banyak yang layu... Dan, tanahnya juga sangat keras. Paman tidak bisa menghasilkan apapun jika besok tidak hujan."
Raina yang baru berusia 7 tahun dan masih polos ikut sedih mendengar hal itu, ia pun bertanya pada Paman, "Paman?! Apa tidak ada jalan lain? Sekarang musim kemarau kan??"
"Paman hanya mengharap keajaiban nak?!"balas Paman dengan senyum canggung, ia malu terhadap Raina yang polos ini.
Raina mengerti, ia meninggalkan kebun milik tetangganya, kemudian menuju rumahnya, menimba air di dalam sumur dan menyiramkan airnya dihadapan Paman Roy. Membagikannya dengan sama rata kemudian ia bertanya pada Paman Roy, "Apakah segini cukup??"
Paman Roy tersenyum, "Sudah!"
Keesokan harinya Raina datang lagi, menatap Paman Roy yang murung, sedang saat itu Bibi Juni kebetulan sedang merumpi bersama Tuan Juno di depan rumah Paman Roy.
"Paman, apakah sudah tumbuh besar??" tanya Raina.
Roy menggeleng, "Mungkin jika mendapat air dari sumurmu lagi. Mereka akan segera tumbuh besar."
Bibi Juni yang mendengar itu segera berdecak, "Apa yang kau lakukan Tuan Roy?! Gadis itu masih anak-anak. Kenapa kau beri dia pekerjaan berat. Jika kau membutuhkan sesuatu! Harusnya kau yang mengambil sendiri!"
Sedang, gadis polos mulai menimba-menyiram-dan mondar-mandir untuk melakukan pekerjaannya.
Tuan Juno juga ikut berkomentar, "Pak, malu! Kita ini orang tua."
"Kalian ini aneh?! Dia sedang berusaha berbakti padaku!" ketus Paman Roy kesal.
Mendengar jawaban itu dari Paman Roy, Bibi kembali membalasnya, "Kau memanfaatkannya dengan buruk Tuan Roy, suatu saat dia akan tahu kau memanfaatkan Raina!"
"Iya, kau akan tahu rasa setelah saat itu tiba. Hati anak-anak bisa sekeras batu!"tambah Tuan Juno.
Paman Roy tertawa, "Aku adalah orang tuanya sekarang! Ia makan dariku! Ia hidup karenaku! Harusnya ia balas budi dengan melakukan semua pekerjaan dan menjadikanku raja!"
Bibi menggeleng, "Tuan Roy, membahagiakan anak adalah kewajiban kita. Bukan seharusnya kita meminta balas budi dari mereka. Mereka memiliki hak untuk hidup tanpa tekanan. Mengapa kau hancurkan masa muda mereka dengan pikiranmu itu?!"
Paman Roy kesal, ia bangun dan menatap ke arah Raina yang masih gigih bekerja, "Semakin lama, biaya perawatan Raina semakin mahal! Dia harua membalas budi. Atau kuanggap ia anak durhaka!"
Tuan Joni bertambah kesal, "Tuan Roy! Ucapan adalah do'a. Semoga kau dijauhkan dari kemungkinan terburuk! Kami pamit!"
Paman Roy senang melihat Bibi Juni dan Tuan Juno pergi, ia terus memerintah Raina selama bertahun-tahun. Hingga pada suatu hari,di rumah yang sama terdengar bentakan.
"Paman sudah hidup dari jerih payahku selama bertahun-tahun! Sekarang Paman harus bekerja untukku?! Bukankah kau orang yang bertanggung-jawab?" suara Raina dewasa benar-benar tegas.
Paman Roy yang sudah tak memiliki apapun setelah rumah dan ladangnya hancir hanya bisa memohon belas kasihan pada Raina. Dan, kini Raina lah yang memerintahnya.Rupanya, ini adalah karma karena tidak menyayangi Raina dengan tulus dan malah menganggapnya beban dan juga aset untuk kehidupannya mendatang.
.
.Tamat.